Selena Victoria, siswi SMA 16 tahun yang egois dan kadang menjengkelkan, tapi memiliki hati yang lembut. Hidupnya berubah drastis setelah insiden kopi tumpah ke jaket cowok paling ditakuti di sekolah. Dengan bantuan bestie-nya Rora, juara olimpiade sains dan matematika yang nyentrik, Selena harus menghadapi konsekuensi aksinya dan belajar tentang empati. 😐
baca yuk Novel aku "Noda Kopi di Jaket Abu"!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BOCCI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
detektif dadakan
"Sel, tenang dulu. Mungkin aja itu bukan foto yang dia simpan, tapi foto yang baru dia dapet?" sahut Rora, mencoba berpikir logis meski dia sendiri juga merinding.
"Gak bisa, Ror. Gue harus cari tahu. Misi Detektif Dirut dimulai sekarang!"
Saat jam istirahat, Selena tidak pergi ke kantin. Dia mengendap-endap menuju area belakang sekolah, tempat sebuah warung terbengkalai yang sering dijadikan markas rahasia Thunder, yang mereka sebut "The antisipasi ".
Selena bersembunyi di balik tumpukan kursi kayu bekas. Di sana, dia melihat rombongan Thunder sedang berkumpul. Zeus tampak duduk dengan wajah gelisah, tangannya merogoh-rogoh saku jaketnya berkali-kali.
"Mana ya? Kok nggak ada?" gumam Zeus gusar.
"Lo nyari foto itu?" tanya Leon sambil tetap fokus pada layar tabletnya. "Udah gue bilang, naruh barang penting di saku jaket pas lari maraton ke kelas 1-A itu ide buruk."
"Itu foto penting, Yon! Kalau sampai Selena liat, dia bisa salah paham!" Zeus memukul meja kayu dengan pelan namun penuh penekanan.
"Nah, kan! Bener dugaan gue!" batin Selena yang mengintip dari balik kursi. Dia sudah siap melompat keluar untuk melancarkan interogasi, tapi tiba-tiba sebuah tangan besar menepuk bahunya.
"Lagi nyari apa, Kecil?"
"HUWAA!" Selena berteriak kaget dan langsung berdiri tegak. Ternyata itu Damon. Tanpa ba-bi-bu, Damon langsung mengangkat kerah belakang seragam Selena seolah-olah Selena adalah kucing kecil.
"Lepasin gue, Kak Damon! Ini pelanggaran hak asasi manusia!" teriak Selena sambil meronta-ronta di udara.
Damon tidak peduli. Dia membawa Selena ke tengah-tengah lingkaran Thunder dan mendudukkannya di atas meja plastik. Zeus, Leon, Nathan, dan Axel langsung menatapnya.
"Loh, Selena? Ngapain lo di sini?" tanya Axel heran.
Selena tidak menjawab, dia malah mengeluarkan foto itu dan menggebrak meja (meski suaranya nggak seberapa keras). "Jelasin ke gue! Kenapa foto Mama gue ada di saku Kak Zeus?! Kakak mau jadi bapak tiri gue ya?! Ngaku!"
Hening sesaat. Lalu, Axel dan Nathan meledak dalam tawa.
"Hahaha! Bapak tiri! Zeus, lo denger nggak? Selera lo ternyata ibu-ibu!" Nathan tertawa sampai memegangi perutnya.
Zeus menutup wajahnya dengan tangan, telinganya memerah. "Jangan ngaco! Gue nggak pernah kepikiran macem-macem. Jangan asal nuduh yang nggak-nggak!"
"Terus kenapa foto ini ada di Kakak?" tanya Selena sangsi.
"Foto itu jatuh dari saku seragam lo, Sel," potong Leon dengan suara datarnya yang menenangkan. " itu pas lo lari-lari panik karena ngira ada setan di kemping sampai pingsan"
Zeus mengangguk, dia mengambil foto itu dari tangan Selena. "Gue baru mau balikin pas istirahat ini, tapi gue malah dituduh jadi calon bapak tiri. Lo beneran detektif paling payah yang pernah gue kenal."
"Tunggu..." Selena mengerutkan kening. "Kalau foto ini jatuh dari saku gue... kok gue nggak ngerasa punya foto ini sebelumnya? Gue nggak pernah nyimpen foto Mama di saku seragam."
Suasana mendadak berubah serius. Leon meletakkan tabletnya. "Berarti ada yang sengaja masukin foto itu ke saku lo tanpa lo sadar. Dan gue yakin, pelakunya cuma satu orang yang punya akses buat deketin lo diam-diam tadi pagi."
"Lucas," bisik Zeus, matanya menatap tajam ke arah pintu masuk markas.
Selena menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang karena malu sekaligus bingung. Dia menyambar foto Mamanya dari tangan Zeus dengan gerakan secepat kilat.
"Oke! Anggap aja gue salah paham! Gue emang detektif amatir, puas?!" ketus Selena sambil memasukkan foto itu ke saku terdalamnya. "Makasih udah dipungutin, Kak Zeus. Gue balik ke kelas dulu, mau lanjut bikin denah PLN yang lebih penting daripada dengerin kalian ketawa!"
Selena berbalik, berniat lari secepat mungkin dari markas "The antisipasi" yang penuh aura memalukan itu. Tapi, baru saja dia melangkah satu kali, kerah belakang seragamnya kembali tertahan.
Kali ini bukan Damon yang narik, tapi Zeus.
"Mau kemana? Masalahnya belum selesai, Ibu Dirut," ucap Zeus dengan suara rendah yang bikin Selena merinding.
Zeus memutar tubuh Selena agar kembali menghadapnya. Dia tidak melepaskan pegangannya, malah menatap Selena dengan tatapan menyelidik yang sangat tajam.
"Leon, cek jam tangannya," perintah Zeus tanpa mengalihkan pandangan dari mata Selena.
Leon mendekat, jemarinya menari di atas layar tablet sementara tangannya yang lain memegang pergelangan tangan Selena untuk memeriksa jam perak itu. "Log sistem jam tangan lo menunjukkan ada frekuensi asing yang mencoba 'nempel' ke lo Sel. Persis sebelum kita kemping."
"Artinya apa?" tanya Selena polos.
"Artinya, foto itu bukan cuma kertas," sahut Leon dingin. "Di sudut foto itu ada mikro-film transparan. Tipis banget, lo nggak bakal liat kalau nggak pake alat. Lucas nggak cuma naruh foto, dia naruh 'pintu masuk' ke data pribadi lo."
Selena melongo. "Hah? Jadi gue disadap lewat foto nyokap gue sendiri?"
"Makanya gue bilang jangan ngaco dan jangan sok jagoan jalan sendirian," Zeus melangkah maju, memperkecil jarak sampai Selena harus mendongak. "Lo pikir gue lari-lari dari lantai tiga cuma buat dengerin soal token listrik? Gue lari karena sistem Leon bunyi kalau ada 'penyusup' di dekat lo."
Damon, Nathan, dan Axel sekarang berdiri melingkar, menutup jalan keluar Selena. Mereka tidak kelihatan bercanda lagi.
"Gue bakal anter lo balik nanti," tegas Zeus. "Nggak ada ojek, nggak ada jalan bareng Rora. Lo masuk ke mobil Leon atau bonceng gue. Pilih satu."
"Tapi Kak! Rora gimana?"
"Rora biar bareng Axel," sahut Axel sambil pamer kunci motornya. "Gue jagain 'Wakil Dirut' lo itu, tenang aja."
Tiba-tiba, jam tangan perak Selena bergetar. Tapi kali ini bukan sinyal merah atau hijau, melainkan sebuah pesan teks pendek yang muncul di layar:
[Incoming Message]: "Gimana fotonya, Kecil? Bagus kan? Nyokap lo cantik pas muda, sama kayak lo sekarang. Tapi sayang, dia punya rahasia yang bahkan lo pun nggak tahu. Mau tahu kelanjutannya? Cabut dari perlindungan 'Kulkas' itu dan temuin gue di belakang aula jam 3 nanti."
Zeus ikut membaca pesan itu karena posisinya yang sangat dekat dengan Selena. Rahangnya mengeras, urat di tangannya menonjol.
"Dia beneran nantangin gue," desis Zeus.
Leon menatap Selena. "Sel, sistem kesehatan lo naik. Lo panik. Tarik napas."
Selena menatap Zeus dan Leon bergantian. "Kak... kalau Lucas tahu sesuatu tentang Mama yang gue nggak tahu, gue harus dapet infonya. Dia bawa-bawa Mama, gue nggak bisa diem aja."
Zeus mencengkeram bahu Selena pelan. "Jangan percaya dia pasti ngancam doang."
"Bodoamat gue mau tau" ujar selena.
Selena tidak bisa menunggu sampai jam 3 sore. Rasa penasaran itu rasanya lebih menyiksa daripada disuruh ngerjain tugas Biologi Bu Endang. Dia pun menyelinap ke UKS, beralasan pusing (yang sebenarnya pusing beneran gara-gara teori konspirasi Lucas), lalu bersembunyi di balik tirai ranjang paling ujung.
Dengan tangan gemetar, dia menekan nomor Mamanya.
"Halo, Ma?" bisik Selena.
"Iya, Sel? Kenapa? Tumben jam sekolah telepon, token listrik di sekolah habis?" tanya Mama Selena dari seberang sana, suaranya terdengar sibuk dengan bunyi gemerincing alat dapur.
"Ma... aku serius. Mama kenal yang namanya Lucas? Terus, kok aku nemu foto SMP Mama di saku aku? Katanya Mama punya rahasia besar ya dulu?"
Hening sejenak. Lalu, terdengar suara tawa yang sangat renyah—bukan tawa misterius, tapi tawa yang benar-benar geli.
"Hahahaha! Rahasia apa sih, Sayang? Terus soal rahasia... duh, Selena, dari dulu Mama itu sibuk sama dunia Mama sendiri. Mama itu dulu kuper, cuma fokus belajar biar bisa dapet beasiswa. Rahasia paling besar Mama paling cuma pernah nggak sengaja mecahin kaca jendela lab terus kabur."
Selena melongo. "Hah? Jadi nggak ada skandal masa lalu? Nggak ada musuh bebuyutan?"
"Nggak ada, Sayangku. Mama itu dulu flat banget hidupnya. Mungkin itu temen kamu cuma mau ngerjain kamu kali. Sudah ya, Mama lagi banyak pesanan nih. Jangan dengerin gosip aneh-aneh!"
PIP. Sambungan terputus.
Selena terduduk lemas di ranjang UKS. Dia merasa seperti orang bodoh. Foto itu? Mungkin memang benar-benar jatuh dari saku lokernya yang berantakan seperti kata Leon, atau Lucas hanya menemukan foto random yang mirip Mamanya.
Tiba-tiba, tirai UKS terbuka dengan sentakan keras.
Bukan Zeus. Bukan Leon. Tapi Lucas.
Dia berdiri di sana dengan seringai khasnya, tangannya dimasukkan ke saku celana. "Gimana, Kecil? Udah dapet jawaban dari 'sumber utama'?"
Selena langsung berdiri, emosinya naik ke ubun-ubun. "Lo... lo beneran cuma mancing emosi gue ya?! Lo sengaja bikin gue panik biar gue jauhin Zeus?!"
Lucas tertawa kecil, melangkah mendekat sampai Selena terpojok ke dinding. "Efeknya lumayan kan? Liat lo lari-lari ketakutan, nyari perlindungan ke 'Geng Gardu Listrik' itu... itu hiburan buat gue. Gue cuma mau ngetes, seberapa gampang 'Ibu Dirut' ini digoyah fondasinya."
Lucas mengeluarkan sebuah cokelat batangan dari sakunya dan menaruhnya di pundak Selena.
"Foto itu emang foto nyokap lo, gue nemu di gudang arsip sekolah lama yang mau dibuang. Gue pikir lo bakal seneng punya kenang-kenangan. Soal rahasia? Ya... rahasianya adalah nyokap lo itu orang paling membosankan di masanya. Makanya gue heran, kok bisa punya anak seajaib lo."
Selena sudah siap melayangkan tamparan, tapi Lucas lebih dulu menangkap pergelangan tangannya.
"Tapi Sel, hati-hati sama Zeus," bisik Lucas, suaranya mendadak serius. "Dia nggak se-'suci' yang lo kira. Kalau gue mancing emosi lo pake kata-kata, dia mancing lo pake 'perlindungan'. Sama-sama jebakan, kan?"
BRAKK!
Pintu UKS dihantam terbuka. Zeus masuk dengan napas memburu, di belakangnya ada Leon yang wajahnya sudah sangat gelap.
"Lepasin tangan lo dari dia, Snake," desis Zeus.
Lucas melepaskan tangan Selena sambil mengangkat kedua tangannya ke udara, tanda menyerah palsu. "Santai, Bos. Gue cuma lagi ngasih cokelat buat Ibu Dirut yang lagi 'sakit gigi' gara-gara kebanyakan mikir."
Lucas berjalan melewati Zeus sambil menabrakkan bahunya sengaja. Dia menoleh ke arah Selena sekali lagi. "Sampai ketemu di jam olahraga besok, Sel. Jangan lupa makan cokelatnya, siapa tahu bisa nambah daya pikir lo."
Begitu Lucas hilang di belokan koridor, Zeus langsung menghampiri Selena. Dia nggak marah, tapi tatapannya penuh rasa khawatir yang dipendam.
"Lo nggak apa-apa? Dia ngapain lo?" tanya Zeus, tangannya hampir menyentuh pipi Selena tapi dia urungkan.
Selena cuma bisa menghela napas panjang. "Gue nggak apa-apa. Gue cuma... gue beneran ngerasa bego hari ini, Kak."
Leon berjalan mendekat, mengambil cokelat dari tangan Selena dan mengeceknya. "Cuma cokelat biasa. Tapi mental lo yang kena down. Balik ke kelas, atau mau gue pesenin Grab buat pulang sekarang?"
Bersambung...