Apakah kamu percaya cerita Cinderella?
Amina Arafat hanyalah seorang gadis yatim piatu, imigran dari Palestina dan tinggal bersama paman bibinya serta sepupunya di Brussels Belgia. Amina memiliki wajah cantik yang khas, membuat Akira Léopold, putra mahkota kerajaan Belgia, jatuh cinta pada pandangan pertama.
Amina yang merasa tidak pantas bersanding dengan seorang pangeran dan putra mahkota, mencoba menjauh dari Akira tapi dia salah. Akira adalah keturunan Léopold yang tidak akan menyerah begitu saja demi mendapatkan wanita yang sudah mencuri hatinya sejak bangku sekolah.
Generasi 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amira dan Jake Hamm
"Jake Hamm?" seru Akira bingung. "Kenapa? Apa salah mas ke dia?"
"Besok akan aku cari tahu, mas! Sungguh aku tidak menyangka jika Jake pelakunya. Dia kan sahabat kamu! Dia juga yang melindungi mbak Ami ...." Mata biru Amira terbelalak. "Apa dia juga suka sama Mbak Mina?"
"Masa sih? Dia kan tahu mas sudah suka sama Mina sejak sekolah!" jawab Akira gusar.
"Tapi mas kan sekolah militer dan kalau pulang pun, mas cuma sebentar dan tidak menemui mbak Mina," ucap Amira.
"Mas memang tidak menemui Mina karena bisa nggak mau balik ke akademi militer."
Amira menyipitkan matanya. "Dasar bucin!"
"Kamu akan tahu nanti kalau sudah punya cowok yang baik dan sabar sama kamu, dik," senyum Akira.
"Mas, tidak ada cowok yang betah sama aku yang badungnya seperti ini!" jawab Amira judes. "Kalau pun ada, itu manusia langka yang hidup di muka bumi!"
Akira tertawa. "Mas yakin sih, kamu pasti ada jodoh yang memang baik sama kamu."
"Aamiin. Doa baik kan perlu diaminkan ...." Amira tersenyum manis.
"Dik, titip Amina ya. Mas kan tidak bisa pulang buat bereskan semuanya."
Amira menatap judes ke kakaknya. "Mas, kalau kamu minta kapten kapal buat balik kanan grak, aku akan hajar kamu, mas!"
Akira terbahak. Akira dan Amira memang memiliki kepribadian yang berbeda. Akira kalem seperti Zinnia tapi kalau sudah marah, bisa macam Arsyanendra. Langsung hajar. Amira, duplikatnya Arsyanendra yang tidak takut apapun, galaknya Violet dan kalemnya Zinnia. Dua kakak beradik dengan kepribadian unik itu memang dikenal dekat. Akira sangat melindungi adiknya begitu juga dengan Amira. Keduanya selalu ingat nasihat Zinnia.
"Kalian itu hanya dua bersaudara yang kandung. Kalian sepupu banyak, dekat dengan kalian juga tapi saudara kandung itu berbeda. Kalian memiliki darah dari daddy dan mommy kalian, punya DNA yang sama jadi kalian itu harus saling akur dan melindungi satu sama lain. Jangan sampai dua saudara kandung ribut. Apalagi soal warisan ... Tidak patut kalian rebutan. Ingat, kalau kalian rebutan warisan, endingnya akan menjadi mudarat. Kalian tahu kan kenapa keluarga kita tetap akur sampai sekarang? Karena kita tidak ada yang saling berebutan harta dan kekuasaan. Kita itu kalau hidup terus menerus haus validasi, tidak akan ada habisnya ... tidak ada selesainya. Lebih baik kalian itu hidup humble, punya attitude yang baik, cerdas dalam bersosialisasi, memiliki skill serta knowledge yang mumpuni dan akhlaknya dipegang, itu membuat kalian terlihat sangat kaya. Value dan kwalitas kamu itu yang lebih dibanggakan daripada kamu hanya memperlihatkan tas limited edition, mobil limited edition. Lebih baik kamu yang limited edition," ucap Zinnia saat Akira dan Amira duduk di ruang perpustakaan waktu libur musim panas. Saat itu Akira berusia sebelas tahun dan Amira sembilan tahun.
"Lha kita berdua limited edition, Oma," jawab Amira.
"Itu karena gelar kalian. Bayangkan jika kalian lahir dari orang biasa. Tidak ada gelar, tidak ada privilege... Bagaimana kalian bisa membuat menonjol di masyarakat kalau kalian tidak punya value yang diakui? Orang biasa itu harus dua kali lipat dari kalian untuk meningkatkan value sementara kalian yang sudah punya segalanya, harus dibuang begitu saja? Rugi, sayang."
Akira dan Amina memang sudah mendapatkan banyak gemblengan pendidikan dari kecil namun setelah Omanya menasehati seperti itu, keduanya mulai merubah pandanganya. Tak heran sejak kecil hingga remaja, banyak yang naksir Akira dan Amira. Bukan hanya mereka pangeran dan putri tapi juga personality keduanya.
"Sekarang Amina sudah tidur belum ya?" tanya Akira membuyarkan lamunan Amira.
"Biarkan mbak Mina tidur, mas. Hubungi saja besok."
***
Keesokan paginya, Bea menyiapkan sarapan untuk Amina. Semalam Bea memang menemani Amina di apartemen milik Zinnia. Ketika Bea sedang mematikan menyalakan microwave, suara pintu kamar Amina terbuka lebar dengan sedikit keras.
"Astaghfirullah! Aku kesiangan!" seru gadis itu panik.
"Selamat pagi Nona Amina ... Sarapan sebentar lagi siap." Bea tersenyum manis sembari menuangkan kopi.
"Bea ... Kenapa kamu tidak membangunkan aku?" Amina menatap memelas ke Bea.
"Maafkan saya tapi Queen Mother bilang memberikan kesempatan pada anda untuk sedikit bersantai," jawab Bea.
"Ya Allah, aku itu harus mengajar Bea!" Amina merasa keluarga Léopold terutama Queen Mother terlalu memanjakan dirinya. Bukannya dia tidak suka tapi dia tidak terbiasa. Amina tidak mau dia akan tergantung terus menerus dengan keluarga Léopold padahal belum tentu dia dan Akira akan berlanjut hingga menikah!
"Nona Amina, ini baru jam tujuh pagi. Sekolah masuk pukul delapan tiga puluh. Anda masih bisa santai," senyum Bea.
"Bea ... Aku tidak terbiasa seperti ini."
Bea hanya tersenyum. "Anda akan terbiasa nanti."
***
Ruang Interogasi Kepolisian Brussels
Amira sudah diwanti-wanti oleh Arsyanendra untuk berbicara dengan bermartabat. Arsyanendra tidak mau ada keributan di kantor polisi. Amina datang dengan ditemani Imelda dan pengacara istana. Kepala polisi pun mengantarkan princess berwajah judes itu ke dalam ruang interogasi.
Amira menunggu Jake Hamm di salah satu kursi yang ada di ruang interogasi dan biasanya dipakai oleh detektif untuk menginterogasi. Gadis itu melihat kamera CCTV di semua sudut ruangan dan dia merasa diawasi. Jadi gini rasanya jadi detektif. Saat Jake datang, wajahnya tampak lelah, seolah semalaman tidak tidur. Pria itu pun duduk di depan Amira.
“Jake,” kata Amira pelan tapi tegas, “aku cuma mau satu jawaban. Kenapa kamu melakukan doxing pada mbak Amina?”
Jake terdiam. Jemarinya saling memilin. “Kamu tahu kan, aku nggak pernah berniat sejauh itu.”
Amira menggeleng. “Apa pun alasannya, itu sudah kelewatan. Amina itu kekasih sahabatmu sendiri. Dan sahabat kamu itu adalah kakakku! Kamu tahu dampaknya?”
Jake menarik napas panjang. “Aku cemburu. Bukan pada Amina, pada sahabatku, Akira. Sejak dia pacaran, semuanya berubah. Aku merasa disisihkan.”
Amira melongo. "Hei! Kamu itu yang bersama dengan Mbak Amina! Mas Akira pergi ke Bologna bahkan dia tidak bertemu dengan mbak Amina setiap pulang!" hardiknya.
"Tapi kan ada aku, Mira! Kenapa dia tidak menemui aku? Ngopi atau boys things! Akira juga setiap menghubungi aku selalu bilang 'titip Mina, ya Jake'. Aku bukan baby sitter Amina!"
"Kamu ... kacau Dude!" ucap Amira bingung melihat sahabat kakaknya seperti ini.
Ia menatap Amira dengan mata berkaca-kaca. “Waktu aku menemukan unggahan lama Amina, aku pikir… kalau orang lain tahu, semuanya akan kembali seperti dulu.”
“Dan kamu pikir menghancurkan hidup orang lain itu solusi?” suara Amira bergetar, antara marah dan kecewa. “Amina ketakutan. Sahabatmu hancur kepercayaannya. Dan kamu kehilangan keduanya.”
Jake menunduk. “Aku salah. Aku sudah menghapus semuanya dan siap bertanggung jawab. Tapi aku tahu, maaf saja tidak cukup.”
Amira berdiri. “Kalau kamu benar-benar menyesal, buktikan. Hadapi konsekuensinya, minta maaf langsung pada Amina dan sahabatmu. Jangan bersembunyi di balik alasan.”
Jake mengangguk pelan. "Akira marah ya Mira?"
Amira menatap pria itu. "Tidak. Mas Akira hanya kecewa berat. Orang yang sudah kecewa berat itu jauh lebih dalam dari hanya sekedar marah. Jadi kamu tidak boleh protes kalau mas Akira sudah tidak mau bertemu denganmu lagi!"
***
Yuhuuu up Siang Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu