🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26 | Manipulasi Takdir: Skala Makro
...----------------{🔖}----------------...
Aku berdiri di dek observasi sebuah jet pribadi yang melayang di atas Samudra Atlantik, menuju London. Di bawah sana, kegelapan laut tampak seperti tinta cair yang menelan cahaya bulan. Namun, di mata ku, dunia tidak lagi sesederhana air dan tanah. Aku melihat nya sebagai jaringan saraf raksasa yang berdenyut; jutaan benang emas, merah, dan hitam yang saling menjalin sebuah permadani kausalitas yang rapuh.
"Kekuatan cenayang memberi ku penglihatan," gumam ku, suara ku bergema di dalam batin yang kini terasa seluas angkasa.
"Tapi yang mengejutkan adalah kekuatan ini sekarang juga memberi ku hak untuk menyunting realitas itu sendiri. Dulu aku mengira menghancurkan satu perusahaan adalah kemenangan. Betapa picik nya aku. Hari ini, aku menyadari bahwa satu bangsa hanyalah sekadar paragraf dalam buku sejarah yang sedang ku tulis ulang."
Aku merasakan denyut panas yang luar biasa di balik kelopak mataku. Garis-garis emas di bawah kulit tangan ku berpendar, seolah-olah pembuluh darah ku kini dialiri oleh plasma matahari. Aku memusatkan pandangan ku pada satu titik di peta digital Eropa yang terpampang di meja holografik: Lira Italia.
Itu adalah target ku. Bukan karena aku membenci rakyat nya, tapi karena The Sovereign menggunakan bank sentral di sana sebagai benteng terakhir untuk mencuci aset ilegal mereka sebelum menyerang Samantha Holdings.
"Tuan Satya," suara Lin Xia memecah konsentrasi ku. Ia masuk dengan langkah ragu, membawa dokumen yang menampilkan laporan intelijen terbaru. "Intervensi kita di pasar valuta asing mulai terasa. Namun, Bank of Italy baru saja mengumumkan mereka akan menyuntikkan dana darurat sebesar 50 miliar untuk menstabilkan mata uang mereka. Para pakar ekonomi di London memprediksi kita akan gagal. Mereka menyebut Anda terlalu sombong."
Aku tidak menoleh sama sekali. Aku hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak lagi mengandung kehangatan manusiawi. "Pakar ekonomi adalah orang yang menjelaskan hari ini mengapa prediksi mereka kemarin salah. Mereka menghitung berdasarkan sejarah, Xia. Aku menghitung berdasarkan kehendak."
"Tapi Tuan, 50 miliar adalah jumlah yang besar," bisik Xia, wajah nya pucat. "Jika mereka berhasil menahan serangan kita, Samantha Holdings akan kehilangan likuiditas di Eropa."
Aku memutar kursi, menatap nya dengan kedua mata yang menyala penuh. Lingkaran fraktal di pupil ku berputar secara asimetris, menciptakan distorsi visual yang membuat Xia terhuyung mundur.
"Xia, apakah kau tahu apa yang membuat sebuah mata uang bernilai?" tanya ku dengan nada yang rendah namun terasa menindas. "Bukan emas. Bukan cadangan devisa. Tapi kepercayaan. Dan kepercayaan adalah variabel paling rapuh dalam sejarah umat manusia."
Aku kembali menatap peta dokumen. "Lihat ini."
Aku memejamkan mata dan masuk ke dalam alam Manipulasi Makro. Dalam kesadaran ku, aku tidak lagi berada di dalam pesawat. Aku melayang di atas benua Eropa. Aku melihat benang-benang nasib jutaan orang yang terikat pada nilai Lira.
Aku melihat gubernur bank sentral yang saat itu sedang menandatangani dokumen, aku melihat pedagang kecil di Roma, dan aku melihat para bankir The Sovereign yang sedang tertawa merayakan kemenangan mereka.
"Putus," perintah ku.
Aku tidak menyerang angka-angka nya. Aku menyerang probabilitas keberhasilan mereka.
Dalam dunia nyata, sebuah kawat bawah laut di Mediterania mengalami malfungsi langka karena tekanan tektonik kecil yang kebetulan terjadi tepat saat transmisi dana darurat dilakukan. Di tempat lain, seorang pialang utama di Milan mengalami serangan panik yang tidak beralasan, membuat nya salah memasukkan order jual sebesar sepuluh kali lipat dari yang seharusnya.
Kejadian-kejadian acak ini, dalam statistik, disebut mustahil. Namun di bawah kendali kekuatan cenayang, yang mustahil menjadi keniscayaan.
"Tuan! Lihat!" teriak Xia.
Di layar, grafik Lira yang tadinya mulai mendaki mendadak patah. Bukan turun perlahan, tapi terjun bebas seperti batu yang dijatuhkan dari tebing.
"Apa yang terjadi?!" suara Detektif Chen terdengar dari interkom jet. Dia berlari masuk ke kabin utama, wajah nya tegang. "Satya! Berita internasional meledak! Ada kekacauan sistemik di bursa Milan. Orang-orang mulai panik di jalanan! Kau benar-benar meruntuhkan mata uang sebuah negara?"
"Aku hanya mempercepat kehancuran yang sudah mereka tanam sendiri, Chen," kata ku sambil berdiri. Aku merasakan darah segar mengalir dari lubang hidung ku, bayaran atas manipulasi skala besar ini. Aku menyeka nya dengan punggung tangan, tidak peduli.
Tiba-tiba, meja holografik itu bergetar hebat. Sebuah panggilan terenkripsi masuk. Layar menampilkan siluet seorang pria tua dengan latar belakang perpustakaan klasik di London. The Grand Duke, salah satu pemimpin tertinggi The Sovereign.
"Satya Samantha," suara pria itu berat, penuh dengan wibawa yang kini tercoreng oleh ketakutan yang tersamar. "Kau sudah melewati batas. Menghancurkan pasar adalah satu hal, tapi memicu krisis nasional di kedaulatan Eropa? Kau sedang bermain menjadi Tuhan."
"Tuhan tidak butuh bermain, Duke," jawab ku tenang, menatap siluet itu seolah aku bisa melihat wajah nya di balik bayangan. "Dia hanya menetapkan hukum. Dan hukum baru dunia ini adalah: jangan sentuh apa yang menjadi milik ku."
"Kau akan memicu perang dunia! Kau pikir kami akan diam melihat aset kami di Italia menguap?" Duke itu membentak.
"Aset mu tidak menguap, Duke. Mereka hanya berpindah tangan," aku melambaikan tangan ke arah layar lain yang menunjukkan bahwa perusahaan cangkang Samantha Holdings baru saja membeli aset-aset strategis di Italia dengan harga sampah menggunakan Dollar yang kuat.
"Kau menyebut ini perang. Aku menyebut ini restrukturisasi global."
"Kau adalah monster," desis Duke itu. "Jika itu mau mu, KAMI akan mengerahkan seluruh kekuatan NATO jika perlu untuk menghentikan mu. Kau hanyalah satu orang dengan kelebihan yang aneh."
"Satu orang yang bisa membuat rudal kalian gagal meluncur karena kebetulan ada kerusakan pada perangkat lunak nya," balas ku dingin. "Cobalah aku, Duke. Kirimkan pasukan mu, dan saksikan bagaimana sejarah menghapus nama mu dari ingatan manusia."
Panggilan itu terputus. Ruangan jet itu seketika hening, hanya menyisakan suara mesin turbin yang halus.
Aku terduduk kembali di kursi, tubuh ku gemetar. Kekuatan ini... ia terasa seperti mencoba memasukkan samudra ke dalam botol kecil. Kepala ku terasa seperti akan pecah.
"Satya!" Meiling berlari masuk, dia segera memeluk ku dari belakang, menempelkan pipi nya yang hangat ke leher ku yang sedingin es. "Cukup. Berhenti sekarang. Kau sudah menang. Lira sudah hancur, The Sovereign sedang meratap. Jangan paksakan lagi."
Aku menarik napas panjang, mencoba meredam pendaran emas di mata ku. "Aku tidak bisa berhenti, Meiling. Jika aku berhenti sekarang, benang-benang itu akan menjerat ku kembali. Aku harus terus menarik nya sampai tidak ada lagi yang bisa melawan."
"Tapi lihat diri mu!" Meiling memutar kursi ku agar aku menghadap nya. Mata nya yang cantik dipenuhi air mata. "Kau berdarah. Mata mu... kau hampir tidak terlihat seperti Satya yang aku kenali lagi. Kau terlihat seperti... mesin."
Aku menyentuh wajah nya. Tangan ku terasa kasar, dialiri energi yang masih liar. "Aku tidak bisa menjadi manusia biasa, Meiling. Itulah harga yang harus ku bayar untuk melindungi mu, melindungi semua yang menjadi milik ku."
Aku melirik ke arah Chen dan Xia yang berdiri di sana. Mereka menatap ku dengan campuran rasa syukur dan kengerian yang murni. Mereka menyadari bahwa pria yang duduk di depan mereka ini bisa melenyapkan keberadaan mereka hanya dengan sebuah pemikiran jika ia mau.
"Inilah kesepian yang sejati," gumam ku sambil menatap telapak tangan ku yang masih berpendar. "Saat kau bisa mengubah takdir dunia, kau kehilangan kemampuan untuk menjadi bagian dari dunia itu sendiri. Aku adalah penenun takdir, namun aku sendiri terjebak dalam jaring yang aku buat."
"Chen," panggil ku.
"Ya, Tuan?" Chen menjawab, secara tidak sadar menggunakan sebutan formal yang biasa nya ia hindari.
"Siapkan pendaratan di London. Aku ingin bertemu dengan Savannah Sterling di dermaga pribadi. Kita akan memulai tahap kedua: pengambilalihan industri baja Eropa. Jika mereka tidak memiliki mata uang, mereka akan menjual tanah dan besi mereka pada ku."
"Baik, Tuan," Chen bergegas keluar.
Aku menatap Meiling yang masih memegang tangan ku. "Jangan takut. Dunia ini mungkin akan berguncang, tapi kau akan selalu berada di samping ku, di atas puncak."
Meiling tidak menjawab. Dia hanya memeluk ku lebih erat, seolah-olah ia sedang mencoba menahan jiwa ku agar tidak terbang melintasi batas manusia. Namun aku tahu, di bawah sana, di daratan Eropa, kekacauan baru saja dimulai. Antrean di bank, kerusuhan di jalanan, kejatuhan pemerintahan... semua itu adalah musik latar dari kebangkitan ku.
Aku adalah Satya Samantha. Dan malam ini, aku telah membuktikan bahwa satu orang bisa lebih kuat daripada seribu tentara. Aku telah memanipulasi takdir dalam skala makro, dan kini, dunia baru saja menyadari bahwa penguasa mereka yang sebenar nya tidak duduk di takhta emas di London, melainkan sedang terbang di antara awan, memegang benang kehidupan mereka di ujung jari nya.
"The Sovereign," batin kekuatan di dalam diri ku menggeram puas. "Kalian menyebut diri kalian penguasa? Mari kita lihat bagaimana kalian berkuasa di atas puing-puing ekonomi yang ku tinggalkan."
Jet itu menembus awan badai di atas Selat Inggris, menuju jantung musuh. Di mata ku, London bukan lagi sebuah kota bersejarah; ia hanya lah target berikut nya dalam papan catur yang kini sudah sepenuh nya berada dalam genggaman ku.
...----------------{🔖}----------------...
Udh diusahakan, diperjuangkan penuh cinta malah begini balasannya?!😓.
Emosii ak🙏😭
inspirasi yeee