Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Ketika Langit Pecah
Pukul 06.17 pagi, notifikasi pertama masuk. Bukan dari internal. Dari media.
Aruna sudah duduk di meja makan apartemennya dengan secangkir kopi yang belum disentuh ketika layar ponselnya menyala bertubi-tubi. Judul-judul berita bermunculan seperti hujan batu.
Regulator Resmi Selidiki Dugaan Penggelapan Dana Grup Besar.
Nama Pemegang Saham Mayoritas Terseret.
Ia tidak tersenyum. Tidak juga panik. Hanya menatap layar beberapa detik lebih lama, memastikan ini nyata. Email yang ia kirim semalam sudah sampai. Dan sekarang, dunia tahu.
Ponselnya berdering. Calvin.
“Kamu sudah lihat?” tanyanya tanpa salam.
“Sudah.”
“Akses sistem kita sempat dicoba dibekukan jam tiga pagi. IT berhasil tahan.”
Aruna mengangguk pelan meski ia tahu Calvin tidak bisa melihatnya. “Mereka panik.”
“Dan panik membuat orang ceroboh.”
Aruna berdiri, berjalan ke jendela. Kota pagi masih setengah mengantuk. Tapi badai sudah mulai.
“Aku ke kantor sekarang,” katanya.
“Aku jemput.”
“Tidak perlu.”
“Aku tetap jemput.” Nada itu tidak memberi ruang bantahan.
Lobi kantor lebih ramai dari biasanya. Kamera. Wartawan. Beberapa wajah yang ia kenal dari konferensi pers sebelumnya. Begitu pintu mobil Calvin terbuka, kilatan cahaya menyambar. Pertanyaan dilemparkan tanpa jeda.
“Bu Aruna, apakah benar Anda yang menyerahkan data ke regulator?”
“Apakah ini bentuk konflik internal?”
“Apakah CEO terlibat?”
Aruna berhenti sejenak sebelum masuk. Ia menatap ke arah kamera, wajahnya tenang. “Kami hanya memastikan transparansi,” katanya singkat. “Selebihnya, kami percayakan pada proses hukum.”
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Calvin berdiri setengah langkah di belakangnya. Bukan melindungi. Mendukung. Begitu pintu kaca tertutup, suara luar teredam. Tapi tekanan tetap terasa.
“Ini baru awal,” kata Calvin pelan saat mereka berjalan ke lift privat.
Aruna mengangguk. “Aku tahu.”
Lift bergerak naik. Refleksi mereka berdampingan di dinding cermin. Dua orang yang tahu bahwa hari ini perusahaan tidak lagi sama.
Ruang rapat utama kembali penuh. Kali ini bukan tentang presentasi data. Tapi krisis. Beberapa direktur terlihat pucat. Beberapa lainnya marah.
“Kamu melangkahi struktur!” salah satu dari mereka berkata tajam.
Aruna duduk tegak. “Struktur yang mana? Yang melindungi manipulasi?”
Suara kursi bergeser keras.
“Kita bisa selesaikan ini secara internal!”
“Dua tahun tidak selesai,” jawab Aruna. “Karena internalnya terlibat.”
Sunyi jatuh seperti benda berat.
Calvin berbicara, suaranya datar tapi tegas.“Regulator sudah memulai investigasi resmi. Kita tidak punya pilihan selain kooperatif penuh.”
“Dan reputasi kita?” seseorang menyela.
Aruna menoleh. “Reputasi dibangun dari kepercayaan. Bukan dari menutup luka dengan karpet.”
Beberapa pasang mata menghindar. Pertemuan itu tidak berakhir dengan kesepakatan bulat. Tapi cukup jelas: garis sudah ditarik.
...****************...
Menjelang siang, kabar lebih besar datang. Regulator memanggil beberapa nama tambahan untuk klarifikasi. Bukan hanya Hendra. Dua direktur senior. Dan satu nama yang membuat ruangan Aruna terasa lebih dingin. Pria dari layar kemarin.
Pemegang saham mayoritas itu.
Calvin masuk tanpa mengetuk. Wajahnya serius.
“Mereka tidak menyangka regulator bergerak secepat ini.”
Aruna menatap layar laptopnya. “Karena mereka pikir masih bisa mengontrol narasi.”
“Kita mungkin akan diserang balik.”
Aruna mengangkat alis. “Secara hukum?”
“Atau secara personal.” Kata terakhir itu menggantung.
Seolah menjawabnya, ponsel Aruna bergetar. Pesan baru. Foto. Ia membukanya. Sebuah gambar diambil dari kejauhan. Dirinya. Berdiri di balkon apartemen semalam. Darahnya terasa turun setengah derajat.
Pesan menyusul:
Hati-hati saat sendirian.
Calvin membaca ekspresinya sebelum ia bicara.“Apa?”
Aruna menyerahkan ponselnya.
Rahang Calvin mengeras. “Ini sudah melewati batas.”
“Mereka kehabisan cara.”
Calvin menatapnya serius. “Kamu tidak boleh sendirian untuk sementara.”
Aruna ingin protes. Ingin berkata ia baik-baik saja.
Tapi gambar itu masih terbayang.
“Aku tidak takut,” katanya pelan.
“Aku tahu,” jawab Calvin. “Itu yang membuatmu berbahaya bagi mereka.”
Sore hari, pasar saham bereaksi. Nilai perusahaan turun drastis. Panggilan dari investor berdatangan.
Beberapa menyalahkan. Beberapa justru mendukung langkah transparansi. Aruna duduk di ruangannya, menerima satu panggilan setelah yang lain. Suaranya stabil. Jawabannya konsisten.
“Kami memilih membersihkan sekarang daripada membusuk pelan-pelan.”
Di sela panggilan, ia menyadari sesuatu. Ia tidak lagi gemetar. Tidak lagi ragu. Ketakutan sudah berubah bentuk menjadi tekad.
Malam turun dengan berat. Kantor hampir kosong ketika Aruna akhirnya bersandar di kursinya. Lampu-lampu kota memantul di kaca jendela seperti serpihan cahaya.
Calvin berdiri di dekat pintu, melepas dasinya. “Hari yang panjang.”
“Dan belum selesai,” jawab Aruna.
Ia berdiri, berjalan mendekati jendela. Refleksi mereka bertemu lagi. “Kamu menyesal?” Calvin bertanya pelan.
Aruna berpikir beberapa detik. “Mungkin kalau aku memilih diam, hidupku lebih tenang.”
“Dan?”
“Dan aku tidak akan bisa menatap diriku sendiri.”
Calvin tersenyum tipis. “Itu jawaban yang cukup.”
Keheningan di antara mereka tidak canggung. Hanya padat.
Tiba-tiba, ponsel Calvin berdering. Ia melihat layar, lalu menatap Aruna. “Mereka minta pertemuan darurat malam ini.”
“Siapa?”
“Kuasa hukum pemegang saham.”
Aruna menarik napas dalam. “Baik.”
“Kita tidak harus datang.”
“Kita harus.”
Calvin menatapnya, memastikan.
“Aku tidak akan mundur sekarang.”
Satu jam kemudian, mereka memasuki ruang pertemuan privat di hotel pusat kota. Ruangan itu sunyi. Karpet tebal meredam langkah. Lampu gantung memantulkan cahaya hangat yang terasa kontras dengan isi pembicaraan.
Seorang pria berjas gelap berdiri menyambut.
“Terima kasih sudah datang.”
Aruna duduk tanpa basa-basi.
“Kita bisa menyelesaikan ini tanpa memperluas kerusakan,”
pria itu memulai.
“Kerusakan sudah terjadi,” jawab Aruna.
“Kami bisa menawarkan kompensasi. Posisi lebih tinggi. Proteksi.”
Calvin menatap tajam.
Aruna tersenyum tipis.
“Dan sebagai gantinya?”
“Tarik laporan. Katakan ada kesalahan teknis.”
Sunyi.
Aruna merasakan denyut di pelipisnya. “Tidak.”
Pria itu menghela napas. “Anda membuat musuh yang tidak perlu.”
Aruna berdiri. “Mereka yang memilih jadi musuh.”
Ia menatap pria itu lurus. “Kalau sistem bersih, tidak ada yang perlu ditakuti.”
Mereka keluar tanpa berjabat tangan.
Di lobi hotel, langkah mereka berdampingan. “Kita resmi dalam perang terbuka,” kata Calvin pelan.
Aruna menatap malam yang membentang di luar pintu kaca. “Bukan perang,” katanya pelan.
“Lalu apa?”
“Pembersihan.”
Angin malam menyentuh wajahnya saat pintu otomatis terbuka. Langit di atas kota tampak gelap, tapi jauh di timur, ada garis tipis cahaya. Dan Aruna tahu, langit mungkin pecah. Tapi ia tidak akan menunduk ketika serpihannya jatuh.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/