Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kekacauan Dengan Semprotan Cabai
Kembali di lereng gunung, Januar mulai menggambar skema jaringan pada selembar kertas lusuh. "Rini akan mengarahkan semua orangnya ke tempat ini jika dia tahu kita di sini. Kita akan menggunakan sayembara itu untuk memancingnya keluar dari bentengnya."
Ale menatap Januar dengan ragu. "Lo mau jadiin Nirmala umpan? Gila lo?"
"Bukan umpan yang pasif, Ale," sahut Nirmala tegas, ia berdiri di samping Ale. "Kita akan memberikan apa yang dia inginkan, tapi dengan cara kita sendiri. Rini merasa di atas angin karena dia punya uang dan pembunuh. Tapi dia lupa, dia sedang menghadapi orang-orang yang sudah kehilangan segalanya."
Nirmala memegang tangan Ale, mencoba menyalurkan keberanian yang baru saja ia temukan. "Januar akan meretas sistem keuangannya saat perhatian Rini teralih padaku. Kita harus masuk ke jantung 'Caja de Muerto'. Jika kita berhasil mengirimkan data itu ke interpol dan kartel lawan, Rini akan tamat dalam satu malam."
Januar mengangguk lemah. "Risikonya adalah kematian. Jika kita gagal, tidak akan ada yang menguburkan kita."
"Kita sudah mati sejak hari pesawat orang tuaku jatuh, Januar," jawab Nirmala dingin. "Sekarang, kita hanya sedang berjalan menuju kebenaran."
Di kejauhan, suara raungan mesin motor mulai terdengar dari kaki bukit. Para pemburu hadiah mulai bergerak. Sayembara berdarah Rini telah memicu pergerakan para iblis jalanan.
Rini di Jakara, kembali ke balkonnya, menghirup udara malam dengan tawa yang masih tersisa di bibirnya. Ia membelai selendang sutranya, membayangkan kain itu akan segera berwarna merah oleh darah Nirmala. Kemenangan, baginya, hanyalah masalah waktu—dan ia sangat menikmati setiap detik penantian yang berlumuran darah ini.
****
Langit di atas perbukitan Bogor seolah menahan napas. Kabut tebal merayap naik dari lembah, menyelimuti pondok kayu tua itu dalam selimut putih yang menyesakkan. Namun, kesunyian itu hanyalah topeng. Di kegelapan hutan yang mengepung rumah persembunyian, binar lensa teropong dan kilat senjata api mulai bermunculan. Para pemburu hadiah, anjing-anjing pelacak sayembara dua juta dolar milik Rini, telah tiba.
Di dalam pondok, suasana tidak kalah tegang. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari layar laptop yang berpendar kebiruan, memantul di wajah Januar Suteja yang pucat dan penuh keringat dingin. Jemarinya menari di atas papan ketik dengan kecepatan gila, menembus lapisan demi lapisan enkripsi Caja de Muerto.
"Satu lapisan lagi... Sedikit lagi..." gumam Januar, giginya bergeletuk. Luka di bahunya berdenyut hebat seiring dengan debar jantungnya yang memacu adrenalin. "Rini menggunakan protokol ganda. Jika aku salah satu digit saja, seluruh data ini akan terhapus dan posisi kita akan terpancar seperti suar di tengah laut."
Aleandra Nurdin berdiri di dekat jendela, memegang busur panah rakitan dan sebilah parang panjang. Ia menoleh ke arah Nirmala yang berdiri di sudut ruangan. Gadis itu memegang dua botol semprotan besar—modifikasi dari botol pembersih kaca yang kini diisi dengan konsentrat cabai rawit murni, lada hitam, dan cuka yang sanggup merontokkan kornea mata siapa pun yang berani mendekat.
"Mereka sudah di sini, Nona," bisik Ale, suaranya rendah dan dalam. "Jangan jauh-jauh dari gue. Kalau pintu itu jebol, jangan ragu. Semprotkan tepat ke wajah mereka."
Nirmala mengangguk, jemarinya memutih karena mencengkeram botol semprotan itu begitu kencang. "Aku tidak akan takut lagi, Ale. Tidak malam ini."
****
Tiba-tiba, sebuah suar merah ditembakkan ke langit, menerangi hutan sekejap mata. Itu adalah sinyal penyerbuan.
BRAK!
Sebuah granat asap dilemparkan menembus jendela kaca, meledak dan memenuhi ruangan dengan gas putih yang mencekik. Seketika, rentetan tembakan senapan otomatis menghujani dinding kayu pondok, menciptakan lubang-lubang cahaya yang mematikan.
"Tiarap!" raung Ale. Ia menarik Nirmala ke bawah meja jati yang kokoh.
Pintu depan ditendang hingga jebol dari engselnya. Tiga pria bertubuh kekar dengan rompi antipeluru merangsek masuk. Ale tidak menunggu. Ia meluncur dari balik bayangan, mengayunkan parangnya dengan kekuatan yang lahir dari keputusasaan. Satu pria tumbang dengan luka menganga di paha, namun dua lainnya melepaskan tembakan liar.
"Sekarang, Nirmala!" teriak Ale sambil bergulat dengan salah satu penyerang.
Nirmala bangkit dari balik meja. Saat seorang pembunuh bayaran bermata satu mengarahkan pistolnya ke arah Januar, Nirmala melompat maju. Ia menekan tuas semprotannya kuat-kuat. Cairan jingga kemerahan menyemprot dalam kabut halus, langsung menghantam wajah pria itu.
"AAAAAGGGHHH! MATAKU! MATAKU TERBAKAR!" pria itu menjerit histeris, menjatuhkan senjatanya dan mencakar-cakar wajahnya sendiri hingga berdarah. Perih yang luar biasa dari konsentrat cabai itu membuat sarafnya lumpuh seketika.
Nirmala tidak berhenti. Ia berputar dan menyemprotkan cairan itu ke arah penyerang lain yang sedang mencoba mencekik Ale. Bau menyengat cabai dan cuka memenuhi udara, menciptakan zona kematian bagi siapa pun yang tidak menggunakan pelindung mata.
****
Di tengah kekacauan itu, Januar tidak bergerak dari kursinya. Sebuah peluru menyerempet sandaran kursinya, mengirimkan serpihan kayu ke pipinya, namun ia tetap terpaku pada layar.
"Dapat! Aku masuk!" teriak Januar. Tangannya gemetar hebat saat ia mulai mengunduh data transaksi ilegal Rini dengan kartel Kolombia. "Sedang mengirim ke server Interpol dan Badan Narkotika Internasional... Empat puluh persen... Lima puluh persen..."
"Cepat, Januar! Gue nggak bisa tahan mereka lebih lama lagi!" Ale berteriak saat ia menghantamkan kepala seorang lawan ke sudut meja. Darah memercik ke layar laptop Januar, namun proses pengiriman terus berjalan.
Di luar, lebih banyak orang berdatangan. Suara petasan banting dan jebakan bubuk cabai yang dipasang Nirmala di teras rumah meledak silih berganti, menciptakan kepanikan di antara para pemburu hadiah yang tidak menyangka akan menghadapi perlawanan secerdik ini. Suasana menjadi chaos total. Teriakan kesakitan, bau mesiu, dan aroma cabai yang membakar hidung menyatu dalam simfoni kematian.
****
Sementara itu, di lantai teratas gedung Dizan Holding, Rini Susilowati duduk di kursi kebesarannya sambil menyesap sampanye murni. Di depannya, sebuah layar besar menampilkan titik-titik merah yang mengepung koordinat rumah persembunyian melalui pelacak GPS yang ia pasang pada tim pembunuh bayarannya.
Rini menarik selendang sutra hitamnya, menutupi mulutnya saat ia melihat titik-titik merah itu masuk ke dalam sasaran.
"Mmph... Hmph... Hahahahahaha!"
Tawa itu meledak, memantul di dinding kaca yang menghadap gemerlap lampu Jakarta. Rini tertawa hingga tubuhnya melengkung, air mata bahagianya menetes membasahi sutra mahal itu. Ia merasa kemenangan sudah berada di ujung lidahnya.
"Mati kau, Nirmala... Mati kau dalam kehinaan di tengah hutan itu," bisik Rini, suaranya parau oleh kegilaan yang memuncak. "Habiskan mereka semua! Jangan sisakan satu pun! Aku ingin melihat pondok itu menjadi peti mati mereka malam ini juga!"
Rini mengambil tisu, menyeka ingus dan air mata yang tumpah ruah saking bahagianya. Ia membayangkan tubuh Nirmala yang tak bernyawa dibawa ke hadapannya. Ia membayangkan dirinya berdiri di atas makam seluruh keluarga Dizan dan Suteja, menjadi ratu tunggal di atas reruntuhan yang ia ciptakan sendiri.
"Kalian pikir bisa melawanku dengan bubuk dapur?" Rini tertawa lagi, tawa melengking yang mengerikan. "Dunia ini milik yang paling kejam, dan akulah yang paling kejam di antara kalian semua!"