NovelToon NovelToon
Bidadari Tak Bersayap {Antara Dua Takdir}

Bidadari Tak Bersayap {Antara Dua Takdir}

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Selingkuh / Cintapertama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: BundaNazwa

Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.

"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."

Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.

Yuk simak cerita selanjutnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengobati Lukamu

“Dokter Qais? A-anda kenapa bisa…?” Briana panik. Ia mundur selangkah, tak berani berkutik di bawah tatapan tajam pria yang jelas-jelas dia tahu memiliki otoritas di tempat itu.

Qais tidak menoleh pada Aiza dulu. Ia meletakkan vas itu kembali ke meja dengan pelan, tatapannya tenang tanpa adanya emosi sedikitpun, lalu menatap Briana yang kini ketakutan.

Sementara Aiza dibuat tertegun. Bukan hanya karena penampilan pria itu yang berubah, bahkan cara bicaranya pun ikut berubah. Tak ada lagi logat Jawa yang sama sepertinya saat berbicara. Kini pria itu sepenuhnya terlihat mahal dari segi manapun.

“Nona Briana…. Saya rasa Anda sudah tau prosedur di rumah sakit ini. Anda bukan hanya membuat keributan, tapi juga mengganggu ketenangan pasien di rumah sakit ini. Dan parahnya lagi, Anda melakukan percobaan pem*unuhan.” Qais menggeleng tak habis pikir. "Anda tau? Perbuatan Anda ini bisa mencoreng nama baik keluarga Pratama.”

Briana menunjuk pada Aiza. Tangannya yang masih gemetar itu tak ia pedulikan.

"K-kamu….kamu pasti pasti ngerayu dokter Qais kan supaya belain kamu? Dasar…. perempuan mu*ahan!”

"CUKUP! Astaghfirullah hal adzim." Qais segera mengusap dadanya yang sempat tersulut emosi. Kata “mu*ahan" yang ditujukan untuk Aiza membuat Qais tak terima sehingga membentak wanita di depannya itu.

"Anda sudah keterlaluan, nona. Jika saya masih melihat Anda di sini, saya pastikan masalah ini akan saya bawa ke pengadilan.”

Suasana di koridor rumah sakit itu mendadak hening. Briana yang mendapat an*aman itu pun memilih pergi.

Qais mengatur napasnya kembali, mengembalikan ketenangan di wajahnya. Namun, saat pandangannya turun ke bawah, napasnya seolah tertahan. Ia melihat kaki Aiza yang telanjang, kotor oleh debu jalanan, dan sedikit berdarah karena luka gesekan aspal.

Aiza yang menyadari tatapan itu, refleks menarik kakinya ke belakang, mencoba menyembunyikannya di balik gamisnya yang lusuh. Ia merasa sangat malu dan rendah di depan pria seanggun Qais.

“Maaf," bisik Aiza hampir tak terdengar, kepalanya menunduk dalam.

Qais tidak menjawab. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Gus Qais berbalik dan melangkah cepat menuju sebuah ruangan di dekat sana.

Aiza hanya diam mematung, mengira Qais mungkin merasa terganggu dengan penampilannya. Namun, tak lama kemudian, Qais kembali dengan sepasang sandal pasien berwarna putih yang masih bersih dan baru.

Tanpa mempedulikan statusnya sebagai dokter senior yang dihormati, Qais berjongkok di depan Aiza. Ia meletakkan sandal itu tepat di depan kaki Aiza yang terluka.

"Pakailah," ucapnya sangat lembut, namun penuh penekanan. "Lantai ini dingin, dan kakimu sedang terluka. Jangan biarkan dirimu sakit saat Mbah sedang membutuhkanmu.”

Aiza tertegun. Ia menatap ubun-ubun Gus Qais yang sedang merapikan posisi sandal itu agar memudahkan Aiza melangkah. Tidak ada kata-kata manis yang berlebihan, tidak ada sentuhan fisik, namun perhatian kecil itu….masih terasa sama seperti 4 tahun silam.

Aiza perlahan memasukkan kakinya ke dalam sandal itu. Rasanya hangat, jauh lebih hangat dari yang ia bayangkan.

"Terima kasih, Gus," suara Aiza bergetar.

Qais berdiri kembali, menjaga jarak dua langkah dari Aiza. Ia kembali ke sikap profesionalnya sebagai seorang dokter, namun sorot matanya yang teduh tidak bisa berbohong.

"Sama-sama, Aiza. Sekarang, biarkan tim saya membawa Mbah ke ruang observasi terbaik. Kamu duduklah di sini, saya akan pastikan semuanya ditangani langsung oleh saya.”

Qais menoleh pada perawat yang berdiri di dekatnya. "Siapkan ruang VVIP untuk pasien ini atas nama saya. Lakukan pengecekan menyeluruh."

Setelah itu, Qais mengangguk kecil pada Aiza—sebuah isyarat sopan sebelum ia berbalik untuk menyusul brankar Warih.

Aiza hanya bisa menatap punggung tegap itu dengan perasaan campur aduk. Tiga tahun ia berjuang sendiri di lorong-lorong gelap Jakarta, dan hari ini, seorang pria datang memberikan "perlindungan" hanya dengan sepasang sandal dan sebuah anggukan sopan.

Sementara itu Aiza duduk di kursi tunggu di depan ruang perawatan VVIP. Ia terus menunduk, menatapi sandal putih pemberian Gus Qais yang kini terpasang di kakinya. Rasanya masih seperti mimpi. Tiga tahun menghilang dalam hiruk-pikuk Jakarta sebagai pelayan warung, tiba-tiba ia dipertemukan kembali dengan pria itu dalam kondisi yang paling tidak terduga.

Beberapa menit kemudian langkah kaki yang tenang terdengar mendekat. Aiza tahu itu siapa tanpa harus mendongak. Aroma sandalwood itu kembali hadir.

Qais berdiri di depan Aiza, membawa sebuah kotak P3K kecil di tangannya. Ia tidak duduk tepat di samping Aiza, melainkan mengambil jarak satu kursi di antara mereka—sebuah batasan yang selalu ia jaga dengan sangat apik.

"Mbah sudah stabil. Beliau hanya kelelahan dan mengalami dehidrasi ringan. Tim medis sedang memberikan cairan infus," suara Qais mengalun tenang, seolah menjadi penawar badai di hati Aiza.

Aiza mengembuskan napas lega yang panjang. "Alhamdulillah... terima kasih banyak, Gus. Saya ndak tau harus membalas kebaikan Gus dengan apa. Terima kasih juga karena selalu ada untuk saya dan Mbah," ucapnya lirih, seiring dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.

Qais hanya tersenyum lembut, ia lantas meletakkan kotak obat itu di kursi kosong di antara mereka. Ia membukanya, lalu mengeluarkan kapas, cairan antiseptik, dan beberapa helai kain kasa.

"Balaslah dengan menjaga kesehatanmu sendiri, Aiza," ucap Qais sambil menggeser kotak itu lebih dekat ke arah Aiza. "Bersihkan lukamu. Aspal jalanan tidak pernah ramah pada kulit yang terluka. Jika infeksi, siapa yang akan menjaga Mbah nanti?”

Aiza mengangguk canggung, lalu mengambil kapas itu dan mencoba mengobati lukanya sendiri.

Namun, Qais melihat Aiza yang ragu-ragu memegang kapas. Tangan wanita itu gemetar, dan cara dia mengusap luka di telapak kakinya justru malah membuat luka itu semakin berdarah karena arah yang salah.

"Aiza, berikan kapasnya padaku," suara Qais terdengar lebih tegas sekarang, nada bicaranya berubah menjadi nada bicara seorang dokter yang tidak ingin melihat pasiennya salah penanganan.

Aiza tersentak, wajahnya memerah sempurna. "Eh? Tidak usah, Gus. Biar saya sendiri saja. Ini... ini kotor, saya malu.”

Qais tidak mendengarkan penolakan itu. Ia menarik kursi kecil khusus dokter dan duduk di depan Aiza. Ia mengenakan sarung tangan medis latex putih dengan gerakan yang sangat profesional—suara karet yang tertarik itu entah kenapa membuat jantung Aiza berdegup dua kali lebih kencang.

"Dalam kondisi medis, tidak ada yang kotor di mata dokter, Aiza. Jika luka ini tidak dibersihkan dengan benar, kuman dari aspal bisa masuk ke aliran darahmu," ucap Qais tenang.

Tanpa menunggu persetujuan lagi, Qais meminta Aiza mengangkat sedikit kakinya dan meletakkannya di atas tumpuan kursi. Aiza merasa seluruh wajahnya memanas. Ia merasa sangat canggung. Seumur hidupnya, bahkan Arjuna pun tidak pernah mau menyentuh kakinya, apalagi membersihkannya yang kotor seperti ini.

Aiza memegang pinggiran kursi tunggu dengan sangat erat, menunduk sedalam mungkin.

Qais mulai bekerja. Ia membasuh luka di telapak kaki Aiza dengan cairan salin menggunakan gerakan yang sangat lembut. Saat kapas dingin itu menyentuh kulitnya, Aiza sedikit berjengit.

"Sstt... tahan sebentar. Ini memang agak perih," bisik Qais tanpa mendongak. Fokusnya sepenuhnya pada luka itu.

Tangannya yang terbungkus sarung tangan latex terasa sangat mantap namun hati-hati. Ia membersihkan setiap butiran pasir yang menempel dengan pinset kecil.

Suasana koridor yang tadinya terasa bising, mendadak senyap di telinga Aiza. Ia hanya bisa mendengar deru napasnya sendiri dan aroma antiseptik yang bercampur dengan wangi khas Gus Qais.

Setiap kali jari Qais harus menekan sisi luka untuk menghentikan darah, Aiza merasa ada sengatan listrik yang aneh, bukan karena sakit, tapi karena rasa canggung yang membuncah.

"Selesai," ucap Qais setelah menempelkan plester medis dengan rapi.

Ia melepas sarung tangannya dan membuangnya ke tempat sampah medis di dekatnya. Ia mendongak, menatap Aiza yang masih menunduk kaku seperti patung.

"Sudah bersih. Jangan dilepas dulu plesternya sampai besok pagi," Qais berkata sambil merapikan kotak obatnya.

Ia kembali menjadi sosok Gus yang tenang dan menjaga pandangan. "Maaf jika tadi aku sedikit memaksa. Aku hanya tidak ingin lukamu memburuk."

Aiza hanya bisa mengangguk kecil, lidahnya terasa kelu. "Terima kasih... Dokter Qais."

Panggilan "Dokter" itu membuat Qais tersenyum tipis, senyum yang sangat langka yang hanya ia tunjukkan pada Aiza.

"Sama-sama."

Hening.

Sesaat hanya keheningan yang tercipta diantara mereka, hingga akhirnya Qais kembali bicara.

“Aiza sudah shalat Magrib?"

Aiza yang tadinya menunduk karena canggung kini mengangkat wajahnya, menatap Qais sekilas.

“Belum, Gus. Tadi terlalu panik, jadi belum sempat shalat."

“Kalau begitu ayo shalat bareng. Kebetulan saya juga mau shalat." Kalimatnya bukan sebuah perintah, melainkan sebuah ajakan yang sangat menyejukkan.

Aiza terpaku. Berjamaah dengan Gus Qais? Setelah tiga tahun ia shalat sendirian di pojok kontrakan yang bocor, kini ia kembali berdiri di belakang punggung tegak pria yang hingga kini namanya masih tertata rapi di relung hati terdalam Aiza.

___

Baru saja Aiza dan Qais kembali dari mushola rumah sakit, mereka harus bertemu Arjuna yang datang bersama Briana dengan wajah marahnya.

“Oh…. Bagus ya. Tiga tahun tidak terlihat, ternyata kamu diam-diam menunggu mantan tunanganmu ini!” Arjuna mendekat, sementara Aiza terus menatap marah pada pria itu. "Gimana rasanya sudah bebas dari saya? Pasti senang sekali karena akhirnya kamu bisa kembali pada dokter Qais.”

Arjuna beralih menatap Qais, mendekatinya dengan seringai meremehkan.

"Dokter. Selama satu tahun ini saya mengenal Anda sebagai dokter yang berwibawa. Saya akui Anda benar-benar berubah dari sebelumnya. Tapi…. saya tiba-tiba hilang respek ketika Anda mau-maunya menerima wanita pembawa s1al ini kembali.”

Mendengar penghinaan yang ditujukan untuk Aiza__ Qais merasa marah. Tangannya mengepal, seolah siap melayangkan pvkvlan itu di wajah Arjuna.

“Dia itu p*mbunuh. Saya takut nanti Anda akan jadi korban selanjutnya,” katanya sambil menyeringai yang terlihat menjijikan.

Qais baru saja akan membuka mulut, tapi Aiza lebih dulu meng*ardik.

"Cukup, Mas! Selama tiga tahun saya pergi dari kehidupan kalian, menanggung fitnah yang bahkan sama sekali tidak saya lakukan. Tapi kali ini…. Maaf, saya tidak akan diam saja saat harga diri saya kamu injak, Tuan Arjuna Zaydan Pratama!" Kilat amarah di matanya terlihat membara. Nafasnya turun naik dengan cepat karena menahan emosi yang hampir meledak.

“Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi Anda tidak berhak mengatur hidup saya! Dan ya, dibuang oleh orang seperti Anda adalah sebuah anugerah dari Allah agar saya tidak semakin hancur.”

Qais yang berdiri di samping Aiza hanya diam, namun sudut bibirnya terangkat sedikit—sebuah senyum bangga yang sangat tipis, atau mungkin bahkan…. karena sebuah pengakuan yang dia dengar dari mulut Aiza sendiri.

Arjuna kehilangan kata-kata. Dia menunjuk Aiza dengan tatapan marah. "Kamu….”

"Saya rasa kalian berdua tidak lupa jalan keluar rumah sakit ini,” potong Aiza cepat.

"Sayang…. Kok diem aja sih? Lawan dong!" Briana yang dari tadi hanya diam, kini ikut memprovokasi. Ia menghentak-hentakkan kakinya dengan gaya manja pada Arjuna.

Arjuna yang yang sudah dikuasai emosi dan juga terlanjur malu itu langsung menyentak tangan Briana yang bergelayut manja di lengannya.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Arjuna lantas berlalu dengan diiringi Briana di belakangnya.

1
Mila Mulitasari
nah loh ayo otw baju orange tu Briana, moga gak ngedrama lg, Arjuna menjemput penyesalan yg hakiki🤣
BundaNazwa: Hooh. Dibalikin nggak bisa lagi. Auto nangis dah tu🤧
total 1 replies
yuli anti
uhh qais lope lope 😍😍😍
di tunggu up lgi ka 😍
BundaNazwa: Siap😁
total 1 replies
Mila Mulitasari
karma sudah mulai menuju sasaran yg menyakiti pasti akan menerima kesakitan yg setimpal
BundaNazwa: Iya, Kak. Setiap kejahatan pasti ada balasan ☺️
total 1 replies
Winarti Bekal
saat karma itu datang kamu akan sangat menyesal Arjuna..
BundaNazwa: Tul, Kak ☺️
total 1 replies
yuli anti
uuhh bkalan brlayar lgi kan ka 😍😍
BundaNazwa: In Syaa Allah. Jalani aja dulu tapi 😁
total 1 replies
Mila Mulitasari
hidih pasangan lucnut🤭 karma tdk akan salah sasaran
BundaNazwa: Aamiin 😅
total 1 replies
yuli anti
uhhh bkin greget aja

up lgi dong ka😍
BundaNazwa: OTW hari ini, Kak 😁
total 1 replies
Sartika
Ada iklan nya engga klo baca nie
BundaNazwa: Kayaknya ada, tapi nggak banyak ☺️
total 1 replies
BundaNazwa
OTW besok, kak ☺️
yuli anti
gk sbar nunggu slanjutnya 😍
Winarti Bekal
ya'allah ujian aiza berat sekali 🥺
BundaNazwa: Bukti kalau Allah sayang sama hambanya, pasti sering diuji☺️
total 1 replies
Nurul Uyun
Arjuna itu punya istri lain ya
BundaNazwa: Pacar, Kak ☺️
total 1 replies
Winarti Bekal
gara" kak othhor aku lari kesini juga🤭
BundaNazwa: Asik, akhirnya Kakak sampai juga kesini 🤣
Makasih Kak udah bela-belain ke sini 🤭🙏
total 1 replies
Aira Zaskia
Suka banget,liat ditiktok langsung otw kesini
BundaNazwa: Terimakasih sudah mampir, Kakak 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!