Satu tabrakan mengubah segalanya.
Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."
Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.
Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.
Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15: Perang Dingin
Hari ketujuh sejak proteksi obsesif Arsen dimulai.
Aluna duduk di perpustakaan pribadi, menatap buku arsitektur di pangkuannya tanpa benar-benar membaca. Pikirannya kosong, tubuhnya ada di sini tetapi jiwanya... entah di mana.
Tujuh hari tanpa keluar mansion. Tujuh hari diikuti kemana-mana. Tujuh hari di bawah pengawasan CCTV konstan. Tujuh hari... merasa seperti boneka yang diatur.
Di sudut ruangan, Tim dan Anton bodyguard shift pagi berdiri diam seperti patung. Mata mereka tidak menatap Aluna langsung, tetapi Aluna tahu mereka mengawasi setiap gerakan.
Di atas rak buku, kamera CCTV berkedip merah mengirim live feed langsung ke laptop Arsen di kantor.
Aluna menatap kamera itu dengan tatapan kosong.
Tersenyumlah sesekali agar aku tahu kamu baik-baik saja.
Tidak. Ia tidak akan tersenyum. Karena ia tidak baik-baik saja.
Ponselnya bergetar panggilan dari Arsen. Seperti biasa, ia menelepon setiap dua jam sekali.
Aluna menatap ponsel itu berdering. Satu... dua... tiga kali. Lalu ia menekan tombol merah menolak panggilan.
Untuk pertama kalinya dalam seminggu ini, ia menolak panggilan Arsen.
Lima detik kemudian, ponsel berdering lagi. Arsen menelepon lagi.
Aluna menekan tombol merah lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Setelah penolakan kelima, ponselnya berhenti berdering. Tetapi lima menit kemudian, pesan masuk.
Arsen: Aluna, angkat teleponku. Sekarang.
Aluna menatap pesan itu, lalu meletakkan ponselnya dengan layar menghadap ke bawah. Ia kembali menatap bukunya atau lebih tepatnya, menatap kosong pada halaman yang tidak ia baca.
Sepuluh menit kemudian, pintu perpustakaan terbuka dengan keras.
Arsen berdiri di ambang pintu jasnya kusut, rambutnya berantakan seperti sudah ia acak berkali-kali, wajahnya dipenuhi kekhawatiran dan... amarah.
"Keluar," perintahnya pada Tim dan Anton dengan suara rendah yang berbahaya.
Kedua bodyguard itu langsung keluar, menutup pintu di belakang mereka.
Arsen berjalan cepat mendekat, tetapi Aluna tidak mengangkat pandangan dari bukunya tetap menatap halaman yang sama yang sudah ia tatap selama satu jam terakhir.
"Aluna," panggil Arsen dengan suara yang berusaha terkontrol. "Kenapa kamu tidak mengangkat teleponku?"
Aluna tidak menjawab. Tidak bergerak. Tidak bereaksi.
"Aluna, aku bicara padamu," ucap Arsen lagi, kali ini suaranya sedikit meninggi.
Masih tidak ada respons.
Arsen berjongkok di depan Aluna, tangannya meraih buku di pangkuan Aluna dan meletakkannya di meja samping. Lalu tangannya memegang dagu Aluna, memaksa Aluna menatapnya.
Tetapi mata Aluna... kosong. Menatapnya tetapi tidak benar-benar melihat.
"Aluna, katakan sesuatu," bisik Arsen, kekhawatiran mulai menggantikan amarahnya. "Apa yang terjadi? Kamu sakit? Kamu..."
"Saya lelah," potong Aluna dengan suara datar tanpa emosi, tanpa infleksi.
Arsen terdiam, menatap Aluna dengan tatapan tidak percaya.
"Lelah? Lelah apa? Kamu..."
"Lelah dengan semua ini," lanjut Aluna dengan suara yang tetap datar. Matanya akhirnya fokus pada Arsen tetapi tatapan itu dingin, sangat berbeda dari tatapan hangat yang biasa ia berikan. "Lelah diawasi setiap saat. Lelah diikuti kemana-mana. Lelah hidup seperti tahanan."
"Aluna, aku sudah jelaskan. Ini untuk keamananmu..."
"Untuk keamanan saya atau untuk kontrol Anda?" potong Aluna, suaranya masih datar tetapi kata-katanya tajam. "Anda bilang ini karena Darren. Tapi saya rasa... ini hanya alasan lain untuk mengurung saya. Seperti dulu."
Arsen tersentak seperti ditampar.
"Itu tidak benar. Aku melakukan ini karena..."
"Karena Anda tidak bisa melepaskan," potong Aluna lagi. "Karena Anda takut kehilangan kontrol. Karena Anda tidak percaya pada saya."
Ia berdiri, memaksa Arsen melepaskan dagunya.
"Saya sudah bilang saya tidak akan pergi. Saya sudah bilang saya mencintai Anda. Tetapi itu tidak cukup, kan? Tidak akan pernah cukup. Karena Anda... Anda tidak tahu bagaimana mencintai tanpa mengurung."
Air mata mulai menggenang di mata Aluna, tetapi suaranya tetap terkontrol.
"Jadi mulai sekarang, saya akan memberikan Anda apa yang Anda inginkan. Boneka yang diam. Tahanan yang patuh. Karena sepertinya... itu yang Anda inginkan dari saya."
Ia berjalan melewati Arsen menuju pintu.
"Aluna, tunggu..." Arsen meraih lengan Aluna, tetapi Aluna menarik lengannya dengan keras.
"Jangan sentuh saya," ucap Aluna dingin untuk pertama kalinya dengan nada yang benar-benar dingin pada Arsen.
Arsen terpaku, tangannya masih terangkat di udara, menatap Aluna dengan tatapan yang hancur.
Aluna keluar dari perpustakaan tanpa menoleh lagi, meninggalkan Arsen berdiri sendirian dengan ekspresi yang benar-benar... patah.
Hari-hari berikutnya menjadi neraka bagi Arsen.
Aluna masih tinggal di mansion. Masih tidur di tempat tidur yang sama. Masih makan bersama saat makan malam.
Tetapi ia tidak berbicara.
Tidak pada Arsen. Tidak pada siapa pun.
Saat Arsen mencoba mengajak bicara, Aluna hanya menatapnya dengan tatapan kosong lalu berpaling. Saat Arsen mencoba menyentuhnya, Aluna menjauh tidak dramatis, hanya... menjauh dengan tenang.
Saat makan malam, Aluna duduk di kursi sebelahnya tidak di pangkuan Arsen seperti biasa. Dan saat Arsen mencoba menyuapinya, Aluna mengambil alih sendok dan makan sendiri dengan gerakan mekanis.
Yang paling menyakitkan saat tidur, Aluna berbaring membelakangi Arsen, tubuhnya kaku saat Arsen mencoba memeluk. Dan meski akhirnya Arsen tetap memeluknya, Aluna tidak pernah membalas pelukan itu. Tidak pernah bersandar pada dada Arsen. Tidak pernah mengelus tangan Arsen yang melingkari pinggangnya seperti dulu.
Ia ada di sana secara fisik, tetapi tidak secara emosional.
Dan itu... itu membunuh Arsen perlahan.
Hari kelima silent treatment.
Arsen duduk di ruang kerjanya di mansion bukan di kantor, karena ia tidak bisa meninggalkan Aluna dalam kondisi seperti ini. Laptop di hadapannya menampilkan laporan keuangan, tetapi ia tidak bisa fokus.
Matanya terus melirik layar CCTV di sudut monitor menampilkan Aluna yang duduk di taman belakang, menatap kolam ikan dengan tatapan kosong.
Ia tidak tersenyum. Tidak bergerak banyak. Hanya... duduk.
Seperti boneka cantik yang kehilangan jiwa.
Arsen mengepalkan tangannya di meja, rahangnya mengeras.
Ini salahnya. Ia tahu itu.
Ia terlalu jauh. Terlalu obsesif. Terlalu mengontrol.
Tetapi bagaimana ia bisa berhenti saat setiap instingnya berteriak untuk melindungi, untuk menjaga, untuk memastikan Aluna tidak akan diambil darinya?
Ketukan di pintu membuat ia mengangkat kepala.
"Masuk."
Bu Sinta masuk dengan ekspresi khawatir.
"Tuan Arsen, Nona Aluna... beliau tidak mau makan sejak pagi. Saya sudah mencoba membujuk, tetapi beliau hanya menggeleng dan kembali ke kamar."
Jantung Arsen berhenti sejenak.
"Tidak makan? Sejak kapan?"
"Sejak kemarin, Tuan. Beliau hanya minum air putih. Saya khawatir kesehatan beliau..."
Arsen sudah bangkit dari kursinya sebelum Bu Sinta menyelesaikan kalimatnya. Ia berlari naik ke kamar kamar mereka dan menemukan Aluna berbaring di tempat tidur, memeluk bantal, menatap kosong ke jendela.
"Aluna," panggil Arsen sambil berjalan cepat ke sisi tempat tidur. "Bu Sinta bilang kamu tidak makan?"
Tidak ada respons.
"Aluna, tolong. Kamu harus makan. Kamu..."
"Saya tidak lapar," ucap Aluna dengan suara datar kata-kata pertamanya pada Arsen dalam lima hari.
"Aku tidak peduli kamu lapar atau tidak," ucap Arsen sambil duduk di tepi tempat tidur, tangannya menyentuh bahu Aluna. "Kamu harus makan. Kamu tidak boleh sakit. Aku..."
"Kenapa Anda peduli?" potong Aluna, masih tidak menatap Arsen. "Toh saya cuma... properti Anda. Tahanan Anda. Boneka yang harus Anda kontrol."
Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari pisau mana pun.
"Jangan bicara seperti itu," bisik Arsen dengan suara pecah. "Kamu bukan boneka. Kamu..."
"Lalu apa?" Aluna akhirnya berbalik menatap Arsen, dan untuk pertama kalinya dalam lima hari, ada emosi di matanya emosi berupa rasa sakit yang mendalam. "Apa saya bagi Anda? Kekasih? Tunangan? Atau hanya... barang berharga yang harus dijaga dalam sangkar emas?"
Air mata mulai mengalir di pipinya.
"Saya mencintai Anda, Arsen. Benar-benar mencintai. Saya rela menerima sifat possessive Anda, rela memakai kalung ini," ia menyentuh kalung di lehernya, "rela dipanggil milik Anda di depan semua orang. Karena saya pikir... di balik semua itu, Anda juga mencintai saya."
Ia duduk, menatap Arsen dengan mata berkaca-kaca.
"Tetapi cinta Anda... mencekik saya, Arsen. Cinta Anda membuat saya tidak bisa bernapas. Cinta Anda..." suaranya pecah, "...membunuh saya perlahan."
Arsen merasakan sesuatu hancur di dadanya. Air mata yang jarang ia tumpahkan mulai mengalir di pipinya.
"Maaf," bisiknya pecah. "Maafkan aku. Aku tidak bermaksud aku hanya..."
"Anda hanya takut," lanjut Aluna dengan suara lembut. "Saya tahu. Anda takut kehilangan seperti dulu. Tetapi Arsen..." ia menyentuh pipi Arsen, mengusap air mata di sana, "...dengan cara ini, Anda sudah kehilangan saya. Mungkin tidak secara fisik, tetapi... hati saya. Jiwa saya. Sudah mulai mati."
Arsen menarik Aluna ke dalam pelukannya pelukan yang putus asa, yang gemetar.
"Jangan," isaknya di rambut Aluna. "Jangan mati. Jangan meninggalkanku bahkan seperti itu. Aku... aku tidak akan selamat."
Tangannya mencengkeram Aluna seperti orang yang tenggelam mencengkeram pelampung terakhir.
"Katakan padaku apa yang harus kulakukan," bisiknya putus asa. "Katakan bagaimana aku harus mencintaimu tanpa... tanpa menghancurkan mu. Aku tidak tahu caranya. Aku tidak pernah tahu caranya."
Aluna merasakan hatinya hancur mendengar keputusasaan dalam suara Arsen. Ia membalas pelukan itu untuk pertama kalinya dalam lima hari tangannya melingkari punggung Arsen.
"Percaya pada saya," bisiknya. "Belajar untuk melepas sedikit. Belajar untuk... tidak terlalu takut."
"Bagaimana aku bisa tidak takut saat Darren mengancam mu?" tanya Arsen sambil mendongak menatap Aluna. "Bagaimana aku bisa tenang saat aku tahu ada bahaya di luar sana?"
"Dengan percaya bahwa saya cukup kuat untuk menghadapinya," jawab Aluna. "Dengan percaya bahwa cinta saya pada Anda cukup kuat untuk membuat saya tetap kembali pada Anda, apa pun yang terjadi."
Ia menyeka air mata di pipi Arsen dengan lembut.
"Kurangi bodyguard. Matikan beberapa CCTV. Beri saya ruang untuk bernapas. Dan percayalah... saya tidak akan kemana-mana."
Arsen menatap mata cokelat madu itu mata yang dulunya penuh kehangatan, yang sempat menjadi kosong, dan sekarang mulai menunjukkan harapan lagi.
Ia tidak ingin kehilangan kehangatan itu lagi.
Bahkan jika itu berarti ia harus belajar melepas sesuatu yang paling menakutkan baginya.
"Baik," bisiknya akhirnya, keputusan yang paling sulit yang pernah ia buat. "Aku akan... mencoba. Aku akan kurangi bodyguard. Aku akan matikan beberapa kamera. Aku akan..."
Suaranya terputus, tubuhnya gemetar.
"Tetapi tolong, tolong jangan berhenti mencintaiku," isaknya. "Tolong jangan berhenti bicara padaku. Tolong jangan... tinggalkan aku bahkan dalam diam. Karena itu... itu lebih menyakitkan dari apa pun."
Aluna menarik Arsen lebih erat dalam pelukannya, mengelus rambut pria itu dengan lembut.
"Saya tidak akan meninggalkan Anda," bisiknya. "Saya janji. Saya di sini. Saya akan selalu di sini."
Mereka berpelukan lama di tempat tidur itu dua jiwa yang terluka, mencoba menyembuhkan satu sama lain, mencoba menemukan keseimbangan antara cinta dan kebebasan, antara melindungi dan mengurung.
Itu tidak akan mudah. Arsen tidak akan berubah dalam semalam. Sifat possessive nya tidak akan hilang begitu saja.
Tetapi untuk Aluna, ia akan mencoba.
Karena kehilangan Aluna bahkan hanya kehilangan hatinya adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia jalani.
Malam itu, setelah Aluna akhirnya mau makan disuapi oleh Arsen dengan lembut dan penuh perhatian mereka berbaring di tempat tidur dengan Arsen memeluk Aluna dari belakang seperti biasa.
Tetapi kali ini, Aluna bersandar pada pelukan itu. Tangannya menyentuh tangan Arsen yang melingkari pinggangnya, jemarinya terjalin dengan jemari Arsen.
"Terima kasih," bisik Arsen di telinga Aluna. "Terima kasih karena memberi aku kesempatan lagi. Terima kasih karena... tidak menyerah pada kita."
Aluna tersenyum tipis di kegelapan.
"Terima kasih karena mau mencoba berubah."
"Untuk mu," gumam Arsen sambil mencium bahu telanjang Aluna, "aku akan mencoba apa pun."
Dan untuk pertama kalinya dalam seminggu, mereka berdua tidur dengan hati yang sedikit lebih ringan.
Masih ada luka. Masih ada ketakutan. Masih ada perjuangan panjang di depan.
Tetapi mereka akan melewatinya bersama.
Dengan cinta yang gelap, yang possessive, yang salah tetapi nyata.
Dan mungkin, hanya mungkin, mereka bisa menemukan cara untuk mencintai tanpa menghancurkan.