NovelToon NovelToon
Pelakor Berkedok Sahabat

Pelakor Berkedok Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Gusmon

Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.


Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.


Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 : Menjaga Batas

Suasana di ruang tamu itu terasa semakin berat, diselimuti oleh kecamuk emosi yang tak kasat mata. Stefani, yang menyadari kode lirih dari lirikan mata Marlon, perlahan menutup katalog mobil di pangkuannya. Ia menguap kecil, sebuah akting kelelahan yang sangat natural.

"Mbak Nadya, Lon... sepertinya aku masuk kamar duluan ya. Kepalaku agak pening, mungkin efek kurang tidur semalam," ucap Stefani dengan suara yang dibuat serak. Ia menyentuh bahu Nadya sekilas, memberikan remasan kecil yang seolah-olah menguatkan, sebelum akhirnya melangkah gontai menuju kamar tamu.

Kini, hanya ada Marlon dan Nadya di ruangan itu. Keheningan menyergap, hanya suara rintik hujan di luar yang terdengar. Marlon tidak langsung bicara. Ia justru menunduk, memainkan jemarinya di atas lutut, memberikan ruang bagi Nadya untuk merasa nyaman dengan kehadirannya yang tenang.

"Mbak..." Marlon memulai pembicaraan dengan suara yang sangat lembut, nyaris seperti bisikan. "Tadi saya sempat melihat katalog yang dibaca Stefani. Senang ya melihat dia sudah mulai mandiri. Hebat juga dia, Mbak... di sela kesibukannya jadi asisten Mbak Nadya dan main affiliate, ternyata tabungannya sudah cukup buat ambil mobil baru. Jarang ada orang yang secepat itu pencapaiannya di masa sulit begini."

Marlon menjeda kalimatnya, menyesap udara dengan raut wajah polos seolah sedang mengagumi keberhasilan seseorang. "Tapi ya itu... saya jadi teringat kejadian di kantor tadi siang. Hati saya masih nggak tenang, Mbak."

Nadya yang tadinya hanya menatap kosong, kini menoleh perlahan. "Soal audit itu, Lon? Apa yang sebenarnya terjadi?"

Marlon menghela napas panjang, wajahnya berubah menjadi sangat prihatin dan tulus. "Tadi siang, Mas Erian dipanggil tim audit internal. Ada selisih dana yang cukup besar yang aksesnya tercatat atas nama beliau. Saya kaget setengah mati, Mbak. Saya nggak percaya sedikit pun kalau Mas Erian sampai berani memakai uang perusahaan. Mas Erian yang saya kenal itu orangnya sangat lurus, jujur..."

Marlon memajukan tubuhnya sedikit, suaranya terdengar sangat emosional namun tetap terjaga. "Tadi saya bahkan sempat berdebat keras sama orang audit itu. Saya sampai bilang ke mereka, 'Tolong dicek lagi, Pak! Barangkali ini hanya kekeliruan teknis atau ada orang lain yang menyusup ke sistemnya'. Saya nggak terima sahabat saya dituduh begitu saja."

Ia menatap mata Nadya yang sembab dengan tatapan yang sangat dalam. "Cuma yang bikin saya kepikiran sampai sekarang... kenapa tim audit itu begitu yakin kalau datanya valid? Dan yang bikin saya makin sedih, Mas Erian tadi malah kelihatan... linglung. Seolah ada beban berat yang dia sembunyikan sendiri."

Marlon terdiam sejenak, membiarkan kata-katanya meresap ke dalam pikiran Nadya. Ia tidak menyalahkan Erian, ia justru berpura-pura membela, namun secara tersirat ia sedang membenturkan dua fakta: Erian sedang dituduh menggelapkan uang, dan di saat yang sama, Stefani tiba-tiba punya uang banyak untuk membeli mobil baru.

"Tapi ya sudahlah, Mbak. Mungkin saya yang terlalu khawatir," Marlon tersenyum tipis yang terlihat dipaksakan. "Saya cuma berharap Mas Erian di hotel sekarang benar-benar untuk menenangkan diri, bukan karena... ah, sudahlah. Saya yakin Mas Erian orang baik."

Nadya terdiam seribu bahasa. Benih kecurigaan yang ditanam Marlon tumbuh dengan sangat halus. Di kepalanya kini mulai muncul pertanyaan-pertanyaan beracun: Dari mana Stefani punya uang sebanyak itu? Apakah uang perusahaan yang hilang itu ada hubungannya dengan 'kemesraan' Erian dan Stefani semalam? Apakah mereka sebenarnya bekerja sama mengkhianatiku?

"Lon..." suara Nadya bergetar. "Apa mungkin... Mas Erian memberikan uang itu untuk... seseorang?"

Marlon hanya menunduk, tidak menjawab. Diamnya Marlon adalah jawaban yang paling mematikan bagi kewarasan Nadya malam itu.

Suasana di ruang tamu itu mendadak menjadi sangat tipis, seolah oksigen di antara mereka tersedot habis oleh ketegangan emosional yang memuncak. Hujan di luar semakin deras, menciptakan isolasi alami yang membuat dunia seakan hanya milik mereka berdua di ruangan itu.

Marlon tidak bergerak sedikit pun. Ia tetap duduk di samping Nadya, membiarkan aroma parfum mahalnya yang maskulin dan woody menguar, bertabrakan dengan aroma lembut bedak bayi yang selalu menjadi ciri khas Nadya—aroma yang selama ini hanya bisa Marlon bayangkan dalam mimpi-mimpinya yang paling gelap.

Nadya, dalam kerapuhan yang luar biasa, menunduk dengan bahu yang bergetar. Ia merasa begitu sendirian, begitu terkhianati, dan di hadapannya ada seorang pria yang baru saja "pasang badan" membela suaminya di kantor, sekaligus memberikan telinga untuk keluh kesahnya.

Perlahan, Marlon mengulurkan tangannya, bukan untuk memeluk, melainkan hanya untuk menyelipkan sehelai rambut Nadya yang menutupi wajah sembabnya. Gerakannya sangat halus, seolah-olah ia sedang menyentuh kelopak bunga yang hampir gugur.

"Mbak... jangan merasa sendirian," bisik Marlon, suaranya kini terdengar begitu dalam dan menghipnotis.

Nadya mendongak. Di bawah cahaya lampu kristal yang temaram, mata mereka bertemu. Jarak di antara mereka menyusut tanpa disadari. Marlon bisa melihat pantulan dirinya di mata Nadya yang basah, sementara Nadya seolah kehilangan daya gravitasi saat menatap tatapan Marlon yang penuh dengan pemujaan terselubung.

Wajah mereka semakin mendekat. Inci demi inci. Napas hangat Marlon kini terasa di permukaan kulit wajah Nadya. Dan dalam sebuah momen yang seolah menghentikan waktu, bibir mereka bertempelan. Hanya sepersekian detik. Sebuah sentuhan yang lembut namun terasa seperti sengatan listrik yang membakar kesadaran Nadya.

Deg!

Logika Nadya yang sempat mati mendadak berteriak kencang. Ia tersentak, segera menarik tubuhnya menjauh hingga ia hampir terjatuh dari sofa. Jantungnya berdegup sangat kencang, bukan karena cinta, melainkan karena rasa bersalah yang menghantamnya seperti godam.

"Ma... ma... maaf Lon.... ini salah.... maafkan aku...." ucap Nadya gugup terbata-bata. Tangannya gemetar menutupi bibirnya sendiri, matanya membelalak ketakutan pada dirinya sendiri.

Marlon mematung dengan ekspresi yang sulit diartikan—antara kecewa dan rasa puas karena telah berhasil "mencicipi" meski hanya sekejap.

"Ada baiknya kamu pulang sekarang, Lon... aku tidak mengusirmu... tapi aku... aku adalah istri Mas Erian..." lanjut Nadya, suaranya pecah di akhir kalimat. Ia berdiri dengan terburu-buru, membelakangi Marlon karena tidak sanggup menatap wajah pria itu.

Marlon menarik napas panjang, mencoba menetralkan suaranya agar tetap terdengar seperti pria yang sopan dan merasa bersalah. "Maafkan saya, Mbak. Saya... saya terbawa suasana karena sangat sedih melihat Mbak seperti ini. Saya benar-benar minta maaf."

Marlon berdiri, mengambil tas kerjanya dengan gerakan yang tenang. "Mbak benar. Saya harus pulang. Saya tidak ingin menambah beban pikiran Mbak Nadya. Tapi tolong ingat satu hal, Mbak... saya akan selalu ada jika Mbak butuh bantuan apa pun. Apa pun."

Marlon melangkah menuju pintu keluar dengan senyum kemenangan yang tersembunyi di kegelapan. Ia tahu, meski Nadya menolaknya sekarang, "racun" itu sudah masuk. Nadya kini tidak hanya merasa dikhianati oleh Erian, tapi ia juga merasa bersalah karena kejadian barusan—sebuah perasaan yang akan membuat Nadya semakin tidak stabil secara emosional.

1
katty
up
Ovha Selvia
Nadya bodohnya minta ampun wkwkwkwkw
Lee Mba Young
Kbanyakan istri sah ki mesti baik nya kbanyakan bodoh mudah di tipu. masukin wanita lain ke rumah pdhl itu TDK bnar menurut agama.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭
katty
lanjut
katty
/Shy/
katty
lanjut
Indi_Dedy77
nadya oon, suaminya CEO tp oon juga, jd ada lubang si ular bs masuk se enaknya. kan bs pake ancaman utk stefani biar keluar dr rumahnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!