Alice selalu terlihat biasa-biasa saja di mata semua orang—culun, pendiam, dan mudah dibully.
Tak ada yang tahu bahwa di balik senyumnya, ia menyimpan luka… dan sebuah rasa yang tak pernah terucap.
Danzel, sahabat yang selalu ada di sisinya, menjadi satu-satunya tempat Alice merasa aman. Namun, Danzel tak pernah menyadari bahwa kehadirannya adalah alasan Alice bertahan selama ini.
Mencintai dalam diam, terluka tanpa suara.
Bisakah perasaan yang tak terbalas menemukan jalannya?
noted: terbagi dua season
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wnd ayn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 (end season 1)
Pagi hari,
Pagi itu, hujan gerimis mengguyur lembut seluruh kota, seolah ikut merasakan duka mendalam yang melingkupi pemakaman Erlangga.
Udara terasa dingin, dan setiap tetes hujan yang jatuh ke tanah menciptakan suasana hening yang penuh kepedihan. Langit kelabu seakan menangis bersama Alice, mengiringi kepergian seseorang yang paling berharga dalam hidupnya.
Alice berada di tepi makam dengan wajah tertunduk, air mata terus mengalir tanpa henti, membasahi pipinya yang sudah sembab karena menangis.
Tubuhnya terasa begitu lemah, seolah tak sanggup lagi berdiri tegak menghadapi kenyataan yang kini menghancurkan dunianya. Di sekelilingnya, orang-orang mulai meninggalkan pemakaman dengan bisikan-bisikan simpati.
Alice sudah kehilangan mama nya sejak kecil. hidup tanpa kasih sayang seorang ibu sudah sangat berat, apalagi sekarang Alice juga kehilangan sosok yang menjadi pelindung sekaligus penuntun hidupnya yaitu papahnya. dia benar-benar sendirian di dunia ini.
Setelah selesai meluapkan kesedihannya, Alice berdiri perlahan dari tempatnya. Tubuhnya terasa berat, seolah semua energi telah terkuras habis oleh tangis dan kesedihan yang begitu mendalam.
Alice menghela napas panjang, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk melangkah pergi.
Saat Alice berbalik, dia melihat ibu Danzel yaitu Anjani dan juga Danzel yang ternyata sudah berada disana sejak tadi.
Danzel tampak canggung seperti tak tahu harus berbuat apa, matanya menyiratkan iba yang mendalam untuk Alice. Sedangkan Anjani melangkah pelan mendekat.
"Alice..."suara Anjani terdengar lirih."Kami turut berdukacita nak."ucapnya menggenggam erat kedua tangan Alice dengan lembut
Alice hanya mengangguk pelan, belum mampu mengeluarkan kata pun. Kehilangan papahnya seolah membuat lidahnya kelu, dunianya kosong.
"Dengar nak, kami tahu apa yang sedang terjadi padamu. ikutlah bersama kami dan tinggalah di rumah kami untuk sementara."pinta Anjani dengan tulus
Alice mendongak perlahan, matanya bertemu dengan Anjani. Ada kehangatan dalam tatapan wanita itu.
Namun, Saat beralih ke Danzel. Pria itu tetap dalam kebisuannya, seolah tak tahu harus berkata apa. Tak ada ucapan kata ucapan duka atau sekadar ungkapan simpati yang keluar dari mulutnya.
"Tidak Bu, Jangan khawatir aku masih memiliki apartemen dan mungkin aku akan tinggal disana untuk sementara."ucap Alice menolak secara halus. sebenarnya dia berbohong soal apartemen. apartemen yang di milikinya juga telah disita
Dia tidak ingin merepotkan seseorang
"Tapi, Nak—"
"Terima kasih atas tawarannya, dan terima kasih sudah hadir di pemakaman Papahku. Semoga Ibu sekeluarga selalu dalam keadaan baik. Sampai jumpa," kata Alice sambil memotong kata Anjani dengan sopan.
Setelah itu, tanpa menoleh lagi ke arah Danzel, Alice berbalik. dia akhirnya meninggalkan pemakaman,
langkahnya pelan namun pasti, melewati jalan setapak yang basah oleh gerimis. Angin berhembus lembut, seolah membisikkan perpisahan terakhir dari papahnya untuknya.
Anjani hanya bisa menatap kepergian Alice dengan perasaan sedih, Hatinya terasa perih melihat gadis itu begitu terluka dan memilih menghadapi semuanya sendirian.
"Danzel, kenapa kamu hanya diam saja melihat Alice seperti ini!"tanya Anjani dengan tatapan kecewa
"Seharusnya kamu menguatkannya, memberikannya sebuah dukungan penuh dan juga menemaninya."lanjut Anjani, suaranya mulai bergetar antara marah dan sedih.
Danzel hanya bisa menunduk, tak mampu menjawab
"Seandainya saja malam itu kamu langsung datang membantu Alice dan papahnya," Anjani melanjutkan dengan nada yang lebih berat, "mungkin hidup Alice tidak seberat ini."
Suasana menjadi semakin hening, seolah setiap kata yang diucapkan Anjani menjadi beban tambahan di hati Danzel.
"Ingatlah perbuatan baik Alice. Dia sudah membantu biaya operasi ibumu. Bayangkan, jika tidak ada Alice, mungkin Ibu juga sudah tiada."
Setelah mengakhiri ucapannya, Anjani menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri."Danzel," katanya tegas, "kejar Alice. Bawalah dia ke rumah kita. Dia butuh perlindungan, dia butuh dukungan... dan kamu yang harus memberikannya."
Namun, Danzel masih tetap bungkam. Matanya terfokus ke tanah, sementara tubuhnya kaku, seolah tak mampu bergerak meski sekadar melangkah.
Melihat reaksinya, Anjani menghela nafas kasar, ekspresi wajahnya menunjukkan kekecewaan yang mendalam.
"Danzel, sampai kapan kamu akan tetap seperti ini? Alice sudah kehilangan segalanya. Kamu benar-benar tidak akan melakukan apa pun untuknya?"
"Baiklah jika ini memang keputusanmu, ibu tidak akan memaksamu lagi. kamu sudah benar jauh berbeda dari Danzel yang dulu, Rachel telah membawa pengaruh buruk pada putra ibu."
Anjani terlihat sangat kecewa kepada putranya itu, Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Danzel berdiri sendirian.
**
Alice berjalan tanpa arah menelusuri kota, langkah kakinya berat namun tak pernah berhenti. Matanya kosong, pandangannya tertuju jauh ke depan, namun tak ada tujuan yang pasti.
Seiring waktu, malam pun tiba. Kota yang tadinya dipenuhi kesibukan perlahan sepi, lampu-lampu jalan menyala terang, tapi Alice tetap berjalan, mengelilingi kota seolah ingin lari dari kenyataan.
Sesekali, dia berhenti untuk beristirahat di beberapa tempat, Namun tak pernah lama, dia segera kembali melangkah lagi, berusaha mengisi kehampaan dengan gerakan.
Dunia terasa hampa baginya, sama hampa seperti hidup yang kini dijalaninya tanpa arah.
Semua yang pernah dia miliki, telah hilang. Dia sendirian, terlempar ke dalam kegelapan yang tak berujung.
Hingga akhirnya, Alice tiba di bawah kolong jembatan, tempat yang selama ini menjadi salah satu pelarian hatinya.
Anak-anak jalanan yang biasa berkumpul di sana terkejut melihat kedatangannya.
Wajah Alice yang pucat dan langkahnya yang lemah membuat mereka segera berkumpul mendekat, merangkul Alice dan membawanya duduk di salah satu kursi disana.
"Kak Alice, darimana saja?" tanya salah satu dari mereka dengan nada cemas.
"Kami sudah dengar kabar buruk itu, Kak. Kami ikut berduka," lanjutnya dengan suara bergetar. Yang lain mengangguk, tampak jelas kekhawatiran di wajah-wajah kecil mereka.
"Kami mencari Kakak dari pagi," ujar yang lain. "Kak Rania sekarang masih mencari keberadaan Kakak di sekitar kota. bahkan kak Rey juga ikut berpencar mencari mu. Dia sangat khawatir, Kak."
Tak satu pun dari kata-kata mereka mampu membangkitkan respons dari Alice. Dia hanya duduk di sana, menatap kosong ke depan, masih terperangkap dalam keheningan yang dingin.
Anak-anak itu saling berpandangan, bingung dan sedih melihat keadaan Alice yang seperti ini.
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari kejauhan, dan Rania muncul dengan wajah penuh kelelahan dan keputusasaan.
Napasnya tersengal-sengal setelah seharian mencari keberadaan Alice di sekeliling kota tanpa hasil. Matanya tampak sayu, tertekan oleh rasa khawatir yang semakin membebani hatinya.
Sebelumnya, Rania, Rey dan anak-anak jalanan lainnya sudah sempat mengunjungi makam Erlangga. namun mereka tidak bertemu Alice yang sudah pergi. kabar meninggalnya papah Alice sampai kepada Rey lebih dulu melalui Anjani ibu Danzel.
Pada saat itu juga Anjani sempat ingin memberitahu Rey jika Alice sedang membutuhkan bantuan, tetapi sayangnya Handphone Rey dalam kondisi mati dan baru bisa hidup di pagi harinya.
"kak Rania, kak Alice ada disini."ucap salah satu anak yang menghampiri Rania
Rania terkejut dan langsung berlari mendekat, matanya terbelalak saat melihat Alice duduk diam di dikelilingi oleh anak-anak jalanan.
"Alice!" seru Rania pelan, suaranya parau. Ia berlutut di hadapan Alice, menatap wajah temannya yang begitu kosong.
Rania menunduk, tak tahu harus berkata apa lagi. Dia hanya bisa menatap Alice dengan penuh kesedihan, merasakan perih yang sama saat melihat temannya yang dulu begitu kuat kini hancur oleh beban yang begitu berat.
Tiba-tiba, Alice mengangkat kepalanya perlahan, dan dengan tatapan sayu yang tak berdaya, dia menatap Rania.
Bibirnya bergetar, dan suaranya terdengar pelan."Rania... papahku telah meninggalkan aku... sekarang aku...aku benar-benar sendirian di dunia ini."
Rania menatap Alice dengan mata berkaca-kaca."kamu tidak sendirian Alice, aku dan anak-anak disini akan selalu ada untukmu."
"itu benar kak Alice, kami akan menemani kakak selamanya. jangan pernah merasa sendirian, kami berjanji akan melindungi dan melayani kak Alice sepanjang hidup kami."
Alice tertegun mendengar kata-kata mereka, hatinya tersentuh oleh kepedulian dan kasih sayang yang mereka berikan tanpa syarat.
Detik berikutnya Rania, dan semua anak-anak disana memeluk Alice dengan erat. pelukan itu terasa hangat dan penuh dukungan, membuat Alice sedikit lega dalam kesedihannya.
Tiba-tiba, suara lembut namun tegas terdengar dari arah belakang mereka. "Aku juga berjanji akan menjaga kalian semua,"
Alice dan Rania menoleh, dan di depan mereka berdiri Rey, menatap keduanya dengan pandangan penuh keteguhan. "Alice, Rania... aku akan selalu ada untuk kalian berdua sampai kapanpun."
Rey tampak kelelahan setelah seharian ikut mencari Alice, tetapi meski tubuhnya lelah, tekadnya untuk berada di sisi mereka jelas terlihat.
"Alice, kamu tidak perlu menghadapi semuanya sendirian," kata Rey lagi. "Kami semua di sini bersamamu. Apa pun yang terjadi, kita akan melewatinya bersama." Rey menatap Alice kemudian beralih menatap Rania yang setuju dengan ucapannya
Pelan-pelan, Alice mengangguk, air mata kembali menggenang di matanya.
Dalam pelukan hangat dan dukungan dari orang-orang di sekelilingnya, Alice mungkin akan menemukan cara untuk bangkit dari kehancuran yang dia rasakan saat ini.
**
Waktu berlalu begitu cepat, ibarat hari-hari berlari dari satu ke yang berikutnya. Alice, meski masih dibayangi oleh duka yang mendalam, mulai menemukan cara untuk melanjutkan hidupnya. Dukungan yang datang dari teman-teman di sekelilingnya menjadi kekuatan yang tak terduga.
Di sisi lain, Rey dan Rania tetap menjadi bagian penting dari keseharian Alice. Mereka selalu memastikan Alice tidak merasa sendiri, kini seperti menjadi keluarganya sendiri.
Saat ini, Alice tinggal bersama Rania di bawah kolong jembatan—suatu kondisi yang bagi kebanyakan orang mungkin sulit, namun bagi Alice, itu tidak menjadi masalah.
Di sana, ia menemukan ketenangan dan kebersamaan dalam hidupnya. Tempat yang sederhana itu justru memberikan rasa aman.
Biaya sekolah Alice sebelumnya sudah dibayar lunas oleh papah Erlanga. dan untuk biaya hidup Alice, dia masih bisa menggunakan tabungan miliknya.
terkadang Alice juga bekerja keras ikut membantu Rania menjual bunga di pinggir jalan saat selesai sekolah dan di hari libur.
Dunia terasa indah jika Alice melalui semuanya dengan keihklasan dan ketabahan.
kini dengan kebahagiaannya yang sederhana Alice tak lagi memikirkan tentang Danzel, seseorang yang telah mencuri hatinya sekaligus menghancurkan perasaannya.
Sementara itu, di sisi lain, Danzel masih belum berubah. Cintanya kepada Rachel membuat mata dan hatinya buta, hingga ia menutup diri dari semua hal yang berkaitan dengan Alice.
Danzel tidak lagi menghiraukan kehadiran Alice di sekitarnya, seolah-olah masa lalu mereka tidak pernah ada. Ia terjebak dalam dunia yang dibangun oleh harapan dan impian bersama Rachel, tanpa menyadari bahwa ia telah mengabaikan seseorang yang pernah begitu berarti dalam hidupnya.
Alice menyaksikan semua ini dengan rasa campur aduk. Di satu sisi, ia merasa lega melihat Danzel bahagia,
tetapi di sisi lain, rasa sakit itu tetap menggerogoti hatinya. Di dalam hatinya, Alice tahu bahwa perasaan itu tidak akan hilang begitu saja.
Dengan kemurnian dan ketulusan hatinya, Alice akan tetap menjaga cinta itu sebaik mungkin sampai kapanpun.
End
Lanjut season dua ya gais, tenang saja author bakal segera up
Meski masih mengingat masa lalu paling tidak Alice sudah mulai berusaha menerima orang baru.
hemmmm masa lalu itu berat bersaing dengan masa lalu melelahkan,jarang sih novel yg bisa move on jadi aku tebak pemenang nya masa lalu