Renjana menikah bukan karena jatuh cinta, melainkan karena percaya bahwa bakti dan komitmen cukup untuk membangun rumah tangga.
Favian adalah lelaki yang tenang, penuh perhatian, dan nyaris tanpa cela. Ia memperlakukan Renjana dengan baik—terlalu baik untuk sebuah pernikahan yang lahir tanpa cinta.
Namun perlahan, Renjana menyadari satu hal yang mengusik: ada ruang dalam hidup suaminya yang tak pernah bisa ia masuki. Sebuah sunyi yang selalu ia bagi dengan kenangan.
Di antara peran sebagai istri dan harapan akan dicintai apa adanya, Renjana dihadapkan pada kenyataan paling pahit dalam pernikahan—bahwa dicintai dengan syarat lebih menyakitkan daripada tidak dicintai sama sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flowyynn_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. He'll Never Win
Anonim | Jana, lihatlah toko kuemu itu. Penuh oleh buket bunga.
Anonim | Kapan kamu kembali bekerja, Jana? Aku ingin sekali mencicipi kue buatanmu seperti dulu.
Benda pipih itu terus berdenting oleh notifikasi pesan yang tak henti masuk. Namun si empunya masih asyik berkelana dalam mimpi.
Mentari menembus celah tirai, menorehkan garis-garis keemasan di dinding kamar. Hangatnya menyentuh wajah Favian hingga pria itu perlahan membuka kelopak matanya.
Dengan wajah masih setengah sadar, ia meraba nakas di samping tempat tidur dan mematikan sumber kebisingan pagi itu.
Anonim | Sinta sepertinya muak karena aku selalu mengganggu harinya hanya untuk menanyakan dirimu, Jana. Kapan kamu akan kembali ke toko kue?
Pesan itu kembali datang. Alis Favian seketika berkerut. Tatapannya menajam ke arah ponsel milik sang istri.
Ia lantas bangkit dari posisi rebah, lalu tangannya menyambar benda pipih itu tanpa izin sang empunya.
Begitu nyala ponsel menyambutnya, ada lebih dari lima pesan dari nomor tidak dikenal memenuhi layar. Lima panggilan suara tak terjawab pula ikut menyertai.
Kening Favian berkerut kian tajam. Ia menoleh sekilas ke arah Renjana yang masih terlelap damai di sisinya. Wajah perempuan itu tenang, nyaris polos. Cantik—terlalu cantik di matanya. Ia jadi tak tega jikalau harus membangunkan perempuan itu oleh keganjilan semacam ini.
“Siapa ini? Kenapa isi pesannya terus membahas toko kue?” gumamnya pelan.
Jemarinya pun membuka satu per satu pesan tersebut. Di sana terselip beberapa foto: toko kue milik Renjana dalam keadaan tertutup, tetapi halaman depannya penuh sekali buket bunga dan kotak-kotak berpita indah. Seolah ada seseorang yang ingin meninggalkan jejak kehadiran tanpa berani mengetuk pintu.
Mata Favian menyipit. Ia menelusuri informasi kontak pengirim.
Raevano Bramastya.
Nama itu tertera jelas.
Ekspresinya yang semula heran berubah dingin dalam sepersekian detik. Datar. Tanpa riak.
“Mengganggu sekali,” desisnya.
Ia meletakkan ponsel Renjana kembali di atas nakas dengan gerakan terkontrol, lalu menatap penuh sosok sang istri. Seolah pesan-pesan itu tidak layak merusak pagi mereka.
Tatapannya menelusuri wajah Renjana dengan saksama. Garis hidungnya, bulu matanya yang lentik, bibir ranumnya yang terkatup tenang. Cantik sekali. Andaikan batinnya tak terlalu kaku untuk mengakuinya demikian lantang.
“Siapa yang tidak kasihan padamu, Jana?” bisiknya lembut. “Bahkan dalam tidurmu yang begitu nyenyak, masih ada beban yang kamu bawa seorang diri.”
Ia mencondongkan tubuh, mengikis jarak yang tersisa. Ia melabuhkan kecupan sayang di kening si perempuan, kemudian turun ke pelipis, ke pipi, hingga berhenti lebih lama di sudut bibirnya—sebuah keberanian yang hanya mampu ia lakukan saat perempuan itu tak sadar.
“Aku mendengar semuanya semalam,” tuturnya rendah, sebelum kembali merebahkan tubuh di sisi istrinya. “Mendengar betapa rapuhnya kejujuranmu yang baru aku tahu.”
Tangannya merapikan anak rambut yang jatuh di kening Renjana. Sentuhannya hati-hati, nyaris penuh hormat—seperti menyentuh porselen yang retaknya tak terlihat, tetapi bisa pecah kapan saja.
“Aku tahu kepalamu masih dipenuhi banyak pertanyaan, meski aku sudah menjelaskan beberapa hal padamu terakhir kali,” kata Favian lagi, suaranya nyaris tak terdengar.
Ia terdiam sesaat. Pandangannya berubah redup. “Dan aku harap … kamu tidak akan mencari tahu lebih jauh tentangku.”
Sunyi merambat halus di kamar itu, menyisakan deru napas tenang keduanya yang saling bersahutan. Udara terasa lebih berat, seakan ikut menahan sesuatu yang tak terucap.
“Jana …,” panggilnya pelan.
Ia menarik tubuh ringkih Renjana ke dalam dekapannya. Renjana menggeliat kecil.
“Hmm …,” dehamnya setengah sadar.
Kelopak matanya perlahan terbuka. Buram pada awalnya, lalu berangsur jelas—menangkap wajah tampan Favian yang begitu dekat di hadapannya.
Hidung keduanya saling bersentuhan. Seketika, jantung Renjana berdenyut tak karuan di dalam dadanya. Perempuan itu membelalak. Salivanya tertelan kasar saking terkejutnya.
“Selamat pagi, Jana,” sapa Favian tenang, seolah tak sadar betapa kedekatan itu mampu membuat Renjana kehilangan ritme napasnya.
“Pa—pagi, Mas,” sahut Renjana lirih. Suaranya mengecil, nyaris tercekat.
“Hari ini kamu akan kembali ke toko kue?” tanya Favian tiba-tiba. Tatapannya tak bergeser sedikit pun. “Seseorang sedang menunggumu di sana.”
Ia mengulum senyum samar. “Sepertinya dia rindu.”
Belum sempat meredakan debar jantungnya yang menggila, kini pikiran Renjana dipaksa bekerja oleh si pria.
Alisnya bertaut, jelas bingung. “Seseorang? Siapa?”
Alih-alih menjawab lugas, Favian justru menambatkan pandangannya lebih lama pada mata sehangat cokelat itu. Tatapannya teduh, tenang, tetapi entah mengapa terasa mengalir terlalu dalam—menghanyutkan.
“Apa?” tanya Renjana tergesa, gugup bukan main. “Kenapa kamu lihatin aku kayak gitu? Apa yang salah sama wajahku?”
Buru-buru tangannya bergerak mengusap wajahnya sendiri, mencari kemungkinan noda, sisa air liur, atau kotoran mata yang tertinggal karena betapa nyenyaknya ia tertidur.
Favian tersenyum tipis melihat kepanikan kecil itu. “Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Matamu hanya sedikit sembap. Menangis, bukan, semalam?”
Tangan Renjana sontak berhenti di udara. Pertanyaan itu sialnya tepat sasaran. Benar, menangis dirinya semalam. Rapuh sekali Renjana itu jika dilihat-lihat, ya?
“Aku … aku nggak—”
Ting!
Denting notifikasi itu memotong kalimatnya. Favian lantas mengalihkan pandangan. Ia bangkit dari posisi rebah tanpa memberi Renjana kesempatan melanjutkan perkataannya.
“Lihat?” katanya tenang. “Partner kerjamu pun juga menghubungi sekarang.”
Ia melangkah menjauh dari ranjang. “Mungkin sudah waktunya kamu kembali pada rutinitas yang kamu sukai. Banyak yang merindukanmu. Merindukan sosokmu … dan kue buatanmu.”
Ia berhenti sejenak.
“Termasuk mantan kekasihmu itu.”
Tanpa menunggu respon, Favian berjalan ke arah jendela—seolah tak peduli bagaimana raut wajah Renjana kini berubah drastis. Tangannya terangkat, membuka tirai lebar-lebar. Pemandangan kota pagi itu terbentang elok. Cahaya mentari menyerbu masuk, menerangi punggung tegapnya yang berdiri membelakangi Renjana.
Perempuan itu menatapnya nanar. Pria ini selalu seperti itu—benar-benar membuatnya seperti dipermainkan, menarik dan mengulur perasaan tanpa pernah menjelaskan batasnya.
“Apa kamu membuka ponselku?” Renjana akhirnya bertanya. “Itu sebabnya kamu tahu kalau Mas Raevano menghubungiku.”
Tanpa menoleh, Favian menjawab datar, “Ya. Maaf jika kamu tidak suka. Saya hanya terganggu oleh notifikasi yang terus-menerus berbunyi.”
“Dia merindukanmu,” sambungnya pelan. “Sangat merindukanmu. Tidak bisa melupakanmu.”
Renjana menggigit bibirnya. “Kamu nggak marah? Atau … mungkin cemburu?”
“Tidak. Untuk apa?”
Renjana menunduk, matanya bergerak gelisah.
Untuk apa? Benar. Untuk apa Favian cemburu? Bukankah Favian tidak mencintainya?
Jadi, untuk apa amarah dan api cemburu itu hadir dalam diri Favian? Mustahil sekali terjadi.
“Ya, benar,” angguk Renjana seraya terkekeh getir. “Untuk apa juga kamu merasakan itu.”
Favian akhirnya memutar tubuhnya. Tatapan mereka kembali bertemu. Kali ini, mata pria itu tak lagi sekadar teduh—ada sesuatu yang lebih dalam, lebih pekat, lebih sulit dibaca. Dan Renjana benci lantaran selalu masuk ke dalam situasi demikian.
“Untuk apa saya marah atau cemburu pada masa lalumu?” suara rendah itu terdengar, terukur. “Saya suamimu. Dan dia hanya masa lalumu.”
“Tidak ada gunanya saya menumpahkan perasaan itu pada seseorang yang gagal menjadikanmu miliknya.” Ia melangkah mendekat, perlahan, tanpa tergesa. “Saya memiliki hak penuh atas dirimu karena kamu istri saya.”
“Sepenuhnya milik saya.”
Kepalanya sedikit condong ke satu sisi, tatapannya masih tenang—anehnya justru terasa mengintimidasi karena ketenangan itu.
“Dia hanya bisa merindukanmu,” lanjutnya pelan, “tapi tidak pernah bisa memelukmu seperti yang saya lakukan.”
“Itu sudah cukup menegaskan bahwa dia tidak akan pernah menang. Tidak akan pernah bisa bersaing untuk merebutmu kembali ke dalam pelukannya.”
Ia menunduk sedikit, suaranya berubah hampir seperti bisikan yang dingin.
“He’ll never win. Not ever.”