Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.
Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tim utama kekaisaran.
Pagi terakhir sebelum kompetisi dimulai menyapa Kota Kekaisaran Zhonghua dengan langit yang begitu jernih, seolah-olah semesta memberikan ketenangan palsu sebelum badai darah pecah di Lembah Kabut Kematian. Di halaman belakang kamp kayu tim Tian Meng, embun masih betah bertengger di pucuk-pucuk rumput.
Xiao Bai, dengan keranjang rotan besar di pelukannya, berjalan kecil menuju deretan jemuran. Rambutnya diikat asal, memperlihatkan tengkuknya yang putih terkena sinar matahari pagi. Ia mulai menjereng satu per satu jubah cadangan milik Zhou Yu, Yan Xu, dan tentu saja jubah perak besar milik Wang Da yang beratnya bukan main.
"Huft... kenapa jubah Wang Da selalu berbau seperti karat besi dan keringat kerbau?" gumam Xiao Bai sambil mengibaskan kain lebar itu ke udara.
Tanpa ia sadari, di balik pilar kayu berukir, sesosok tubuh besar sedang berjongkok dengan seringai jahil. Wang Da sudah bangun sejak fajar, dan melihat Xiao Bai yang sibuk sendirian, insting jahilnya meronta-ronta.
“Hehe, lihat saja. Si Putih ini kalau ketakutan pasti wajahnya akan berubah jadi lebih putih dari kain yang ia jemur. Aku akan membuatnya melompat sampai ke atap,” batin Wang Da sambil terkekeh tanpa suara. Ia memberi isyarat ke arah jendela lantai dua, tempat Su Lin sedang bermeditasi.
Tiba-tiba, suasana yang tenang itu berubah drastis. Angin yang tadinya sepoi-sepoi mendadak menjadi tajam dan menggigit. Suhu turun dalam hitungan detik hingga mencapai titik beku. Kristal es tipis mulai merambat di tali jemuran, dan kabut putih misterius mulai muncul dari sela-sela pakaian yang basah.
Xiao Bai membeku. Tangannya yang hendak menjemur jubah Yan Xu terhenti di udara. "D-dingin... kenapa tiba-tiba seperti di puncak gunung es?"
Udara semakin mencekam. Xiao Bai, yang pada dasarnya memang penakut, langsung memeluk tumpukan kain di dadanya. Matanya berkedik ngeri, memandang ke sekeliling halaman yang mendadak sunyi. Tepat di balik selembar sprei putih yang berkibar pelan tertiup angin es, ia melihat sebuah bayangan hitam yang tinggi dan tidak wajar. Bayangan itu bergerak perlahan, merayap di atas kain putih, menyerupai tangan-tangan panjang yang hendak mencengkeramnya.
"Siapa... siapa di sana?" suara Xiao Bai bergetar hebat. Lututnya mulai lemas. "kak Zhou Yu? Kak Yan Xu? Jangan bercanda..."
Dengan kaki gemetar yang hampir tidak bisa menumpu berat tubuhnya sendiri, Xiao Bai memberanikan diri. Ia melangkah perlahan, mendekati sprei putih itu. Ia ingin memastikan bahwa itu hanya imajinasinya. Saat tangannya yang pucat menyentuh pinggiran kain...
"WAAAAAAARGH!!"
Wang Da melompat dari balik kain dengan wajah yang ditarik sedemikian rupa hingga terlihat seperti iblis gunung yang haus darah. Matanya melotot, dan ia mengeluarkan raungan yang mengguncang halaman.
"KYAAAAAAA!!" Xiao Bai menjerit histeris. Ia terlempar ke belakang, jatuh terduduk di atas rumput. Wajahnya seketika memucat seputih salju, matanya terbelalak karena terkejut yang teramat sangat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa bisa pingsan saat itu juga.
Wang Da, melihat reaksi ketakutan itu, langsung jatuh terduduk dan tertawa terbahak-bahak. "Hahahaha! Kau... kau harus lihat wajahmu, Xiao Bai! Putih sekali! Seperti mayat hidup! Hahahaha!"
Tawa Wang Da hanya bertahan lima detik. Sebuah bayangan tinggi kini benar-benar merayap di depannya, tapi kali ini bukan bayangan hantu, melainkan bayangan kemarahan yang luar biasa.
Xiao Bai berdiri. Wajahnya yang tadi pucat kini berubah menjadi merah padam karena amarah yang meledak. Ia melihat sekeliling, lalu dengan sigap menaiki keranjang rotan besar miliknya hanya untuk menambah ketinggian agar bisa menatap mata Wang Da.
"WANG DA!! KAU... KAU PRIA BODOH, KERBAU TIDAK BEROTAK, RAKSASA KURANG PEKERJAAN!!" teriak Xiao Bai dengan suara melengking yang memecah keheningan pagi. "KAU TAHU AKU BISA MATI SERANGAN JANTUNG?! KAU PIKIR INI LUCU?! KAU PIKIR AKU INI MAINANMU?!"
Wang Da yang tadinya tertawa, seketika bungkam. Ia melihat aura api (meski ia bukan pengguna elemen api) yang seolah-olah keluar dari kepala Xiao Bai. Nyalinya ciut seketika. "Eh... Xiao Bai, tenang dulu... itu cuma bercanda..."
"TIDAK ADA TENANG-TENANG!" Xiao Bai melompat turun dari keranjang, menyambar sebuah balok kayu pengganjal jemuran yang cukup besar.
"Ampun! Xiao Bai, ampun!" Wang Da langsung berlutut dengan posisi memelas, tangannya terkatup di depan dada. "Aku khilaf! Aku tidak sengaja!"
Tapi Xiao Bai tidak mendengar. Ia mengayunkan balok kayu itu dengan tenaga yang luar biasa untuk ukuran gadis kecil. Wang Da segera bangkit dan lari terbirit-birit mengelilingi halaman. "ZHOU YU! TOLONG AKU! TABIB INI MAU BERUBAH JADI PEMBANTAI!"
Zhou Yu yang sedang duduk bermeditasi di dalam kamar terbangun karena keributan itu. Ia berjalan menuju jendela dan membukanya sedikit. Di bawah sana, ia melihat pemandangan absurd, kakak besarnya, seorang pria perkasa yang tingginya hampir dua meter, sedang dikejar-kejar oleh gadis mungil yang membawa balok kayu.
Zhou Yu hanya menggelengkan kepala, namun sebuah senyum tipis,hampir tak terlihat, muncul di wajahnya. "Setidaknya suasana hatinya sudah membaik," gumamnya pelan.
Di pintu depan kamp, Yan Xu keluar dengan rambut berantakan. Ia meledakkan energi apinya sedikit untuk mengusir kantuk. "WOI! SIAPA YANG BERTERIAK PAGI-PAGI BEGINI?! AKU SEDANG BERMIMPI MAKAN-"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Xiao Bai menoleh ke arahnya dengan tatapan yang sangat menyeramkan. Balok kayunya berlumuran debu. "KAU MAU IKUT CAMPUR, YAN XU?!"
Yan Xu menelan ludah. "E-eh... maaf. Lanjutkan. Aku lupa kalau aku belum sikat gigi." Ia langsung mundur dan menutup pintu kamp dengan sangat sopan dan perlahan.
Wang Da yang terus berlari menoleh ke belakang, tidak memperhatikan langkahnya. Tiba-tiba kakinya tersangkut akar pohon yang menonjol. "Waduh!"
BRUK!
Wang Da terjatuh telentang dengan suara dentuman keras. Xiao Bai yang sedang berlari kencang tidak bisa mengerem. Ia tersandung kaki Wang Da yang besar dan tubuhnya melayang jatuh tepat di atas dada Wang Da.
Seketika, dunia seolah berhenti berputar. Udara dingin dari Su Lin tadi entah kenapa mendadak terasa hangat. Wajah Xiao Bai hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Wang Da. Mata mereka bertemu. Wang Da bisa merasakan napas Xiao Bai yang terengah-engah, dan Xiao Bai bisa merasakan detak jantung Wang Da yang sangat kuat di bawah dadanya.
Wajah Xiao Bai yang tadi merah karena marah, kini berubah menjadi merah karena tersipu malu. Ia tertegun sejenak. Namun, rasa gengsinya lebih besar.
"MAU SAMPAI KAPAN KAU MENATAPKU BEGITU?!" teriak Xiao Bai sambil mulai memukul-mukul dada dan wajah Wang Da secara bertubi-tubi dengan tangan kecilnya. "DASAR MESUM! BODOH!"
"Aduh! Aduh! Sakit, Xiao Bai! Ampun!" Wang Da menahan kedua pergelangan tangan Xiao Bai, mencoba menghentikan serangan itu sambil berekspresi panik. "Aku minta maaf! Lagipula... lagipula ini bukan rencanaku sendiri! Aku dibantu Su Lin! Dia yang membuat udara jadi dingin tadi!"
Tiba-tiba, pintu balkon lantai dua terbuka. Su Lin berdiri di sana dengan wajah angkuh yang biasa, namun matanya memancarkan sedikit kekesalan karena namanya diseret. "Wang Da, kau yang memaksaku untuk mengetes kontrol elemen esku pada Xiao Bai. Jangan mencoba membagi dosamu padaku."
Xiao Bai menoleh ke arah Su Lin, lalu kembali ke Wang Da. Ia cemberut dengan sangat imut, membuat Wang Da tertegun sejenak melihat wajah itu. Kegaduhan itu baru benar-benar berhenti setelah Zhou Yu dan Yan Xu keluar dan melerai mereka.
"Sudah lah.. hentikan permainan ini, matahari sudah hampir mencapai puncaknya, kita harus segera berlatih untuk persiapan untuk kompetisi besok.'' ucap Zhou yu tenang sambil memperbaiki sepatunya.
" Ya! Benar! kenapa yang kalian tahu hanya bermain saja.!" ucap Yan Xu menyindir, dan seketika pandangan Wang Da, Xiao Bai dan Su Lin pun tertuju tajam ke arah nya yang membuat Yan Xu bergedik ngerik.
Beberapa saat kemudian..
Sisa pagi itu dihabiskan dengan latihan yang sangat intens. Mereka bergerak ke hutan di belakang kamp. Zhou Yu melatih sinkronisasi energinya dengan Su Lin, menciptakan badai salju yang bisa membekukan indra lawan. Sementara itu, Wang Da melatih ketahanan fisiknya dengan Yan Xu yang terus membombardirnya dengan serangan api cepat. Xiao Bai sibuk menyiapkan ramuan penguat stamina yang mereka minum di sela-sela latihan.
Setelah latihan selesai dan matahari mulai condong ke barat, mereka berjalan pulang melewati pasar kota. Di tengah keramaian, orang-orang tampak berdesakan mengelilingi jalan utama.
"Ada apa itu?" tanya Yan Xu penasaran.
Mereka ikut menyaksikan. Dari ujung jalan, sekelompok orang berjalan dengan kemegahan yang luar biasa. Mereka mengenakan jubah emas putih dengan lambang naga kekaisaran. Pemimpinnya adalah Long Wei, seorang pemuda jenius dari keluarga bangsawan tertinggi di Zhonghua. Di sampingnya ada Zhao Feng, ahli tombak yang dingin, Dan satu satu nya wanita bernama Yue Hua yang kabarnya memiliki kekuatan manipulasi mental.
Dan di belakang mereka, berdiri Gao Zhen Raksasa pendiam dengan zirah hitam, master Earth Essence yang berperan sebagai perisai tak tertembus bagi tim.
Dan juga Li Shen, Seorang Array Master (Ahli Formasi) misterius yang mampu mengendalikan medan tempur melalui jebakan ilusi dan gravitasi.
"Itu adalah Tim Utama Kekaisaran," bisik salah satu warga dengan nada kagum.
Mata Yan Xu mendadak dipenuhi kilatan amarah. Ia menatap salah satu anggota tim itu seorang pria bernama Li she. Dahulu, keluarga Li mengkhianati kerjasama dengan keluarga Yan, memanipulasi kontrak dagang energi yang hampir menghancurkan bisnis ayah Yan Xu. Hanya karena kegigihan ayahnya, keluarga Yan bisa bertahan.
"Orang-orang itu..." geram Yan Xu, tangannya mengepal hingga mengeluarkan asap.
Zhou Yu menatap Yan Xu, lalu beralih ke arah tim kekaisaran itu dengan tatapan dingin yang menusuk. "Kalau mereka adalah masalahmu, maka mereka adalah target pertama kita di kompetisi nanti," ucap Zhou Yu dengan nada datar namun mematikan.
Yan Xu terkejut, lalu ia tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. "Hahaha, tidak perlu sejauh itu, kawan. Aku tahu kau kuat, tapi mereka itu tim inti kekaisaran. Mereka didukung sumber daya yang gila. Menang atau kalah, bagiku yang penting kita sudah berusaha dan tidak membiarkan mereka menginjak kita."
Zhou Yu hanya mengangguk pelan, meski dalam hatinya ia sudah mencatat setiap wajah anggota tim lawan.
Perjalanan pulang berlanjut. Xiao Bai yang staminanya paling lemah mulai terlihat kelelahan, langkahnya goyah. Wang Da melihat itu, lalu tanpa banyak bicara, ia berjongkok di depan Xiao Bai.
"Ayo, naik ke pundakku. Kau terlalu pendek, jadi langkahmu dua kali lebih banyak dari kami," ejek Wang Da.
Xiao Bai awalnya hendak memprotes, namun rasa lelahnya menang. Ia memanjat punggung besar Wang Da dan duduk dengan nyaman di pundaknya, memegang kepala Wang Da agar tidak jatuh. Mereka berjalan beriringan di bawah cahaya matahari sore yang hangat, sebuah pemandangan kontras antara ketegangan kompetisi dan kehangatan persahabatan yang baru saja terjalin.
Bersambung....