NovelToon NovelToon
SISTEM DIMENSI RIMBA

SISTEM DIMENSI RIMBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Khatix Pattierre

“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."

Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.

Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: STRATEGI DI ARENA BAWAH TANAH

Di bawah naungan pohon beringin yang rindang, Rimba menyesap minumannya sambil merenung. Kata-kata dari preman suruhan di perbukitan kemarin masih terngiang di telinganya: Yogi Marla. Nama itu seolah menjadi kerikil tajam yang masuk ke dalam sepatunya—tidak langsung membunuh, namun sangat mengganggu. Ia tahu bahwa untuk menghadapi musuh seperti ini, ia tidak bisa hanya mengandalkan otot. Ia butuh informasi.

Rimba merogoh saku jeans-nya, mengeluarkan ponsel, dan langsung menghubungi Rendi Pratama. Sebagai pewaris keluarga Jayadi, Rendi pasti memiliki jaringan informasi yang luas mengenai para pengusaha di kota ini.

"Ya, Rim? Ada apa? Tumben sekali kamu menelepon di jam kuliah," tanya Rendi di seberang sana, suaranya terdengar latar belakang kesibukan kantor.

"Bang, aku ingin tanya sesuatu. Apa Abang kenal dengan orang bernama Yogi Marla?" tanya Rimba tanpa basa-basi.

Hening sejenak di seberang telepon. Nada suara Rendi berubah menjadi lebih serius. "Kenapa tiba-tiba kamu bertanya tentang Yogi? Apa kamu bertemu dengannya?"

Rimba kemudian menceritakan semuanya secara mendetail. Mulai dari insiden rahang patah putranya, Leo Marla, di kampus, hingga penghadangan tujuh preman profesional yang mencoba menghabisinya di perbukitan tadi. Mendengar cerita itu, Rendi menghela napas panjang, terdengar cemas sekaligus geram.

"Rim, dengar baik-baik," ujar Rendi. "Yogi Marla bukan pengusaha biasa. Sekarang dia memang terlihat legal dengan bisnis properti raksasanya, tapi sejarahnya kelam. Dahulu dia adalah pemain besar di dunia bawah tanah. Dia mengelola bisnis-bisnis ilegal yang kasar sebelum akhirnya 'mencuci tangan' dengan masuk ke sektor formal. Tapi orang-orang lama tahu, dia tidak pernah benar-benar meninggalkan dunianya. Dia masih punya jaringan preman dan pembunuh bayaran yang setia."

"Apakah dia masih mengelola bisnis ilegal sekarang?" tanya Rimba, matanya menyipit menatap ke arah lapangan bola kampus.

"Secara terang-terangan, tidak ada. Tapi ada satu tempat yang menjadi rahasia umum bagi kalangan elit: Underground Arena. Itu adalah tempat pertarungan bebas ilegal. Taruhan di sana gila-gilaan, dan Yogi mendapatkan keuntungan masif dari sana. Lokasinya di selatan kota, tersembunyi di balik kawasan pasar ikan yang kumuh. Mereka menggunakan pihak ketiga untuk mengelolanya agar tangan Yogi tetap bersih, tapi semua orang tahu siapa pemilik aslinya."

Rimba tersenyum tipis. Sebuah rencana mulai terbentuk di kepalanya. "Underground Arena, ya? Terima kasih informasinya, Bang. Ini sangat membantu."

"Rim, jangan bertindak bodoh! Jangan datangi tempat itu sendirian!" Rendi mengingatkan, namun Rimba sudah mengakhiri panggilan dengan sopan.

---

Tak lama kemudian, Firman keluar dari gedung tata usaha. Ia celingukan mencari keberadaan Rimba sebelum akhirnya melihat sosok pemuda bule itu duduk santai di bawah beringin besar bersama serigalanya. Firman segera menghampiri dan duduk di samping Rimba.

"Apa rencana kita hari ini, Rim?" tanya Firman.

Rimba menatap Firman dengan saksama. "Fir, kau asli kota ini, kan? Kau tahu letak Underground Arena di dekat pasar ikan bagian selatan kota?"

Mata Firman membelalak. "Underground Arena? Tempat judi petarung itu? Aku tahu tempatnya, tapi aku belum pernah masuk. Ayahku selalu melarangku mendekati daerah sana kalau sudah malam. Memangnya kenapa?"

"Aku ingin ke sana malam ini. Aku ingin melihat suasana pertarungannya," jawab Rimba santai.

Firman tampak ragu. "Tempat itu buka setelah matahari tenggelam, Rim. Suasananya sangat liar. Kau yakin?"

"Yakin sekali. Bisakah kau mengantarku? Kita berangkat jam lima sore nanti. Aku tunggu di gerbang kampus."

Meskipun takut, rasa penasaran dan rasa setia kawan Firman lebih besar. Ia akhirnya setuju untuk mengantar Rimba. Setelah bersepakat, mereka berpisah. Rimba segera menuju parkiran motornya. Namun, ia tidak pulang ke rumah. Di sebuah gang buntu yang sepi sebelum sampai ke rumahnya, Rimba, Cesar, dan motor gahar itu tiba-tiba menghilang dalam sekejap, masuk ke dalam Dimensi Independen.

Di dalam dimensi, Rimba memiliki waktu tujuh jam waktu dunia nyata, yang berarti tujuh bulan waktu latihan intensif baginya. Ia tidak membuang sedetik pun. Ia melakukan latihan brutal untuk mengasah refleks dan ketajaman panca indranya. Ia ingin memastikan bahwa ketika ia turun ke arena nanti, ia bukan hanya menang, tapi mendominasi sepenuhnya. Selain itu, ia ingin menggunakan kesempatan ini untuk 'merampok' uang keluarga Marla melalui jalur taruhan.

---

Jam lima sore tiba. Rimba keluar dari dimensi bersama Cesar di sebuah gang sepi dekat kampus. Kali ini ia tidak membawa motornya; ia memutuskan untuk menggunakan taksi daring agar lebih praktis. Mereka berjalan menuju gerbang depan kampus di mana Firman sudah menunggu dengan cemas.

"Maaf membuatmu menunggu lama, Fir," sapa Rimba.

"Santai, Rim. Aku juga baru sampai," jawab Firman sambil melirik Cesar yang kini terlihat semakin gagah di bawah lampu jalan yang mulai menyala.

Rimba memesan taksi daring melalui ponselnya. Tak lama kemudian, sebuah mobil datang. Firman duduk di kursi depan, sementara Rimba dan Cesar duduk di kursi belakang, membuat sopir taksi berkali-kali melirik spion dengan wajah pucat melihat serigala hitam besar itu duduk tenang di samping Rimba.

Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di kawasan pasar ikan selatan. Aroma amis laut menyengat hidung, namun keramaian di sini bukan berasal dari pedagang ikan. Di samping pasar, terdapat sebuah gerbang besi tua yang terbuka lebar dengan beberapa pria berbadan kekar yang berjaga.

"Itu pintunya, Rim," tunjuk Firman.

Mereka menuruni tangga beton yang menuju ke bawah tanah. Semakin dalam mereka turun, suara bising teriakan manusia mulai terdengar. Begitu sampai di dasar, mereka disambut oleh ruangan raksasa yang sangat luas dan terang benderang. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah arena berbentuk lingkaran yang dipagari kawat besi, dikelilingi oleh ribuan bangku penonton yang sudah mulai penuh.

Di atas arena, layar-layar raksasa menampilkan statistik para petarung. Seorang pria dengan pengeras suara berteriak di sudut arena, "Siapa lagi yang berani menantang juara kita?! Dua ratus juta rupiah tunai bagi siapa pun yang bisa menumbangkan petarung Underground Arena malam ini!"

Rimba memperhatikan meja pendaftaran yang masih sepi. Orang-orang di sini kebanyakan adalah penjudi, bukan petarung. Mereka datang untuk mencari hiburan dari tetesan darah orang lain.

"Fir, tunggu di sini sebentar bersama Cesar. Aku mau ke sana sebentar," ujar Rimba.

Rimba melangkah menuju meja pendaftaran. Petugas di sana menatapnya dengan pandangan meremehkan. "Kau mau daftar, Nak? Yakin tidak salah tempat? Ini bukan ring tinju sekolah."

"Aku ingin mendaftar untuk menantang petarung kalian," jawab Rimba tenang.

Setelah melewati prosedur cepat dan mekanisme kocokan lawan, nama Rimba terdaftar. Ia memberikan nama samaran: Wawan. Hasil kocokan menunjukkan bahwa lawannya adalah D’Gorila, petarung peringkat sepuluh besar milik arena yang dikenal dengan kekuatan fisiknya yang menghancurkan.

Rimba kembali ke bangkunya. Firman hampir melompat dari kursinya saat melihat layar raksasa di atas arena berganti gambar. Di sana terpampang foto Rimba (Wawan) vs D’Gorila dengan angka taruhan 1:100.

"Rim! Kau gila?! Kau benar-benar akan bertarung?!" seru Firman panik.

"Tenanglah, Fir. Aku tahu apa yang kulakukan," jawab Rimba sambil tersenyum lebar.

Rimba kemudian kembali turun menuju loket taruhan. Di sana ia bertemu dengan Victor, manajer arena yang tampak licin dengan setelan jas mahalnya. Victor menyambut Rimba dengan tawa yang dibuat-buat, menganggap Rimba hanyalah anak orang kaya yang sedang mencari sensasi bunuh diri.

"Tuan Wawan, Anda ingin memasang taruhan juga?" tanya Victor sinis.

"Apakah ada batasan maksimal?" tanya Rimba.

"Hahaha! Maksimal? Tidak ada. Kau mau pasang sepuluh triliun pun kami terima dengan senang hati," jawab Victor, dalam hati ia tertawa membayangkan uang pemuda ini akan masuk ke kantongnya.

Rimba mengeluarkan kartu hitam khusus miliknya yang berisi saldo dari keluarga Jayadi dan hasil penjualan giok. "Aku pasang untuk kemenanganku sendiri, atas nama Wawan. Sebesar seratus lima puluh miliar rupiah."

Suasana di loket taruhan mendadak hening. Wanita petugas loket terbelalak, tangannya gemetar memegang kartu itu. Victor yang tadinya tertawa, kini tersedak ludahnya sendiri. "Seratus... lima puluh miliar?"

"Kenapa? Tadi katamu tidak ada batas maksimal," tantang Rimba.

Victor segera menghubungi pusat, lalu dengan senyum serakah yang kembali muncul, ia mengizinkannya. Bocah ini benar-benar bodoh. D’Gorila akan mematahkan lehernya dalam sepuluh detik, dan uang seratus lima puluh miliar ini akan jadi milik keluarga Marla tanpa susah payah, pikir Victor.

"Baik! Taruhan diterima! Jika kau menang, kau akan membawa pulang lima belas triliun rupiah," ujar Victor sambil menyanjung-nyanjung Rimba secara palsu.

Rimba kembali ke kursinya dan duduk dengan tenang. Cesar menggesekkan kepalanya ke kaki Rimba, seolah memberikan dukungan. Firman di sampingnya tampak pucat pasi, tidak mampu berkata-kata lagi. Baginya, Rimba baru saja melakukan tindakan paling gila yang pernah ia saksikan seumur hidup. Namun bagi Rimba, malam ini adalah awal dari keruntuhan finansial keluarga Marla. Satu per satu, ia akan mengambil apa yang mereka banggakan.

1
D'ken Nicko
mantap poll
D'ken Nicko
apa cerita kurang mantap kalau mc tdk dari keluarga yg WAH,,? knp cerita super tdk dari org awam .ZERO TO HERO
D'ken Nicko
lanjut
D'ken Nicko
semangat
D'ken Nicko
kren poll
D'ken Nicko
lanjut
D'ken Nicko
uang receh ,5T...wkwkwk
D'ken Nicko
bacaan favorit nmr satu ,tapi setiap up buat kecewa karna serasa sangat pendek
D'ken Nicko
super mantaaap
D'ken Nicko
KAGOLLL
D'ken Nicko
waduh nanggung amat thor ,up lagi..
D'ken Nicko
kurang panjang thor, up doble
maldi Suryana
bagus
Davide David
lanjut thor abdet lagi episodnya👍💪💪💪💪
G.Lo
Semoga nggak putus saja update nya...cerita ok sekali...👍👍
D'ken Nicko
up dobel thor
D'ken Nicko
mantap poll ,up yg banyak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!