Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.
Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.
Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema Pertama di Atas Panggung
Matahari terbit di Puncak Awan Hijau, mengubah kabut pagi menjadi uap emas yang memeluk arena pertarungan.
Hari Ujian Murid Luar telah tiba.
Alun-alun sekte yang biasanya sepi kini berubah menjadi lautan manusia. Ribuan Murid Pelayan berdesak-desakan dengan wajah tegang. Di tribun kehormatan, para Tetua Sekte duduk di kursi kayu cendana, memandang ke bawah dengan tatapan menilai—seperti dewa yang memilih persembahan terbaik.
Ren Zhaofeng berdiri di barisan paling belakang, terpisah dari kerumunan. Pakaian murid pelayannya yang sederhana kontras dengan seragam tempur warna-warni yang dikenakan peserta lain. Kain putih penutup matanya berkibar pelan tertiup angin gunung.
"Peserta nomor 405, maju!"
Suara pengawas ujian menggema, diperkuat oleh Qi.
Ujian Tahap Pertama bukanlah pertarungan, melainkan Tes Kekuatan Murni. Sebuah Pilar Batu Hitam setinggi dua meter berdiri di tengah panggung. Peserta harus memukulnya. Jika pilar bersinar putih, artinya lulus (Kekuatan setara Tahap 2). Jika kuning, memuaskan (Tahap 3). Jika merah, jenius (Tahap 4 ke atas).
"Hiaaa!"
Seorang murid bertubuh besar memukul pilar itu. DUG! Cahaya putih redup menyala.
"Lulus! Berikutnya!"
Zhaofeng mendengarkan dengan seksama. Dia tidak melihat cahaya, tapi dia mendengar suara pilar itu. Setiap pukulan menghasilkan nada. Nada rendah berarti tenaga dalam yang kuat. Nada tinggi berarti tenaga luar yang kasar.
"Minggir! Minggir!"
Kerumunan membelah. Li Dong berjalan maju dengan dagu terangkat, diikuti oleh sorak-sorai penjilatnya. Dia melirik ke arah Zhaofeng di kejauhan dengan senyum mengejek sebelum naik ke panggung.
Li Dong mengambil kuda-kuda, mengumpulkan Qi di tinju kanannya. Otot-ototnya membesar.
"PECAH!"
BLAM!
Suara hantaman itu berat dan memekakkan telinga. Pilar Batu Hitam bergetar hebat, dan cahaya Kuning Terang (Hampir Merah) memancar keluar.
"Li Dong! Kekuatan 450 Jin! Penempaan Tubuh Tahap 4 Puncak!" seru pengawas dengan nada kagum.
Tepuk tangan membahana. "Hebat! Kakak Li pasti masuk 10 besar kali ini!"
Li Dong turun panggung dengan bangga. Dia sengaja berjalan melewati Zhaofeng dan berbisik, "Lihat itu, Buta? Itu kekuatan. Sesuatu yang tidak akan pernah kau miliki."
Tak lama kemudian, giliran Wang Gang. Pria ini tidak banyak gaya. Dia hanya berjalan santai, memukul pilar itu dengan satu tangan tanpa kuda-kuda.
BOOM!
Cahaya Merah menyala.
"Wang Gang! Kekuatan 600 Jin! Penempaan Tubuh Tahap 5!"
Para Tetua di tribun mengangguk-angguk. "Wang Gang bibit bagus. Tahun depan mungkin dia bisa mencoba ujian Murid Dalam."
Akhirnya, setelah ratusan peserta...
"Nomor 999. Ren Zhaofeng!"
Suana mendadak hening, lalu berubah menjadi bisik-bisik geli.
"Si Penyapu Buta itu benar-benar ikut?" "Dia mau memukul apa? Udaranya?" "Hahaha, awas jangan sampai dia menabrak pilar!"
Zhaofeng berjalan naik ke panggung. Langkahnya tenang, tongkat penuntunnya mengetuk lantai kayu dengan irama tuk... tuk... tuk... yang anehnya menenangkan kegaduhan penonton.
Dia berdiri di depan pilar batu.
Dia tidak memiliki otot besar seperti Li Dong. Dia tidak memiliki Qi melimpah seperti Wang Gang. Dia hanya berada di Tahap 2. Secara teori, kekuatannya hanya sekitar 200 Jin. Pas-pasan.
Tapi Zhaofeng tidak berniat menggunakan tenaga kasar.
Dia menempelkan telinganya ke permukaan batu itu sejenak, lalu mengetuknya pelan dengan jari.
Ting.
"Apa yang dia lakukan? Dia mau mencium batu itu?" ejek seseorang.
Zhaofeng tersenyum tipis. Dia sudah menemukan "Frekuensi Resonansi" batu ini. Struktur di dalamnya padat, tapi ada satu titik di bagian tengah yang lebih rapuh dari sisanya.
Zhaofeng menarik kepalan tangannya. Dia tidak mengambil ancang-ancang jauh. Ini adalah teknik Pukulan Satu Inci yang dia adaptasi dari cara pedangnya memotong udara.
Dia memusatkan seluruh tenaga Tahap 2-nya ke satu titik di buku jarinya, lalu mengirimkan getaran spiral saat memukul.
Dug.
Suaranya pelan. Tidak ada ledakan. Tidak ada guncangan hebat.
Penonton terdiam, siap menertawakan kegagalan itu. Li Dong sudah membuka mulutnya untuk mengejek.
Namun tiba-tiba...
Wuuuuunnnggg...
Pilar batu itu mulai berdengung. Suaranya semakin lama semakin keras, seperti lonceng raksasa yang dipukul dari dalam.
Cahaya Putih menyala. Lalu berkedip menjadi Putih Menyilaukan.
"Lulus...?" Pengawas ujian mengerutkan kening, bingung. "Kekuatan... 205 Jin. Lulus pas-pasan."
Penonton tertawa lega. "Hahaha! Cuma 200 Jin! Suaranya saja yang aneh, tenaganya kerupuk!"
Zhaofeng tidak peduli. Dia membungkuk hormat dan turun panggung.
Namun di tribun atas, seorang Tetua berjubah abu-abu—Tetua Pedang—menyipitkan matanya. Dia melihat sesuatu yang tidak dilihat murid lain. Di permukaan batu tempat Zhaofeng memukul, tidak ada retakan besar... tapi ada lekukan kecil sedalam satu inci berbentuk kepalan tangan yang tercetak sempurna.
"Tenaga Penembus..." gumam Tetua itu. "Anak itu tidak memukul permukaannya. Dia memukul isinya."
Sesi Kedua: Duel Eliminasi.
Zhaofeng lolos ke babak pertarungan. Lawan pertamanya diundi.
"Arena 4: Ren Zhaofeng VS Zhao Tuan!"
Zhao Tuan adalah seorang murid bertubuh gemuk dengan kapak ganda. Kultivasinya Tahap 3 Awal. Dia dikenal brutal.
"Wah, aku dapat bonus!" seru Zhao Tuan sambil melompat ke arena. Dia memutar-mutar kapaknya. "Hei Buta, menyerahlah. Aku tidak tega memotong orang cacat."
Zhaofeng berdiri diam. Tangan kanannya memegang gagang Pedang Karat di pinggangnya, tapi belum mencabutnya.
"Mulai!"
HIAAA!
Zhao Tuan menerjang seperti badak. Kapaknya mengayun horizontal, berniat menebas pinggang Zhaofeng.
Di telinga Zhaofeng, serangan itu penuh celah. Napas Zhao Tuan berat di sisi kiri. Langkah kakinya terlalu menekan tumit.
Dia lambat.
Zhaofeng tidak bergerak sampai kapak itu berjarak satu jengkal dari bajunya.
Saat penonton berteriak ngeri, Zhaofeng menghentakkan kaki kirinya.
Teknik Langkah Pedang Hantu: Langkah Satu - Suara Palsu.
BLAM!
Suara hentakan itu terdengar seperti dia melompat ke kiri. Zhao Tuan secara refleks menggeser pandangannya ke kiri.
Tapi Zhaofeng meluncur ke kanan.
Tubuhnya miring, menghindari bilah kapak dengan margin tipis. Tangan kanannya bergerak secepat kilat.
Sring!
Pedang Karat tercabut setengah, gagangnya menghantam pergelangan tangan Zhao Tuan, lalu sarungnya menyodok ulu hati lawan.
BUKK!
"Ukh!"
Zhao Tuan terbatuk, matanya melotot. Dia kehilangan tenaga seketika dan jatuh berlutut, muntah air asam.
Zhaofeng sudah berdiri di belakangnya, pedangnya kembali tersarung sempurna dengan bunyi Klik.
"Pemenang: Ren Zhaofeng!"
Hening.
Pertarungan itu berlangsung kurang dari tiga detik.
"Apa yang terjadi?" "Si Gemuk itu terpeleset?" "Tidak... si Buta itu... gerakannya aneh."
Li Dong yang sedang bersiap di arena sebelah menatap Zhaofeng dengan wajah kaku. Keringat dingin menetes di pelipisnya.
Dia mengenali gerakan itu. Itu bukan keberuntungan. Itu adalah teknik.
Zhaofeng turun dari arena dengan tenang, seolah dia baru saja selesai menyapu halaman, bukan mengalahkan musuh yang setingkat lebih tinggi darinya.
Namun, di sudut pendengarannya, Zhaofeng merasakan tatapan tajam yang membakar.
Wang Gang sedang menatapnya dari ruang tunggu peserta unggulan. Aura niat membunuhnya begitu kuat hingga Zhaofeng bisa mendengarnya berdesis seperti ular.
"Tunggu giliranmu," batin Zhaofeng dingin. "Panggung ini baru saja dimulai."
💪