Yah, ganteng sih... tapppiiii pekerjaan pacar kamu kan Office Boy. Memangnya kamu ngga bisa cari yang lebih baik?
Disaat yang sama Boss Besar mengirimkan rangkaian bunga dan kalung berlian sebagai apresiasi pekerjaannya sebagai sekretaris.
Jadi, siapa yang harus dipilihnya?
Si Tampan Office Boy, atau si Milyuner Big Boss?
Gals, Yuhuuu..
Novel ini secara teknis sebenarnya sudah tamat di Bab 47, tapiiiiiii karena kesalahan teknis yangvtidak bisa dihapus, tampilannya jadi berantakan. Jdi diriku usahakan membuat cerita extra sampai Bab 65 yaaaa.
Terimakasih Yang Sudah Vote!!
Cup Cup Muahh deh, semoga semua yang Vote dan memberi diriku tips (hehe) hidupnya makin sukses dan selalu bahagia.
Aamiin...
hihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Morning, Love
Kami terbangun di pagi hari dalam keadaan masih duduk berpelukan di sofa ruang tv, namun rasanya lebih segar melebihi hari-hari kemarin. Aku menatap Lucas yang masih tertidur dengan posisi memeluk dadaku.
Begini ya rasanya terbangun di samping orang yang kita sayang...
Apa dulu aku pernah begini?
Dengan Leon pun rasanya tidak seindah ini...
Rasanya seluruh kesalku yang memuncak sirna, tubuhku jadi lebih enteng.
Mungkin...
Aku tidak butuh apa pun lagi selain ditemani orang yang peduli padaku dan aku pedulikan selama mungkin.
Aku menoleh ke arah jam dinding di atas tv. Pukul 6 pagi dan hari minggu.
Lalu menggeliat, melepaskan sisa-sisa beban ke udara.
Aku merasa sesuatu bergetar di antara pahaku. Aku terduduk dan mencari sumbernya. Dari kantong celana Lucas.
Aku merogoh isinya.
Ponsel
Dengan nama ‘*Fuc*in Bastard’ dilayarnya.
Aku menatap Lucas sambil mengernyit. Kelihatannya dia masih akan tertidur agak lama.
Pria yang selalu tersenyum seperti Lucas, rasanya tidak dapat dipercaya ia bisa memaki.
Walaupun cuma sebatas nama panggilan di kontak teleponnya...
Akhirnya karena terus berdering, aku mengangkatnya
“Halo?” sapaku.
Sesaat tidak ada suara dari seberang.
“Bi?”
Aku semakin memicingkan mataku. Terdengar suara yang sangat kukenal “Leon?”
“Ini bukannya ponselnya pak... ehm, Lucas?”
“Iya, dia masih tidur.”
“Oh. Masih...tidur... dia di sebelah lo... sekarang?”
Kenapa suara Leon seperti ragu begitu?
“Iya, dia di sebelah gue.”
Lalu terdengar gumaman. Aku yakin sekali dia sedang sumpah serapah.
“Ada pesan?” tanyaku lagi.
“Iyah... dia jadi ngga ikut gue buat maen online di apartemen gue hari ini soalnya kalo ngga jadi gue mau nemenin Farah nyortir dokumen pajak.”
“Maen online itu maksudnya maen game?”
“Iya...” terdengar suara Leon yang lagi-lagi tidak yakin.
“Lo tahu kan kalo dia baru ditinggal meninggal ibunya?”
“Hm...” gumam Leon. “ini... buat biar dia ngga sedih.”
Cukup masuk akal sih, tapi aku baru tahu kalau Lucas berteman akrab dengan Leon. Apa saking akrabnya mereka jadi memanggil dengan nama julukan seperti yang tertera di layar ponsel Lucas?
“Leon, lo maen game online apa?” Akhirnya aku bertanya. Aku hanya memancing kejujurannya sih.
“Hm...perang-perangan.”
“Nama gamenya apa?”
“Eh... hem... GTA”
GTA bukan game perang...
“Leon, gue ngga sepolos itu sampe ngga tahu nama game online yang lagi booming.” Aku menghela napas.
“Pokoknya bilang Lucas telepon gue habis ini.” Sahut Leon cepat.
“Satu lagi...”
“Apa, Bi... duuuh...” keluhnya.
“Kenapa nama lo di layar ponselnya Lucas ‘*Fuc*in Bastard’ ?”
“Anjr*t...” desisnya. “Si kunyuk itu...ehm.” dia berdehem. “Itu nama nickname gue di game*.”
“Nama Nickname lo di game ‘*Fuc*in Bastard’?!” aku mengkonfirmasi dengan bertanya.
“Hm....iya? Sudah ya Bi, gue mau sarapan!”
Lalu dia memutuskan sambungan teleponnya.
Aku menatap wajah polos Lucas yang masih tertidur dengan curiga.
Sangat-sangat curiga.
Tapi kuputuskan nanti saja bertanya, dia sudah menghilang dariku dua minggu, aku ngga ingin merusak moment dengan membuatnya pergi lagi.
****
Sekitar jam 8 Lucas bangun dan mencariku. Aku sedang membuat kopi saat itu.
Ia langsung memelukku dari belakang dan membenamkan wajahnya di rambutku.
“Ada telepon dari Leon tadi.”
Aku merasakan tubuhnya langsung menegang.
Lalu ia menghela napas dan melonggarkan pelukannya, diam saja dengan dagu bertumpu di pundakku, menatap tanganku yang sedang mengaduk kopi.
“Katanya... kalau kamu ngga jadi ke tempatnya, dia mau sortir dokumen pajak.” Aku memutuskan untuk tidak mengungkit masalah game karena sudah jelas Leon berbohong.
“Dia minta ditelepon lagi?” tanyanya.
“Iya.”
“Oke...” dan Lucas tetap di tempatnya semula, membebani tubuhnya kepadaku.
“Banyak yang aku ngga tahu tentang kamu...” sahutku akhirnya.
“Iya.”
Cuma iya saja jawabannya.
“Berminat memberitahuku?”
“Pelan-pelan boleh?”
Aku menghela napas.
Ya, bagaimana lagi aku sudah jatuh cinta padanya.
“Yang harus kamu tahu...” ia mendekatkan bibirnya ke cuping telingaku. “Kamu satu-satunya wanita yang aku cintai sekarang.”
Jantungku langsung berdebar.
Dunia serasa lebih berwarna saat ini.
“Sekarang? Jadi dulu aku bukan satu-satunya?” pancingku.
“Iya, kamu dulu nomor dua.” Aku terhenyak. Sial...umpatku dalam hati. Jadi dulu dia memiliki wanitanya yang lain. “Sekarang, yang nomor satu sudah di akhirat, jadi kamu naik tahta.”
Aku diam.
Maksudnya dulu yang nomor satu adalah ibunya...
Mau senang tapi jadi sedih...
Aku berbalik menghadapnya.
Lalu menatapnya.
Matanya juga memandangku dalam.
“Akhirnya kamu bilang juga...” sahutku sambil menangkup kedua tanganku ke rahangnya. “Aku pikir selama ini kamu bilang ‘iya’ karena aku paksa.”
“Hei, Mbak Six...” Ia menggendongku sampai aku terduduk di konter dapur, sepertinya ini posisi favoritnya untukku. “Kalau aku semudah itu, mungkin sudah banyak cewek nyariin aku di kantor...”
“Mungkin saja kamu selama ini main aman...”
Ia menatapku dengan menyelidik, lalu menyeringai.
“Main aman... maksudnya pakai jasa, begitu?”
“Atau tiba-tiba saja nanti ada cewek sama anak kecil nyariin kamu, ngaku istri dari kampung...? Ya...” aku mengangkat bahuku.
Dia terkikik sambil menunduk.
“Bisa jadi, ya. Serba salah juga untuk meyakinkan kamu. Mungkin kalau aku tidak bertampang kayak begini kamu bisa lebih percaya ya...”
“Hem...iya bisa jadi.”
“Ya bukanya ngga ada yang godain sih, tapi belakangan waktu mereka tahu aku pacaran sama kamu, tiba-tiba saja sepi. Jadi damai hidupku...”
Aku membulatkan mataku.
“Oh ya?!” tanyaku.
Ia mengangguk.
“Kenapa begitu?” tanyaku lagi.
“Ngga tahu, kayaknya mereka takut sama kamu mbak.”
kalo stag gak nemu novel baliknya kesini lagi kesimu lagi..
kayak kisah Jihan pacarnya baratadhika , ada di dunia nyata habis diperawanin pacar digilir temen²nya bedanya di dunia nyata sampai meninggal si cewe. sekarang juga lagi viral fantasi cinta sed4rah seperti di novel nya bang Sena. atau seperti kisah Kayla nya Zaki.
aku sabar madam menanti update nya novel ongoing... mungkin madam lagi cari inspirasi, sukses dan sehat selalu madam Septira ♥️
balek lagi ke Andre....
grusah grusuh Andre kiii😔 bawa Dimas yg pinter siasat kek , apa Alex atau pak Sebastian yg kolega nya banyak , apa minta bantuan nenek nya Gerald bagaswirya yg punya bolosewu . pasti dah gengster tanpa disentuh pun mati.