Aruna Arabella, gadis cantik yang terlibat hubungan asmara dengan seseorang laki-laki tampan yang tak lain adalah kakak tirinya setelah sang mama memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang duda kaya, yang mempunyai seorang putra.
Aruna harus menelan pahitnya kehidupan di dalam keluarga nya, sang papa berselingkuh takala usia Aruna menginjak tujuh tahun, tak hanya itu, sang papa serta pelakor tersebut membawa kabur kakak laki-laki Aruna.
Setelah kejadian itu Aruna tingal bersama dengan mama nya, yang bekerja sebagai penjahit di sebuah butik kecil sederhana.
Karena kepintaran nya, Aruna di terima masuk di sebuah sekolah elite, ia mendapat beasiswa, di sanalah Aruna memulainya, kisah cinta dengan seorang laki-laki posesif yang ternyata adalah anak laki-laki dari pria yang menjadi papa sambung nya.
Dari sini lah kisah cinta terlarang itu di mulai ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Aruna sadar kalau selama ini ia telah begitu egois kepada sang mama, sampai di mana insiden yang menimpa sang mama hari ini membuat nya sadar kalau sang mama benar-benar membutuhkan tempat mengadu, teman untuk berbagi keluh kesah.
"Terima kasih banyak Aruna, om janji akan menjaga kalian dengan baik," kata om Firman.
"Sayang terima kasih banyak," ucap mama Dinda yang kemudian memeluk erat sang putri.
Rasanya kebahagiaan melanda secara tiba-tiba, meskipun harus menerima ujian yang luar biasa dulu.
"Kalau begitu, kita akan mengadakan pernikahan secepatnya, agar kalian bisa tinggal bersama om," kata Firman penuh semangat.
Mama Dinda mengangguk bahagia, sementara Aruna hanya tersenyum melihat sang mama bahagia.
"Mas, aku tidak ingin mengadakan resepsi, kita menikah di kantor catatan sipil saja, sudah tua begini aku tidak ingin terlalu mempersulit jalan pernikahan meskipun kau punya banyak uang aku khawatir jika banyak yang tau akan menimbulkan masalah untuk Aruna di sekolah, karena dia sebelumnya sudah sangat menderita di sekolah nya," ucap mama Dinda mulai mengajukan pendapat nya.
"Apa? Kenapa Aruna bisa mendapatkan banyak masalah di sekolah?" tanya papa Firman kebingungan.
"Ma, gak apa-apa kok kalaupun on Firman mau bikin resepsi, Aruna gak masalah kan udah biasa," kata Aruna sambil memegang tangan sang mama.
"Gak sayang, pernikahan ini di setujui oleh mu saja mama sudah sangat bahagia, mama tidak mau ada resepsi," jawab mama Dinda kekeh.
"Aku tidak tau kalau Aruna begitu kesulitan di sekolah nya, kedepannya aku tidak akan membiarkan ini terjadi lagi, baik lah, apapun yang kau inginkan, kita menikah di kantor catatan sipil saja aku tidak akan mempermasalahkan nya," papa Firman dengan segala rasa pengertian nya menyetujui apapun permintaan mama Dinda.
"Makasih ma," kata Aruna yang kemudian memeluk mama nya, betapa besar nya kasih sayang mama Dinda kepada Aruna sampai-sampai ia tak ingin resepsi pernikahan karena menghawatirkan sang anak.
Sementara papa Firman hanya tersenyum melihat kehangatan ibu dan anak yang ada di hadapannya saat ini.
"Seperti nya aku tidak salah memilih wanita, dia sangat menyayangi putri nya, sudah pasti dia juga bisa menyayangi Erlan dan bisa membuat Erlan merasakan kehangatan keluarga lagi," batin papa Firman.
"Udah, Aruna gak mau sedih lagi, kalian sebaiknya menikah secepatnya, Aruna gak mau di tunda-tunda lagi ya," kata Aruna sambil menghapus air mata nya.
"Lah kenapa sekarang malah kamu yang tidak sabar?" tanya sang mama bingung.
"Aruna juga pengen bisa manggil papa lagi," kata Aruna menutupi wajahnya karena malu dengan papa Firman.
Papa Firman yang mendengar itu pun seketika tertawa, begitu juga dengan mama Dinda.
Keesokan harinya.
Singkat cerita, karena tidak ingin menunda-nunda waktu terlalu lama, papa Firman pun memutuskan untuk menikahi mama Dinda, seperti permintaan mama Dinda, ia hanya ingin menikah di kantor catatan sipil saja tak ingin mengadakan resepsi apapun.
Hari ini Aruna memutuskan untuk tidak masuk sekolah karena mendampingi sang mama dan calon papa sambung nya pergi ke kantor catatan sipil.
Satu jam menunggu didepan kantor catatan sipil Aruna pun akhirnya melihat Dinda dan Firman melangkah keluar dari gedung tersebut dengan senyuman mengembang di kedua sudut bibir masing-masing, mereka memegang dua buku nikah dan juga bergandengan tangan.
"Mama udah?" tanya Aruna menatap wajah sang mama. Mama Dinda seketika memeluk erat Aruna dan kemudian menangis haru, ia kini telah benar-benar menikah dengan papa Firman.
"Aruna, mulai sekarang dia adalah papa mu," kata mama Dinda sambil melepaskan pelukannya dan menatap sang suami.
"Udah boleh mangil papa ya?" tanya Aruna lagi.
"Boleh sayang, dan mulai sekarang kalian tidak boleh tinggal di rumah itu lagi, kalian akan tinggal bersama papa, di rumah papa, dan jangan mencoba untuk menangis lagi," kata papa Firman yang kemudian menghapus air mata Aruna.
"Makasih banyak pa," ucap Aruna yang kemudian memeluk papa Firman.
Sungguh pemandangan yang selama ini di rindukan oleh mama Dinda, Aruna akhirnya bisa merasakan pelukan seorang papa lagi meskipun bukan papa kandung nya.
Bener jam kemudian setelah suasana haru papa Firman pun meminta mama Dinda dan Aruna untuk membereskan barang-barang yang perlu di bawa, siang ini juga mereka akan pindah dan tingal di rumah papa Firman.
"Ma, Aruna khawatir," kata Aruna sambil melipat pakaian nya.
"Kenapa lagi sayang? Kamu kan sudah melihat sendiri kalau papa mu itu sangat baik," ucap sang mama sambil membantu Aruna.
"Perasaan Aruna gak enak ma, tiba-tiba pindah rumah gini," jelas Aruna kepada sang mama.
"Sayang, sekarang mama sudah menjadi istri nya, tidak mungkin mama menolak untuk tinggal bersama, dia sendiri juga terlihat sangat menyayangi mu, oh ya mama kasih tau sesuatu, kamu akan punya seorang kakak laki-laki," ucap mama Dinda tersenyum sambil mencubit pipi Aruna.
"Apa? Kakak laki-laki? Om Firman punya anak?" tanya Aruna seketika berdiri dari duduknya.
"Iya sayang, maaf sebelumnya mama belum sempat mengatakan ini, tapi Om Firman bilang anak nya berusia dua puluh tahun, bukan kah selama ini kamu sangat menginginkan kakak? Anggap saja dia adalah kakak mu," ujar mama Dinda sambil memegang kedua pundak Aruna.
Seketika Aruna terdiam, perasaan nya semakin kacau dan bergemuruh setelah mendengar ucapan sang mama, dia baru tau kalau ternyata Firman punya seorang anak laki-laki.
"Astaga, kenapa harus punya anak sih?" batin Aruna.
"Ya sudah, segera bereskan ini, mama mau membantu papa mu memuat barang ke bagasi mobil," ucap sang mama yang kemudian berjalan pergi dari kamar Aruna.
Aruna kembali terduduk di ranjang nya, dia semakin gelisah memikirkan tentang Firman yang ternyata memiliki seorang putra, ia khawatir kalau-kalau anak nya Firman tak bisa menerima mereka dan memperlakukan mama nya dengan buruk ini sama saja akan menjebak mama nya ke lembah hitam yang baru.
"Gak gue gak boleh takut, kan ada gue, gue bisa jagain mama kalau dia gak suka sama mama tingal suruh mama cerai abis itu balik lagi ke sini, gak bisa biarin mama di tindas nantinya," batin Aruna yang berusaha menguatkan dirinya sendiri.
Ia pun membereskan barang-barang bawaan nya, dan berusaha tetap tenang menghadapi situasi seperti ini. Saat semuanya sudah selesai, Aruna pun hendak berjalan keluar dari kamar nya, namun ia tampa sengaja menjatuhkan bingkai foto yang ada di atas meja belajar dalam kamar tersebut.
Ia pun kemudian mengambil bingkai foto tersebut dan menyadari kalau itu adalah foto dirinya dan juga Reyhan semasa mereka baru masuk SMA, seketika hati nya menjadi sakit kembali, mengingat persahabatan mereka yang hancur begitu saja hanya karena kelicikan Vani.
****
sama aja kek Vani ,gak jelas apa mau nya.dulu Aruna dihina karena dekat ma dia,sekarang udah jauh Deket ma Erlan juga salah.mau nya kalian apa sih...
Aruna udah jauh dari Reyhan pun Lo gak puas...
Aruna Deket cowo lain Lo pun sewot...
gak jelas juga itu otak lho 🤣🤣🤣
jiaaah nih bocah cowo kudu di jitak kepalanya...
buat anak gadis orang cenat cenut aja
🤣🤣🤣🤣
jangan Ngadi Ngadi ya bocil 🤣🤣🤣
jagain Baek Baek tuh adek ketemu gede
kk dan adik udah biasa berantem ajaa,saling jahil.abg ku aja yang paling besar suka nyelipin kepala ku di keteknya ,kayak miting gtu.padahal aku udah punya anak.auto ngamuk aku,dianya malah lari keliling rumah