menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
BAB 31: Resonansi di Ruang Hampa
Lima tahun adalah waktu yang cukup untuk membangun kembali sebuah kota yang hancur, namun tidak cukup untuk menambal lubang di jiwa Aurelius Renzo. Di Berlin, ia telah menjelma menjadi The Iron Kaiser. Wajahnya yang dulu sering menampakkan kilat emosi, kini layaknya topeng perunggu yang tak tertembus. Rambutnya dipangkas pendek dengan presisi militer, dan setiap gerakannya memancarkan otoritas yang dingin.
Putranya, Maximilian (Max), yang kini berusia lima tahun, adalah bayangan kecil dirinya. Anak itu cerdas, pendiam, dan jarang tersenyum—sebuah produk dari lingkungan kastil yang hanya mengenal disiplin dan duka yang membeku. Aurelius mencintai Max dengan cara yang protektif namun kaku, seolah ia takut jika ia terlalu lembut, ia akan hancur kembali.
Singapura menjadi panggung pertemuan yang tidak diinginkan. World Economic Summit 2031 mempertemukan para raksasa, dan di sana, di antara delegasi Jepang, berdiri Hana Asuka.
Malam gala di Marina Bay Sands berpendar oleh kemewahan yang memuakkan bagi Aurelius. Ia berdiri di sudut balkon lantai 57, membelakangi kerumunan. Yoto berdiri di sampingnya, menjaga jarak yang penuh hormat.
"Tuan Muda, delegasi Asuka-Tanaka Group baru saja memasuki aula," bisik Yoto.
Aurelius tidak bergeming. Ia tidak menoleh. Jemarinya yang mengenakan cincin segel Hohenzollern mengetuk gelas wiski dengan irama yang monoton. "Aku tidak peduli, Yoto. Pastikan jadwalku besok tidak bersinggungan dengan mereka. Aku di sini untuk bisnis, bukan untuk nostalgia yang tidak berguna."
Namun, takdir tidak pernah membiarkan Aurelius menang dengan mudah. Saat ia berbalik untuk meninggalkan balkon, Hana Asuka berdiri di sana, tepat di jalur jalannya.
Hana tampak berbeda. Ia mengenakan gaun sutra hitam yang menutup hingga leher, namun auranya memancarkan kekuatan yang tenang. Tidak ada lagi jejak gadis mekanik yang dulu tertawa di bengkel Ota. Di belakangnya, Kaito Tanaka berdiri, tampak seperti pengawal yang lelah.
Mata mereka bertemu. Aurelius tidak memberikan tanda pengenalan sedikit pun. Matanya melewati Hana seolah wanita itu hanyalah pilar marmer yang menghalangi jalannya. Ia melangkah maju, bahunya nyaris bersenggolan dengan Hana tanpa ada niat untuk berhenti.
"Aurelius," suara Hana lembut namun tegas, menghentikan langkah sang kaisar.
Aurelius berhenti, namun ia tidak berbalik. "Nona Asuka. Aku yakin suamimu sudah memberitahumu bahwa waktu adalah aset paling berharga di Hohenzollern. Jangan membuang waktuku."
"Hanya lima menit," pinta Hana.
"Lima menit adalah waktu yang cukup untuk meruntuhkan sebuah perusahaan di bursa efek. Aku tidak punya lima menit untuk orang asing," sahut Aurelius dingin. Ia melanjutkan langkahnya, meninggalkan Hana yang terpaku di tengah kerumunan yang mulai berbisik.
Hana tidak menyerah. Selama tiga hari konferensi, ia terus mencoba menembus "tembok" yang dibangun Aurelius. Ia mengirimkan dokumen strategis ke kamar hotel Aurelius, namun dokumen itu dikembalikan tanpa dibuka. Ia mencoba mencegatnya di lobi, namun tim keamanan Hohenzollern yang dipimpin Yoto selalu membuat barikade yang tak tertembus.
Aurelius benar-benar enggan melihatnya. Baginya, melihat Hana adalah pengingat akan pengkhianatan fisik yang paling menyakitkan—bayangan Hana yang tersenyum di altar bersama pria lain sementara ia berjuang di Berlin. Kepergian Sophia telah meninggalkan luka, namun "kematian" Hana di hatinya meninggalkan lubang hitam yang menghisap segala bentuk empati.
Malam terakhir di Singapura, Hana melakukan tindakan nekat. Ia menyuap salah satu staf layanan kamar untuk mengetahui jadwal pribadi Aurelius. Ia tahu Aurelius akan pergi ke pusat kendali satelit di pinggiran kota secara rahasia.
Hana menunggu di koridor gelap pusat kendali itu. Saat langkah sepatu boots Aurelius bergema di lantai beton, Hana muncul dari balik bayang-bayang.
"Berhenti menghindar, Aurelius!" teriak Hana.
Aurelius berhenti. Ia menatap Hana dengan kebencian yang murni. "Kau sangat gigih untuk seorang pengkhianat, Hana. Apa yang kau inginkan? Investasi? Akuisisi? Katakan harganya dan pergilah."
Hana melangkah maju, mencoba menyentuh lengan kemeja Aurelius, namun pria itu menyentak tangannya menjauh seolah tersengat api.
"Jangan sentuh aku dengan tangan yang sudah membelai pria itu," desis Aurelius. Suaranya rendah, penuh dengan racun kecemburuan yang telah mengerak selama lima tahun.
"Aku melakukannya untuk melindungimu!" Hana berteriak, air mata mulai menggenang. "Kau pikir aku ingin berada di pelukannya? Setiap malam aku harus berbohong pada diriku sendiri! Aku harus memberikan tubuhku hanya agar ayahmu percaya bahwa aku bukan lagi ancaman bagimu!"
Aurelius tertawa—sebuah tawa yang kering dan mengerikan. "Melindungiku? Kau memberikan dirimu pada Kaito Tanaka, memberikan 'hak' yang seharusnya menjadi milikku, dan kau menyebutnya perlindungan? Itu adalah penghinaan, Hana!"
"Aku tidak pernah mencintainya!" Hana mencoba menembus tembok itu dengan kejujurannya. "Kaito tahu itu! Pernikahan kami hanyalah kesepakatan di atas kertas yang terpaksa melibatkan raga karena tekanan Daichi dan Maximilian. Aku menghancurkan diriku sendiri agar kau bisa duduk di takhta itu dengan tenang!"
Aurelius melangkah maju, memperpendek jarak hingga napasnya yang beraroma tembakau mahal menghantam wajah Hana. Ia mencengkeram rahang Hana dengan satu tangan, memaksa wanita itu menatap matanya yang kosong.
"Kau menghancurkan dirimu? Tidak, Hana. Kau menghancurkan kita," ucap Aurelius, suaranya bergetar oleh amarah yang tertahan. "Aku kehilangan Sophia yang mati demi memberikan anak padaku. Aku kehilangan masa mudaku. Dan kau... kau datang ke sini untuk memberitahuku bahwa kau adalah martir? Jangan membuatku mual."
Aurelius melepaskan cengkeramannya dengan kasar. "Dengarkan aku baik-baik. Bagiku, Hana Asuka sudah mati di hari pernikahan di Tokyo itu. Wanita yang berdiri di depanku sekarang hanyalah CEO dari perusahaan pesaing yang tidak berarti. Jika kau muncul di depanku lagi, aku akan memastikan Asuka-Tanaka Group bangkrut dalam semalam."
Aurelius berbalik, berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Punggungnya yang tegak melambangkan tembok yang kini telah menjadi permanen.
Hana terjatuh di lantai beton yang dingin. Ia menangis tersedu-sedu, menyadari bahwa tembok yang dibangun Aurelius bukan hanya terbuat dari es, tapi dari baja kebencian yang ia tempa sendiri dengan tangannya selama lima tahun. Ia telah mencoba mencairkan es itu, namun ia justru menemukan badai yang siap menghancurkannya.
Di dalam mobilnya, Aurelius duduk diam. Tangannya gemetar hebat. Ia merogoh saku jasnya, menyentuh sebuah kunci bengkel tua yang sudah berkarat—satu-satunya benda yang tidak pernah ia buang.
"Yoto," panggil Aurelius pelan.
"Ya, Tuan Muda?"
"Buang kunci ini ke laut saat kita melewati jembatan nanti. Aku tidak ingin melihatnya lagi."
Yoto menatap kunci itu melalui spion, lalu menatap wajah tuannya yang tampak seperti mayat hidup. "Baik, Tuan Muda."
Namun, saat mobil melewati laut, Aurelius tidak memberikan kunci itu pada Yoto. Ia justru menggenggamnya semakin erat hingga telapak tangannya berdarah. Ia benci Hana, ia enggan melihatnya, namun di dalam sel paling gelap di hatinya, ia menyadari bahwa ia masih merupakan tawanan dari wanita yang baru saja ia usir.