NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Tiri

Obsesi Sang Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Enemy to Lovers / Saling selingkuh / Ibu Tiri / Konflik etika
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lalalati

Bian menjalani kehidupan remajanya dengan sempurna. Ia cewek cantik dan bergaul dengan anak-anak paling populer di sekolah. Belum lagi Theo, cowok paling ganteng dan tajir itu kini berstatus sebagai pacarnya dengan kebucinan tingkat dewa.

Namun tiba-tiba kesempurnaan masa remajanya itu runtuh porak poranda setelah kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai dan bertukar pasangan dengan sepasang suami istri dengan satu anak laki-laki yang juga muncul sebagai guru baru di sekolahnya bernama Saga, cowok cassanova tampan dengan tubuh tinggi kekar idaman para wanita.

Di tengah masalahnya dengan Saga yang obsesif, hubungannya dengan Theo terus merenggang. Alasannya karena Theo selalu mengatakan hal yang sama, 'harus nemenin mama.'

Semakin hari Bian semakin curiga. Hingga ia mengetahui bahwa Theo...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Syarat

Bian duduk bersebelahan dengan Saga. Di seberangnya Theo duduk bersama Julia. Di sisi yang lain, ada guru wali kelas Bian dan Theo serta guru BK. Mereka berbicara bergantian, kecuali Theo dan Bian yang hanya bisa menunduk mendengar nasehat yang tertuju pada mereka di ruang BK itu.

Kemudian pertemuan itu pun berakhir. Theo dan Julia pergi lebih dulu menuju parkiran. Theo mengantar Julia ke mobilnya. Setelah Julia duduk di kursi tengah mobil mahalnya, Theo pun duduk di sebelahnya.

"Kamu keluar dulu," titah Julia pada sang supir. Pria paruh baya itu pun keluar dari kursi kemudi.

"Jangan lupa. Nanti pulang sekolah, kamu datang ke kantorku."

"Ini bukan weekend, Mah," protes Theo. "Aku..."

"Kamu gak denger nasehat dari guru kamu barusan?" potong Julia. "Aku tahu kamu mau nongkrong di rumah Luis bareng sama dia lagi, 'kan? Inget kamu harus lebih menjaga jarak kamu sama pacar kamu dan lebih fokus sama pelajaran kamu. Jadi sebagai hukuman buat kamu, datang ke kantorku dan gak ada alasan lagi. Titik." Julia tidak menerima bantahan.

"Tapi..."

"Kamu gak lihat aku korbanin meeting aku sama klien buat dateng ke sekolah kamu cuma karena kamu bolos bareng cewek kamu?"

"Aku 'kan gak minta Mama dateng. Biasanya juga gak pernah dateng," gumam Theo pelan tanpa melihat ke arah Julia.

"Okay, fine. Selama ini aku emang jarang dateng ke sekolah kamu buat ambil rapot, atau apa pun itu. Tapi 'kan itu karena aku sibuk. Kali ini aku maksain dateng karena aku terlalu cemburu. Aku marah karena kamu sampai bolos buat bareng sama pacar kamu itu. Sekalian aku juga pengen tahu yang mana cewek yang namanya Bian itu. Ternyata biasa aja. Kirain gimana. Kamu gak cocok sama dia," ungkap Julia.

Theo tercengang. Sikap Julia yang berubah bukan lagi menjadi ibu baginya, masih saja membuat Theo tak habis pikir.

"Mama bukan marah karena aku bolos? Tapi karena cemburu karena aku bolosnya bareng Bian?"

"Iya. Kamu denger sendiri 'kan tadi aku bilang apa? Aku jealous! Sekarang jawab, apa yang kamu lakuin sama dia selama kamu bolos? Kamu pergi ke mana aja? Jujur!"

Sebenarnya Julia sudah tahu ke mana saja Theo pergi bersama dengan Bian karena melihat dashcam di mobil Theo. Namun ia harus berpura-pura tidak tahu, bisa saja nanti Theo malah melepaskan dashcam di mobilnya dan Julia tidak bisa mengikuti Theo lagi.

"Gak ke mana-mana. Cuma keliling-keliling aja," jawab Theo singkat.

"Bohong. Kamu pergi sama dia lama banget. Seharian sampai malam. Kamu ngelakuin sesuatu sama dia?" Julia curiga karena pada dashcam itu, Theo berada di rumah Luis lama sekali.

"Sesuatu apa sih, Mah? Mama jangan kepo, itu privasi aku." Theo menolak memberikan detailnya.

"Privasi? Gak ada ya, Theo. Aku gak mau kamu bilang tentang privasi. Apa pun yang lakuin aku berhak tahu. Sekarang aku gak mau tahu, jujur sama aku. Kamu udah lebih dari sekedar ciuman 'kan sama dia?" Julia begitu penasaran. Juga, cemburu. Ia ingin tahu apa yang sudah Theo lakukan dengan kekasihnya itu.

"Mah, jangan berlebihan gini. Aku udah selalu ikutin maunya Mama. Mama mau tidur bareng aku setiap malam, aku ikutin. Bahkan Mama pengen..." Theo memelankan suaranya, "...cium aku, aku diem, aku biarin Mama lakuin itu. Jadi sekarang Mama gak usah pengen tahu apa yang aku lakuin sama Bian. Aku butuh jadi diri aku yang gak Mama tahu!" tegas Theo jengah.

Julia mengernyitkan dahi dan menatap Theo penuh telisik. Sesaat kemudian, "kamu udah lebih dari sekedar ciuman sama dia," cetus Julia menyimpulkan.

Theo menegang. Namun segera ia menghindar. "Mama ngomong apa sih? Ya enggaklah. Aku udah janji sama daddynya Bian buat jagain anaknya. Aku gak akan lakuin itu sama Bian. Aku sayang banget sama dia," dusta Theo.

Julia kembali menelisik, sedangkan Theo berusaha mengontrol raut wajahnya agar terlihat jujur.

"Okay, aku percaya sama kamu untuk sekarang. Janji sama aku, jangan lewati batas sama Bian. Sejauh apa pun yang kamu lakuin sama Bian. Jangan pernah 'sampai ke sana'."

"Emang kenapa kalau aku nanti lakuin itu sama Bian? Kalau Bian ngasih lampu hijau, aku gak akan nolak."

"Gak, Theo!" Julia memekik tak terima. Ia meraup kedua pipi Theo dan menatapnya lekat. "Kamu milik aku. Aku harus jadi wanita pertama yang ngelakuin itu sama kamu. Inget semua yang udah aku kasih ke kamu, jangan sampai kamu lupa untuk berterima kasih sama aku."

"Mama sadar barusan ngomong apa?" ujar Theo. "Kata-kata Mama barusan udah buktiin perasaan Mama. Mama bukan cinta sama aku, tapi Mama terobsesi sama aku. Masih belum terlambat, Mah. Kita harus selesain semuanya sekarang."

Theo melepas kedua tangan Julia di pipinya, lalu keluar dari mobil.

...***...

Keluar dari ruang BK, Saga membawa Bian ke ruang listening. Ia mengunci pintu dan menjatuhkan dirinya di sofa. Ia buka kedua kancing yang ada di pergelangan tangannya, juga satu kancing di dadanya. Tatapannya tertuju pada Bian yang berdiri tak jauh darinya, menatapnya dengan kesal.

"Tunggu apa lagi?" ucap Saga puas.

"Harusnya gue minta Daddy pulang aja. Kenapa gue malah setuju sama syarat lo!" sesal Bian.

"Kamu udah lakuin hal yang bener, Bi. Coba bayangin, daddy sama ibu udah kepisah bertahun-tahun. Sekarang mereka punya kesempatan buat honeymoon yang cuma satu minggu. Satu minggu juga itu karena daddy mempertimbangkan jadwal modeling kamu. Daddy gak mau ninggalin kamu lama-lama. Jadi setelah apa yang daddy lakuin, kamu mau lebih ngerepotin dia lebih dari ini?"

Bian mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat menahan kesalnya. "Tapi lo gak usah bikin syarat kayak gitu harusnya! Kita saudara sekarang, kenapa sih lo malah kayak gini? Terus kenapa harus di sekolah? Bisa 'kan di rumah?"

"Kamu tenang aja, ruangan ini aman. Cuma Kakak yang punya kuncinya. Guru yang lain lebih suka pakai ruangan listening yang baru, yang peralatannya lebih canggih. Jadi gak ada yang pernah ke ruangan ini. Sekarang, lakuin janji kamu."

Bian diam tak bergerak, ia begitu enggan untuk merealisasikan janjinya.

"Tunggu apa lagi? Keburu bel."

Bian masih diam. Ia tidak mau melakukan ini.

"Atau kamu mau nanti pas kita di rumah? Kakak setuju. Kita lebih leluasa dan waktunya lebih banyak. Jadi kita..."

"Gak!" potong Bian. Ia tak suka ide itu, lebih baik sekarang karena durasinya lebih pendek. "Sekarang aja. Gue gak mau di rumah."

Saga tersenyum puas. "Fine. Kalau gitu, ayo di mulai."

Bian dengan terpaksa mulai meraih kancing kemejanya. Jarinya mulai bergerak dari kancing paling atas, melepasnya satu per satu. Kemudian dengan wajah tak nyaman dan terpaksa, ia melepas seragam kemejanya.

"Woah, so h ot, Babe. Kakak jadi pengen..."

"Bisa diem gak!" tegur Bian.

Saga pun mengatupkan bibirnya patuh. Melihat Saga yang sudah membungkam mulutnya, Bian pun perlahan membuka resleting roknya dan menurunkannya melewati kedua kakinya.

Bian diam dengan canggung melihat Saga yang menatap tubuhnya yang hanya berbalut pakaian dalam dengan tanpa berkedip.

"Lanjut," titah Saga.

"Please, udah sampai sini aja. Gue mohon!" pinta Bian sambil menangkupkan kedua tangannya.

"Jadi kamu mau Kakak yang bukain? Boleh..." Saga pun beranjak dari duduknya. Namun segera Bian berteriak. "Stop!" Saga pun kembali duduk.

"Gue aja yang buka." Bian tidak mau mengambil resiko dengan Saga melakukan hal yang lebih dari syarat yang ia ajukan.

"Okay. Lanjut kalau gitu."

"Tapi lo janji, gak akan sentuh gue." Bian memastikan.

"Janji," ucap Saga sambil mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Bian menelan salivanya. Ia benar-benar gelisah, khawatir Saga akan menyerangnya setelah ia menanggalkan seluruh pakaiannya. Ia sangat tahu siapa Saga. Janji adalah kata yang sangat bisa tak ia tepati.

Ya. Itulah syarat yang Saga ajukan. Bian harus membiarkan Saga melihat tubuh polos Bian tanpa sehelai benang pun.

Perlahan Bian membuka kaitan yang ada di punggungnya dan muncullah kedua bukit kembar itu di depan mata Saga. Bian melanjutkan dengan melepas segitiga penutup bawahnya. Kini tubuh Bian sudah polos, sesuai dengan syarat yang Saga ajukan.

"Wah, udah lama kakak gak lihat pyudra kamu. Tahu gak, untuk ukuran anak SMA, juga seorang model, kamu emang punya pyudara yang bagus banget. Ukurannya cukup gede, kulitnya kencang, terus..."

"Udah 'kan? Sekarang gue pakai lagi bajunya."

Dengan segera Bian kembali menggunakan pakaian dalamnya, namun Bian tak cukup cepat karena kekhawatirannya terjadi. Saga mendekat dan mulai mencium bibir Bian dengan rakus sebelum Bian menggunakan pakaiannya kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!