NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Ketika Langit Pecah

Pukul 06.17 pagi, notifikasi pertama masuk. Bukan dari internal. Dari media.

Aruna sudah duduk di meja makan apartemennya dengan secangkir kopi yang belum disentuh ketika layar ponselnya menyala bertubi-tubi. Judul-judul berita bermunculan seperti hujan batu.

Regulator Resmi Selidiki Dugaan Penggelapan Dana Grup Besar.

Nama Pemegang Saham Mayoritas Terseret.

Ia tidak tersenyum. Tidak juga panik. Hanya menatap layar beberapa detik lebih lama, memastikan ini nyata. Email yang ia kirim semalam sudah sampai. Dan sekarang, dunia tahu.

Ponselnya berdering. Calvin.

“Kamu sudah lihat?” tanyanya tanpa salam.

“Sudah.”

“Akses sistem kita sempat dicoba dibekukan jam tiga pagi. IT berhasil tahan.”

Aruna mengangguk pelan meski ia tahu Calvin tidak bisa melihatnya. “Mereka panik.”

“Dan panik membuat orang ceroboh.”

Aruna berdiri, berjalan ke jendela. Kota pagi masih setengah mengantuk. Tapi badai sudah mulai.

“Aku ke kantor sekarang,” katanya.

“Aku jemput.”

“Tidak perlu.”

“Aku tetap jemput.” Nada itu tidak memberi ruang bantahan.

Lobi kantor lebih ramai dari biasanya. Kamera. Wartawan. Beberapa wajah yang ia kenal dari konferensi pers sebelumnya. Begitu pintu mobil Calvin terbuka, kilatan cahaya menyambar. Pertanyaan dilemparkan tanpa jeda.

“Bu Aruna, apakah benar Anda yang menyerahkan data ke regulator?”

“Apakah ini bentuk konflik internal?”

“Apakah CEO terlibat?”

Aruna berhenti sejenak sebelum masuk. Ia menatap ke arah kamera, wajahnya tenang. “Kami hanya memastikan transparansi,” katanya singkat. “Selebihnya, kami percayakan pada proses hukum.”

Tidak lebih.

Tidak kurang.

Calvin berdiri setengah langkah di belakangnya. Bukan melindungi. Mendukung. Begitu pintu kaca tertutup, suara luar teredam. Tapi tekanan tetap terasa.

“Ini baru awal,” kata Calvin pelan saat mereka berjalan ke lift privat.

Aruna mengangguk. “Aku tahu.”

Lift bergerak naik. Refleksi mereka berdampingan di dinding cermin. Dua orang yang tahu bahwa hari ini perusahaan tidak lagi sama.

Ruang rapat utama kembali penuh. Kali ini bukan tentang presentasi data. Tapi krisis. Beberapa direktur terlihat pucat. Beberapa lainnya marah.

“Kamu melangkahi struktur!” salah satu dari mereka berkata tajam.

Aruna duduk tegak. “Struktur yang mana? Yang melindungi manipulasi?”

Suara kursi bergeser keras.

“Kita bisa selesaikan ini secara internal!”

“Dua tahun tidak selesai,” jawab Aruna. “Karena internalnya terlibat.”

Sunyi jatuh seperti benda berat.

Calvin berbicara, suaranya datar tapi tegas.“Regulator sudah memulai investigasi resmi. Kita tidak punya pilihan selain kooperatif penuh.”

“Dan reputasi kita?” seseorang menyela.

Aruna menoleh. “Reputasi dibangun dari kepercayaan. Bukan dari menutup luka dengan karpet.”

Beberapa pasang mata menghindar. Pertemuan itu tidak berakhir dengan kesepakatan bulat. Tapi cukup jelas: garis sudah ditarik.

...****************...

Menjelang siang, kabar lebih besar datang. Regulator memanggil beberapa nama tambahan untuk klarifikasi. Bukan hanya Hendra. Dua direktur senior. Dan satu nama yang membuat ruangan Aruna terasa lebih dingin. Pria dari layar kemarin.

Pemegang saham mayoritas itu.

Calvin masuk tanpa mengetuk. Wajahnya serius.

“Mereka tidak menyangka regulator bergerak secepat ini.”

Aruna menatap layar laptopnya. “Karena mereka pikir masih bisa mengontrol narasi.”

“Kita mungkin akan diserang balik.”

Aruna mengangkat alis. “Secara hukum?”

“Atau secara personal.” Kata terakhir itu menggantung.

Seolah menjawabnya, ponsel Aruna bergetar. Pesan baru. Foto. Ia membukanya. Sebuah gambar diambil dari kejauhan. Dirinya. Berdiri di balkon apartemen semalam. Darahnya terasa turun setengah derajat.

Pesan menyusul:

Hati-hati saat sendirian.

Calvin membaca ekspresinya sebelum ia bicara.“Apa?”

Aruna menyerahkan ponselnya.

Rahang Calvin mengeras. “Ini sudah melewati batas.”

“Mereka kehabisan cara.”

Calvin menatapnya serius. “Kamu tidak boleh sendirian untuk sementara.”

Aruna ingin protes. Ingin berkata ia baik-baik saja.

Tapi gambar itu masih terbayang.

“Aku tidak takut,” katanya pelan.

“Aku tahu,” jawab Calvin. “Itu yang membuatmu berbahaya bagi mereka.”

Sore hari, pasar saham bereaksi. Nilai perusahaan turun drastis. Panggilan dari investor berdatangan.

Beberapa menyalahkan. Beberapa justru mendukung langkah transparansi. Aruna duduk di ruangannya, menerima satu panggilan setelah yang lain. Suaranya stabil. Jawabannya konsisten.

“Kami memilih membersihkan sekarang daripada membusuk pelan-pelan.”

Di sela panggilan, ia menyadari sesuatu. Ia tidak lagi gemetar. Tidak lagi ragu. Ketakutan sudah berubah bentuk menjadi tekad.

Malam turun dengan berat. Kantor hampir kosong ketika Aruna akhirnya bersandar di kursinya. Lampu-lampu kota memantul di kaca jendela seperti serpihan cahaya.

Calvin berdiri di dekat pintu, melepas dasinya. “Hari yang panjang.”

“Dan belum selesai,” jawab Aruna.

Ia berdiri, berjalan mendekati jendela. Refleksi mereka bertemu lagi. “Kamu menyesal?” Calvin bertanya pelan.

Aruna berpikir beberapa detik. “Mungkin kalau aku memilih diam, hidupku lebih tenang.”

“Dan?”

“Dan aku tidak akan bisa menatap diriku sendiri.”

Calvin tersenyum tipis. “Itu jawaban yang cukup.”

Keheningan di antara mereka tidak canggung. Hanya padat.

Tiba-tiba, ponsel Calvin berdering. Ia melihat layar, lalu menatap Aruna. “Mereka minta pertemuan darurat malam ini.”

“Siapa?”

“Kuasa hukum pemegang saham.”

Aruna menarik napas dalam. “Baik.”

“Kita tidak harus datang.”

“Kita harus.”

Calvin menatapnya, memastikan.

“Aku tidak akan mundur sekarang.”

Satu jam kemudian, mereka memasuki ruang pertemuan privat di hotel pusat kota. Ruangan itu sunyi. Karpet tebal meredam langkah. Lampu gantung memantulkan cahaya hangat yang terasa kontras dengan isi pembicaraan.

Seorang pria berjas gelap berdiri menyambut.

“Terima kasih sudah datang.”

Aruna duduk tanpa basa-basi.

“Kita bisa menyelesaikan ini tanpa memperluas kerusakan,”

pria itu memulai.

“Kerusakan sudah terjadi,” jawab Aruna.

“Kami bisa menawarkan kompensasi. Posisi lebih tinggi. Proteksi.”

Calvin menatap tajam.

Aruna tersenyum tipis.

“Dan sebagai gantinya?”

“Tarik laporan. Katakan ada kesalahan teknis.”

Sunyi.

Aruna merasakan denyut di pelipisnya. “Tidak.”

Pria itu menghela napas. “Anda membuat musuh yang tidak perlu.”

Aruna berdiri. “Mereka yang memilih jadi musuh.”

Ia menatap pria itu lurus. “Kalau sistem bersih, tidak ada yang perlu ditakuti.”

Mereka keluar tanpa berjabat tangan.

Di lobi hotel, langkah mereka berdampingan. “Kita resmi dalam perang terbuka,” kata Calvin pelan.

Aruna menatap malam yang membentang di luar pintu kaca. “Bukan perang,” katanya pelan.

“Lalu apa?”

“Pembersihan.”

Angin malam menyentuh wajahnya saat pintu otomatis terbuka. Langit di atas kota tampak gelap, tapi jauh di timur, ada garis tipis cahaya. Dan Aruna tahu, langit mungkin pecah. Tapi ia tidak akan menunduk ketika serpihannya jatuh.

1
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!