Suaminya berkhianat, anaknya di tukar dan dihabisii. Selama lima tahun dia merawat anak suami dan selingkuhannya yang bahkan tinggal satu atap dengannya berkedok sebagai pengasuh.
Bahkan dirinya diracuni oleh pelayan kepercayaannya. Ratih, berakhir begitu tragis. Dia pikir dia adalah wanita paling malang di dunia.
Namun nasib berkata lain. Ketika dia membuka mata, dia berada tepat dimana dia akan melahirkan.
Saat itu Ratih bersumpah, dia akan membalas suaminya yang brengsekk itu. Dia akan mengambil bunga dari setiap perbuatan suami dan semua yang telah menyakitinya dan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Kesabaran Semakin Tipis
Ratih kembali ke dalam kamarnya, dia meletakkan kotak perhiasan itu di lemari penyimpanan seperti biasa.
Lalu, ia duduk di sofa dekat bibi Asih mengayun keranjang bayi Rafa.
"Dia sudah tidur?" Tanya Ratih dengan suara pelan.
"Sudah nyonya!"
"Bibi tidak mau bertanya sesuatu?" tanya Ratih.
Sebenarnya sejak awal, bibi Asih punya banyak pertanyaan. Dari peringatan Ratih untuk tidak menurut pada bibi Erma. Lalu jangan takut pada wanita yang merupakan kepala pelayan itu. Dan terakhir, ketika Ratih menunjukkan dimana kotak perhiasan itu bisa ditemukan.
Tapi, dia merasa sebaiknya tidak usah ikut campur dengan urusan majikannya. Yang penting sejak awal Ratih terkesan membelanya. Itu sudah cukup baginya.
"Tidak nyonya!"
Ratih tersenyum.
"Bibi Asih tidak perlu sungkan. Tiga orang di luar itu bukan orang yang bisa di percaya. Bibi Asih jangan pernah meninggalkan Rafa pada mereka. Bisa kan?" tanya Ratih.
Bibi Asih menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Iya nyonya!"
Ratih cukup puas mendengar jawaban bibi Ratih. Dia benar-benar tidak akan pernah membiarkan ketiganya menyentuh Rafa.
**
Dua bulan berlalu...
Keadaan rumah cukup tenang, selama tiga bulan ini. Sarah sungguh tidak pernah bisa melihat Rafa. Ratih menjaganya dengan sangat baik bersama dengan bibi Asih.
Dia satpam baru juga sudah bekerja sejak Joni di penjara. Semua orang-orang kepercayaan Ratih.
Lalu di depan kamar Sarah, sungguh di pasang kamera pengawas. Aksesnya langsung ke ponsel Ratih. Dia sungguh membuat suaminya kesulitan bertemu dengan Sarah di kamarnya.
Mana setiap harinya, Ratih akan mencari apapun yang bisa di cuci dalam partai besar. Tangan Sarah sungguh tak lagi sehalus dulu. Membuatnya terus mengeluh pada bibi Erma.
"Bu, lakukan sesuatu. Aku tidak mau terus jadi tukang cuci di sini. Lihat tanganku sudah kasar begini. Nanti kalau mas Fandi berpaling ke lain hati, bagaimana?" tanya Sarah dengan raut wajah khawatir.
Bibi Erma sendiri bahkan sudah pernah memergoki pria itu berbicara dengan mesra di telepon, dengan seorang wanita. Tapi, dia tidak mengatakan itu pada Sarah. Bibi Erma malah mengadukan hal itu pada Ratih.
Tapi, reaksi dari Ratih sungguh di luar prediksi bibi Erma. Bibi Erma pikir, Ratih akan langsung marah, kecewa, kesal, lalu akan minta penjelasan Fandi dengan membuat keributan besar, pertengkaran yang kerap terjadi karena memang setahu bibi Erma itu, Ratih orangnya sangat cemburuan. Bahkan kerap kali Ratih pulang ke rumah orang tuanya dan membuat Fandi sebenarnya semakin muak pada wanita itu.
Karena kalau Ratih pulang ke rumah orang tuanya. Fandi otomatis harus memohon-mohon disana, meminta Ratih kembali. Dan akhirnya, meski Fandi memohon-mohon, rasa perdulinya pada Ratih malah semakin terkikis. Karena dia harus mohon-mohon tadi di rumah orang tua Ratih.
Dulu selalu seperti itu. Tapi sekarang, Ratih tampak biasa saja. Dia bahkan mengatakan pada bibi Erma.
"Biarkan saja bibi, mas Fandi juga butuh bersenang-senang. Aku kan tidak bisa menyenangkannya. Biar saja dia cari hiburan di luar sana!"
Seperti itu jawaban Ratih. Bibi Erma sampai tak bisa berkata-kata lagi.
"Bu, kenapa malah diam?" tanya Sarah yang sejak tadi minta ibunya melakukan sesuatu, tapi ibunya malah bengong.
"Iya iya, nanti ibu pikirkan cara lain. Kan ibu sudah belikan deterjen yang bagus, kamu juga bisa cuci pakai mesin. Yang berat kan hanya menyetrika, bertahanlah Sarah. Tunggu sampai Fandi mendapatkan semua aset Ratih!"
Sarah mendengus kesal.
"Tapi sampai kapan, Bu? aku bahkan belum pernah menggendong Rafa selama aku tinggal disini!" keluh Sarah lagi.
"Jangankan kamu! ibu saja tidak pernah bisa menggendongnya. Bibi Asih itu menyebalkan sekali, dia tidak pernah mengijinkan orang lain menggendong Rafa! Ratih juga sudah beli mobil baru, kemana-mana Rafa di ajak. Sama sekali tidak pernah di tinggalkan di rumah. Ibu juga tidak punya kesempatan sedikit pun menggendong cucu ibu!"
"Tapi, ibu masih bisa melihat Rafa. Aku sama sekali tidak baja melihatnya!"
"Mau bagaimana lagi?"
"Kalau begitu cari cara untuk menyingkirkan bibi Asih itu Bu!"
Bibi Erma menoleh ke arah Sarah. Sebenarnya dia juga berniat melakukan hal itu. Tapi, sekarang Ratih memasang banyak sekali kamera pengawas di rumah ini. Bahkan di dapur juga di pasang. Dia sungguh tak bisa bertindak leluasa. Alasan Ratih melakukan semua itu tentu saja untuk keamanan Rafa. Tidak ada yang bisa mendebatnya.
"Kamu tahu kan, sekarang dapur saja di pasang kamera pengawas. Dan tidak mungkin kita meracuninya, bisa ketahuan..."
"Kalau begitu tabrak saja saat dia pergi keluar!" kesal Sarah.
Sebenarnya bukan karena dia pintar, maka muncul ide semacam itu. Hanya saja dia terlalu kesal. Anaknya sudah terlihat sangat lucu, karena dia pikir Rafa adalah anaknya. Anaknya itu sudah tiga bulan lebih, sangat menggemaskan. Sudah bisa mengangkat kepalanya saat tengkurap, itu kata bibi Erma. Dan suaranya juga sudah terdengar kalau pagi, di saat masih sepi, suara Rafa yang sudah bangun duluan terdengar sampai ruangan mencuci. Sarah benar-benar tidak tahan lagi, dia ingin memeluk anaknya itu. Makanya terlintas pikiran seperti itu.
Bibi Erma menoleh ke arah Sarah.
"Harusnya kamu bicarakan itu dengan Fandi. Suruh pria itu lakukan sesuatu pada bibi Asih. Jangan sibuk dengan..."
Sarah melirik penasaran,
"Sibuk dengan apa Bu?" tanya Sarah.
"Ck, pokoknya suruh dia yang urus bibi Asih. Ibu sudah mulai kesal, Ratih sekarang tidak bisa di provokasii seperti dulu. Kenapa setelah melahirkan dia jadi lebih pintar!"
Sarah mendengus kesal. Bibi Erma sudah bisa merasakan perbedaannya. Sayangnya semuanya sudah terlambat. Bahkan Ratih sudah menghabiskan dua botol racun untuk mereka dalam waktu tiga bulan lebih ini.
Kali ini dia akan mengambil botol ketiganya. Karena hari ini dia juga harus kembali mengajak Rafa imunisasi di rumah sakit.
"Nyonya, Rafa sudah siap!" kata bibi Asih yang memang sudah mengganti pakaian Rafa.
"Oke, kita berangkat sekarang. Ingat ya bi, tutupi Rafa ketika kita akan masuk mobil!"
Bibi Asih menganggukkan kepalanya.
"Baik nyonya!"
Ratih tersenyum, dia tahu kalau Sarah pasti akan mencoba melihat Rafa dari kejauhan. Dia tidak akan biarkan wanita itu bisa melihat Rafa. Bahkan ketika Fandi mau mengambil foto Rafa dengan ponselnya saja, Ratih melarangnya. Ratih ingin, Sarah tersiksa lebih lama lagi.
***
Bersambung...
Rafa anak Ratih bukan anakmu 🤭
Khawatir jika kelamaan di rumah itu, keburu bau bangkai..
Dan Fandi pun sudah di cerai..
Kini kehidupan mereka sudah tercerai berai..
Kira² apa selanjutnya yg terjadi..?
Yuk ahh.. Bab berikutnya kita baca lagi.. 🏃♀️🏃♀️😁
Ternyata Ratih sudah mengetahui semuanya..
Dan apa yang terjadi..? Terkejut dong pastinya.. 🤭
Apa lagi Bi Erma, sudah tak mampu lagi berkata untuk menolak fakta..
Karena Ratih punya CCTV yg tersembunyi, dan tak di ketahui oleh mereka bertiga..
Lalu, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya..?
Yuk.. Mari kita baca bab selanjutnya.. 🏃♀️🏃♀️🏃♀️
Harta melimpah..
Ternyata hasil korupsi..
Kasih nafkah anak istri pake uang haram, parah dahh.. 🤦🏻♀️
Kau kira kebusukan bisa kau tutupi selamanya..?
Kau kira kebenaran tak akan menemukan jalannya..?
Mungkin saja kau terbebas saat ini, tapi lihat saja nanti, tunggu saja waktu nya tiba..
Kau akan berada di tempat mu yg seharusnya, yaitu penjara.. 😏