NovelToon NovelToon
Aluna Milik Arsen

Aluna Milik Arsen

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora_Minji

Satu tabrakan mengubah segalanya.

Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."

Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.

Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.

Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 2: Tawaran Berbahaya

Pagi itu, Aluna bangun dengan mata sembab dan kepala yang masih berdenyut nyeri. Semalaman ia begadang membuat ulang maket yang hancur akibat tabrakan kemarin. Tangannya penuh dengan bekas lem dan potongan-potongan kertas karton. Hasil kerjanya memang tidak sesempurna yang pertama, tetapi setidaknya cukup untuk dikumpulkan.

Jam dinding menunjukkan pukul 05.30 WIB.

Aluna melirik ponselnya yang tergeletak di meja belajar. Pesan dari nomor tak dikenal masih terpampang di layar pesan yang dikirim Arsen Mahendra semalam.

Mahendra Tower, lantai 38. Pukul 07.00 WIB. Jangan terlambat.

Singkat. Dingin. Tanpa basa-basi.

Persis seperti pemiliknya.

Aluna menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah. Sebagian dirinya berharap bahwa kejadian kemarin hanyalah mimpi buruk bahwa ia tidak benar-benar menabrak mobil seharga 4,5 miliar rupiah, tidak bertemu dengan pria menyeramkan bernama Arsen Mahendra, dan tidak menyetujui tawaran gila untuk bekerja sebagai asisten pribadi selama enam bulan.

Tetapi kartu nama yang tergeletak di meja belajarnya membuktikan bahwa semua itu nyata.

Terlalu nyata.

"Luna? Kamu sudah bangun?" Suara ibunya terdengar dari luar kamar, diikuti ketukan pelan di pintu.

"Sudah, Bu," jawab Aluna sambil beranjak dari tempat tidur. Ia membuka pintu dan mendapati ibunya Wulan Pradipta berdiri dengan senyum lembut di wajahnya yang mulai keriput. Wanita paruh baya itu mengenakan celemek, tanda ia baru saja selesai membuat kue pesanan pelanggan.

"Pagi-pagi sudah bangun? Tumben," ujar ibunya sambil mengusap rambut Aluna dengan sayang. "Kamu kelihatan pucat. Tidak enak badan?"

Aluna menggeleng cepat, memaksakan senyum.

"Tidak, Bu. Cuma kurang tidur. Begadang bikin maket."

Wulan menghela napas.

"Kamu ini... jangan terlalu memaksakan diri. Kesehatan lebih penting, Nak."

"Iya, Bu," ucap Aluna lembut. Ia memeluk ibunya sebentar, menghirup aroma kue yang masih menempel di celemek ibunya aroma yang selalu membuatnya merasa aman.

Tetapi pagi ini, rasa aman itu terasa rapuh.

"Bu, aku... mau izin," ucap Aluna hati-hati setelah melepas pelukannya.

Wulan mengernyit.

"Izin apa?"

"Aku dapat tawaran pekerjaan part-time. Jadi asisten di sebuah perusahaan properti. Gajinya lumayan, Bu. Bisa buat bantu-bantu biaya kuliah dan rumah."

Itu bukan sepenuhnya bohong, tetapi juga bukan sepenuhnya jujur. Aluna tidak bisa menceritakan yang sebenarnya bahwa ia menabrak mobil mewah dan sekarang terjebak dalam kesepakatan aneh dengan seorang CEO yang menakutkan.

Wulan terdiam sejenak, ekspresinya berubah khawatir.

"Perusahaan apa? Aman tidak? Kamu masih semester akhir, Luna. Jangan sampai kuliahmu terganggu."

"Aman, Bu. Mahendra Property Group. Perusahaan besar. Aku cuma bantu-bantu administrasi. Jam kerjanya fleksibel kok," ucap Aluna meyakinkan, meski ia sendiri tidak yakin dengan kebohongannya.

Jam kerja fleksibel? Ia bahkan belum tahu seperti apa pekerjaan asisten pribadi Arsen Mahendra.

Wulan menatap putrinya dengan pandangan menyelidik, tetapi akhirnya mengangguk pelan.

"Kalau kamu yakin... Ibu izinkan. Tapi kalau ada apa-apa, langsung bilang Ibu atau Kakak Rara, ya?"

"Iya, Bu. Terima kasih." Aluna tersenyum lega.

Setelah sarapan seadanya nasi goreng sisa semalam dan teh manis hangat Aluna bergegas mandi dan bersiap-siap. Ia memilih mengenakan kemeja putih lengan panjang yang sedikit formal, dipadukan dengan celana bahan hitam dan sepatu pantofel sederhana. Rambutnya yang panjang sebahu ia ikat setengah, dan ia mengenakan sedikit bedak serta lip balm agar tidak terlihat terlalu pucat.

Saat bercermin, Aluna hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Ia terlihat... profesional. Dewasa. Berbeda dari mahasiswi arsitektur yang biasa mengenakan kaos dan jeans.

"Semoga saja ini keputusan yang benar," gumamnya pada bayangannya sendiri.

Pukul 06.15 WIB, Aluna sudah berada di halte bus terdekat. Mobilnya masih di bengkel rusak parah dan butuh waktu serta biaya yang tidak sedikit untuk diperbaiki. Untuk sementara, ia harus mengandalkan transportasi umum.

Bus TransJakarta yang ia tumpangi cukup ramai dengan para pekerja kantoran. Aluna berdiri di dekat pintu, tangannya berpegangan erat pada pegangan besi sambil menatap keluar jendela. Gedung-gedung tinggi Jakarta mulai terlihat jelas saat matahari pagi menyinari kota.

Mahendra Tower.

Aluna pernah melihat gedung pencakar langit itu dari kejauhan bangunan modern dengan kaca-kaca besar yang memantulkan cahaya matahari, menjulang tinggi di kawasan Sudirman. Ia tidak pernah menyangka akan masuk ke dalam gedung itu, apalagi untuk bekerja.

Pukul 06.50 WIB, Aluna tiba di depan lobby Mahendra Tower.

Gedung itu lebih megah dari yang ia bayangkan. Lobby-nya luas dengan lantai marmer putih mengkilap, dinding kaca besar, dan dekorasi minimalis modern yang terlihat sangat mahal. Beberapa orang berpakaian rapi berlalu-lalang sebagian besar tampak seperti eksekutif muda dengan wajah serius dan langkah tergesa.

Aluna berdiri canggung di dekat pintu masuk, tidak yakin harus ke mana.

"Permisi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" Seorang resepsionis wanita berseragam rapi menghampirinya dengan senyum profesional.

"Oh, iya. Saya... Saya ada janji dengan Pak Arsen Mahendra. Lantai 38," ucap Aluna sedikit gugup.

Resepsionis itu sedikit terkejut mendengar nama Arsen, tetapi segera menyembunyikannya dengan senyum.

"Nama Nona?"

"Aluna Pradipta."

Resepsionis mengetik sesuatu di komputernya, lalu mengangguk.

"Baik, Nona Aluna. Silakan naik ke lantai 38 menggunakan lift eksekutif di sebelah sana." Ia menunjuk ke arah lift terpisah di ujung lobby yang terlihat lebih mewah dari lift biasa. "Gunakan kartu akses ini. Selamat pagi."

Aluna menerima kartu akses sementara dengan ragu dan berjalan menuju lift eksekutif. Saat pintu lift terbuka, ia melangkah masuk dan menekan tombol lantai 38.

Lift meluncur naik dengan mulus dan cepat. Aluna merasakan perutnya sedikit melayang. Ia menatap pantulan dirinya di dinding lift yang berkilau terlihat kecil dan tidak pada tempatnya di antara kemewahan ini.

Ting.

Pintu lift terbuka, dan Aluna disambut oleh lorong luas dengan karpet tebal berwarna abu-abu gelap. Dinding-dindingnya dihiasi lukisan abstrak mahal, dan pencahayaan yang redup memberikan kesan eksklusif dan misterius.

Di ujung lorong, terdapat pintu ganda besar dengan tulisan:

ARSEN MAHENDRA – CEO

Aluna menarik napas dalam-dalam, menenangkan degup jantungnya yang mulai tidak karuan. Tangannya terangkat, hendak mengetuk pintu, tetapi sebelum buku-buku jarinya menyentuh kayu, pintu terbuka dari dalam.

Seorang wanita muda berpakaian blazer hitam ketat dan rok pensil berdiri di ambang pintu. Wajahnya cantik dengan riasan tebal, rambutnya digelung rapi, dan ia menatap Aluna dengan tatapan menilai tatapan yang tidak ramah.

"Aluna Pradipta?" tanyanya dengan nada datar.

"I...iya. Benar," jawab Aluna.

"Masuk. Pak Arsen sudah menunggu."

Wanita itu melangkah menyingkir, membiarkan Aluna masuk ke dalam ruangan yang luar biasa luas.

Ruang kerja Arsen Mahendra adalah definisi dari kemewahan dan kekuasaan. Lantainya dari marmer hitam mengkilap, dinding kaca besar membentang dari lantai hingga langit-langit, memberikan pemandangan kota Jakarta yang spektakuler dari ketinggian. Meja kerja besar dari kayu mahoni gelap berada di tengah ruangan, dengan kursi direktur mewah di belakangnya.

Dan di sana, berdiri membelakangi Aluna, adalah Arsen Mahendra.

Pria itu mengenakan jas hitam dengan potongan sempurna yang memeluk tubuh tegapnya. Tangan kekarnya dimasukkan ke dalam saku celana, dan ia sedang menatap keluar jendela menatap kota yang terbentang di bawahnya seperti seorang raja yang memandang kerajaannya.

"Tujuh menit lebih awal," ucap Arsen tanpa berbalik. Suara baritonnya menggema di ruangan luas itu. "Bagus."

Aluna hanya diam, tidak tahu harus berkata apa.

Arsen perlahan berbalik, dan mata kelamnya langsung menemukan Aluna. Tatapannya menelusuri Aluna dari ujung kepala hingga ujung kaki tatapan yang membuat Aluna merasa telanjang meski ia mengenakan pakaian lengkap.

"Duduk," perintahnya singkat sambil menunjuk sofa kulit di sudut ruangan.

Aluna menurut, berjalan dengan langkah kaku dan duduk di tepi sofa. Arsen berjalan mengikutinya dengan langkah santai, tetapi ada aura predator dalam setiap gerakannya seperti singa yang mengelilingi mangsanya.

Ia duduk di sofa tunggal di seberang Aluna, menyilangkan kaki dengan elegan. Satu tangannya terangkat, memberi isyarat pada wanita yang tadi membukakan pintu.

"Dira, keluarkan kontraknya."

Wanita bernama Dira itu mengangguk dan berjalan ke meja kerja, mengambil sebuah map cokelat tebal, lalu menyerahkannya pada Arsen. Setelah itu, ia keluar dari ruangan tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Aluna sendirian dengan Arsen.

Arsen membuka map itu dan mengeluarkan setumpuk kertas kontrak kerja yang sangat tebal. Ia meletakkannya di meja kopi di antara mereka.

"Baca," ucapnya singkat.

Aluna meraih kontrak itu dengan tangan gemetar. Matanya menelusuri halaman demi halaman. Sebagian besar adalah klausul-klausul standar perjanjian kerja gaji, tunjangan, jam kerja tetapi beberapa klausul membuat Aluna mengernyit.

Pasal 7: Kerahasiaan Mutlak

Pihak Kedua (Aluna Pradipta) wajib menjaga kerahasiaan segala informasi yang berkaitan dengan Pihak Pertama (Arsen Mahendra), baik yang bersifat profesional maupun pribadi. Pelanggaran terhadap pasal ini akan dikenakan denda sebesar Rp500.000.000 (lima ratus juta rupiah).

Pasal 9: Ketersediaan Penuh

Pihak Kedua wajib tersedia 24 jam sehari, 7 hari seminggu untuk memenuhi kebutuhan kerja Pihak Pertama. Pihak Kedua tidak diperkenankan menolak tugas atau perintah yang diberikan oleh Pihak Pertama tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pasal 12: Larangan Hubungan Eksternal

Selama masa kontrak, Pihak Kedua tidak diperkenankan menjalin hubungan romantis atau dekat dengan pihak lain tanpa persetujuan tertulis dari Pihak Pertama.

Aluna mengangkat wajahnya, menatap Arsen dengan tatapan tidak percaya.

"Pasal 12... ini... ini tidak masuk akal!" protesnya. "Anda tidak bisa mengatur kehidupan pribadi saya!"

Arsen menatapnya dengan ekspresi datar, tanpa seujung emosi pun.

"Aku bisa," balasnya dingin. "Dan aku akan. Selama enam bulan, kamu bekerja untukku. Hidupmu, waktumu, bahkan hubunganmu semua menjadi urusanku. Kamu tidak boleh punya distraksi yang mengganggu pekerjaanmu."

"Ini... ini gila!" Aluna berdiri, kontrak masih tergenggam di tangannya. "Saya tidak bisa menerima ini!"

Arsen tidak bergeming. Ia hanya menatap Aluna dengan tatapan tenang yang justru lebih menakutkan daripada kemarahan.

"Kamu punya pilihan, Aluna Pradipta," ucapnya pelan, terlalu pelan. "Tanda tangani kontrak itu, atau bayar 4,5 miliar rupiah untuk kerusakan mobilku. Sekarang juga."

Aluna terdiam. Napasnya memburu. Ia tahu ia tidak punya pilihan. Keluarganya tidak punya uang sebanyak itu. Bahkan jika ia menjual rumah mereka sekalipun, mungkin tidak akan cukup.

"Kenapa... kenapa Anda melakukan ini?" tanya Aluna dengan suara bergetar. "Anda orang kaya. Anda pasti punya asisten. Kenapa harus saya?"

Untuk pertama kalinya, sesuatu berkilat di mata kelam Arsen sesuatu yang menyerupai ketertarikan, atau mungkin... obsesi.

"Karena aku menginginkanmu," jawabnya blak-blakan.

Aluna tersentak. Jantungnya berdegup kencang.

"A...apa?"

Arsen berdiri dari duduknya, melangkah perlahan mendekat. Aluna refleks mundur hingga punggungnya menyentuh dinding kaca. Arsen terus mendekat hingga jarak di antara mereka hanya beberapa senti.

Ia begitu tinggi. Begitu besar. Begitu... menakutkan.

"Aku menginginkanmu di sisiku," bisik Arsen, suaranya rendah dan berbahaya. "Bekerja untukku. Menuruti perintahku. Menjadi milikku."

Napas Aluna tercekat. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Arsen yang begitu dekat, bisa mencium aroma cologne maskulin yang menyeruak dari pria itu aroma kayu cendana dan sesuatu yang lebih gelap, lebih berbahaya.

"Saya... saya bukan barang yang bisa dimiliki," ucap Aluna dengan suara gemetar, berusaha terdengar berani meski lututnya hampir lemas.

Arsen tersenyum tipis senyum pertamanya yang Aluna lihat, dan itu bukanlah senyum yang hangat. Itu adalah senyum predator yang sudah mengunci mangsanya.

"Kita lihat saja," gumamnya. Tangannya terangkat, jemarinya menyentuh pipi Aluna dengan lembut, sentuhan yang kontras dengan tatapan gelapnya. "Enam bulan, Aluna. Aku punya enam bulan untuk membuktikannya."

Aluna tidak bisa bergerak. Tidak bisa bernapas.

Arsen mundur selangkah, memberikan jarak. Ia kembali ke meja kopi dan mengambil sebuah pena mewah, menyodorkannya pada Aluna.

"Tanda tangani," perintahnya. "Halaman terakhir."

Dengan kaki yang hampir tidak bisa menopang tubuhnya, Aluna berjalan kembali ke sofa. Tangannya gemetar saat meraih pena itu. Ia menatap kontrak di hadapannya, kontrak yang akan mengubah hidupnya.

Ia tahu ini salah. Tahu ini berbahaya.

Tetapi apa pilihannya?

Dengan tarikan napas dalam, Aluna menurunkan pena dan menandatangani namanya di kolom yang telah disediakan.

Tanda tangan itu terlihat seperti vonis.

Arsen mengambil kontrak yang sudah ditandatangani, menatapnya dengan kepuasan yang nyata di wajahnya.

"Selamat datang di hidupku, Aluna Pradipta," ucapnya pelan. "Mulai sekarang... kamu milikku."

Dan saat itu juga, Aluna menyadari bahwa ia baru saja menjual dirinya pada iblis berjas.

Iblis yang tidak akan pernah melepaskannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!