NovelToon NovelToon
Kelahiran Kembali Arga Bimantara

Kelahiran Kembali Arga Bimantara

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
​Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
​Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Saat menemukan tempat duduknya, ia menyadari kursinya rusak. Ia meminta pramugari pindah tempat duduk. Pramugari menyetujuinya, namun ketika ia melihat nomor kursi barunya—13F, yang di beberapa budaya dianggap angka sial, ditambah suasana kabin yang terasa dingin mencekam, Ibu Jingga mulai merasa janggal.

Pada saat itu, angin kencang bertiup di luar. Sebuah potongan koran bekas entah dari mana menempel di jendela tepat di samping kursinya. Tulisan di koran itu terbaca jelas: “Maut Tak Berpintu, Kembalilah Sebelum Terlambat”.

Serangkaian kejadian aneh ini, ditambah telepon dari Sherly tadi, akhirnya membuat Ibu Jingga tidak bisa lagi duduk tenang. Ia bangkit, mengambil barangnya, dan hendak turun.

“Nyonya, pesawat akan segera lepas landas. Mohon duduk,” tegur pramugari.

“Saya ingin turun! Saya tidak jadi naik pesawat ini!”

“Nyonya, pintu kabin sudah dikunci. Mohon kerja samanya.”

Karena panik dan pintu sudah tertutup, Ibu Jingga tiba-tiba mendapat ide nekat. Ia menjatuhkan diri ke lantai, mulutnya berbusa (menggunakan sedikit sisa pasta gigi di tasnya), dan tubuhnya kejang-kejang pura-pura ayan.

Pramugari terkejut dan segera melapor ke pilot. Demi prosedur medis, pesawat yang sudah mulai bergerak itu berhenti. Ibu Jingga akhirnya diangkut turun oleh petugas medis bandara.

Satu jam kemudian—

Sherly duduk gelisah di rumah, terus mengganti saluran televisi. Tiba-tiba, sebuah berita Breaking News muncul.

“Laporan langsung! Pesawat bernomor penerbangan GA-897 yang terbang menuju Indonesia mengalami gangguan mesin hebat dan jatuh di perairan lepas pantai tak lama setelah lepas landas. Dilaporkan tidak ada penumpang yang selamat...”

Boom!

Seketika, bulu kuduk Sherly berdiri, kepalanya berdengung, dan pandangannya menggelap. Nomor penerbangan itu—itulah pesawat yang seharusnya ditumpangi ibunya.

Apa yang dikatakan Arga ternyata benar!

Ibu Sherly Gunawan benar-benar mengalami musibah berdarah!

Saat ini, penyesalan Sherly memuncak tanpa bisa dibendung. Seandainya saja ia mau mendengarkan Arga lebih awal dan membujuk ibunya untuk tidak berangkat sejak sore...

“Ibu… hiks… Ibu…”

Di saat emosinya berada di titik terendah, ponsel Sherly tiba-tiba berdering. Yang menelepon adalah ibunya, Ibu Jingga.

Sherly segera mengangkat panggilan itu dengan penuh kegembiraan dan berkata tergesa, “Halo? Ibu, ya?”

“Ini Ibu, Nak! Tadi Ibu benar-benar hampir mati ketakutan! Ibumu nyaris saja kehilangan nyawa!” Dengan nada masih bergetar oleh rasa takut, Ibu Jingga menceritakan seluruh kejadian aneh yang dialaminya saat hendak menaiki pesawat.

Setelah mendengarkan cerita itu, keyakinan Sherly terhadap Arga semakin menguat. Tanpa ragu, ia segera menceritakan semuanya kepada sang ibu.

Ibu Jingga pun terperangah. Usai terdiam sejenak, ia berkata dengan nada serius, “Sherly, temanmu itu luar biasa. Dia pasti bukan orang sembarangan, mungkin dia punya 'penglihatan' atau keturunan orang sakti.”

“Bagaimanapun juga, Ibu ingin mengucapkan terima kasih padanya. Dia adalah penyelamat nyawa Ibu.”

“Tenang saja, Bu, pasti,” jawab Sherly cepat. “Ngomong-ngomong, kapan Ibu berencana pulang?”

“Pesawat sialan! Ibu tidak akan naik pesawat seumur hidup lagi! Hampir saja jantung Ibu copot! Ibu mau pulang naik kapal laut saja!”

“Bagaimana kalau kapalnya terbalik, Bu?”

“Dasar anak nakal! Mulutmu itu dijaga, ya! Sudah, tutup teleponnya!”

Setelah sambungan terputus, Sherly akhirnya mengembuskan napas panjang. “Arga… benar-benar bisa meramal masa depan…”

“Kalau begitu, ramalannya bahwa dia adalah suamiku… mungkinkah itu juga benar?” Memikirkan hal itu, wajah lembut Sherly tiba-tiba memerah, diliputi rona merah yang indah.

Sebenarnya, cara Sherly memilih pasangan sangatlah unik. Setiap kali ada pria yang mendekatinya, ia akan membayangkan dalam benaknya bagaimana rasanya jika ia menjalin hubungan fisik dengan pria tersebut. Selama ini, begitu banyak pria yang muncul, tetapi hanya membayangkan saja sudah membuatnya mual. Karena itulah, selama bertahun-tahun ia tak pernah benar-benar pacaran.

Namun, hanya pada Arga—saat ia berfantasi—ia sama sekali tidak merasa jijik. Sebaliknya, hatinya justru dipenuhi rasa manis, bahkan… harapan.

Menggelengkan kepala keras-keras untuk menyingkirkan pikiran itu, Sherly segera menekan nomor Arga.

“Halo, Kak Arga!”

“Sherly, bagaimana keadaan Ibu?” tanya Arga. Mendengar suara Sherly yang penuh kegembiraan, Arga langsung tahu bahwa Ibu Jingga pasti baik-baik saja.

“Seperti dugaan Kak Arga, semuanya sudah Kakak ramalkan, bukan?”

“Hehe,” Arga hanya tersenyum samar, tanpa membenarkan maupun menyangkal. Di hati Sherly, sosok Arga seketika tampak semakin tinggi dan misterius.

“Ibu memintaku menyampaikan terima kasih. Katanya Kak Arga telah menyelamatkan nyawanya.”

“Hanya berterima kasih dengan kata-kata saja?” balas Arga santai.

“Ehm… baiklah. Aku traktir makan siang besok pukul dua belas di Restoran Cakrawala, bagaimana?”

“Wah, nona kaya ini akhirnya rela keluar uang juga! Baik, aku pasti datang!”

Keesokan paginya, Arga mengenakan pakaian bersih lalu naik taksi menuju Restoran Cakrawala. Restoran ini adalah tempat paling mewah di pusat kota Semarang, terletak di lantai teratas hotel bintang lima. Kualitasnya luar biasa—dan harganya benar-benar mencengangkan.

Pada tahun 2000, ketika rata-rata gaji buruh bahkan belum mencapai satu juta rupiah, biaya makan per orang di tempat ini bisa mencapai 2 juta rupiah! Bahkan, memiliki uang saja belum tentu cukup karena reservasi harus dilakukan jauh-jauh hari. Tak disangka, Sherly bisa mendapatkan tempat di sini dengan begitu mudah.

Dekorasinya mewah bak istana, para pelayan yang berlalu-lalang memiliki paras cantik, sementara meja dan kursinya terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi. Melalui jendela kaca besar, pemandangan Kota Semarang dan pelabuhan tampak berkilau.

“Selamat siang, Tuan. Apakah Anda memiliki reservasi?” tanya seorang pelayan cantik.

“Meja Mawar.”

“Baik, Tuan. Silakan ikut saya.”

Masih ada setengah jam sebelum pukul dua belas. Saat itulah ponsel Arga kembali berdering. Itu dari Hadi Setiawan.

“Halo, Pak Arga? Saya Hadi.”

“Oh, Pak Hadi. Ada keperluan apa?”

“Saya sudah membereskan semua masalah Ratna. Saya ingin mentraktir Anda makan sebagai ungkapan terima kasih.”

“Tidak perlu, Pak, itu hanya masalah kecil.”

“Bagi Anda mungkin kecil, tapi bagi saya ini urusan nyawa! Sekarang Anda ada di mana? Saya harus datang dan berterima kasih secara langsung!”

Arga tidak menolak dan menyebutkan alamatnya. Sejak awal, ia memang berniat membangun jaringan dengan Hadi. Tak lama setelah menutup telepon, pelayan kembali—kali ini diikuti oleh sepasang pria dan wanita. Begitu melihat mereka, ekspresi Arga sedikit berubah.

“Sial sekali nasibku!” gumam Arga. Pasangan itu tak lain adalah Tiara dan Yuda Perdana. Siapa sangka, mereka juga makan di sini dan duduk tepat di meja sebelah.

“Eh? Bukankah ini pria miskin yang menghabiskan 3 juta untuk beli mangkuk rongsokan?” ejek Yuda Perdana. “Apa kamu sudah bangkrut dan datang ke sini untuk jadi tukang cuci piring?”

1
Jack Strom
Lanjuuut!!! 😁
Jack Strom: Eh jangan, entar leduk... 😁
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!