NovelToon NovelToon
JEJAK YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA

JEJAK YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Sinopsis:

Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.

Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ORANG YANG TIDAK BISA DITINGGALKAN

Liang Chen terbangun sebelum fajar menyentuh garis pepohonan.

Bukan suara yang membangunkannya. Bukan mimpi buruk. Hanya tekanan samar di dada—perasaan bahwa dunia di sekitarnya telah berubah posisi, meski tak satu pun daun bergeser.

Api unggun tinggal bara kemerahan. Udara dingin merayap dari tanah dan menempel pada kulit seperti lapisan tipis es. Liang Chen duduk perlahan, membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan gelap yang mulai menipis.

Ia selalu percaya bahwa tubuh lebih jujur daripada pikiran.

Dan tubuhnya sedang waspada.

Pandangan pertamanya jatuh pada Xu Fan.

Pria itu masih bernapas. Dadanya naik turun dengan irama berat namun stabil. Balutan di pahanya menghitam oleh darah lama yang merembes tipis, tapi tidak ada bau busuk yang menandakan pembusukan cepat.

Masih hidup.

Entah mengapa, fakta itu tidak memberinya rasa lega yang utuh.

Liang Chen berdiri, menambahkan dua potong kayu kecil ke bara api. Percikan kecil muncul, lalu menyatu menjadi nyala yang enggan membesar.

“Aku pikir kau sudah pergi.”

Suara Xu Fan parau, tapi sadar.

Liang Chen tidak menoleh. “Aku tidur di sini.”

Xu Fan menggeser tubuhnya perlahan hingga bersandar pada batang pohon di belakangnya. Wajahnya pucat, namun matanya lebih tajam daripada kemarin.

“Itu artinya kau memilih,” katanya pelan.

Liang Chen mengamati api beberapa saat sebelum menjawab. “Aku memilih agar kau tidak mati kedinginan.”

Jawaban itu cukup datar untuk terdengar netral, tapi tidak cukup dingin untuk sepenuhnya meyakinkan.

Xu Fan tersenyum kecil. “Alasan yang masuk akal.”

Keheningan menyelimuti mereka beberapa detik. Hutan mulai mengeluarkan suara paginya—gesekan dedaunan, burung pertama yang menguji udara.

“Kau masih bisa pergi,” lanjut Xu Fan. “Mereka mengejarku, bukan dirimu.”

Liang Chen akhirnya menoleh. Tatapannya tidak keras, hanya lelah.

“Jika aku pergi sekarang,” katanya, “aku akan tetap memikirkanmu sampai malam.”

Xu Fan tidak menjawab lagi.

Mereka bergerak ketika cahaya matahari mulai menembus sela cabang. Liang Chen memilih jalur sempit yang memotong jalan utama, menyusuri lereng rendah, lalu kembali lagi ke jalur lebih lebar. Pola bergeraknya tidak lurus. Ia membuat lengkungan-lengkungan kecil, perubahan arah yang tampak acak bagi mata biasa.

Bagi pemburu terlatih, itu menjengkelkan.

Xu Fan berjalan tertatih, tapi memaksa diri mengikuti ritme. Setiap kali ia tertinggal beberapa langkah, ia mempercepat tanpa diminta. Ada tekad dalam caranya menggertakkan gigi—bukan keberanian, melainkan kesadaran bahwa berhenti berarti berakhir.

Menjelang siang, napas Xu Fan mulai terpecah-pecah.

“Kita berhenti,” kata Liang Chen tanpa melihat ke belakang.

“Aku masih bisa,” jawab Xu Fan cepat.

Liang Chen berbalik. “Justru karena itu kita berhenti.”

Xu Fan tertawa kecil dan duduk di atas batu datar. Tawa itu berakhir dengan batuk yang membuat bahunya bergetar.

“Lucu,” gumamnya.

“Apa yang lucu?”

“Aku selalu membayangkan akhirku akan lebih dramatis.”

Liang Chen berlutut dan membuka balutan luka sekali lagi. Kali ini ia bekerja lebih pelan. Daging di sekitar luka mulai membengkak. Tubuh Xu Fan sedang berperang dengan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar sobekan pisau.

“Kenapa mereka mengejarmu?” tanya Liang Chen.

Pertanyaan itu tidak lagi ringan.

Xu Fan menatap tanah cukup lama hingga burung-burung kembali berani mendekat.

“Aku mengambil sesuatu,” katanya akhirnya.

“Banyak orang mengambil sesuatu.”

“Yang ini berbeda.”

Liang Chen mengangkat wajahnya. “Seberapa berbeda?”

Xu Fan menarik napas panjang, seolah keputusan yang akan diambilnya lebih berat daripada langkah-langkah yang telah ia tempuh.

Ia menyelipkan tangan ke bagian dalam bajunya.

Tubuh Liang Chen menegang sepersekian detik—refleks, bukan kecurigaan.

Namun yang keluar hanyalah sebuah buku tipis, terbungkus kain gelap yang warnanya sulit ditebak. Kain itu tampak biasa, tapi cara Xu Fan memegangnya membuatnya terasa seperti bara panas.

“Aku tidak tahu seluruh isinya,” kata Xu Fan. “Tapi orang yang memilikinya sebelum aku mati. Dan orang-orang yang menginginkannya… tidak akan berhenti.”

Liang Chen tidak langsung menyentuhnya.

Ia menilai situasi seperti menilai jurang: bukan dari kedalamannya saja, tapi dari kemungkinan jatuh.

“Kenapa kau menunjukkannya padaku?”

Xu Fan tersenyum lemah. “Karena aku melihat caramu bergerak kemarin.”

“Itu bukan jawaban.”

“Itu alasan.”

Liang Chen akhirnya menerima buku itu. Beratnya biasa saja. Tidak ada aura aneh. Tidak ada simbol mencolok di sampulnya.

Namun saat jemarinya menyentuh permukaan kain itu, rasa tidak nyaman yang membangunkannya tadi pagi kembali menguat.

“Apa yang kau inginkan dariku?” tanyanya pelan.

Xu Fan menatap lurus ke arahnya. Kali ini tanpa bercanda, tanpa selubung.

“Jika aku mati… jangan biarkan mereka mendapatkannya.”

Angin melewati celah dedaunan dan menyapu permukaan buku itu.

Liang Chen mempertimbangkan kemungkinan paling sederhana: melemparkannya ke sungai terdekat dan mengakhiri urusan ini.

Namun dunia jarang sesederhana itu. Orang-orang yang memburu benda seperti ini biasanya sudah tahu nilainya. Jika buku itu hilang, mereka akan tetap mencari.

Dan sekarang, ia sudah menyentuhnya.

“Aku tidak menjanjikan apa pun,” kata Liang Chen.

Xu Fan mengangguk. “Itu sudah cukup.”

Buku itu masuk ke dalam ransel, bukan ke balik pakaiannya. Jarak tipis, namun berarti.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan ritme yang lebih lambat.

Menjelang sore, Liang Chen mulai menghitung langkah Xu Fan tanpa sadar. Ia mengenali tanda-tanda yang tak perlu dijelaskan: napas yang semakin dangkal, keringat dingin di tengkuk, mata yang kehilangan fokus beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

“Berapa lama lagi?” tanya Liang Chen.

Xu Fan tersenyum tipis. “Kau jujur sekali.”

“Jawab.”

“Satu jam. Mungkin kurang.”

Liang Chen mengamati sekitar. Jalur ini terbuka. Terlalu mudah disergap jika mereka berhenti di sini.

“Ada pondok pemburu di barat,” katanya. “Jika belum roboh.”

Xu Fan tidak bertanya bagaimana ia tahu. Ia hanya mengangguk.

Mereka tiba saat matahari hampir tenggelam sepenuhnya.

Pondok itu masih berdiri, meski miring. Kayunya lapuk, atapnya berlubang kecil di beberapa bagian. Liang Chen memeriksa bagian dalam dan sekitar sebelum memberi isyarat.

Aman untuk sekarang.

Xu Fan roboh begitu duduk di lantai kayu. Tubuhnya gemetar halus. Bibirnya memucat.

Liang Chen menutup pintu dan menyandarkannya dengan balok kayu tua. Ia menyalakan api kecil di sudut ruangan, cukup untuk kehangatan tanpa membuat asap terlalu tebal.

“Kau tidak akan melewati malam dengan mudah,” katanya tanpa emosi berlebihan.

Xu Fan tertawa pelan. “Aku tidak pernah melakukannya.”

Liang Chen duduk bersandar pada dinding seberang. Ranselnya tetap di punggung. Pisau berada dalam jangkauan tangan. Buku tipis itu terasa seperti batu kecil yang diletakkan di tengah sungai tenang—tidak besar, tapi cukup untuk mengubah arus.

Xu Fan memejamkan mata.

“Aku tidak mencurinya,” katanya tiba-tiba.

Liang Chen mengangkat pandangan.

“Aku menemukannya,” lanjut Xu Fan. “Di antara tubuh-tubuh yang sudah tidak bisa mengeluh.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Liang Chen tidak meminta detail.

Malam turun perlahan, mengisi celah-celah pondok dengan bayangan. Api kecil berderak pelan, menjadi satu-satunya suara teratur di ruangan itu.

Di luar, angin bergeser arah.

Liang Chen merasakan perubahan itu.

Ia berdiri tanpa suara dan berjalan ke celah kecil di dinding kayu. Hutan terlihat tenang di bawah cahaya bulan yang samar.

Terlalu tenang.

Beberapa saat kemudian, ia melihatnya.

Siluet jauh di antara pepohonan. Bergerak lambat. Teratur. Tidak terburu-buru.

Bukan satu.

Dua.

Mungkin tiga.

Mereka tidak membawa obor. Tidak berbicara. Cara mereka berjalan menunjukkan keyakinan bahwa tujuan mereka tidak akan ke mana-mana.

Liang Chen menutup celah itu pelan.

Di belakangnya, Xu Fan membuka mata.

“Mereka sudah dekat, bukan?” tanyanya lirih.

Liang Chen tidak menjawab segera.

Ia meraih ranselnya, memastikan buku itu masih di tempatnya. Tangannya tidak gemetar. Wajahnya tenang.

Namun di dalam dadanya, satu kesadaran mengendap dengan jelas:

Ia bisa saja meninggalkan buku itu dan melangkah keluar sendirian.

Orang-orang di luar mungkin tidak akan mengejarnya.

Tapi jika ia tetap tinggal, maka malam ini bukan lagi tentang menolong orang terluka.

Ini tentang memilih sisi.

Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Liang Chen menyadari bahwa ia sedang berdiri di ambang sesuatu yang lebih besar daripada sekadar perkelahian di jalur hutan.

Di luar pondok, langkah-langkah itu berhenti.

Tidak ada ketukan di pintu.

Hanya keheningan yang menunggu keputusan.

1
Restu Agung Nirwana
Cocok untuk yang suka adegan pertarungan berdarah-darah 🔥🔥
Happy Alone
Kapan Liang Chen baku hantam? Terima Kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Bab 20+, mulai lebih bnyk adegan pertarungan 🤭
total 2 replies
Happy Alone
Tuh orang gak kedinginan kali ya tidur dibawah pohon begitu. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: hehehe... namanya jg pengembara kak, bisa tdr dmn saja 😄
total 1 replies
Happy Alone
udah aku diduga, hidupnya bakal dipenuhi kemalangan. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Nasib pengembara bebas (Liang Chen) yg gak pny tujuan dan ambisi, cuma mau hidup bebas. Tp tanpa sengaja malah terseret ke dalam konflik dunia persilatan gara-gara di kasih kitab yg blm di ketahui asal-usulnya oleh orang sekarat (Xu Fan). Ya beginilah jdnya 😄
total 1 replies
Happy Alone
Umpan untuk seseorang yang pantas mempelajari kitab. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: smoga suka ya... 🙂
total 3 replies
Happy Alone
Sebenernya awal awal baca agak bingung. Maksudnya, si Liang Chen siapa? Xu Fan siapa? mereka ada dimana? terus tuh buku apaan? tapi udahlah. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Trims apresiasinya kak, mohon dukungannya biar gak kendor 😄
total 6 replies
Happy Alone
Liang Chen, dia pria baik yang akan selalu dapat kemalangan. Namanya ada kata Liang, artinya baik hati. Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Wow, sampai arti namanya pun di nilai. Terimakasih, semoga suka sama ceritanya 😍
total 1 replies
Happy Alone
Semangat, Terima kasih ceritanya.
Restu Agung Nirwana: Iya, terimakasih mohon dukungannya biar makin semangat nulisnya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!