Seorang pemulung menemukan jasad tanpa wajah di Kampung Kemarin. Hanya ada cincin bertanda 'S' dan sehelai kertas tentang "kayu ilegal" sebagai petunjuk.
Detektif Ratna Sari menyadari kasus ini tidak biasa – setiap jejak selalu mengarah pada huruf 'S': dari identitas korban, kelompok tersembunyi, hingga lokasi rahasia bisnis gelap.
Ancaman datang dari mana saja, bahkan dari dalam. Bisakah Ratna mengungkap makna sebenarnya dari 'S' sebelum pelaku utama melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 (thirty-two)
Lantai marmer hitam The Nest bergetar hebat di bawah langkah kaki Ratna. Cahaya biru yang terpancar dari pupil matanya bukan lagi sekadar pantulan lampu neon, melainkan radiasi energi murni yang mengalir dalam pembuluh darahnya. Injektor genetik dari Selina telah memicu sesuatu yang seharusnya tidak pernah dibangkitkan: sinkronisasi total antara jiwa seorang Jenderal perang dengan sistem saraf bioteknologi tercanggih.
"Peringatan! Pelanggaran keamanan di Sektor 4! Subjek Ratna Sari melarikan diri!" suara peringatan otomatis bergema di seluruh lorong, dibarengi dengan lampu merah yang berkedip panik.
Ratna tidak berlari. Ia berjalan dengan ketenangan yang mematikan. Di depannya, selusin kloning Siska model v.09 muncul dari tikungan lorong, senjata mereka terarah tepat ke dadanya. Tanpa menunggu perintah, mereka melepaskan tembakan beruntun.
Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.
Ratna mengangkat tangan kirinya. Udara di depannya seolah-olah mengeras, membentuk distorsi transparan yang menahan peluru-peluru itu di udara, seolah-olah waktu telah berhenti. Dengan satu jentikan jari, energi kinetik itu dilepaskan kembali. Peluru-peluru itu berbalik arah dengan kecepatan dua kali lipat, menembus zirah baja para kloning sebelum mereka sempat berkedip.
Sepuluh kloning tumbang seketika. Sunyi kembali menyelimuti lorong, hanya menyisakan suara mendesis dari sirkuit yang terbakar.
Ratna sampai di depan gerbang baja laboratorium utama. Dengan satu sentuhan, ia meretas kode akses pintu tersebut menggunakan frekuensi elektromagnetik dari ujung jarinya. Pintu besar itu terbuka, menampakkan Siska Prime yang berdiri di tengah-tengah ribuan server yang mendengung.
Siska Prime tidak terlihat takut. Ia justru menatap Ratna dengan ekspresi penuh kekaguman yang gila.
"Luar biasa..." bisik Siska Prime. "Selina benar-benar memberikanmu The Phoenix Core. Dia memberikanmu kunci untuk menjadi dewa, Ratna. Tapi kau tahu apa yang terjadi pada dewa yang sombong? Mereka terbakar oleh api mereka sendiri."
"Cukup bicaranya, Siska," suara Ratna bergema, berlapis dengan getaran metalik. "Di mana Selina? Aku tahu dia ada di sini, menonton semua ini lewat matamu."
Tiba-tiba, sebuah tawa lirih terdengar dari arah belakang server. Sosok wanita melangkah keluar. Dia mengenakan pakaian serba hitam, identik dengan wanita yang ditemui Ratna di Yogyakarta. Namun, kali ini ia tidak memegang senjata. Ia memegang sebuah remot kontrol kecil.
"Kau sangat tajam, Jenderal," ujar Selina sambil tersenyum manis. "Tapi kau salah satu hal. Aku tidak menonton lewat mata kakakku. Aku menonton lewat matamu."
Ratna tertegun. "Apa maksudmu?"
Selina berjalan mendekati Siska Prime, lalu yang membuat Ratna terkejut ia merangkul pundak kakaknya itu. Tidak ada permusuhan di antara mereka. Semuanya adalah sandiwara.
"Siska adalah ototnya, Ratna. Aku adalah otaknya," Selina menjelaskan dengan nada seolah sedang mengajar anak kecil. "Proyek kloning ini tidak pernah tentang menciptakan pasukan tentara biasa. Kami ingin menciptakan 'Kecerdasan Militer Kolektif'. Dan untuk itu, kami butuh satu jiwa yang paling murni, paling keras, dan paling berpengalaman dalam sejarah militer Indonesia. Kami butuh kau."
Selina melanjutkan bahwa semua pelarian Ratna, bantuan-bantuan kecil di Yogyakarta, hingga "kunci" menuju markas ini, adalah bagian dari eksperimen untuk melihat sejauh mana jiwa Ratna bisa beradaptasi dengan stres tingkat tinggi.
"Siska yang kau lawan di Jakarta? Itu hanya tes awal," lanjut Selina. "Kami sengaja membiarkanmu menang agar kau merasa punya harapan. Karena harapan adalah katalis terbaik untuk memperkuat sinkronisasi saraf. Injektor yang baru saja kau suntikkan? Itu bukan untuk menyelamatkanmu. Itu adalah 'jangkar' yang akan mengunci jiwamu selamanya ke dalam server kami."
Jantung Ratna berdegup kencang. Ia mencoba menyerang Selina, namun tiba-tiba tubuhnya lumpuh. Cahaya biru di matanya berkedip liar. Rasa sakit yang seribu kali lebih hebat dari prosedur ekstraksi sebelumnya mulai menyerang.
"Proses Sinkronisasi: 85%," Siska Prime membaca data di layar monitor. "Sebentar lagi, Ratna Sari akan hilang. Yang tersisa hanyalah The War Engine yang akan memandu ribuan kloning kami di seluruh dunia. Kau akan menjadi pahlawan yang abadi, Jenderal. Kau akan memenangkan semua perang bagi mereka yang mampu membayar kami."
Ratna jatuh berlutut. Kesadarannya mulai pecah. Di dalam pikirannya, ia melihat memori tentang Sarah dan Bagas mulai memudar, digantikan oleh barisan kode pemrograman dan koordinat target rudal.
"Jangan menyerah!" suara dari dalam dirinya suara Jenderal yang asli berteriak. "Kau bukan mesin! Kau adalah manusia yang memilih untuk melawan!"
Di tengah kekacauan mental itu, Ratna mengingat satu hal: Flash drive perak dari Ki Ageng. Ia tidak menyuntikkannya ke sistem sarafnya, tapi ia menyimpannya di dalam telapak tangannya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menghantamkan tangannya ke lantai logam laboratorium yang terhubung langsung dengan pusat data.
"Jika aku harus menjadi mesin..." desis Ratna dengan sisa kemanusiaannya, "...maka aku akan menjadi mesin yang menghancurkan dirinya sendiri!"
Virus dari Ki Ageng, yang disebut sebagai The Soul Eraser, mengalir masuk ke dalam jaringan server Phoenix seperti api yang menjalar di atas minyak. Layar-layar monitor mulai meledak satu per satu. Tabung-tabung kloning di luar aula pecah, menumpahkan cairan hijau dan tubuh-tubuh yang belum sempurna jatuh ke lantai.
"Apa yang kau lakukan?!" Siska Prime berteriak panik, mencoba menghentikan aliran data, namun sudah terlambat.
"Ratna, hentikan! Kau akan menghapus jiwamu sendiri!" Selina mencoba mendekat, namun sebuah ledakan energi kinetik dari tubuh Ratna melemparkannya hingga menghantam dinding.
Laboratorium itu mulai runtuh. Api muncul dari sirkuit yang overheat. Ratna berdiri di tengah kobaran api, tubuhnya memancarkan cahaya putih yang menyilaukan. Ia bisa merasakan memorinya kembali wajah ibunya, tawa Bagas, kesetiaan Teguh. Ia berhasil memutus rantai kendali Selina.
"Teguh... bawa mereka pergi..." bisik Ratna melalui sistem komunikasi yang kini menyatu dengan pikirannya.
"Ibu! Kita sudah di pintu keluar! Ibu harus ikut!" suara Teguh terdengar sangat jauh.
"Tugas selesai, Prajurit," ujar Ratna pelan.
Dengan satu ledakan energi terakhir, Ratna menghancurkan inti server utama Phoenix. Seluruh kompleks bawah tanah itu bergetar hebat sebelum akhirnya meledak dalam satu dentuman raksasa yang menelan segalanya Siska Prime, Selina, dan ribuan monster tanpa jiwa.
Terima kasih untuk cerita yg luar biasa ini thor🤧
Makasih Othor untuk ceritanya yang setiap bab selalu bikin degdegan, tegang dan tertawa pastinya...
makasih buat double upnya thor/Kiss/
gk taunya jdi crita kyak film robot²