NovelToon NovelToon
Sistem Reward 2× Lipat

Sistem Reward 2× Lipat

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Sistem / Mengubah Takdir / Mafia / Romansa
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Loorney

Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.

Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.

Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 - Misi Di Tengah Pertarungan

Semua yang Gerard lakukan sangat berbeda dari bayangan mereka. Sosoknya yang berdiri tenang dengan dada naik turun itu menciptakan suasana yang lebih berat—aura yang tak pernah mereka duga akan muncul dari seorang "bocah biasa". Tatapannya masih tajam, seperti predator yang belum puas.

Orang gila dari mana ini? Si botak menggertak dalam hati, rahangnya mengeras kuat. Di balik kacamata hitamnya, ia menatap tajam sosok Gerard. Dia bilang cuma nangkap bocah biasa. Sialan.

Seseorang telah membayar mereka—menargetkan Gerard sejak masih dirawat di rumah sakit. Tapi penjagaan di sana terlalu ketat, membuat rencana mandek. Hingga akhirnya mereka berhasil menguntitnya sampai ke tempat pribadi. Itu sudah lebih dari cukup.

Tapi siapa sangka, orang yang baru koma itu kini berdiri dengan tubuh tegap, tanpa sedikit pun luka. Sungguh berbeda dari harapan mereka yang mengira semuanya akan berakhir cepat.

Melihat satu per satu maju hanya menjadi antrean menuju kekalahan, bawahan si botak saling mendekat. Mereka berkumpul—pemegang senjata di depan, si tangan kosong di belakang. Sebuah formasi yang tak butuh kata-kata. Hanya tatapan, dan semua rencana terpatri.

Situasi kembali seimbang. Gerard mengangkat tinjunya lagi, siap—

[Misi Terpicu!]

[Kalahkan Preman Yang Tersisa]

[2/6]

[Status: Sedang Berlangsung]

[Hadiah: Rp6.400.000.000 + Kemampuan Baru]

[Sisa Waktu: 2 jam]

[Penalti: Hadiah selanjutnya direset]

[Terima/Tolak]

Panel biru itu melayang di hadapannya, memecah fokus Gerard untuk sesaat.

Sekarang? Seriusan?

Ia menghela napas berat. Sistem memang aneh—tak pernah bisa ditebak kapan akan muncul.

Tapi misi ini menambah tekanan baru. Bukan hanya tentang bertahan hidup, tapi juga tentang target yang harus ia selesaikan. Gerard masih belum tahu apa yang akan terjadi jika ia kalah. Yang ia tahu, ia harus keluar dari situasi ini—dan mencari tahu siapa dalang di balik semua ini.

Menolak atau menerima—semuanya berakhir dengan hal yang sama. Tak ada jalan kabur. Maka tanpa basa-basi, Gerard mengangguk. Bukan pada mereka, tapi pada dirinya sendiri—juga Sistem.

Ia berjalan pelan, mengambil tongkat besi yang terlepas dari tangan si kurus—masih pingsan di atas aspal panas. Jari-jarinya melingkar erat di gagangnya. Berat. Kokoh. Mematikan.

Gerard berdiri tegak, tongkat di tangan, menatap mereka dengan sorot tajam. Dalam beberapa detik, ia mencoba memprediksi pergerakan—tapi tak satu pun terjadi. Setidaknya, belum.

Singkirkan egomu, Gerard.

Batinnya masih bergemuruh. Ia belum puas dengan pertarungan tangan kosong, tapi kini bukan waktunya untuk aji mumpung. Di hadapannya, dengan kemampuan membaca niat, ia bisa melihat mereka masih tak berniat membunuh. Tapi luka parah? Itu tetap mungkin terjadi.

Tak ada suara.

Hanya angin berdesir, membawa sehelai daun kering melayang pelan di antara mereka. Napas tertahan. Tatapan saling mengunci dengan ancaman masing-masing.

Bruk!

Daun itu mendarat di aspal.

Kedua sisi bergerak bersamaan.

Dua pria bersenjata berlari beriringan. Gerard maju, tongkatnya terayun—Trang!—serangan pipa berhasil ditangkis. Tapi di balik si pemegang pipa, pria lain dengan tongkat bisbol muncul seperti bayangan. Gerakannya lincah, menusuk celah pertahanan, mengarah ke rusuk.

Brak!

Serangan itu mendarat—tapi hanya menemukan siku Gerard yang sigap menutup titik lemah. Nyeri menjalar, tapi tak cukup untuk membuatnya tumbang. Ia mundur cepat, mengambil jarak, napasnya sedikit memburu.

Pukulan itu lumayan sakit...

Matanya melekat pada dua pria yang kini semakin mendekat. Tongkat di tangannya terasa semakin berat—tapi bukan karena lelah. Tapi karena ia tahu, ini baru dimulai. Kewaspadaannya memuncak, disertai gerakan selanjutnya yang langsung ia tanggap dengan cepat.

Kedua pria bersenjata itu melebar, membentuk sudut serangan yang sulit diprediksi.

Pipa paralon melayang cepat—Gerard merunduk, merasakan desiran udara di atas kepalanya. Belum sempat ia memanfaatkan celah, serangan lain sudah tiba dari samping. Tongkat bisbol. Terlalu cepat.

Trang!

Beruntung, refleksnya bekerja. Tongkat besi terangkat tepat waktu, menahan ayunan keras itu. Guncangan menjalar ke lengannya, tapi ia bertahan. Mata pria bertongkat bisbol membelalak—tangannya bergetar hebat menahan benturan.

Sekilas, Gerard menangkap gerakan dari sudut mata: pria pipa sudah bersiap menyerang lagi.

Tanpa berpikir, tubuhnya bergerak. Ia menyamping cepat, masuk ke dalam pertahanan pria bisbol. Jarak terkikis dalam sekejap. Tongkat besi masih di tangan—tapi kali ini ia tak mengayun.

Buk!

Siku menghantam ulu hati. Pria bisbol itu melengkung, suara "eugh!" keluar dari mulutnya. Tongkatnya terlepas.

Gerard melepaskan tongkat besinya. Kaki bergerak lincah, masuk lebih dalam. Tiga pukulan kilat—Bak! Buk! Bak!—menghantam rusuk, perut, dan lagi rusuk. Bodyshot yang akurat dan mematikan.

Tubuh pria itu lemas. Lututnya membentur aspal, lalu roboh tak bergerak. Terlalu lemah, tenaganya hilang dengan napas yang semakin berat.

[3/6]

Sementara di sisi lain, Gerard berhasil menghindari serangan pipa yang menghantam dari atas. Jarak mereka relatif aman—tapi pria itu tak memberinya waktu. Dengan memanfaatkan berat tubuh, ia menerjang, melancarkan serangan lebih bertenaga sebelum akhirnya mendarat dan berguling ke sisi lain.

Bak!

Pukulan itu keras. Menghantam lengan Gerard yang terangkat membentuk tameng. Tenaganya terkuras untuk sesaat—tapi belum sempat ia bernapas lega, suara langkah kaki sudah terdengar di belakang.

Pria bertangan kosong melancarkan tiga pukulan beruntun. Satu ke kepala belakang, dua ke bahu. Yang pertama berhasil dihindari dengan gerakan cepat—tapi dua pukulan lainnya menghantam keras bahu kanannya.

Tubuh Gerard terdorong ke depan. Dengan refleks, ia berputar, kakinya bergerak mundur memberi jarak. Bahunya menjerit sakit. Tapi mengabaikannya sekarang adalah satu-satunya pilihan.

Bertahanlah. Aku bisa menghadapinya...

Dalam pertarungan ini, satu hal menjadi jelas: terburu-buru adalah pedang bermata dua. Gerard sudah terlalu terbawa suasana dari pertarungan sebelumnya. Kini ia harus lebih tenang.

Napasnya diatur perlahan. Matanya melekat pada mereka yang berjalan mendekat, memojokkannya semakin jauh.

Pria pipa bergerak lebih dulu. Satu pukulan melayang—lebih lambat dari sebelumnya. Gerard mendorong tubuhnya ke samping, berhasil menghindar. Tapi di sisi itu, pukulan lain sudah menanti—tinju besar melengkung ke arahnya. Gerard mengangkat tangan, membiarkan pukulan itu mendarat di lengannya.

Kombinasi serangan berlangsung terstruktur, kerja sama rapi yang membuatnya sulit membalas. Sesekali ia melancarkan satu-dua pukulan balasan, tapi sebagian besar waktu ia habiskan untuk menghindar atau menerima serangan. Belum terlalu parah—tapi posisinya semakin tak nyaman. Terus dipaksa mundur.

Punggungnya menabrak sesuatu. Mobil. Hitam, bukan miliknya.

Dalam sepersekian detik, tangannya menyentuh kolong kendaraan. Ia menarik napas pendek, lalu kembali fokus pada mereka yang sudah mendekat.

Pria pipa melancarkan serangan bertenaga penuh—mengorbankan kecepatan demi kekuatan. Gerard menarik bahu kirinya, membiarkan pipa paralon itu meleset.

Brak!

Pipa menghantam body mobil. Suara keras disertai bunyi kaca retak dan logam penyok terdengar memekakkan telinga.

Kesempatan terbuka lebar di depannya. Dengan gerakan kuat, Gerard menendang pria pipa, membuatnya terhuyung cukup jauh. Begitu celah tercipta, tubuhnya membungkuk cepat—pukulan bertubi-tubi dilancarkan. Pelipis, rusuk, ulu hati. Suara dentuman terdengar renyah, menyakitkan.

"Kahk!"

Napas pria itu tersendat. Tubuhnya limbung, tak lagi mampu menopang. Gerard memanfaatkan momen itu—tubuhnya menurun lebih rendah, berat badan bertumpu pada ujung kaki kanan. Pinggang berputar, dan satu pukulan keras melesat dari bawah.

Bak!

Uppercut. Rahang kiri pria pipa terangkat keras. Bukan lagi air liur yang muncrat—tapi darah.

Bruk!

Tubuhnya jatuh. Masih bergerak, berusaha bangkit, tapi tak berhasil.

[4/6]

Namun di belakang, ancaman lain sudah datang.

Pria bertinju melompat. Pukulan dengan momentum tubuh di udara—bisa menghancurkan jika mendarat. Tapi kaki Gerard sudah bergerak lebih dulu. Meliuk ke kanan, meninggalkan bayangan yang hanya memukul udara kosong.

Pria itu mendarat dengan kasar, meraung kesal. Tatapannya kini berbeda—bukan lagi amarah biasa. Tapi haus.

[Niat Target: Mematahkan kaki dan tangan.]

Merinding menjalar di punggung Gerard. Tapi tinjunya tetap terangkat. Napasnya berat, tubuhnya letih, tapi senyuman masih tersisa.

"Tinjumu... bagus."

Pria itu berjalan mendekat. Perlahan. Percaya diri penuh.

"Kau juga," balasnya, suara berat dan dalam. Matanya menyipit. "Tapi itu udah nggak penting. Di sini, kau akan mati di tanganku."

Langkahnya cepat saat mendekat. Tinju-tinjunya melayang di udara—bukan untuk menyerang, tapi mengukur jarak. Menguji. Mencari celah.

Tinggi mereka hampir sama. Jangkauan pun serupa. Dua petarung kini hanya berjarak beberapa langkah, saling mengamati, berkutat dengan pikiran masing-masing sebelum langkah selanjutnya diambil.

Dia seperti profesional.

...*•*•*...

Tensi naik lebih cepat.

Pria di hadapannya melangkah maju—satu, dua—pukulan lurus dilayangkan. Gerard membalas, tapi lawannya menangkis dengan cepat, lalu melancarkan counter attack mematikan. Jab! Pukulan keras menghantam wajah Gerard, membuatnya terhuyung ke belakang.

Menghadapi petarung yang lebih ahli dalam keadaan lelah sungguh menyiksa. Gerakannya melambat, fokus mulai buyar. Berkali-kali ia hanya selamat berkat refleks kepala yang masih bekerja—tubuhnya masih bisa meliuk, menghindar dari pukulan-pukulan mematikan.

Tapi ini bukan ring.

Saat Gerard merunduk menghindari serangan cepat—yang ternyata hanya tipuan—sebuah lutut sudah melayang ke arah kepalanya. Bak! Beruntung, ia sempat bergerak, menahan sebagian dampaknya dengan lengan. Tapi dari serangan itu, satu hal menjadi jelas: pertarungan jalanan tak pernah adil.

Pria itu terus mendesaknya dengan kombinasi jab mematikan. Gerard mundur, langkahnya limbung—sampai kakinya menyentuh sesuatu di aspal.

Linggis.

Benda itu tergeletak sejak tadi, tak jauh dari tempatnya berdiri. Gerard tersenyum tipis.

Dengan memanfaatkan posisinya yang terdesak—saat pria itu mendekat untuk serangan berikutnya—Gerard sudah siap dengan rencana. Pria itu melesatkan pukulan cross cepat. Gerard merunduk, membiarkan tinju itu melintas di atas kepalanya. Tangannya meraih linggis.

Dalam satu gerakan, tubuhnya berputar cepat. Linggis terayun dengan seluruh sisa tenaga yang ia miliki—memanfaatkan momentum putaran untuk kekuatan maksimal.

Bak!

1
marsellhayon
secara cerita,ceritanya bagus hadiah dr sistem juga lbh masuk akal,gak terlalu berlebihan.
hanya alurnya aja yg terasa sangat lambat.
semoga bisa sampai tamat dan penulisnya tetap semangat./Smile/
DRAGO
👍
Loorney: Apapun yang kamu maksud, makasih udah komen!! Dukungan mu selama ini udah saya perhatikan, rasanya membahagiakan di saat saya sendiri dibuat stres sama keberlangsungan cerita.
total 1 replies
Loorney
Nulis buru-buru emang bikin kacau, update dulu baru revisi 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!