Aku hanyalah setetes air di tengah samudra luas.Melangkah di dunia ini semata-mata agar tetap merasa hidup.
Dengan pedang di tanganku, aku menolong mereka yang terjatuh.
Aku menebas musuh, menghabisi iblis, dan menghadang kegelapan.
Namun aku ragu…Mampukah aku menyelamatkan diriku sendiri?
Dengan kekuatan yang bahkan mampu menumbangkan naga,
Akulah legenda yang bangkit dari darah dan luka—Sang Legenda Naga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Kebangkitan Sang Pendekar Suci
Pedang Naga di tangan Tian Shan mengeluarkan raungan yang membelah langit merah tersebut.
Dengan kecepatan yang melampaui kedipan mata, ia melesat ke arah barisan orang-orang yang pernah ia cintai.
Ujung pedangnya hanya berjarak beberapa inci dari leher Guru Xinjiang yang menatapnya dengan kesedihan yang mendalam.
"Mati!" raung Tian Shan.
Namun, tepat saat hawa dingin pedang itu menyentuh kulit Xinjiang, bayangan wajah Lin yang tersenyum di sore hari saat mereka melihat matahari terbenam melintas di benaknya.
Ia mengingat rasa hangat arak yang ia minum bersama Gao Feng, dan sedikit rasa sedih yang ia rasakan saat ia memakamkan gurunya.
Kekosongan itu tidak harus diisi dengan darah. Kekosongan itu sudah penuh sejak lama—oleh mereka.
"CUKUP!"
Tian Shan memutar tubuhnya secara tidak wajar di udara. Mengabaikan perintah sisi jahatnya, ia memutar arah tebasan 180 derajat.
Pedang naga itu meluncur bukan ke arah para hantu kenangannya, melainkan tepat ke arah jantung pria bercaping yang berdiri di sampingnya.
"Apa?!" Sisi jahat Tian Shan terbelalak.
"Kau bukan aku," bisik Tian Shan dengan suara yang bergetar namun penuh keyakinan. "Aku bukan lagi bejana kosong yang bisa kau isi dengan kebencianmu."
CRACK!
Saat pedang itu menembus dada sang iblis batin, realitas merah itu mulai retak seperti kaca yang dihantam godam.
Sosok Xinjiang, Lin, dan dunia pembantaian itu hancur menjadi debu cahaya.
Mata Tian Shan terbuka perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah beratnya kelopak matanya dan keheningan yang luar biasa sunyi.
Kepompong kristal biru yang menyelimutinya di Hutan Larangan telah hancur menjadi butiran debu.
Ia mencoba berdiri, namun tubuhnya terasa sangat asing.
Rambutnya kini telah memanjang hingga menyentuh tanah, dan sebagian kecil di pelipisnya telah memutih—tanda ia telah melampaui batas umur manusia normal menuju ranah Pendekar Suci.
"Hanya satu hari yang sangat panjang..." gumamnya, suaranya terdengar lebih dalam dan berwibawa.
Namun, saat ia melangkah keluar dari hutan, ia terpana melihat desa di kaki gunung yang dulu ia kenal.
Desa itu kini telah berubah menjadi kota besar dengan teknologi bangunan yang jauh lebih maju. Ia menghentikan seorang pengembara yang lewat.
"Tahun berapa sekarang?" tanya Tian Shan.
Pengembara itu menatap Tian Shan dengan ngeri dan takjub—melihat pria dengan aura yang begitu agung dan pakaian kuno. "Tahun... tahun 230 Era Naga, Tuan."
Tian Shan tertegun. Ia telah tertidur selama 50 tahun. Bayi-bayi yang ia tolong kini sudah menjadi kakek-nenek.
Dunia mungkin sedikit meragukannya, atau lebih tepatnya, telah mengubahnya menjadi sebuah mitos yang tak lagi dianggap nyata.
Tanpa mempedulikan keterkejutannya, fokus Tian Shan kembali pada satu hal: Negara Matahari Terbit.
Dendamnya pada orang tua biologisnya belum mendingin meski setengah abad telah berlalu. Baginya, luka itu baru terjadi kemarin sore.
Ia berjalan melintasi benua dengan langkah santai namun menempuh ribuan mil dalam hitungan jam.
Ia tidak lagi terbang dengan gemuruh; ia bergerak seperti bisikan angin yang tak terlihat.
Di perbatasan Negara Matahari Terbit, ia berhenti di sebuah kedai tua di pinggir jalan raya utama.
Kedai itu tampak ramai oleh para pendekar muda yang mengenakan seragam dengan lambang klan terpandang—klan yang sama dengan pria yang membuangnya ke hutan puluhan tahun yang lalu.
Tian Shan masuk ke dalam kedai. Suasana yang tadinya bising mendadak senyap. Kehadirannya membawa aura dingin yang menekan, meski ia tidak melepaskan sedikit pun Qi-nya. Ia duduk di pojok, meletakkan pedangnya yang kini dibalut kain lusuh di atas meja.
"Pelayan," ucapnya tanpa mengangkat kepala. "Berikan aku arak paling keras yang kau punya, dan temani aku duduk."
Para pendekar muda di meja sebelah mulai saling lirik, merasa terganggu oleh orang asing yang berani menyebut nama klan penguasa mereka dengan nada sedatar itu.
Mereka tidak tahu bahwa di hadapan mereka sedang duduk seorang Pendekar Suci yang baru saja terbangun dari tidur 50 tahunnya, siap untuk menagih hutang darah.