NovelToon NovelToon
Om Benny, I Love You

Om Benny, I Love You

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: chiisan kasih

Pernikahan rahasia. Ciuman terlarang. CEO dingin yang jatuh pada gadis tomboy.
Benny, seorang CEO yang anti wanita dan memilih hidup sendiri, terpaksa menikah dengan Cessa—putri sahabatnya yang berusia delapan belas tahun. Pernikahan mereka dimulai sebagai kontrak penuh aturan: tanpa cinta, tanpa sentuhan, tanpa perasaan.
Namun satu ciuman menghancurkan segalanya.
Tinggal serumah membuat batasan runtuh, kecemburuan tumbuh, dan hasrat berubah menjadi dosa. Saat Cessa mencintai tanpa ragu, Benny justru berperang dengan prinsip, moral, dan ketakutan terbesarnya: jatuh cinta pada wanita yang seharusnya tak boleh ia miliki.
Ini bukan kisah cinta yang aman.
Ini kisah tentang memilih perasaan… atau menghancurkan hidup sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiisan kasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

“Om Benny, I Love You”

“Aku mau menikah dengan kamu.”

Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Cessa, tanpa ragu, tanpa malu, tanpa peduli pada siapa pria yang sedang ia peluk erat sekarang.

Benny membeku.

Tangannya yang tadi berusaha melepaskan tubuh gadis itu justru berhenti di udara. Jantungnya berdetak keras, terlalu keras untuk ukuran pria yang selama ini mengklaim dirinya kebal terhadap wanita.

“Turun,” perintah Benny dingin, berusaha menjaga jarak.

“Sekarang.”

“Tidak mau.” Cessa menggeleng, lengannya justru makin menguat melingkari leher Benny. “Aku kangen kamu.”

Kata kangen itu terdengar berbahaya.

Benny mengertakkan rahang. Gadis di hadapannya bukan gadis sembarangan. Cessa adalah putri sahabatnya sendiri. Gadis tomboy yang dulu sering berlarian di rumah Brain, memanggilnya Om Benny sambil tertawa keras dan menodongkan pistol mainan ke kepalanya.

Sekarang?

Gadis itu duduk di pangkuannya.

Dan tubuhnya… bukan lagi tubuh anak kecil.

“Cessa, kamu sudah dewasa. Jangan main-main seperti ini,” ucap Benny tegas.

Cessa mendongak, menatap wajah Benny dari jarak yang terlalu dekat. Matanya tajam, penuh keberanian yang tidak seharusnya dimiliki gadis delapan belas tahun.

“Justru karena aku sudah dewasa, aku tahu apa yang aku mau,” balasnya. “Dan aku mau kamu.”

Benny menahan napas.

Ia benci situasi ini.

Benci jantungnya yang berdebar tidak karuan.

Benci tubuhnya yang tidak menolak.

Dan paling ia benci—dirinya sendiri.

“Turun,” ulang Benny, kali ini suaranya lebih rendah, lebih berbahaya.

Cessa tidak turun.

Sebaliknya, gadis itu tersenyum kecil. Nakal. Menantang.

“Kamu kenapa sih, Ben?” tanyanya santai. “Semua wanita cantik ngejar kamu, tapi kamu selalu risih. Jangan-jangan…”

Cessa mendekatkan wajahnya.

“Kamu homo?”

Ucapan itu seperti tamparan.

Benny tertawa pendek. Dingin. “Ya. Aku homo. Puas?”

Cessa mengernyit, jelas tidak percaya. “Kalau gitu harusnya kamu jijik sama aku.”

Benny hendak membalas—

tapi kalimat itu keburu tenggelam.

Karena tiba-tiba—

Cessa menjinjit.

Dan mencium bibirnya.

Hanya satu detik.

Namun satu detik itu terasa seperti kesalahan terbesar dalam hidup Benny.

Matanya membelalak. Otaknya kosong. Tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya—tangannya refleks mencengkeram bahu Cessa.

Bukan mendorong.

Cessa tersenyum di sela ciuman itu.

Saat bibir mereka terlepas, Benny terhuyung mundur.

“Apa yang kamu lakukan?!” bentaknya panik.

Cessa mengusap bibirnya santai, seolah baru saja mencicipi permen.

“Ciuman.”

“Kamu gila!” suara Benny bergetar.

“Berarti kamu normal,” balas Cessa ringan. “Kalau kamu homo, kamu pasti muntah sekarang.”

Benny terdiam.

Dadanya naik turun cepat. Jantungnya berdegup liar, memukul-mukul tulang rusuknya sendiri.

Dan itu membuatnya takut.

“Keluar!” hardiknya kasar. “Keluar dari ruanganku sekarang!”

Cessa menatapnya beberapa detik. Tidak marah. Tidak takut. Justru… puas.

“Tenang saja, Ben,” katanya sambil melangkah ke pintu. “Aku nggak akan berhenti cuma karena kamu pura-pura dingin.”

Pintu tertutup.

Benny berdiri kaku di tengah ruang kerja mewahnya.

Tangannya gemetar.

Ia menyentuh bibirnya sendiri.

Masih terasa hangat.

Masih nyata.

“Brengsek…” gumamnya pelan.

Di saat yang sama, ponselnya bergetar di atas meja.

Notifikasi masuk.

Nama pengirimnya membuat napas Benny tertahan.

Anak Nakal.

Pesan itu singkat.

Aku serius, Ben.

Aku mau menikah sama kamu.

Benny menatap layar ponsel itu lama.

Terlalu lama.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menyadari satu hal yang mengerikan:

Jika ini berlanjut… tidak ada aturan yang bisa menyelamatkannya.

Ia mengira bisa mengendalikan pernikahan ini.

Tanpa sadar, justru dirinya yang mulai kehilangan kendali.

1
Dwi Winarni Wina
yakin tak pernah normal dekat sm cessa benny😀
Dwi Winarni Wina
pergi yg jauh cessa biar beni kehilanganmu..
Dwi Winarni Wina
aku aja benny suka sama cessa tp gengsinya tinggi mau mengakuimya😀
Dwi Winarni Wina
Si Benny sebenarnya ada perasaan tapi ge ngsinya terlalu tinggi😀
Dwi Winarni Wina
biarkan aja perasaanmu tumbuh Benny...
Dwi Winarni Wina
casse keras kepala banget kekeh pada pilihannya...
Dwi Winarni Wina
cessa nekat ingin tetep menikah sm Benny sahabat baik ayahnya...
Dwi Winarni Wina
berarti pria normal ben, terima aja lamaran cessa😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!