NovelToon NovelToon
SAUH (HTS Kandung)

SAUH (HTS Kandung)

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Idola sekolah
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Asry Ulfa

Kenan tahu diri. Dengan badan yang "lebar" dan jerawat yang lagi subur-suburnya, dia sadar bahwa mencintai Kala—sang primadona sekolah—adalah misi bunuh diri. Namun, lewat petikan gitar dan humor recehnya, Kenan berhasil masuk ke ruang paling nyaman di hidup Kala.
​Magang menyatukan mereka, melodi lagu mengikat perasaan mereka. Saat Kenan mulai bertransformasi menjadi idola baru yang dipuja-puja, dia justru menemukan fakta pahit: Kala sedang menjaga hati untuk seorang lelaki manipulatif yang bahkan tak pernah menganggapnya ada.
​Bertahun-tahun berlalu, jarak Yogyakarta - Padang menjadi saksi bagaimana rasa yang tak pernah terucap itu perlahan mendingin. Sebuah lagu lama yang tiba-tiba viral menjadi jembatan rindu yang terlambat. Saat Kenan akhirnya menemukan "kembaran" Kala pada wanita lain, dan Kala dipaksa menyerah pada perjodohan, apakah melodi mereka masih punya tempat untuk didengarkan?
​"Kita dulu sedekat nadi, sebelum akhirnya kau memilih menjadi asing yang paling aku kenali."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asry Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sate Padang Penghianat

Kenan berdiri di depan cermin lemari pakaiannya dengan napas tertahan. Dia sedang mencoba melakukan sebuah atraksi berbahaya: mengancingkan celana seragam Sekolah yang entah kenapa terasa makin menciut setelah dicuci emaknya.

​"Aish... tak bisa napas aku dibuatnya. Masa iya mesin cuci di rumah bisa bikin celana mengecil?" gumam Kenan sambil berjuang keras mengaitkan kancing besi itu.

​Wajahnya sudah merah padam. Begitu kancingnya berhasil "klik", Kenan mengembuskan napas lega, tapi sial—kancingnya lepas lagi dan terpelanting mengenai kaca lemari. Ting!

​"Mak! Celana Kenan kena sihir!" teriaknya frustrasi.

​"Bukan kena sihir, badan kau itu yang makin melebar macam adonan donat! Makanya, kalau malam jangan makan martabak terus!" sahut emaknya dari dapur, suaranya melengking menembus dinding kamar.

​Kenan akhirnya menyerah. Dia memakai ikat pinggang ekstra kencang untuk menutupi kancing yang tak bisa dipasang itu. Hari ini dia punya misi besar. Dia sudah membeli sabun cuci muka merek terkenal yang iklannya bilang bisa menghilangkan jerawat dalam tiga hari. Dia juga sudah berniat tidak akan jajan di kantin.

*******

​Sesampainya di sekolah, Kenan langsung disambut oleh pemandangan yang merusak mood paginya. Di depan kelas TKJ—kelasnya Kala—terlihat kerumunan budak-budak lelaki kelas tiga yang sok paten. Di tengah-tengah mereka ada Kak Andre, kapten tim basket sekolah yang rambutnya selalu klimis kena minyak rambut orang kaya.

​Kak Andre terlihat sedang memberikan minuman susu kotak dan roti cokelat ke meja Kala.

​"Kala, diminum ya susunya. Biar makin semangat belajarnya," kata Kak Andre dengan suara berat yang dibuat-buat biar terdengar keren.

​Kala hanya tersenyum sopan—senyum yang menurut Kenan terlalu manis untuk dibagikan ke sembarang orang. "Makasih ya, Kak. Tapi repot-repot banget."

​Kenan yang melihat dari kejauhan, hanya bisa bersandar di tiang koridor sambil memegang dadanya yang sesak. Bukan karena asma, tapi karena minder yang kuadrat.

​"Tengok tu, Nan. Saingan kau levelnya kapten basket. Kau? Kapten makan kerupuk di kantin pun tak layak," bisik Jovan yang tiba-tiba muncul seperti hantu di sebelah Kenan.

​"Diamlah kau, Van. Aku lagi menyusun strategi ini. Strategi perang gerilya," balas Kenan ketus.

​"Gerilya apa? Gerilya ke tukang siomay? Eh, kau katanya mau diet? Itu apa yang menonjol di saku celana kau?" Jovan menunjuk saku celana Kenan.

​Kenan tersentak, dia meraba sakunya. "Ini... ini cuma cadangan energi. Mana tahu nanti ada gempa bumi dan kita terjebak di kelas, aku punya cokelat buat bertahan hidup."

​Jovan memutar bola matanya. "Alasan! Dah lah, ayo masuk kelas. Bu Nurul sudah jalan ke arah sini. Kalau kau telat, habis kau disuruh hitung saldo rugi laba seumur hidup."

*******

​Jam istirahat adalah waktu yang paling berat buat Kenan. Perutnya sudah mulai konser musik rock, minta diisi. Tapi demi harga diri di depan Kala, dia memutuskan untuk duduk di tribun lapangan basket, pura-pura membaca buku Biologi. Kenapa Biologi? Karena dia tahu Kala suka pelajaran itu.

​Tiba-tiba, Maura dan Elin lewat di depan Kenan, diikuti oleh Kala di belakangnya.

​"Eh, Kenan! Rajin betul kau, Nan. Anak Akuntansi belajar Biologi buat apa? Mau menghitung jumlah sel darah merah yang hilang pas lagi patah hati ya?" goda Elin sambil tertawa.

​Kenan langsung menutup bukunya dengan canggung. "Eh, bukan gitu, Lin. Ini... aku cuma pengin tahu saja, gimana cara kerja jantung. Biar aku paham kenapa kalau dekat orang tertentu, jantungku rasanya mau melompat keluar."

​Maura langsung menyenggol lengan Kala. "Cieee... kodenya keras betul itu, Kal!"

​Kala hanya tertawa kecil, pipinya sedikit bersemu merah. "Kenan bisa aja. Tapi beneran lho, Biologi itu seru. Kalau kamu bingung bab pembelahan sel, tanya aja ke aku. Jangan tanya ke Jovan, dia taunya cuma pembelahan sel bakwan di kantin."

​Kenan merasa melayang. "Boleh, Kal? Serius? Nanti... nanti aku chat ya kalau ada yang tak paham."

​"Boleh dong. Eh, tapi kamu nggak makan, Nan? Kok di sini aja?" tanya Kala perhatian.

​"Lagi diet, Kal. Biar lebih sehat sikit," jawab Kenan sambil menahan perutnya yang baru saja berbunyi kruyuukk dengan sangat keras.

​Suasana mendadak hening. Elin dan Maura menahan tawa, sementara Kala menutup mulutnya dengan tangan.

​"Itu... bunyi perut kamu ya, Nan?" tanya Kala polos.

​Kenan rasanya ingin menghilang ke pusat bumi saat itu juga. "Bukan, Kal. Itu... itu tadi ada suara gesekan ban motor di jalan raya. Kuat betul ya suaranya sampai ke sini."

​"Hahaha! Kenan, Kenan... bohongnya tak paten!" Elin tertawa ngakak. "Sudahlah, yuk Kal, kita ke kantin. Nan, kalau haus, minum air keran aja ya biar dietnya sukses!"

​Kala melambai kecil. "Duluan ya, Nan. Jangan sampai pingsan lho!"

​Setelah mereka menjauh, Kenan langsung merosot di tribun. "Aduh, malunya aku, Mak! Kenapa perut ini tak bisa diajak kerja sama sikit?"

​Baru saja dia mau meratapi nasib, aroma sate padang yang dibawa lewat oleh seorang adik kelas menusuk indra penciumannya. Pertahanan Kenan runtuh sekejap. Prinsip diet yang dia bangun sejak jam 7 pagi tadi hancur berkeping-keping.

​"Dek! Satenya beli di mana? Masih ada?" tanya Kenan setengah berlari.

*******

​Sore harinya, setelah pulang sekolah, Jovan diajak Kenan ke salah satu tempat fotokopi di depan gang rumah Kala. Alasannya mau fotokopi tugas, padahal Kenan cuma mau curi-curi pandang ke arah rumah Kala.

​Sambil menunggu tukang fotokopi selesai bekerja, Kenan duduk di bangku panjang. Dia mengeluarkan handphone Nokia jadulnya, membuka aplikasi SMS, dan mengetikkan nama 'Kala'.

​Dia mengetik: Kal, lagi apa? Tadi aku beneran belajar Biologi lho, bukan pura-pura.

​Tapi tangannya gemetar. Dia menghapus pesan itu.

Ganti lagi: Kala, tadi sate padangnya enak. Eh, maksudku, tadi kamu cantik banget pas ketawa.

​Dihapus lagi. "Ah, bodohnya aku! Masa bilang dia cantik lewat SMS. Nanti dia pikir aku cowok agresif," gumamnya.

​"Nan, kau ini kenapa? Dari tadi ketik, hapus, ketik, hapus. Macam orang lagi ngetik skripsi saja," tegur Jovan.

​"Aku bingung mau chat apa ke Kala, Van. Aku takut salah bicara."

​"Dah lah, Nan. Kau itu terlalu banyak berpikir. Nih, tengok!" Jovan tiba-tiba merebut hp Kenan dan dengan cepat mengetik sesuatu lalu menekan tombol send.

​Kenan melotot. "Woi! Kau kirim apa, Van?!"

​Kenan merebut hp-nya kembali. Jantungnya hampir berhenti saat membaca pesan yang terkirim: "Kal, aku Kenan. Cuma mau tanya, kalau jerawat di hidung itu pertanda ada yang rindu, berarti kalau jerawatku banyak, yang rindu ke aku ada satu kelurahan ya?"

​"JOVAAANN!!! MATI AKU!" teriak Kenan histeris.

​"Tenang, Nan. Itu namanya ice breaking. Kalau dia ketawa, berarti dia nyaman sama kau," kata Jovan dengan wajah tanpa dosa.

​Dua menit berlalu. Lima menit. Kenan mondar-mandir di depan mesin fotokopi sampai tukang fotokopinya pening melihatnya.

​Ting! Ada SMS masuk.

​Kenan membukanya dengan tangan gemetar.

Dari: Kala

"Hahaha, bisa jadi, Nan! Mungkin satu kelurahan lagi demo karena kamu lucu banget hari ini. Semangat ya dietnya, jangan sampai 'suara ban motor' bunyi lagi besok! :)"

​Kenan terpaku. Dia tidak membalas pesan itu, tapi dia tersenyum lebar. Sangat lebar sampai-sampai Jovan merasa ngeri melihatnya.

​"Gimana? Berhasil kan strategi aku?" Jovan membanggakan diri.

​"Van, besok aku mau beli sabun muka yang lebih mahal. Sama minyak wangi yang baunya sampai ke kelas sebelah," ujar Kenan penuh semangat.

*******

​Malam itu, Kenan kembali memetik gitarnya. Kali ini dia mencoba menyanyikan lagu Lyla yang baru dia dengar di radio.

​"Karena kamu cantik...

Kan kuberi segalanya apa yang kupunya..."

​Dia menyanyi dengan penuh perasaan, membayangkan wajah Kala di antara bintang-bintang di langit Riau. Dia merasa punya harapan. Dia tidak tahu kalau di saat yang sama, Kala sedang duduk di depan teras rumahnya, menatap layar hp-nya yang menunjukkan foto seorang cowok bernama Revan.

​Kala menghela napas, bergumam pelan, "Revan... kamu lagi apa di sana? Kok pesanku belum dibalas?"

​Di dunia Kenan, semuanya sedang berwarna merah jambu. Di dunia Kala, ada kegalauan yang Kenan belum ketahui. Dan di kejauhan, takdir sedang mempersiapkan babak baru bernama "Magang" yang akan menyatukan atau justru menghancurkan perasaan yang baru tumbuh itu.

1
Erni Fitriana
mampirrrr...mampirrrr
Jumi Saddah
moga cerita ini banyak peminat nya,,seperti nya kisah ini asyik deh,,
Riry AU: aamiin, terimakasih sudah mampir kakak 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!