Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Pagi itu terasa lebih berat dari biasanya.
Arcelia Virellia berdiri di depan lemari, memilih seragamnya dengan gerakan pelan. Tangannya berhenti sebentar saat menyentuh lengan bajunya.
Hari ini bukan tentang emosi.
Ia turun ke ruang makan dengan wajah tenang.
Papa Alveron sudah duduk membaca laporan. Mama Mirella menyiapkan sarapan. Bang Kaiven terlihat lebih serius dari biasanya, ponselnya tak lepas dari tangan.
“Artikel itu mulai dibahas di forum bisnis,” ujar Bang Kaiven tanpa menoleh.
Mama Mirella menatap Arcelia sekilas, khawatir tapi berusaha tidak menunjukkannya.
Arcelia duduk dan mulai makan perlahan.
“Biarkan saja Bang,” katanya ringan.
Bang Kaiven mendengus pelan. “Itu menyerang kamu loh Dek.”
“Justru itu.”
Papa Alveron akhirnya mengangkat kepala.
“Kamu punya sesuatu Nak?”
Arcelia menatap papanya beberapa detik.
“Aku sedang dalam proses mengumpulkan semua Pa.”
Papa Alveron mengangguk sekali. Tidak bertanya lebih jauh. Dan itu cukup.
Di sekolah,
Udara terasa lebih panas walau matahari belum tinggi. Bisik-bisik terdengar lebih jelas. Beberapa siswa memandang Arcelia dengan tatapan campuran, penasaran, simpati, dan gosip.
Ia berjalan lurus. Tidak mempercepat langkah. Tidak memperlambat.
Kaelion Ravert sudah menunggunya di dekat tangga.
“Aku lihat postingan itu,” katanya singkat.
“Aku tahu.”
“Kau tidak akan membalas?”
“Tidak di tempat umum.”
Kaelion menatapnya.
“Berarti kau akan langsung ke sumbernya.”
Arcelia tidak menjawab.
Tapi langkahnya berubah arah. Menuju ruang organisasi siswa, tempat yang biasanya sepi saat jam pelajaran pertama. Dan seperti yang sudah ia duga, Selena Ravert ada di sana.
Duduk di kursi, membaca sesuatu di tabletnya. Ia terlihat santai, terlalu santai.
“Selena.”
Suara Arcelia tenang.
Selena mengangkat wajahnya perlahan.
“Ah. Tokoh utama hari ini.”
“Aku tidak datang untuk drama.”
Selena tersenyum tipis. “Lalu?”
Arcelia mengeluarkan tablet kecilnya. Menampilkan satu per satu data yang ia kumpulkan.
Waktu login.
Jejak IP.
Pola unggah.
Dan akhirnya, nama jaringan yang terhubung.
Ravert Residence.
Ekspresi Selena tidak langsung berubah.
Tapi matanya menyipit sedikit.
“Menarik,” ucapnya pelan.
“Aku belum menyebarkannya,” lanjut Arcelia. “Karena aku ingin dengar langsung darimu.”
Hening beberapa detik.
Ruangan terasa sunyi.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada emosi meledak.
Hanya dua orang saling menatap.
“Kau memang pintar,” kata Selena akhirnya.
“Itu bukan jawaban.”
Selena berdiri perlahan. “Kau pikir dunia bisnis sebersih yang kau bayangkan?”
“Aku tidak peduli dunia seperti apa. Aku peduli siapa yang memulai ini.”
Selena melangkah mendekat.
“Kalau keluargamu terus naik, keluarga lain akan turun. Itu hukum tak tertulis.”
“Jadi ini tentang persaingan?”
“Ini tentang keseimbangan.”
Arcelia menatapnya tanpa berkedip.
“Keseimbangan tidak dibangun dengan fitnah.”
Untuk pertama kalinya, senyum Selena menghilang.
“Kau tidak punya bukti langsung aku yang menulisnya.”
“Aku punya cukup untuk menghentikannya.”
Hening kembali menggantung.
Selena menatap layar tablet Arcelia lebih lama.
Lalu tertawa kecil.
“Kau tidak akan menyebarkannya.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kau melakukannya, hubungan dua keluarga akan retak lebih dalam.”
Kalimat itu bukan ancaman. Itu perhitungan. Dan Arcelia tahu Selena benar. Jika ini meledak, bukan hanya bisnis yang terguncang. Tapi hubungan yang lebih besar.
“Kalau begitu hentikan,” kata Arcelia pelan.
Selena menatapnya. Beberapa detik yang terasa lama. Lalu ia mengambil tasnya.
“Blog itu akan berhenti.”
Ia berjalan melewati Arcelia.
Tapi sebelum keluar ruangan, ia berhenti.
“Kau menang ronde ini, Arcelia. Tapi jangan lupa… permainan belum selesai.”
Pintu tertutup.
Sunyi.
Arcelia menghela napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Tangannya sedikit gemetar. Bukan karena takut. Tapi karena tegang. Ia tidak menyangka Selena akan mengaku, walau tidak secara eksplisit. Dan itu cukup.
Sore harinya,
Artikel di blog itu menghilang. Akun anonim tidak lagi aktif. Komentar berhenti.
Kaelion mengirim pesan singkat.
Kaelion:
Blognya tutup.
Arcelia membalas singkat.
Arcelia:
Iya.
Beberapa menit kemudian.
Kaelion:
Apa yang kau lakukan?
Arcelia tersenyum kecil.
Arcelia:
Berbicara.
Malam itu,
Di balkon kamarnya, Arcelia memandang kota Lumin yang mulai sepi. Angin malam menyentuh wajahnya. Masalah belum selesai. Audit tetap berjalan. Tekanan bisnis belum hilang.
Dan Selena jelas tidak akan berhenti sepenuhnya. Tapi hari ini, Arcelia membuktikan satu hal.
Ia bukan gadis yang hanya bisa bertahan.
Ia bisa melawan.
Dengan tenang.
Dengan bukti.
Dan dengan kepala tetap tegak.
Dan entah kenapa, ia merasa ini baru awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. Walaupun blog itu sudah hilang, dampaknya tidak ikut menghilang.
Keesokan paginya,
Arcelia Virellia tetap menjadi pusat perhatian.
Di lorong sekolah, beberapa siswa masih membicarakan isu lama. Meski artikel sudah dihapus, tangkapan layar sudah terlanjur tersebar.
Gosip selalu lebih cepat dari klarifikasi. Arcelia membuka lokernya dengan gerakan tenang. Tenang. Ini memang belum selesai.
Kaelion Ravert berdiri di sampingnya. “Selena tidak membicarakan ini di rumah,” katanya pelan.
“Kamu mengawasinya?”
“Tidak. Aku hanya memperhatikan.”
Arcelia menutup loker. “Itu sudah cukup.”
Kaelion menatapnya beberapa detik. “Kau tidak menyesal tidak menyebarkan bukti itu?”
Arcelia menggeleng kecil. “Kalau aku menjatuhkannya sekarang, semua akan meledak. Audit Papa belum selesai.”
“Kau memilih menahan diri.”
“Aku memilih waktu.”
Kaelion tersenyum tipis.
“Berbahaya sekali kalau kau sudah mulai seperti ini.”
Arcelia hanya mendengus pelan.
Di sisi lain kota,
Di kantor pusat Virellia Group, suasana jauh lebih tegang. Papa Alveron duduk di ruang rapat bersama dewan. Laporan audit awal sudah keluar.
Tidak ada pelanggaran serius.
Tapi ada satu kejanggalan.
Satu mitra utama tiba-tiba membatalkan kerja sama.
Tanpa alasan jelas.
Bang Kaiven berdiri di belakang kursi papanya. “Ini bukan kebetulan,” ucapnya pelan setelah rapat selesai.
Papa Alveron menatap jendela kaca gedung tinggi itu. “Kita memang baru naik. Banyak yang belum nyaman.”
“Kita harus menyerang balik?”
Papa Alveron menggeleng. “Belum. Kita perkuat posisi dulu.”
Sore itu,
Arcelia mendapat pesan dari nomor tak dikenal.
Unknown:
Kau pikir menghapus blog menyelesaikan semuanya?
Jantungnya berdetak sekali lebih keras.
Ia membaca lagi.
Unknown:
Permainan baru saja dimulai.
Arcelia tidak langsung membalas. Ia menatap layar ponselnya.
Nomor itu tidak terdaftar. Tapi satu hal jelas, Selena bukan satu-satunya.
Atau—
Selena tidak bekerja sendiri.
Arcelia pergi ke ruang latihan sore itu. Suara pukulan ke samsak terdengar keras.
Bugh
Bugh
Bugh
Ia melepas ketegangan lewat gerakan. Napasnya memburu. Keringat menetes di pelipis. Kalau ada orang lain di balik ini… siapa?
Langkah kaki terdengar mendekat.
Kaelion berdiri beberapa meter darinya.
“Ada apa?” tanyanya melihat ekspresi Arcelia.
Ia menunjukkan pesan di ponselnya.
Kaelion membaca cepat.
Ekspresinya berubah tipis.
“Itu bukan gaya Selena.”
“Aku juga pikir begitu.”
Berarti ini lebih besar dari persaingan pribadi.
“Kalau begitu ada pihak lain yang diuntungkan,” gumam Kaelion.
Arcelia mengangguk pelan. “Dan mungkin mereka sengaja membiarkan Selena terlihat sebagai pelaku.”
Hening.
Itu berarti, ada orang yang bermain di balik layar.
Malam itu,
Keluarga Virellia kembali makan bersama. Elvarin bercerita tentang nilai ulangannya dengan semangat. Mama Mirella tersenyum hangat. Bang Kaiven terlihat lebih santai dari kemarin. Dan Papa Alveron akhirnya terlihat sedikit lega.
“Audit awal bersih,” katanya.
Suasana meja makan langsung terasa lebih ringan.
Arcelia ikut tersenyum.
Tapi dalam hatinya, ia tahu ini belum kemenangan. Ia memandang keluarganya satu per satu. Kalau ada orang lain di balik ini, aku harus menemukannya sebelum mereka bergerak lagi.
Ponselnya kembali bergetar.
Pesan baru.
Kali ini bukan nomor asing.
Tapi dari Kaelion.
Kaelion:
Aku akan cari tahu dari sisi keluarga. Tapi hati-hati. Jangan bergerak sendiri.
Arcelia menatap layar beberapa detik. Lalu membalas.
Arcelia:
Aku tidak akan ceroboh.
Ia berdiri dan berjalan ke balkon kamarnya setelah makan malam. Langit malam terlihat lebih tenang. Tapi ketenangan itu terasa menipu.
Blog sudah hilang.
Audit awal bersih.
Tapi ancaman belum selesai.
Karena sekarang, ada pemain baru. Dan Arcelia Virellia baru saja menyadari… ia sedang masuk ke permainan yang lebih besar dari yang ia kira.
makasih udah mampir🙏
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....