Deskripsi Novel: Pantaskah Aku Bahagia
"Dunia melihatku sebagai badai, tanpa pernah mau tahu betapa hancurnya aku di dalam."
Lahir sebagai saudara kembar seharusnya menjadi anugerah, namun bagi Alsya Ayunda Anantara, itu adalah kutukan yang tak kasat mata. Di mata orang tuanya, dunia hanya berputar pada Eliza Amanda Anantara—si anak emas yang sempurna, cantik, dan selalu bisa dibanggakan. Sementara Alsya? Ia hanyalah bayang-bayang yang dipandang sebelah mata, dicap sebagai gadis pemberontak, jahat, dan tukang bully.
Di balik tawa cerianya yang dianggap palsu, Alsya menyimpan luka yang menganga. Ia hanya ingin dicintai. Ia hanya ingin diperhatikan. Itulah alasan mengapa ia begitu terobsesi mengejar Revaldi Putra Raharja. Baginya, memiliki Revaldi adalah cara untuk membuktikan bahwa ia jadi berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: TAMU DARI MASA LALU
Suasana di SMA Merdeka mendadak heboh saat sebuah mobil khusus penyandang disabilitas berhenti di depan gerbang. Dari dalamnya, seorang pemuda seumuran mereka turun dengan bantuan kursi roda. Wajahnya pucat, namun tatapannya tajam dan penuh kepahitan.
Dia adalah Rian, sosok yang selama ini menjadi alasan Samudera dihantui rasa bersalah.
Di kantin, Samudera yang sedang tertawa bersama Alsya tiba-tiba membeku. Gelas es teh di tangannya hampir terlepas saat melihat sosok itu didorong oleh Revaldi masuk ke area kantin.
"Rian?" bisik Samudera, suaranya tercekat di tenggorokan.
Seluruh kantin mendadak sunyi. Alsya menatap pemuda di kursi roda itu, lalu menatap Samudera yang kini gemetar hebat. Ini pertama kalinya Alsya melihat Samudera begitu ketakutan—bukan takut karena ancaman fisik, tapi takut karena dihantui oleh dosanya sendiri.
"Halo, Sam. Lama nggak ketemu," ucap Rian dengan suara yang serak dan getir. "Gue denger loe udah dapet kehidupan baru yang indah di sini. Punya pacar cantik, punya kebebasan... sementara gue? Loe bisa lihat sendiri kondisi gue."
Revaldi menyeringai di belakang kursi roda Rian. "Sya, loe harus kenal sama Rian. Dia ini sahabat Samudera yang kakinya hancur karena Samudera pengen banget menang balapan liar demi uang taruhan. Samudera nggak pernah cerita kan kalau dia sengaja nyenggol motor Rian biar dia bisa finish duluan?"
"BOJONG!" teriak Samudera. "Gue nggak pernah sengaja nyenggol loe, Rian! Itu kecelakaan!"
Rian tertawa, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Kecelakaan? Loe ambisius, Sam. Loe butuh uang itu buat bayar utang bokap loe yang hancur karena judi waktu itu. Loe tega korbanin gue demi ego loe! Dan sekarang, loe hidup bahagia di atas penderitaan gue?"
Alsya menatap Samudera, mencari bantahan di matanya. Namun, Samudera hanya menunduk dalam. Rasa bersalah yang selama ini dia kubur dalam-dalam kini meledak keluar.
"Sam, apa itu bener?" tanya Alsya lirih. "Loe sengaja lakuin itu?"
"Sya... gue..." Samudera tidak sanggup menjawab. Kejadian malam itu begitu kacau di ingatannya. Yang dia tahu, dia memang memacu motornya terlalu kencang dan kecelakaan itu terjadi.
Eliza muncul dari kerumunan, berdiri di samping Rian. "Lihat kan, Sya? Orang yang loe bela mati-matian ini sebenernya monster. Dia bukan cuma 'berandalan', dia penghancur hidup orang. Apa loe masih mau tinggal di bengkel kumuh sama orang yang tega bikin temennya sendiri lumpuh?"
Rian menatap Alsya dengan tatapan memohon yang palsu, hasil arahan Revaldi. "Tolong, jangan biarkan dia menipu kamu seperti dia menipu aku dulu. Dia cuma butuh perlindungan kamu supaya dia nggak dipenjara kalau aku lapor polisi lagi."
Alsya merasakan kepalanya berputar. Dia mencintai Samudera, tapi kenyataan di depannya sangat mengerikan. Namun, di tengah kekacauan itu, Alsya melihat sesuatu yang ganjil. Dia melihat Revaldi memberikan sebuah amplop tebal ke saku jaket Rian secara sembunyi-sembunyi.
Alsya mengatur napasnya. Dia tidak ingin menjadi korban manipulasi lagi. Dia berjalan mendekati Rian, menatap matanya dalam-dalam.
"Rian, gue turut prihatin soal kondisi loe," ucap Alsya tenang. "Tapi gue mau nanya satu hal. Kalau Samudera emang sejahat itu, kenapa selama dua tahun ini dia diem-diem kirim seluruh uang hasil kerjanya ke rekening rumah sakit loe? Kenapa dia rela dibuang keluarganya asal pengobatan loe tetep jalan?"
Rian tertegun. Dia tidak menyangka Alsya tahu soal itu. Revaldi dan Eliza juga tampak kaget.
"Loe tahu dari mana soal itu?" tanya Samudera tak percaya.
"Gue lihat catatan transfer di tas loe waktu kita di bengkel, Sam. Gue nggak sengaja lihat," Alsya tersenyum tipis ke arah Samudera, lalu kembali menatap Rian. "Rian, jangan biarkan kebencian loe dimanfaatin sama orang-orang jahat kayak Revaldi.
Samudera emang salah karena balapan liar, tapi dia udah bayar harganya setiap hari dengan rasa bersalahnya."
Rian terdiam. Dia melirik ke arah Revaldi, lalu ke arah amplop di sakunya. Rasa malu mulai menyelimuti wajahnya.
Alsya ternyata jauh lebih teliti dari yang mereka duga!
Apakah Rian akan mengakui kalau dia disuap oleh Revaldi untuk memfitnah Samudera lebih jauh? Dan bagaimana reaksi Samudera melihat Alsya yang begitu percaya padanya?
Bersambung..