Tiga tahun sudah Lisa menikahi kakak iparnya tanpa ikatan cinta. Berbanding terbalik dengan Galih Almarhum suaminya yang begitu tampan, humoris dan begitu perhatian. Sikap Angga justru kebalikannya. Dia lelaki yang abai, tak banyak bicara dan kaku. Lisa bak menikah dengan robot. Tak ada yang menarik dalam pernikahan kedua lisa ini. Lisa hampir gila, hingga mengajukan perceraian pada mantan kakak iparnya itu. Angga menolak, lelaki itu berubah. Akankah Lisa tetap bertahan atau kembali meminta berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibah Ibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Lisa kembali bekerja, Angga sudah meminta semua karyawan agar tidak membicarakan pesta penyambutan kemarin, Lisa tidak boleh tahu kalau sebenarnya satu kantor sudah tahu kalau dia adalah istri CEO. Jika ada yang memberi tahu Lisa, atau Lisa sampai tahu kejadian kemarin dari siapapun itu, maka orang itu akan di pecat.
Angga sudah terlanjur bicara ke semua orang kantor kalau Lisa istrinya, tapi Lisa tidak mau itu di ungkit, dia tidak mau orang tahu, jadi jalan satu-satunya agar Lisa tidak marah. Angga memutuskan memberi ancaman seperti itu pada semua karyawannya.
Seperti biasa Lisa pergi ke kantor naik sepeda motornya. Lisa tidak mau berangkat bersama Angga, takut orang kantor berfikiran macam-macam. Lisa sengaja masuk lebih pagi, dia juga meminta sahabatnya Tari untuk masuk lebih awal juga. Lisa tahu Tari marah karena kemarin dia tak mengangkat telepon dari Tari. Ada lebih dari seratus panggilan masuk, banyak juga pesan masuk yang di kirim Tari untuknya. Lisa tahu Tari hawatir sekali pada Lisa karena Lisa tanpa kabar sama sekali. Jadi pagi ini Lisa sengaja membeli makanan kesukaan Tari, Lisa berencana mengajak Tari sarapan bersama dan menjelaskan apa yang terjadi kemarin. Tapi tentu sesuai yang sudah dia karang sendiri. Dan pastinya tidak ada Angga dalam kisahnya nanti.
Sejak menikah dengan Angga, Lisa memang sering berbohong pada Tari, tapi dia berjanji pada dirinya sendiri setelah Angga setuju berpisah, dia akan menceritakan semuanya.
Lisa menekan dadanya yang tiba-tiba terasa sakit, entah kenapa memikirkan perpisahan membuat hatinya seperti tersayat. Jujur dia tidak ingin jadi janda untuk yang kedua kali. Dia ingin mempertahankan pernikahan ini, tapi setelah tadi malam mereka berhubungan, Sepertinya keputusan Lisa sudah bulat. Meski hubungan semalam begitu membuat candu, namun kata terakhir yang keluar dari mulut Angga benar-benar membuat dia patah hati.
"Jangan lupa minum pil kontrasepsi itu, jangan sampai kehabisan stok"
Kata itu benar-benar membuat hati Lisa kembali hancur. Apa sebegitu hina dirinya, hingga Angga tak mau punya anak dari rahimnya? Entahlah, dia tidak ingin larut dalam kesedihan. Hari ini yang terpenting adalah merayu Tari agar dia tidak marah lagi.
Lisa menatap jam di tangannya, sudah jam tujuh, namun Tari tak kunjung datang. Apa dia tidak membaca pesan darinya?
Lisa masih menunggu hingga jam kerja masuk, tepat setengah delapan Tari baru terlihat masuk ke tempat duduknya, sahabatnya itu bahkan tidak mau menengok sama sekali ke arahnya. Apalagi menyapa.
Lisa mendekat, dia menatap Tari dengan wajah memelas, jurus puppy eyes dia keluarkan agar Tari tersentuh dan memaafkan nya. Tapi tidak sesuai ekspektasi, Tari nampak masih cuek dan diam.
" Tari maafin gue, kemarin ponsel gue jatuh, kaki gue juga terluka, jadi gue izin lagi kemarin, maaf ya nggak sempet ngabarin elu" Gumam Lisa sambil meraih tangan Tari. Lisa berharap Tari mau mengerti keadaannya.
Namun Tari masih melengos, dia hanya merasa bukan sahabat Lisa. Mana ada sahabat yang menyembunyikan pernikahannya? Pantas saja selama ini Lisa selalu menolak jika dia ingin berkunjung. Ternyata di rumahnya ada Boss besar yang juga suaminya. Tari begitu kesal, karena Lisa menyembunyikan hal sebesar ini darinya, apalgi ini sudah tiga tahun. Dia merasa tidak tahu apa-apa tentang sahabatnya sendiri. Atau memang Lisa sudah tidak mengaggap dirinya sahabat, hingga menyembunyikan hal besar ini darinya.
"Tari maafin gue"
"Udah gue maafin"
"Bohong, wajah kamu masih bete begitu"
"Lalu aku harus gimana!" Nada tari meninggi. Untuk pertama kalinya Tari bicara seperti ini pada Lisa. Lisa hanya tidak tahu kenapa Tari bisa semarah ini padanya.
Lisa tidak berani mendekat lagi, kalau Tari sudah mode begini, dia susah di dekati, namun setelah beberapa hari pasti sahabatnya ini kembali melunak.
"Kalau ada masalah, ceritain aja ke aku Tari, nggak usah di pendam sendiri"
"Kalau aku cerita ke kamu, aku bisa di pecat" Gumam Tari begitu pelan.
Lisa tak ingin membuat suasana makin panas,jadi dia akan mencoba memberi waktu Tari untuk menangkan diri.
****
"Pa! Aku mau Angga"
"Angga bukan lelaki yang bisa di paksa, meski papa menjatuhkan semua bisnisnya, dia tidak akan berubah fikiran. Papa tidak mau rugi"
Jawab Pak Wijaya. Partner kerja Papa Angga dulu, mereka memang sempat ingin menjodohkan putra mereka. Hanya saja Gina menolak dan kabur ke luar negeri karena lelaki yang akan di jodohkan dengannya adalah Galih, bukan Angga.
"Papa tahu aku cinta mati sama Angga. Pokoknya Gina cuma mau Angga pa, Papa bantu Gina"
Pak Wijaya menghembuskan nafas berat, Gina adalah anak satu-satunya. Pak Wijaya tidak bisa menolak kemauan putri tercintanya.
"Nanti papa cari cara lain, tapi papa tidak mau menjatuhkan Angga, dia bukan lelaki yang mudah di atur, dulu keluarga Pratama bisa bangkit dan sesukses ini juga berkat Angga, dia sudah pernah ada di titik nol saat ayahnya bangkrut, dia yang memulai lagi membangun perusahaan ayahnya di usia muda. Dia tidak akan mudah di bujuk hanya dengan ancaman kekuasaan. Kita harus cari cara halus, gunakan kesempatan sekecil apapun itu"
"Karena itu bantu Gina Pa, Gina bahkan sudah jadi partner bisnis Angga, berbagai cara sudah Gila lakukan, tapi selalu gagal"
"Tenanglah sayang, papa janji Angga akan jadi suami kamu, dia calon menantu yang patut di perjuangkan"
Gina memeluk papanya, jika Papanya sudah berjanji, meski dia harus menghabiskan darah terakhirnya pasti ayahnya akan melakukan itu.
"Gina sayang papa"
****
Satu bulan berlalu
Angga kembali dingin seperti dulu karena Lisa selalu saja minta berpisah darinya. Angga hanya diam, dia sudah lelah menjawab pertanyaan itu. Dia mengalihkan perhatian Lisa dengan menyibukkan istrinya di kantor. Keduanya jadi partner kerja yang profesional. Meski sampai rumah, mereka seperti orang asing lagi. Angga tidak mau bicara dengan Lisa. karena Lisa selalu saja membicarakan perceraian.
Angga memijat lehernya yang terasa pegal, dia menatap jam, sudah jam sepuluh malam.
"Lisa pasti sudah tidur" gumam Angga segera membereskan tempat kerjanya. Angga sengaja pulang malam.Hanya saat tidur saja, Angga bisa menatap Lisa dengan tenang. Angga sering diam-diam mencium istrinya saat dia terlelap. Sungguh Angga tidak ingin mereka berpisah. Tapi Lisa terus saja mendesak.Jadi Angga sengaja pulang malam, agar tidak ada pembicaraan tentang perceraian lagi. Angga bangkit dari kursinya, dia berjalan ke arah pintu, namun betapa terkejutnya dia saat membuka pintu itu.
"Mama?"
Ibunya menatap tajam ke arah Angga, wajahnya nampak kesal, amarah terpancar begitu jelas di wajah ibunya. Membuat Angga menelan salivanya kasar.
"Masuk!"
Angga terpaksa masuk ke kamar ruangannya lagi. Sungguh tatapan ibunya lebih menyeramkan dari pada singa.
Satu hari sebelumnya.
Bu Nada meminta bik Sumi melaporkan keadaan Lisa. Bu Nada ingin sekali mendengar kabar baik itu. Namun justru kabar buruk yang dia dapat.
"Mereka kembali seperti dulu Bu, tidak ada romantis-romantisnya, tapi mereka sudah tidak tidur terpisah lagi"
"Sepertinya aku harus bicara sama Angga. Anak itu selalu saja dingin dengan wanita" gumam Bu Nada geram. Dia sudah susah payah merayu Lisa agar kembali jadi menantunya. Tapi kanapa Angga mendiamkan wanita sebaik dan semanis Lisa.
gws ya🙏
mungkin besok tidak up dulu 🙏🙏