Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.
Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.
Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Suamiku
“A-apa maksud Ibu?” tanyanya pelan, mencoba memastikan jika dia tidak salah mendengar.
"Maaf Bu Celine, saya benar-benar nggak ngerti.”
Celine tidak langsung menjawab. Tangannya bergerak pelan di atas meja, lalu menggenggam jemari Amira.
Dia menunduk sebentar, seolah menahan sesuatu yang menyesakkan di dadanya, lalu mengangkat wajahnya kembali.
Matanya sayu, bukan mata orang yang sedang bercanda. Mata itu terlihat lelah, dan juga penuh permohonan.
“Mir ....”
Amira diam, napasnya tertahan. Celine kemudian menggenggam jemari Amira lebih erat, seolah takut Amira akan menarik diri dan lari.
“Jadilah istri suamiku.”
Kalimat itu terlontar begitu saja, tapi menghantam seperti palu.
Amira membeku. Seluruh tubuhnya terasa dingin dalam satu detik.
Bibir Amira bergetar.
"Ibu, ngomong apa?”
Celine menghela napas, matanya berkaca-kaca.
“Aku nggak bisa lagi. Aku udah coba, tapi aku ingin mewujudkan keinginanku. Aku nggak bisa jadi istri yang seperti suamiku inginkan.”
Amira menarik tangannya pelan, tapi Celine masih menahannya.
“Bu Celine, itu nggak mungkin .…”
Celine menatapnya tanpa berkedip.
“Mungkin, dan aku yakin kamu bisa.”
Amira menggeleng cepat, seperti ingin mengusir mimpi buruk.
“Saya bukan orang baik, Bu. Saya cuma orang biasa. Saya cuma karyawan rumah makan biasa.”
Celine memotong, “Justru itu.”
Amira terdiam. Sedangkan Celine menatap Amira, suaranya makin pelan, dan berat.
“Kamu tipe wanita yang diinginkan suamiku.”
Amira ternganga. Kalimat itu menusuk, walau Celine mengucapkannya tanpa niat jahat.
“Dirga butuh seseorang yang bisa dia genggam. Yang bisa dia ajak bicara kapan pun. Yang bisa ada di rumah. Yang bisa ngasih dia perhatian.”
Celine menelan ludah, lalu berkata dengan nada getir.
“Aku nggak bisa jadi itu.”
Amira menatap Celine lama. Dadanya terasa begitu sesak, otaknya kacau. Namun, di sela kepanikan itu, Amira teringat ibunya.
Ibunya yang baru saja hidup kembali..Ibunya yang masih terbaring di ICU. Ibunya yang mungkin tidak akan pernah tahu dari mana semua biaya itu berasal.
“Kalau saya nolak?"
Celine menatapnya, tidak menjawab. Namun, dari tatapannya, Amira tahu, ini bukan sekadar permintaan. Ini adalah hutang yang sedang ditagih, dan sialnya, Amira sudah pernah bersumpah pada dirinya sendiri, akan melakukan apa pun yang diminta Celine.
"Amira please."
Raut wajah, dan sorot mata Celine kian sayu. Amira menelan ludah. Air mata menggenang di matanya.
“Bu, kenapa harus saya?”
Celine menggenggam jemari Amira sekali lagi. Karena sekarang, Celine tidak lagi terlihat seperti dosen hebat yang tegas. Celine terlihat seperti perempuan yang rapuh.
“Karena aku percaya kamu, karena kamu, satu-satunya orang yang bisa aku mintai pertolongan, dan aku yakin kamu juga bisa jaga rahasia ini.”
Amira memejamkan mata. Napasnya patah-patah, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Amira merasa ia sedang berdiri di persimpangan yang salah, dan tidak punya jalan lain untuk pulang.
Celine masih menggenggam jemari Amira. Tatapannya tidak berubah, sayu, dan lelah, seperti orang yang sudah memikirkan ini berulang kali sampai tidak ada pilihan lain di kepalanya.
“Mira, tolong jangan nolak aku .…”
Amira menelan ludah. Di kepalanya, suara janjinya sendiri berputar-putar, seperti kutukan.
Amira memejamkan mata sebentar, mencoba menenangkan diri.
“Bu, tapi ini bukan hal kecil.”
Celine mengangguk pelan, tapi tidak melepas genggamannya.
“Aku tahu ini gila.”
Celine menunduk sebentar, lalu mengangkat wajah lagi.
“Aku cuma butuh kamu bantu aku, Mir.”
Amira terdiam. Ada bagian dalam dirinya yang ingin berdiri dan pergi. Namun, di satu sisi, ada bagian lain yang merasa, dia tidak punya hak untuk lari. Karena Celine lah ibunya hidup. Karena Celine lah ibunya masih bernapas.
Celine mengusap punggung tangan Amira pelan, lalu berkata dengan nada yang lebih lembut—lebih masuk akal.
“Aku nggak akan maksa kamu sekarang.”
Amira menatapnya. Celine melanjutkan, “Aku biarkan kamu rawat ibu kamu dulu.”
Amira menelan ludah, napasnya tertahan.
“Setelah kondisi ibu kamu memungkinkan, baru aku perkenalkan kamu dengan suamiku.”
Kalimat itu terdengar tenang. Namun, justru Amira merasa itu seperti keputusan yang sudah tak bisa lagi ditawar.
Amira memandang meja. Tangannya dingin.
“Bu Celine, gimana kalau kalau suami Ibu nggak mau?”
Celine tersenyum tipis. Senyum yang aneh, seperti orang yang sudah hafal sifat seseorang.
“Dia pasti mau," jawab Celine tanpa ragu.
Amira membeku. Celine menatap Amira dengan serius.
“Dirga itu manja, dia cuma butuh seseorang yang perhatian sama dia.”
Celine menggenggam jemari Amira sekali lagi.
“Mir, aku nggak minta kamu cinta dia.”
Amira menatap Celine, terkejut.
Celine melanjutkan, suaranya sangat pelan.
“Aku cuma minta kamu, jadi tempat dia bersandar.”
Amira menggigit bibirnya. Air matanya jatuh.
Amira akhirnya mengangguk pelan.
“Jadi, kamu setuju?”
Amira menunduk.
“Iya, Bu. Bagaimanapun keadaannya juga, saya punya hutang budi sama Ibu. Tapi, jujur saja saya takut.”
Celine menghembuskan napas panjang, seolah baru saja bertahan dari tenggelam. Lalu dia tersenyum kecil.
“Kamu nggak sendirian, Amira. Ada aku."
Akan tetapi, entah kenapa, kalimat itu tidak membuat Amira tenang. Justru membuatnya semakin takut.
Karena Amira sadar, mulai hari ini, hidupnya bukan hanya sedang merawat ibunya. Namun, juga sedang masuk ke hidup orang lain.
Amira mengangguk pelan.
“Makasih, makasih ya, Mir.”
Amira menatapnya, masih bingung. Celine mengulang lagi, suaranya lebih lirih.
“Makasih, makasih banget.”
Celine mengusap jemari Amira, lalu menatapnya dengan serius, matanya berkaca-kaca.
“Dirga itu orang baik,” katanya, seperti sedang meyakinkan Amira, atau meyakinkan dirinya sendiri.
“Dan aku berani jamin, dia nggak akan nyakitin kamu.”
Amira mengangguk kecil, tapi hatinya tidak sepenuhnya tenang. Karena bagi Amira, semua ini masih terdengar tidak masuk akal.
Di satu sisi, Amira merasa dia sedang dibantu. Namun, di sisi lain, bagian hati Amira terasa heran. Bahkan nyaris tidak percaya, ada wanita yang mau menyerahkan suaminya pada wanita lain.
Amira menatap wajah Celine. Wajah perempuan itu cantik, pintar, berkelas, punya karier yang tinggi.
Namun, dia justru memilih duduk di sini, di sebuah cafe, dan memohon pada seorang gadis lulusan SMA untuk mengambil tempat yang seharusnya miliknya.
Amira menelan ludah.
“Bu Celine ...,” panggilnya pelan. Celine menoleh. Amira ragu sebentar, lalu bertanya dengan suara yang sangat hati-hati.
“Ibu masih sayang sama suami Ibu?”
Pertanyaan itu membuat Celine terdiam. Tangannya melemas di atas meja. Matanya menatap jauh, seolah dia sedang menghitung ulang seluruh hidupnya.
“Aku sayang, cuma aku nggak mau dia ganggu karirku.”
Amira terdiam. Celine melanjutkan, suaranya seperti bisikan yang hampir hilang.
“Aku sayang, tapi aku juga punya ambisi yang ingin kuwujudkan.”
Hening, di antara mereka, hanya ada suara sendok kecil yang beradu dengan piring dari meja lain.
Beberapa saat kemudian, Amira menarik napas panjang, lalu perlahan berdiri dari sofa.
“Bu, aku pamit dulu ya. Aku mau balik ke rumah sakit. Nemenin ibu.”
Celine menatapnya, lalu ikut berdiri.
“Oke,” jawab Celine singkat.
Namun sebelum Amira benar-benar melangkah, Celine meraih tangan Amira sekali lagi, lebih pelan, lebih lembut.
“Makasih ya, Mir.”
Amira menunduk. Celine mengulang, seperti tidak bosan.
“Makasih banget.”
Lalu Celine menatap Amira serius.
“Kalau kamu udah siap, kamu bisa hubungi aku.”
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..