Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.
Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.
Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.
Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelan-Pelan Bangkit
Pagi tetap datang kayak biasa.
Matahari naik. Udara masih sejuk. Burung ribut di pohon depan rumah.
Tapi hati manusia?
Nggak pernah benar-benar sama tiap hari.
Siska duduk di teras. Cahaya matahari masuk lewat sela daun, jatuh di lantai keramik yang mulai pudar warnanya.
Pertemuan sama Kevin beberapa hari lalu masih muter di kepalanya.
Bukan sebagai harapan.
Tapi sebagai pengingat.
Hidup nggak bisa diulang.
Ibunya keluar bawa dua cangkir teh hangat. Mereka duduk berdampingan. Diam dulu. Di rumah itu, diam sering lebih jujur daripada nasihat panjang.
“Apa rencanamu sekarang?” tanya ibunya pelan.
Siska tarik napas panjang.
“Aku mau kerja, Bu.”
Ibunya nengok. Ada kaget sedikit, tapi nggak ada penolakan.
“Kerja apa?”
“Apa aja. Aku nggak mau terus bergantung.”
Itu bukan kalimat penuh ambisi.
Itu kalimat orang yang capek terlalu lama diam.
Beberapa hari setelah itu, Siska mulai gerak.
Update CV. Ikut pelatihan online gratis. Coba lamar kerjaan kecil-kecilan.
Nggak gampang.
Ada hari dia minder banget. Lihat teman-temannya udah jauh ke mana-mana.
Ada hari dia hampir nutup laptop dan bilang, “Udah lah.”
Tapi tiap mau nyerah, dia ingat satu hal:
Dia pernah jatuh sedalam-dalamnya…
dan masih hidup.
Akhirnya dia diterima kerja di butik online kecil.
Bukan perusahaan besar. Bukan kantor mewah.
Cuma tim kecil yang jual pakaian lewat marketplace.
Siska jadi admin. Ngurus chat pelanggan. Input pesanan. Rekap laporan.
Gajinya nggak besar.
Tapi itu uang hasil keringat sendiri.
Hari pertama, tangannya gemeter waktu buka sistem.
“Aduh… salah klik lagi,” gumamnya panik.
Tapi dia belajar. Nanya. Catat semuanya di buku kecil.
Malamnya dia pulang dengan bahu pegal.
“Aku capek…” katanya ke ibunya.
Lalu dia senyum kecil.
“Tapi rasanya… hidup lagi.”
Ibunya cuma senyum pelan. Mata yang biasanya khawatir, sekarang sedikit lebih tenang.
Di sisi lain kota, Kevin juga nggak lagi santai.
Sejak resmi aktif memimpin Arwana Group, tekanan datang dari mana-mana.
Perusahaan makin besar. Tapi makin besar, makin banyak gesekan.
Di ruang rapat, salah satu direksi senior bersuara tegas.
“Keputusan Anda terlalu berani.”
Kevin duduk tenang. Jasnya rapi. Tatapannya lurus.
“Kalau kita terus main aman,” jawabnya datar, “kita yang bakal tertinggal. Dunia berubah. Kita harus ikut.”
Ruangan hening.
Sebagian nggak setuju. Sebagian kagum.
Kevin tahu satu hal: Jadi pemimpin artinya siap nggak disukai.
Tapi di rumah, dia berusaha jadi Ayah dulu baru bos.
Pagi ajak Cantika ke taman. Malam bacain dongeng.
Dia nggak mau Cantika tumbuh merasa sendirian.
Suatu malam, waktu lagi nyelimutin Cantika, anak itu tiba-tiba nanya dengan suara polos,
“Ayah… aku punya ibu?”
Kevin langsung diam.
Pertanyaan sederhana.
Tapi berat.
Dia duduk di tepi ranjang. Usap rambut Cantika pelan.
“Kamu punya ibu.”
“Kenapa ibu nggak tinggal sama kita?”
Kevin tarik napas panjang.
“Ibu dan Ayah punya jalan yang beda. Tapi kamu… dicintai.”
Cantika mikir bentar. Lalu meluk Kevin erat-erat.
“Aku cinta Ayah.”
Hati Kevin yang biasanya kuat di ruang rapat… melembut seketika.
“Ayah juga cinta kamu.”
Malam itu Kevin berdiri lama di depan jendela kamar.
Dia inget Siska.
Bukan dengan marah. Bukan dengan rindu yang menggebu.
Cuma sebagai bagian dari cerita hidupnya.
Cerita yang membentuk dia jadi seperti sekarang.
Sementara itu, Siska pulang kerja suatu sore dan mampir ke taman kecil dekat rumah.
Dia duduk di bangku kayu. Angin sore nyentuh wajahnya.
Anehnya…
dia nggak pengen nangis.
Dia buka aplikasi rekening di HP. Saldo kecil mulai terkumpul.
Nggak besar.
Tapi hasil kerja dia sendiri.
“Aku bisa,” bisiknya pelan.
Hari-hari mulai terisi.
Chat pelanggan yang rewel. Target harian. Laporan sederhana.
Dia nggak lagi ngecek berita Kevin tiap hari.
Bukan karena lupa.
Tapi karena belajar lepas.
Kenangan masih datang.
Tapi nggak lagi sesakit dulu.
Suatu sore dia ketemu teman lama.
“Kamu beda sekarang,” kata temannya sambil senyum.
“Lebih tenang.”
Siska balas senyum.
“Aku lagi belajar.”
“Belajar apa?”
“Belajar hidup sama pilihanku sendiri.”
Belajar terima konsekuensi. Belajar maafin diri sendiri.
Di sisi lain kota, Kevin lagi berdiri di podium acara perusahaan.
Lampu terang. Tepuk tangan ramai.
Dia ngomong soal visi. Strategi. Masa depan.
Semua terlihat sempurna.
Tapi di tengah keramaian itu, ada satu detik kecil dia ngerasa kosong.
Dia kangen hal-hal sederhana.
Pulang tanpa jas. Makan malam tanpa rapat.
Malam itu dia pulang lebih cepat.
Cantika udah tidur.
Dia cium kening anaknya, lalu duduk sendirian di ruang keluarga yang terasa terlalu luas.
Kevin nggak nyesel.
Siska juga nggak lagi terus-terusan menyesali.
Tapi mereka sama-sama sadar satu hal:
Hidup selalu minta keseimbangan.
Siska dan Kevin sekarang jalan di jalur berbeda.
Nggak saling nunggu. Nggak saling ganggu.
Tapi mereka belajar hal yang sama—
Bangkit nggak selalu berarti lupa.
Dan melepaskan…
nggak selalu berarti kalah.