"Mulutmu harimaumu"
Demikian lah peribahasa sederhana yang seringkali kita dengar. Dijadikan pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata.
Sayangnya itu tak berlaku untuk seseorang di luar sana. Dengan ringan lisannya berucap tanpa peduli imbas negatif yang ditimbulkan.
Malam-malam yang tenang dalam sekejap berubah jadi menegangkan.
Hadirnya sosok tak kasat mata yang selalu mengawasi, tak hanya membawa rasa sakit tapi juga ketakutan.
Lalu siapa yang bisa bertahan sampai akhir, 'dia' atau mereka ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Calonnya Laras
Dini hari itu Ginah segera dilarikan ke Rumah Sakit. Sayangnya letak Rumah Sakit terdekat sangat jauh hingga memakan waktu hampir dua jam lamanya. Saat tiba di sana Ginah sudah kritis karena mengalami pendarahan dan kejang hebat.
Laras tak kuasa membendung tangisnya. Dia menyesal karena mendiamkan sang ibu setelah pertengkaran mereka beberapa hari yang lalu.
"Tolong jangan pergi Bu. Bertahan lah, aku masih butuh ibu ...," kata Laras di sela Isak tangisnya.
Setelah hampir satu jam di dalam UGD, Sastro yang setia menemani sang istri pun keluar menemui sang anak.
"Laras ...," panggil Sastro dengan suara serak.
Laras menghentikan tangisnya lalu mendongakkan kepala.
"Bapak. Gimana keadaan ibu sekarang Pak. Apa kata dokter?" tanya Laras.
"Masa kritisnya udah lewat Nak. Dokter bilang, pagi ini bisa dipindah ke ruang rawat inap," sahut Sastro sambil tersenyum.
"Alhamdulillah," gumam Laras lega.
"Apa kamu udah ngabarin Yudha?" tanya Sastro.
"Udah Pak. Bulik Tika dan Azam juga udah aku kasih tau," sahut Laras.
"Bagus. Bapak harap bulikmu dan Azam mau datang menjenguk ibumu. Tapi kalo mereka ga mau datang Bapak juga maklum karena ... " ucapan Sastro terputus karena mendengar suara yang memanggil namanya.
"Mas Sastro...!" panggil Sartika.
Sastro menoleh dan tersenyum melihat Sartika sedang berjalan cepat kearahnya. Di belakangnya terlihat Azam berjalan mengikuti.
"Kalian datang?" tanya Sastro tak percaya.
"Iya Pakde. Gimana kondisi bude Ginah?" tanya Azam.
"Alhamdulillah masa kritisnya udah lewat. Sebentar lagi dipindah ke ruang rawat inap," sahut Sastro.
"Syukur lah. Sebenernya bude sakit apa, bukannya selama ini beliau sehat-sehat aja ya?" tanya Azam tak mengerti.
"Itu yang masih jadi pertanyaan kami Zam. Budemu bilang dia digigit ular. Tapi Laras yang nemuin budemu pertama kali bilang ga liat apa-apa. Iya kan Ras?" tanya Sastro.
"Iya Pak," sahut Laras.
Cerita Sastro membuat Azam dan Sartika terkejut. Keduanya saling menatap sejenak seolah menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi.
"Kalo gitu temenin aku nyari kopi yuk Mbak. Udara dingin gini pasti enak kalo ngopi," kata Azam kemudian.
"Ok. Tapi aku ke toilet dulu sebentar," sahut Laras sambil bangkit dari duduknya.
"Ga masalah, aku anter sekalian nanti. Ibu sama Pakde mau kopi juga kan?" tanya Azam.
"Boleh. Sama cemilannya juga ya Le," pinta Sartika.
"Siap Bu," sahut Azam sambil berlalu.
Sartika dan Sastro nampak tersenyum melepas kepergian anak-anak mereka.
"Udah lama ga ngeliat mereka jalan bareng kaya gitu ya Tik. Terakhir waktu Laras masih SMA dan Azam SMP. Gara-gara istriku, hubungan mereka jadi renggang," kata Sastro.
"Iya. Mbak Ginah takut keberadaan Azam bikin Laras susah dapat pacar. Padahal ... " Sartika sengaja menggantung ucapannya karena yakin sang kakak mengetahui apa yang terjadi.
"Padahal ga ada Azam Laras tetep susah dapat pacar. Lagian kalo ada yang nanya apa hubungan Laras sama Azam, kan tinggal dijelasin aja. Mbakmu memang keterlaluan. Kayanya dia emang sengaja ngejauhin anak-anak kita. Maaf ya Tik," kata Sastro tak enak hati.
"Gapapa Mas. Yah, walau Azam sempet sedih dijauhin dari Laras, tapi akhirnya dia bisa ngerti. Azam udah nganggep Laras kakaknya sendiri, itu sebabnya dia sayang banget dan berniat jagain Laras. Sayangnya mbak Ginah ga setuju dan malah nuduh macem-macem," sahut Sartika sambil tersenyum kecut.
Tanpa Sartika dan Sastro sadari, sebenarnya Azam dan Laras tetap menjalin hubungan persaudaraan.
Saat masih bekerja di kota, Azam kerap menemui Laras begitu pula sebaliknya. Kebetulan mess karyawan Laras tak jauh dari kantor Azam. Keduanya rutin bertemu seminggu sekali hanya untuk sekedar duduk dan ngobrol ngalor ngidul. Kadang mereka juga melibatkan beberapa teman saat bertemu. Itu sebabnya mereka tak terlihat canggung tadi.
Kini Azam dan Laras sedang berada di kantin Rumah Sakit. Mereka duduk sambil menunggu pesanan mereka selesai dibuat.
"Jadi sebenernya apa yang terjadi Mbak?" tanya Azam.
Laras nampak menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Azam.
"Aku ribut sama ibu Zam. Aku minta ibu berhenti bikin onar. Karena gara-gara ibu, semua cowok yang deketin aku jadi kabur. Anehnya dia ga sadar dan malah melimpahkan kesalahan sama orang lain," sahut Laras.
"Orang lain?. Pasti maksudnya ibuku," tebak Azam.
"Begitu lah. Makanya aku kesel dan diemin ibu beberapa hari ini. Aku berharap ibu sadar dan mau memperbaiki kesalahannya pelan-pelan. Tapi bukannya memperbaiki kesalahan, yang ada ibu malah ngomel sepanjang hari karena menurutnya dia dijauhin sama orang-orang karena hasutan bulik Tika," sahut Laras tak enak hati.
Azam pun tertawa mendengar jawaban Laras.
"Udah ga usah dipikirin. Aku sama ibu gapapa kok," kata Azam.
"Tapi kan ... " ucapan Laras terputus karena Azam mengganti topik pembicaraan.
"Ngomong-ngomong gimana sama pacarmu itu Mbak. Siapa namanya?" tanya Azam.
"Harsa. Aku sama dia cuma deket, ga ada komitmen apa-apa Zam. Mana bisa disebut pacar," sahut Laras dengan wajah merona.
"Bukan ga ada tapi belum. Aku liat dia tertarik sama kamu Mbak. Keliatannya dia juga serius sama kamu dan ga main-main. Wajar sih. Soalnya usianya kan udah masuk kategori matang ya," kata Azam.
"Itu dia Zam. Selain matang, mas Harsa itu ... duda anak satu. Aku khawatir ibu sama bapak nolak dia kalo dia ke rumah," sahut Laras gusar.
Azam pun terdiam sejenak. Nampaknya dia paham kenapa Laras memilih tinggal di rumah orangtuanya sekarang. Itu pasti karena Laras ingin membicarakan kedekatannya dengan Harsa. Sayangnya sebelum itu terwujud, pertengkaran terlanjur pecah diantara Laras dan ibunya.
"Kalo menurut aku sih harusnya pakde sama bude ga keberatan ya. Walau duda, tapi mas Harsa masih keren kok. Selain itu orangnya baik, dewasa dan udah punya kerjaan tetap. Pasti ga malu-maluin lah kalo dijadiin menantu. Apalagi usia Mbak Laras sekarang juga udah cukup untuk menikah. Terus mau nunggu apa lagi," kata Azam.
"Ga tau Zam, aku pusing," sahut Laras.
"Mau aku bantuin ga Mbak?" tanya Azam.
"Bantuin apa?" tanya Laras.
"Bantuin ngomong sama pakde lah. Kalo sama ibunya Mbak, aku nyerah deh," sahut Azam.
Laras terdiam. Dia tak yakin upaya Azam akan berhasil. Selama ini kedua orangtuanya memasang syarat yang tinggi untuk calon pasangannya. Itu salah satu sebab mengapa Laras sulit menemukan pasangan yang sesuai dengan kriteria mereka.
"Pokoknya kamu tenang aja Mbak, serahin semuanya sama aku. Gimana?" tanya Azam.
"Terserah kamu lah Zam. Aku ga bisa mikir sekarang," sahut Laras sambil meneguk susu coklat hangat yang disodorkan kearahnya.
Azam pun tersenyum lebar. Dia yakin akan membantu Laras mewujudkan salah satu mimpinya yaitu menikah dengan pria pilihan hatinya.
\=\=\=\=\=
Sore itu Azam datang ke Rumah Sakit untuk menjenguk Ginah. Azam tak sendiri. Dia datang bersama Harsa, pria yang sedang dekat dengan Laras.
"Kenalin pakde, ini mas Harsa," kata Azam.
Sastro pun tersenyum lalu menyambut uluran tangan Harsa dengan hangat.
"Temen kerja kamu Zam?" tanya Sastro.
"Iya, tapi beda kantor Pakde. Mas Harsa ini kerja di kantor rekanan PLN sebagai teknisi. Tugasnya memperbaiki jaringan listrik di luar ruangan. Walau kerjanya banyak di lapangan, tapi gajinya gede Pakde," sahut Azam setengah berbisik.
Tentu saja ucapan Azam membuat Harsa tersipu. Sedangkan Sastro nampak tersenyum sambil menganggukkan kepala pertanda dia kagum dengan profesi Harsa.
"Ibu sama mbak Laras mana Pakde?" tanya Azam kemudian.
"Pulang sebentar. Katanya mau ngambil baju ganti buat pakde. Sebentar lagi juga balik kok," sahut Sastro.
Tiba-tiba ponsel Azam berdering. Laras mengatakan dirinya ada di depan Rumah Sakit dan butuh bantuan Azam.
"Ok, aku ke sana sekarang," kata Azam sambil memberi isyarat pada Harsa dan Sastro.
Setelah Azam keluar dari kamar, Harsa pun langsung memperkenalkan diri secara pribadi. Tentang dirinya yang single parent dengan satu anak dan tentang niatnya untuk menyunting Laras. Meski terkejut, tapi Sastro kagum dengan keberanian Harsa.
"Saya belum bisa jawab lamaran kamu sekarang. Selain istri saya masih sakit, saya juga harus ngomong dulu sama Laras karena kan dia yang akan menjalani nanti," kata Sastro.
"Iya gapapa Pak, saya ngerti kok. Yang penting sekarang Bapak tau gimana perasaan saya sama Laras," sahut Harsa sambil tersenyum.
Sastro ikut tersenyum sambil menepuk bahu Harsa.
Tak lama kemudian Azam dan Laras masuk ke dalam kamar. Laras nampak terkejut melihat Harsa di sana. Dia menatap Azam beberapa saat seolah meminta penjelasan. Sayangnya Azam tak sekali pun menoleh kearahnya.
"Hai Ras. Apa kabar?" sapa Harsa sambil mendekati Laras.
"A-aku baik Mas. Kamu ... kok bisa di sini?" tanya Laras gugup.
"Iya. Aku diajak Azam jenguk calon mertuaku. Gapapa kan?" tanya Harsa sambil mengedipkan mata.
"Ca-calon mertua. Maksud kamu apa Mas. Tolong jangan ngomong sembarangan ya. Bapak, aku bisa jelasin semuanya. Ini ... " ucapan Laras terputus karena sang ayah memotong cepat.
"Bapak udah tau semuanya Ras. Nak Harsa udah cerita tadi. Sekarang mana baju ganti bapak, bapak mau mandi nih," pinta Sastro sambil mengulurkan tangannya.
Dengan sigap Laras menyerahkan tas berisi pakaian sang ayah. Setelahnya dia menarik Harsa keluar dari kamar. Azam pun ikut keluar karena enggan berduaan saja dengan Ginah.
Tanpa semua orang sadari, Ginah yang terbaring lemah dengan mata terpejam itu mendengar semuanya. Diam-diam dia tersenyum. Dia senang mengetahui anak perempuannya telah memiliki calon pendamping.
"Semoga kamu bahagia dengannya Nak," batin Ginah tulus.
Setelah menghela nafas lega, Ginah kembali memejamkan mata. Rupanya rasa sakit itu kembali datang dan membuatnya ingin menangis.
\=\=\=\=\=
bru baca soalnya