NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Tiri

Obsesi Sang Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Selingkuh / Harem
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lalalati

Novel Keempat belas🌶
(area 🌶 no bocil-bocil please)

Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Meskipun demikian pergaulan Bian dan teman-temannya tergolong cukup 'bebas'.

Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.

Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.

Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'

Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Permainan Gila

"Kenapa harus sama Kayra sih?" protes Bian. "Kayra itu sahabat gue!"

"Kakak tahu itu. Kayra memang sahabat kamu, tapi dia suka sama Kakak dan Kakak gak bisa nolak dia," ujarnya santai.

"Jadi lo mau mutusin buat jadian sama dia?" tanya Bian memastikan.

"Jadian?" Saga malah tertawa. "Kita cuma have fun, Bi. Gak ada rasa kayak gitu antara Kakak sama Kayra."

"Bisa-bisanya lo ngomong kayak gini," gumam Bian tak habis pikir. "Lo tuh guru! Bisa gak sih lo jadi sedikit lebih bermor al?! Dan gue juga gak bisa biarin lo mainin sahabat gue. Kalau lo gak berpikir buat serius sama Kayra, mending lo jauhin dia. Ini peringatan terakhir dari dari gue. Inget itu!"

Bian pun berjalan dengan langkah kesal menuju pintu. Namun segera Saga menarik tangan Bian, dan sebagai antisipasi, ia menutup mulut Bian mencegah Bian berteriak. Benar saja Bian langsung berteriak dan meronta tak terkendali.

"Ssshhh...jangan teriak, Bi. Inget Kakak punya kartu AS kamu? Terus kamu harus berterima kasih sama Kakak atas apa yang kalian nikmati tadi pagi di ruang pribadi kakak di sekolah," ancam Saga.

Bian pun mematung. Ancaman dari Saga benar-benar terdengar berkali-kali lipat lebih menyeramkan sekarang.

"Gimana kalau sekarang Kakak balikin kata-kata itu sama kamu? Kamu itu siswi, bisa-bisanya kamu ngelakuin itu di sekolah. Dan juga, ternyata kamu gak jauh berbeda dari temen-temen kamu yang lain."

"Maksud lo?" Bian tak paham.

"Temen kamu, Diandra dan pacarnya, Luis, mereka membiarkan rumah Luis menjadi 'hotel cinta' buat teman-teman dekat kalian."

Bian membeku. Dari mana Saga tahu tentang itu?

"Terus temen kamu Kayra, udah jangan ditanya. Dia itu WC umum. Sama siapa pun dia mau. Di sekolah dia jadi piala bergilir. Terus, Regina, sama sekali gak Kakak sangka, pacaran juga di sekolah. Parahnya, sama guru matematika kalian, Pak Kevin, yang kalian selalu puja-puja sebagai guru baik, sopan, dan panutan buat semua orang di sekolah. Tapi ternyata catatannya gak sebersih itu. Dia juga lakuin hal itu di sekolah."

"Rere lakuin itu sama Pak Kevin di sekolah?" gumam Bian tak percaya.

"Iya. Mereka sering pinjem ruang olahraga," jelas Saga.

"Gak mungkin..."

"Dan ternyata kamu ikut-ikutan juga. Kakak kira kamu beda dari yang lain, ternyata kamu juga udah nyerahin tubuh kamu ke pacar kamu," ujar Theo menghakimi.

"Lo tahu, kenapa gue lakuin itu lebih dulu sama Theo? Kenapa gue bikin Theo ngelanggar janjinya ke bokap gue, itu semua karena kehadiran lo! Gue gak bisa ngelepasin diri dari perangkap yang lo bikin buat gue. Dan gue gak sudi kalau lo jadi cowok pertama yang ngambil kesucian gue," terang Bian.

Saga tertawa mendengarnya. Kemudian wajahnya berubah menjadi berpura-pura sedih. "Kakak sedih banget dengernya. Padahal Kakak berharap jadi yang pertama buat kamu. Tapi itu bukan masalah, yang penting kamu mengantisipasi kalau Kakak akan lakukan itu juga sama kamu. Jadi selama ini kamu kepikiran juga buat lakuin itu sama Kakak."

"Maksud gue...lo 'kan nekat! Jadi..."

"Kamu juga mau Kakak sentuh, 'kan?" potong Saga. "Tapi kamu terlalu sayang sama cowok kamu, jadi paling enggak Theo harus jadi yang pertama. Setelah itu kamu bisa lakuin dengan Kakak, dengan rasa bersalah yang gak terlalu besar. Iya 'kan?" tebak Saga dengan sangat tepat.

"Lepasin! Gue mau pergi! Bokap suka ke kamar bentar lagi!" Bian menghindar dari percakapan ini. Ia meronta kembali.

"Tenang, daddy lagi seneng-seneng sama ibu. Daddy kamu mungkin bakal ngecek kamu agak malam. Atau malah gak ngecek kamu sama sekali malam ini. Jadi kamu tenang aja, okay?"

"Gue mau pergi dari sini!" Bian semakin mencoba melepaskan cengkraman tangan Saga pada tubuhnya.

"Kamu gak bisa pergi dari sini, Bi. Sebelum kamu berterima kasih sama Kakak karena udah pinjemin ruang listening, Kakak gak akan biarin kamu pergi dari sini," tegas Saga.

"Gak, gue gak mau!" ujar Bian.

"Jadi kamu lebih suka semua orang tahu apa yang udah kamu lakukan? Atau lebih parahnya yang teman-teman kamu lakukan?" ancam Saga. "Apa jadinya kalau pihak sekolah tahu kelakuan kalian? Gimana kalau Daddy tahu? Kamu akan dipisahkan dari Theo sama daddy kamu sendiri. Kamu siap?"

"Lo ngancem gue?!"

"Iya," lirih Saga. Ia melepas cengkramannya pada pinggang dan punggung Bian, lalu meraup kedua pipinya. "Kamu gak mau merasakan ciuman kakak lagi sekarang? Terakhir kamu yang mulai."

"Gue harus mau biar gue bisa pakai ruang listening lo lagi?" tanya Bian menantang. Percuma juga ia menghindar. Itu tak akan berhasil. Jadi Bian pikir bagaimana jika mengajak Saga bernegosiasi saja?

"Jadi kamu akan jadi pelanggan tetap ruang listening?" Saga tertarik dengan negosiasi ini.

"Theo dihukum mamanya. Dia bakal langsung dijemput pas pulang sekolah. Dia juga gak bisa ketemu gue di weekend. Jadi satu-satunya waktu adalah pas di sekolah. Gue butuh tutup mulut lo." Bian menatap penuh harap.

"Deal. Kakak suka sama negosiasi kamu. Tapi tambahannya, biarin Kakak tetap bertemu dengan Kayra."

"Tapi Kay..."

"Bi," potong Saga. "Tenang aja, Kakak cuma main-main sama dia. Gitu juga sama Kayra, dia juga pasti cuma main-main sama Kakak."

Bian tidak bisa sembarangan menyampaikan perasaan Kayra pada Saga. Ini bukan perasaannya, tapi perasaan sahabatnya.

"Juga, datang ke ruang listening kalau Kakak mau kamu pas di sekolah."

"Lo gila!"

"Permainan ini memang gila. Kakak yakin kamu pun bersenang-senang dalam permainan gila ini."

Tanpa memberikan Bian kesempatan membalas kata-katanya, Saga pun menyingkap kaus Bian dan mengeluarkan kedua benda Bian dan melahapnya satu per satu.

1
D_wiwied
kayra gila ini sih 🤣🤣
lalalati: banget dia mah otaknya gak pernah disapuin
total 1 replies
D_wiwied
whattt ternyata ini yg ngajarin dan ngerusak saga to, yg membuat dia jd pemain.. ee dasar maniak brondong 😁🤭
D_wiwied
heh jule, cinta itu ga bs dipaksakan you know 😠
mending td ga usah ditolongin aja, biar kamu terbebas dr obsesi ibu yg ga ada akhlaknya itu
D_wiwied
ngeri kali si Juli ini, dah masuk kategori child grooming ga sih.. ky yg rame kmrn🤔🤭
D_wiwied: bisa dibikin lepas ga sih si Theonya, apa mmg sengaja dibikin gini alurnya? biar ketahuan Bian trs akhirnya jadi sm saga, dr terpaksa jd mau gitu
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!