Genre: Fantasi-Wanita, Reinkarnasi, Petualangan, Aksi, Supernatural, Misteri, Kultivasi, Sihir.
[On Going]
Terbangun di hutan asing tanpa ingatan, Lin Xinyi hanya membawa satu hal bersamanya—suara misterius yang menanamkan pengetahuan sihir ke dalam pikirannya.
Di dunia di mana monster berkeliaran dan hukum kekuatan menentukan siapa yang hidup dan mati, ia dipaksa belajar bertahan sejak langkah pertama.
Siapakah sebenarnya Lin Xinyi?
Dan kenapa harus dia? Apakah dia adalah pembawa keberuntungan, atau pembawa bencana?
Ini adalah kisah reinkarnasi wanita yang tak sengaja menjadi dewi.
2 hari, 1 bab! Jum'at libur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5 — Rencana Tetua
[ 3rd PoV ]
Malam menyelimuti desa dengan dinginnya yang khas. Setelah makan, Xinyi dan Xun'er memutuskan untuk segera kembali. Terlalu lama berkeliaran hanya akan membuat Yao Li cemas.
Langkah mereka beriringan di jalan setapak yang diterangi lampu-lampu redup. Satu per satu pintu rumah tertutup, penduduk desa telah memilih kehangatan tempat tidur mereka.
Namun anehnya, Xinyi sama sekali tidak merasakan gigit malam. Sebaliknya, ada kehangatan asing yang menyelubunginya. Padahal Xun'er bahkan tidak menyentuhnya, hanya berjalan beberapa langkah di depan.
"Xinyi..." Xun'er memanggil tanpa berbalik.
"Ada apa?" Xinyi menjawab sambil menatap punggung wanita di depannya.
"Apa kau merasakan sesuatu yang... aneh?"
Pertanyaan itu menggantung di udara. Xinyi melambatkan langkahnya, mencoba merangkai jawaban. Memang ada banyak hal aneh yang terjadi hari ini. Terlalu banyak, bahkan. Tapi yang mana yang harus ia ceritakan?
"Hmm... entahlah," jawabnya akhirnya, terdengar ragu.
"Begitu..." Xun'er terdiam sejenak. "Aku merasa sedikit... ah, lupakan."
Xinyi mengalihkan pandangan dari punggung Xun'er ke rumah-rumah di sekitar mereka. Lampu-lampu yang masih menyala itu seperti mata yang mengawasi dalam keheningan.
Desa yang dihuni orang-orang terbuang ini... mereka hidup dengan cara yang mengagumkan. Tapi bayangan kesedihan itu tetap terasa. Bagaimana rasanya jika ia berada di posisi mereka? Ditinggalkan, diasingkan, dilupakan.
"Xun'er juga pasti merasakan sakit itu. Sebagai orang yang dibuang," batin Xinyi merenung.
Ada keinginan dalam dirinya untuk membantu. Tapi rasa takut itu masih mencengkeram. Takut mati, takut pada kekosongan ingatannya yang gelap.
"Xun'er..." panggilnya pelan.
Langkah Xun'er terhenti, meski ia tidak berbalik.
"Aku juga penasaran," kata Xinyi hati-hati. "Tapi bisakah kita bahas ini lain waktu? Untuk sekarang, kurasa masih banyak hal lain yang lebih mendesak."
Xun'er akhirnya berbalik. Senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di bibirnya. "Begitu. Kukira hanya aku yang merasakannya."
Xinyi menunduk, tangannya menggaruk kepala yang tidak gatal. Sebuah kebiasaan gugup yang selalu muncul.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di sebuah rumah yang jauh lebih megah dibanding bangunan lain di desa. Kayu cokelat berkualitas tinggi, struktur yang kokoh. Jelas ini bukan rumah sembarang orang.
Xun'er mengetuk pintu dengan santai. Satu ketukan. Dua ketukan.
Krieet...
Pintu terbuka, memperlihatkan wajah Yao Li di baliknya.
"Dari mana saja kalian?" tanyanya dengan nada ingin tahu.
"Kami mampir ke tempat Nenek Su tadi. Xinyi lapar."
Pandangan Yao Li beralih pada Xinyi yang berdiri di samping Xun'er. Bukan curiga, hanya penasaran. Tapi melihat wajah polos Xinyi yang tak berdosa, ia mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh.
"Huhh... baiklah. Masuk, kalian berdua."
Yao Li menyingkir, membukakan jalan.
Di dalam, mereka disambut pemandangan seorang pria duduk di kursi panjang. Di sampingnya, Yuan Xi sedang meminum air dari cangkir keramik.
Pria itu memiliki rambut hitam legam dan mata biru laut yang menusuk. Wajahnya tegas namun tampan. Jelas bukan orang biasa. Auranya berbeda.
"Tetua, dia Lin Xinyi."
Pria yang disebut Tetua itu menoleh. Matanya menyapu Xinyi dari ujung kaki hingga ujung rambut. Sebuah penilaian yang menyeluruh dan teliti.
"Orang asing..." gumamnya. "Memiliki Mana yang kuat, tapi kehilangan ingatan?"
Xinyi terkejut. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Aku yang memberitahunya," Yao Li menjawab tenang.
"Lin Xinyi..." Suara Tetua itu rendah dan berwibawa. "Katakan padaku. Apa kau berbohong?"
Ketegangan langsung merasuki ruangan. Xinyi mundur selangkah, instingnya meneriakkan bahaya. "Tidak. Sama sekali tidak."
"Hoo~" Tetua itu mengangguk perlahan. "Kalau begitu, menurutmu bagaimana dengan desa ini?"
Xinyi diam sejenak, memilih kata-kata dengan hati-hati. "Untuk tempat orang-orang yang dibuang... sebenarnya ini cukup baik. Walau aku tidak melihat sepenuhnya."
"Lalu," Tetua melanjutkan dengan tatapan tajam, "berapa lama lagi kami bisa bertahan, menurutmu?"
Xinyi menarik napas. "Tidak tahu pasti. Hanya saja... kekuatan kalian akan terus ditekan. Sampai pada akhirnya..."
"Sampai pada akhirnya, Keturunan Darah Berdosa akan benar-benar punah. Begitu, kan?" Tetua memotong dengan nada datar, seolah sudah lama menerima kenyataan itu.
"Dia tahu soal ini... mungkin karena bisa melihat larangan itu," batinnya menganalisis.
Di sisi lain, Yuan Xi memperhatikan dengan alis berkerut. Kecurigaan masih terukir jelas di wajahnya. Meski Xinyi telah menyelamatkan mereka.
"Tetua," Xun'er maju selangkah, suaranya tegas. "Xinyi benar-benar tidak mengingat apapun. Dan faktanya, dia sudah menyelamatkan kami. Tidak ada alasan untuk menekannya seperti ini. Dia berbeda dari orang luar lainnya."
"Meski begitu dia tetap orang luar, kan?" Yuan Xi akhirnya angkat bicara. Ia berdiri dari kursinya, tatapannya menusuk Xinyi. "Aku tahu dia menyelamatkan kita. Tapi coba pikirkan lagi. Bisa saja itu hanya tipuan. Kebetulan macam apa dia ada di sana persis saat kita dalam bahaya?"
Yuan Xi melangkah lebih dekat. "Dia seharusnya tidak punya alasan untuk membantu kita. Seperti katanya sendiri, orang baik mana yang rela melemparkan sihir untuk menolong orang asing?"
"Orang baik itu adalah dia." Xun'er tiba-tiba berdiri tepat di depan Xinyi. Seperti tembok pelindung. "Aku sudah memastikannya. Dia tidak punya niat jahat."
"Xun'er..." Suara Tetua terdengar lebih berat kali ini. "Kau yakin dengan apa yang kau katakan? Jika dia tidak seperti perkiraanmu... nyawamu bisa jadi taruhannya."
"Tunggu, Tetua." Yao Li ikut campur, mencoba meredakan ketegangan. "Xun'er memang agak keterlaluan kali ini. Tapi ingat, dia biasanya tidak bicara tanpa alasan."
"Aku yakin." Xun'er menoleh ke Xinyi, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Campuran kepercayaan, harapan, dan sesuatu yang lebih dalam. "Dia tidak akan mengkhianatiku."
Xinyi terdiam. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Pikirannya dipenuhi beban kepercayaan Xun'er. Bagaimana jika ia mengecewakan? Bagaimana jika tanpa sadar ia melakukan sesuatu yang merugikan? Ketakutan itu mulai merambat seperti dingin yang meresap ke tulang.
"Cukup." Tetua berdiri, mengakhiri perdebatan.
"Lin Xinyi, aku Tetua desa ini. Namaku Miju Xie." Ia berhenti sejenak, membiarkan namanya mengisi ruangan. "Aku punya satu saran untukmu. Untuk membuktikan bahwa kau tidak berbahaya bagi kami."
"Apa itu?" Xinyi bertanya tanpa ragu, meski jantungnya berdegup kencang.
"Petaka Petir."
Kata-kata itu seperti sambaran.
"Hanya ada dua kemungkinan. Berhasil dan jadilah dewi desa ini, atau gagal dan mati."
Keheningan mencekam langsung melanda ruangan. Xun'er, Yao Li, dan Yuan Xi terkejut. Tidak ada yang menyangka Miju Xie akan menyarankan hal yang begitu ekstrem.
"Xinyi, jangan dengarkan itu!" Xun'er meraih lengan Xinyi dengan panik. "Petaka Petir bukan permainan! Itu bisa membunuhmu!"
Tapi di kepala Xinyi, perhitungan lain sedang berlangsung. Ia tidak akan bisa lolos dengan cara biasa. Ia tidak akan mendapatkan kepercayaan mereka dengan hanya kata-kata. Jika ia terus takut, ia tidak akan kemana-mana.
Saatnya melangkah lebih jauh.
Ini sudah mulai panas.
"Aku akan menerimanya." Xinyi menatap Miju Xie dengan mata yang penuh tekad. "Aku akan membuktikannya."
Yao Li dan Yuan Xi tidak dapat berbicara apapun.
"Apa kau gila?!" Xun'er memegangi kedua bahu Xinyi, memaksanya menatap matanya. "Sadarlah, Xinyi! Apa kau tahu betapa berbahayanya Petaka Petir? Jangan memutuskan seenaknya!"
"Aku tahu." Xinyi menyentuh tangan Xun'er dengan lembut, mencoba menenangkannya. "Tenanglah. Aku penyihir tingkat 4. Aku tidak selemah yang kau kira. Kau seharusnya tahu itu, kan?"
Xun'er terdiam. Meski kekhawatiran masih memenuhi matanya. Ada sesuatu dalam tatapan Xinyi. Sebuah keyakinan yang sulit dibantah.
"Sudah diputuskan," kata Miju Xie.
Keputusan telah dibuat.
Tidak ada jalan untuk mundur.
apa ada sejarah dengan nama itu?