Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Reuni Angkatan
Hari-hari berikutnya terasa seperti berjalan di atas bara panas bagi Abel. Ruang kerjanya yang biasanya menjadi tempat paling produktif, kini berubah menjadi penjara kegelisahan. Bayangan Arslan bersama Gea di kafe itu terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.
"Abel! Fokus!" suara Reno menggelegar di ruang rapat, membuyarkan lamunan Abel.
Tumpukan dokumen analisis pasar yang disusun Abel berantakan. Ada kesalahan fatal pada angka proyeksi yang bisa merugikan perusahaan miliaran rupiah. Reno, yang masih dalam mode emosional tidak stabil sejak kepergian Sarah, tidak memberikan pengecualian. Baginya, di dalam kantor, Abel adalah staf yang lalai, bukan adik yang perlu dikasihani.
"Laporan apa yang kamu kerjakan, hah?" Kali ini Reno melempar map hitam ke arah Abel dengan kasar.
"Kalau kamu tidak bisa profesional karena urusan pribadi, lebih baik mengundurkan diri dari sekarang! Jangan bawa sampah pikiranmu ke ruang rapat!" bentak Reno dingin.
Abel hanya bisa tertunduk dalam, jari-jemarinya meremas ujung kemejanya. Ia tidak membela diri, karena ia tahu, hatinya memang sedang tidak berada di sana. Ia sedang terluka oleh cemburu yang seharusnya tidak lagi ia miliki.
Sementara itu, di sudut sebuah bar yang remang dan beraroma alkohol kuat, Arslan duduk dengan bahu merosot. Di depannya, asbak sudah penuh dengan puntung rokok—hampir dua bungkus ia habiskan sejak sore tadi. Cuti yang ia ambil bukan untuk beristirahat, melainkan untuk meratapi kepalanya yang hampir pecah.
Bimo, sahabatnya sejak SMA, menatap Arslan dengan ngeri. Ia mengambil bungkus rokok yang tinggal tersisa dua batang itu dari meja.
"Nggak masalah lo ngerokok sebanyak itu, Lan? Lo itu dokter spesialis anak, gila! Harusnya lo yang paling tahu gimana rusaknya paru-paru lo kalau diginiin terus," tegur Bimo ketus.
Arslan tidak menjawab. Ia hanya menatap gelas minumannya yang sudah kosong dengan mata merah. Wajahnya terlihat kesal, ada kemarahan yang tertahan di rahangnya yang mengeras, namun ia tak tahu harus meluapkannya pada siapa.
"Gue nggak bisa mikir, Bim," bisik Arslan parau. "Setiap kali gue nutup mata, yang gue lihat cuma tatapan benci Abel di rumah sakit, atau tatapan tak acuhnya di kafe kemarin. Rasanya... rasanya lebih sakit daripada gagal operasi."
Arslan merampas kembali sisa rokoknya dari tangan Bimo. Ia menyalakannya dengan tangan sedikit gemetar. Rindu yang ia pendam selama tiga tahun kini telah bermutasi menjadi racun yang pelan-pelan menggerogoti kewarasannya. Ia merasa sangat dekat dengan Abel, namun kenyataannya mereka dipisahkan oleh tembok kesalahpahaman yang ia bangun sendiri.
"Bim, gue baru menyadarinya, bahwa gue sangat mencintainya. Lo tahu kan, selama ini gue gak pernah mendekati siapapun, gue cinta Bim sama Abel." Rancu Arslan terlihat putus asa.
"Gue harus jelasin ke dia, Bim. Gue nggak bisa kehilangan dia lagi, meskipun dia udah punya anak sama orang lain, gue nggak peduli..." jelas Arslan, masih terjebak dalam delusi bahwa Farel bukan keponakan Abel.
Bimo terdiam saat Arslan menjelaskan bahwa Abel telah memiliki seorang putra dari laki-laki yang tidak bertanggungjawab. Arslan siap menerima Abel dan menjadi Ayah bagi Arslan, asal ia dapat bersama dengan Abel kembali.
Bimo menatap Arslan dengan iba sekaligus rasa bersalah yang besar. Sebagai salah satu dalang di balik taruhan sialan lima tahun lalu, ia merasa bertanggung jawab atas hancurnya mental sahabatnya itu. Di mata Bimo, Arslan yang sekarang bukan lagi "kapten basket yang menguasai lapangan", melainkan pria yang kehilangan arah.
"Oke, Lan. Cukup rokoknya," Bimo merampas korek api Arslan. "Gue punya ide. Angkatan kita sudah lama nggak kumpul. Gue akan buat reuni kecil-kecilan minggu depan. Gue bakal atur semuanya."
Arslan mendongak, matanya yang sayu sedikit bercahaya. "Dia nggak akan mau ketemu gue, Bim."
"Gue nggak bilang ini pertemuan lo sama dia. Ini reuni. Dia nggak punya alasan buat nolak kalau semua teman seangkatan diundang," Bimo menyeringai, meski hatinya berdenyut saat teringat ocehan Arslan tentang Abel yang punya anak hasil kecelakaan. Bimo percaya saja pada ucapan Arslan karena ia tahu betapa hancurnya Abel setelah kejadian taruhan itu.
Bimo mulai bergerak cepat. Ia menyewa sebuah private lounge untuk memberikan kesan eksklusif namun akrab. Bimo mulai menyusun acara, ia menyebar undangan dengan narasi "mengenang masa putih abu-abu".
Di sisi lain, Bimo merasa ini adalah cara terbaik untuk membayar dosa atas 30 juta yang dulu pernah mereka jadikan bahan taruhan. Baginya, uang itu tidak ada harganya dibandingkan kehancuran dua orang yang sebenarnya saling mencintai.
Keesokan paginya, sebuah undangan berwarna biru tiba di kediaman Laurent. Abel yang masih sibuk menimang Farel menyuruh Kakaknya untuk menerima paket dari kurir.
"Undangan atas nama lo." Reno melemparkan undangan tersebut ke atas meja.
Abel hanya melihat sekilas lalu tak acuh. "Biarkan sajalah, toh tidak penting."
Reno membuka sampul undangan tersebut dan membaca sekilas acara di atas undangan "Reuni mengenang masa putih abu-abu".
"Apa di acara ini si Kunyuk itu datang?" Tanya Reno sedikit kesal.
"Aku gak tahu Kak. Aku gak akan ikutan. Kalo aku ikut, siapa yang jaga Farel. Kakak akhir-akhir ini sibuk dan sering pulang dengan bau asap rokok."
Mendengar ucapan Abel, ada rasa bersalah dalam diri Reno. Adiknya tidak pernah menikmati harinya dengan baik. Abel selalu sibuk dengan kerjaan, mengurus Farel, dan mengingatkan dirinya tentang kesehatan. Reno merasa kasihan, ia merasa telah mengurus Abel dan merantai kaki adiknya.
"Berangkatlah, sekali-kali lo butuh hiburan." Suara Reno hampir tidak terdengar.
"Apa kakak bilang?"
"Sana ikut acara reuni, kamu butuh suasana baru. Farel biar Kakak yang urus. Bagaimanapun dia anak gue. Sana siap-siap, malam ini dandan yang cantik. Nanti jam 10 Kakak jemput kamu."
Abel memeluk Reno, "makasih ya Kak."
"Awas kalo lo macam-macam. Apalagi dekat-dekat sama si Arslan lagi. Gue gak suka!"
"Tapi aku suka, Kak." Abel berlari menghindari Reno. Tawa mereka kembali pecah seperti dulu.
Malam yang dijanjikan tiba. Arslan datang lebih awal. Ia tampil sangat rapi, mengenakan kemeja gelap yang pas di tubuh tegapnya. Aroma rokok yang biasanya melekat telah diganti dengan parfum woody yang maskulin. Ia berdiri di pojok ruangan, matanya tidak lepas dari pintu masuk.
Lalu, pintu terbuka.
Abel melangkah masuk, semua mata menatap kagum ke arah Abel. Si kutu buku itu tidak lagi menggunakan kacamata, rambut cokelat sebahunya dibiarkan tergerai indah. Ia mengenakan gaun midi berwarna hitam yang simpel namun memancarkan aura kelas atas. Kehadirannya seketika membuat riuh ruangan. Teman-teman lama mereka menghampiri Abel, namun mata Abel secara tidak sengaja langsung tertumpu pada satu titik.
Di sana, di bawah lampu remang, Arslan berdiri menatapnya dengan intensitas yang seolah bisa membakar seluruh ruangan.
"Abel, lo makin cantik aja! Dulu perasaan lo gak kayak gini deh. Gimana kabarnya?" tanya salah satu teman mereka.
"Baik, terimakasih atas pujiannya," jawab Abel ramah, meski jantungnya mulai berpacu liar. Ia melihat Bimo melambai padanya, memberikan kode untuk mendekat ke arah meja di mana Arslan berada.
Abel berusaha tetap tenang. Ia tidak tahu bahwa reuni ini adalah jebakan yang dirancang khusus untuknya. Ia melangkah mendekat, namun setiap langkahnya terasa seperti beban berat.
"Halo, Bimo, Dion, Raka, dan Dokter Arslan," sapa Abel dengan nada seformal mungkin saat mereka akhirnya berhadapan.
Arslan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap Abel dengan pandangan yang penuh luka, rindu, dan penyesalan. "Kamu datang," bisik Arslan parau.
"Bukankah ini acara angkatan. Kenapa aku harus tidak datang? Atau ini adalah acara di balik acara?" Sindir Abel, mencoba menutupi kegugupannya dengan ketajaman lidahnya.
Arslan mendekat, suaranya merendah agar tidak terdengar yang lain. "Bel, aku tahu aku nggak berhak. Tapi tolong, beri aku waktu lima menit. Di luar, atau di mana saja. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan sebelum aku benar-benar kehilangan akal ku."
Abel melihat tangan Arslan yang sedikit gemetar di atas gelas. Ego Abel berteriak untuk pergi, namun hatinya yang masih menyimpan bara cemburu dan rindu justru terasa berat untuk menolak.