Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan setelah luka
Di bawah dekapan hangat selimut, Yoga masih memeluk Anindya dengan sangat posesif. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, hingga naluri jahilnya mulai muncul untuk menggoda sang istri.
"Sayang... jujur ya, apakah dulu sama Arka kamu benar-benar belum pernah melakukannya?" tanya Yoga sambil mengusap lembut bahu Anindya.
Anindya mendongak, menatap mata suaminya dengan polos. "Hmm... belum, Mas. Kenapa memangnya?"
Yoga menghela napas panjang, lalu bergumam dengan nada bicara yang dibuat-buat seperti sedang menggerutu.
"Arka, Arka... sungguh malang nasibmu, kawan. Punya istri senikmat ini kok tidak dipakai," gerutunya yang langsung membuat mata Anindya membulat.
"Mas! Kok ngomongnya begitu sih? Mas Arka itu orangnya kalem, lembut, tidak agresif kayak kamu!" bela Anindya sambil mencubit pinggang Yoga gemas.
"Iya, iya deh... yang mantan mendiang suaminya dibela terus," Yoga pura-pura merajuk, memalingkan wajahnya sedikit.
Anindya tersenyum tipis, lalu ia membalas dengan pertanyaan yang sudah lama mengganjal di hatinya.
"Terus... kenapa Mas dulu tidak menyentuh Dinda Dewi sama sekali? Kalian menikah satu tahun, lho. Masa tidak sekalipun bersentuhan?"
Yoga kembali menatap Anindya, kali ini tatapannya lebih serius namun tetap hangat.
"Itu beda, Sayang. Mas terpaksa menikahi Dinda karena tekanan keadaan. Dan jujur saja... Mas tidak mau menyentuh 'bekas' orang lain. Kamu tahu sendiri kan bagaimana kelakuan dia dengan Kenji?"
Anindya terdiam sejenak, lalu memancing lagi. "Terus, kalau seandainya aku sudah 'disentuh' sama Mas Arka dulu, berarti aku 'bekas' juga dong? Kenapa Mas tidak jijik seperti sama Dinda?"
Yoga tertawa kecil, ia mengecup hidung Anindya dengan gemas. "Bisa saja kamu menjawab, Istriku. Jawabannya sederhana: karena aku cinta kamu. Dari kecil Dinda itu sudah aku anggap adik, dan aku menerima dia hanya karena Ibu yang memaksa, katanya untuk balas budi. Tapi denganmu, rasanya segalanya murni."
"Hmm... gitu ya," gumam Anindya, merasa hatinya sangat tersanjung.
"Sudah, sudah... tidak usah bahas masa lalu lagi. Sekarang, kita mulai ronde kedua yuk?" goda Yoga dengan binar nakal di matanya.
"Hah? Mas, ini sudah jam..."
Belum sempat Anindya menyelesaikan kalimatnya, Yoga sudah melumat lembut bibir istrinya, membungkam segala protes.
Anindya yang awalnya hendak menolak, perlahan kembali terbuai dalam pesona suaminya. Keduanya kembali mengarungi bahtera asmara yang seolah tidak ada ujungnya. Desahan napas dan cinta memenuhi ruangan itu berkali-kali, hingga akhirnya jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Dalam kelelahan yang sangat nikmat, mereka akhirnya terlelap dalam pelukan yang sangat erat.
****
Keesokan paginya, sinar matahari Surabaya mulai masuk melalui celah gorden. Yoga terbangun lebih dulu. Ia tidak langsung beranjak, melainkan hanya menopang dagunya sambil menatap wajah tidur Anindya yang terlihat sangat damai dan cantik alami tanpa riasan.
Yoga merasa hidupnya kini sempurna. Ia telah memenangkan peperangan melawan rasa bersalah, melunasi utang budi dengan harga diri, dan mendapatkan cinta sejati yang selama ini ia kira hanya ada dalam mimpi.
Setelah sarapan yang penuh dengan godaan dari Ibu Sekar, Yoga merogoh dompetnya dan mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam elegan. Ia menyodorkannya ke arah Anindya dengan senyum yang sangat tulus.
"Sayang, ambil ini," ucap Yoga singkat.
Anindya mengerutkan kening, menatap kartu itu dengan bingung. "Apa ini, Mas?"
"Itu kartu ATM mas. Pin-nya tanggal lahir kamu. Hari ini kamu dan Ibu bisa jalan-jalan ke mall, belanja apa saja yang kalian mau, atau pergi ke salon untuk perawatan. Pakai uang yang ada di situ ya," jelas Yoga sambil mengusap kepala istrinya.
Anindya merasa sungkan. "Tapi Mas, ini kan uang kamu..."
Ibu Sekar yang duduk di samping Anindya langsung menyenggol lengan menantunya sambil berbisik jahil. "Ambil saja, Anin. Tugas istri itu memang menghabiskan uang suaminya, supaya suaminya tambah semangat cari uang lagi."
Mendengar dukungan dari ibu mertuanya, Anindya pun mengambil kartu itu dengan malu-malu. "Terima kasih banyak ya, Mas."
Ibu Sekar kemudian menatap putranya dengan heran. "Lho, Yoga? Kamu tidak cuti? Kan baru saja menikah kemarin."
"Yudha sebenarnya kasih cuti seminggu, Bu. Tapi hari ini ada pasien VIP yang kondisinya kritis dan minta Yoga sendiri yang menangani operasinya. Yoga tidak enak kalau menolak tugas kemanusiaan," jawab Yoga sambil merapikan tas kerjanya.
Ibu Sekar mengangguk paham. "Pergilah, Nak. Jalankan tugasmu dengan benar dan penuh tanggung jawab. Keselamatan pasien tetap yang utama."
Anindya mengantarkan suaminya sampai ke depan mobil di garasi. Udara pagi Surabaya mulai terasa hangat, namun tidak sehangat perasaan Anindya saat ini. Ia mengambil tangan Yoga, lalu mengecupnya dengan takzim sebagai bentuk hormat seorang istri.
Yoga menyambutnya dengan mengecup kening Anindya cukup lama, menghirup aroma sabun mandi istrinya yang masih segar. Namun, sesaat sebelum masuk ke kursi kemudi, Yoga membungkuk dan membisikkan sesuatu tepat di telinga Anindya dengan suara serak yang nakal.
"Nanti malam kita 'tempur' lagi ya, Sayang. Siapkan tenagamu," bisik Yoga.
Wajah Anindya seketika berubah merah padam seperti kepiting rebus. Ia tersenyum geli campur gemas, lalu memukul pelan bahu suaminya. "Mas Yoga! Masih pagi sudah mikir ke sana terus! Sudah sana berangkat, pasiennya menunggu!"
Yoga tertawa lepas, ia melambaikan tangan dari dalam mobil saat perlahan keluar dari pagar rumah. Anindya menatap kepergian mobil itu dengan hati yang berbunga-bunga. Siapa sangka, pria yang dulunya sedingin es saat di Jakarta, kini bisa berubah menjadi suami yang begitu hangat dan penuh gairah di Surabaya.
Anindya kembali masuk ke dalam rumah menemui Ibu Sekar. "Ibu, jadi kita mau ke mall mana hari ini?"
"Ke mall yang paling besar saja, Anin! Kita beli baju baru untukmu dan kebutuhan rumah. Setelah itu, kita ke salon. Ibu mau lihat menantu Ibu ini tampil paling cantik saat Yoga pulang nanti malam," ajak Ibu Sekar penuh semangat.
Anindya tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa memiliki keluarga yang benar-benar utuh dan menyayanginya tanpa syarat.
Hari itu menjadi momen yang sangat menyenangkan bagi Anindya dan Ibu Sekar. Mereka tampak begitu kompak, tertawa bersama sambil menjinjing tas-tas belanjaan.
Setelah puas berkeliling mall dan memanjakan diri di salon, penampilan Anindya terlihat semakin segar dan mempesona. Rambutnya yang tertata rapi serta wajah yang tampak glowing membuat Ibu Sekar tak henti-hentinya memuji kecantikan menantunya itu.
Sebelum pulang, Anindya teringat sesuatu. "Ibu, aku ingin mampir sebentar ke restoran Jepang. Aku mau belikan sushi kesukaan Mas Yoga untuk makan siangnya," izin Anindya.
"Tentu, Nak. Yoga pasti senang sekali kalau kamu yang membawakannya langsung," jawab Ibu Sekar dengan senyum penuh arti.
Setelah membeli makanan, Ibu Sekar dan sopir mengantar Anindya ke Rumah Sakit Sehati. Begitu Anindya melangkah masuk ke lobi rumah sakit, perhatian hampir semua orang tertuju padanya. Beberapa perawat dan dokter yang tidak sempat hadir di pernikahan mereka kemarin langsung menghampiri dan memberikan ucapan selamat.
"Selamat ya, Bu Anindya! Dokter Yoga benar-benar beruntung mendapatkan istri secantik Ibu," puji salah satu perawat senior.
Anindya membalas dengan senyuman ramah dan ucapan terima kasih sebelum melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja suaminya, Dokter Prayoga Aditama.
Anindya mengetuk pintu kayu jati yang kokoh itu, namun tidak ada jawaban. Karena rasa rindu yang sudah membuncah, ia mencoba memutar kenop pintu. Ternyata tidak dikunci. Saat masuk, ruangan itu tampak sepi dan rapi.
"Sepertinya Mas Yoga masih di ruang operasi," gumam Anindya.
Ia meletakkan tas belanja dan bekal makanan di atas meja, lalu duduk di sofa empuk yang ada di sudut ruangan. Karena kelelahan setelah seharian berkeliling mall dan salon, tanpa sadar mata Anindya terasa berat. Ia pun terlelap dengan posisi menyamping di sofa tersebut.
Sekitar satu jam kemudian, pintu terbuka perlahan. Yoga masuk dengan wajah yang tampak sedikit lelah setelah menjalani operasi VIP yang cukup rumit. Namun, rasa lelah itu seketika sirna saat matanya menangkap sosok wanita cantik yang sedang tidur pulas di sofanya.
Yoga tersenyum sangat lebar. Ia melepas jas dokternya, lalu berjalan pelan tanpa suara agar tidak membangunkan istrinya. Ia duduk di sisi sofa, tepat di samping Anindya, sambil mengagumi wajah istrinya yang terlihat begitu damai.
Anindya merasa ada pergerakan di sampingnya. Ia perlahan membuka mata, dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah tampan suaminya yang sedang menatapnya dengan penuh cinta.
"Mas..." gumam Anindya serak karena baru bangun tidur. Tanpa ragu, ia langsung bangkit dan memeluk leher Yoga dengan erat. "Aku kangen..."
Yoga tertawa kecil, membalas pelukan posesif istrinya itu. "Baru ditinggal beberapa jam sudah kangen, hmm?"
Yoga kemudian menangkup wajah Anindya dan mencium bibir istrinya dengan lembut. Bagi Yoga, bibir Anindya kini benar-benar menjadi candu yang lebih menenangkan daripada kopi manapun. Ciuman itu berlangsung cukup lama, penuh dengan rasa rindu yang meluap.
Setelah ciuman itu terlepas, Anindya dengan semangat membuka kotak bekal yang ia bawa. "Tadi aku belikan sushi kesukaan Mas. Ayo makan dulu, Mas pasti lapar kan?"
"Wah, pas sekali. Mas memang belum sempat makan siang karena operasi tadi agak lama," sahut Yoga.
Anindya pun dengan telaten menyuapi suaminya satu per satu. Yoga menyantap sushi itu dengan sangat lahap, bukan hanya karena rasanya yang enak, tapi karena disuapi langsung oleh wanita yang paling ia cintai.
"Enak?" tanya Anindya sambil mengelap sisa saus di sudut bibir Yoga.
"Sangat enak. Tapi sepertinya pencuci mulutnya harus lebih manis dari ini," goda Yoga sambil kembali menatap nakal ke arah bibir Anindya.