NovelToon NovelToon
Kelas Paus

Kelas Paus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:22.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chika cha

Cover by me.

Saat SMP Reani Sarasvati Ayuna pernah diam-diam jatuh pada Kadewa Pandugara Wisesa, sahabat kakaknya—Pramodya yang di ketahui playboy. Tapi bagi Kadewa, Rea cuma adik dari temannya, bocah kecil yang imut dan menggemaskan.

Patah hati saat Kadewa masuk AAL sambil menjalin cinta pada gadis lain dan kali ini cukup serius. Rea melarikan diri ke Jakarta, untuk melanjutkan kuliah dan setelahnya menetap dan berkarir disana sebagai encounter KAI, berharap bisa menjauhkan dirinya dari laut dan dari...

Kadewa..

Tujuh tahun berlalu, takdir menyeretnya kembali. Kadewa datang sebagai Kapten TNI AL yang lebih dewasa, lebih mempesona, dan lebih berbahaya bagi hatinya.

Rea ingin membuktikan bahwa ia sudah dewasa dan telah melupakan segalanya. Namun Kadewa si Paus yang tak pernah terdeteksi dengan mudah menemukan kembali perasaan yang telah ia tenggelamkan.

Mampukah cinta yang terkubur tujuh tahun itu muncul kembali ke permukaan, atau tetap menjadi rahasia di dasar samudra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketika Masa Lalu Mendapat Akses Masuk

Lampu-lampu jalanan Jakarta mulai menyala satu per satu, berpijar kuning di atas aspal yang masih lembap oleh sisa hujan sore tadi. Rea duduk di kursi belakang taksi daring, menyandarkan keningnya pada kaca jendela yang dingin. Di luar, kemacetan Jakarta tampak seperti aliran darah yang tersumbat, merah oleh lampu rem, bising oleh klakson, dan sesak oleh napas jutaan orang yang ingin segera sampai ke rumah.

Namun bagi Rea, apartemennya di daerah Jakarta Pusat malam ini tidak terasa seperti tempat pulang yang menenangkan.

Pikirannya masih tertinggal di ruang announcer Stasiun Gambir. Lebih tepatnya, tertinggal pada aroma parfum maskulin dan suara berat yang baru saja memporak-porandakan benteng yang ia bangun selama tujuh tahun.

Rea memejamkan mata, namun yang muncul justru bayangan tangan Kadewa yang menjabatnya tadi. Begitu kokoh. Begitu nyata.

“Satu bulan, Reani. Aku punya waktu tiga puluh hari untuk cari tahu kenapa kamu sekaku dan segalak ini sekarang sama aku.”

Kalimat itu terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Rea meremas tali tasnya kuat-kuat. Ia merasa dikhianati oleh takdir. Jakarta yang ia pilih sebagai labirin luas untuk menghilang, tempat ia melebur identitasnya menjadi Reani yang profesional, kini justru menjelma menjadi titik temu yang paling tidak ia inginkan.

Semesta seolah sedang tertawa di atas kepalanya. Dari sekian ribu stasiun di Indonesia, dari sekian ratus perwira di Angkatan Laut, kenapa harus Stasiun Gambir? Kenapa harus Letnan Satu Kadewa Pandugara Wisesa?

"Udah sampai, Mbak," suara sopir taksi membuyarkan lamunannya.

Rea turun dan melangkah gontai menuju lobi apartemen. Setiap langkahnya terasa berat, seolah ia sedang menyeret beban yang selama ini ia kira sudah ia tinggalkan di gudang berdebu di Surabaya.

Sesampainya di dalam unit apartemennya, Rea tidak langsung menyalakan lampu. Ia membiarkan kegelapan menyelimutinya sejenak. Ia hanya melempar tasnya ke sofa, lalu berjalan menuju balkon. Di hadapannya, gedung-gedung pencakar langit Jakarta berdiri angkuh dengan ribuan lampu jendela.

Dulu, ia mencintai pemandangan ini karena membuatnya merasa kecil dan tak terlihat. Di kota ini, tidak ada yang peduli pada plankton. Tidak ada yang mengenali luka lama seorang gadis dari Surabaya.

Tapi besok, dan tiga puluh hari ke depan, ia harus duduk di ruangan yang sama dengan Paus itu. Ia harus mencium aromanya, mendengar suaranya, dan yang paling sulit adalah menahan diri agar tidak hancur di bawah tatapan mata yang seolah bisa menembus segala topengnya.

Rea berjalan menuju dapur, meneguk air dingin langsung dari botolnya. Ia mencoba mengatur napasnya yang mulai pendek.

Jangan goyah, Re. Dia cuma rekan kerja sementara.

Ya dia cuma rekan kerja sementara.

Ia teringat kembali pada kardus di bawah rak gudang rumah orang tuanya. Kardus berisi boneka paus, boneka anak ayam dan buku harian yang sudah berdebu. Ia sudah menguburnya sedalam mungkin. Ia sudah bersumpah bahwa perasaannya adalah sejarah yang sudah tamat, bukan cerita yang sedang bersambung.

Namun, kehadiran Kadewa yang begitu tiba-tiba, begitu dominan, dan begitu... tidak sadar akan kesalahannya, membuat Rea menyadari satu hal yang menakutkan.

Bertahan ternyata jauh lebih sulit daripada melupakan.

Tujuh tahun ia belajar untuk tidak lagi menyebut nama itu dalam doanya. Tujuh tahun ia melatih suaranya agar tetap stabil saat mengumumkan kereta tujuan Surabaya. Dan sekarang, semua itu diuji hanya dalam satu hari koordinasi.

Rea meletakkan botol airnya dengan sedikit kasar di atas meja konter. Matanya menatap tajam ke arah kegelapan ruang tengahnya.

Satu bulan ke depan bukan lagi soal pekerjaan semata. Bukan lagi soal memastikan KLB militer berangkat tepat waktu atau mengatur alur penumpang.

Bagi Rea, ini adalah perang untuk bertahan. Bertahan agar yang terkubur tetap terkubur di bawah tumpukan debu masa lalu. Dan yang paling penting, bertahan agar hatinya yang pernah patah tidak sekali pun meminta untuk disambung kembali oleh tangan yang sama yang dulu menghancurkannya tanpa sengaja.

"Kamu nggak akan bisa masuk lagi, Mas," bisiknya pada sunyi. "Paus nggak punya tempat di daratan yang udah aku bangun sendiri."

Ia menarik napas panjang, mencoba memantapkan hati sebelum menutup tirai jendela. Besok pagi, ia akan kembali menjadi Reani Sarasvati Ayuna yang dingin dan tanpa cela. Ia akan memastikan bahwa selama tiga puluh hari itu, Kadewa Pandugara Wisesa hanya akan menemukan seorang petugas KAI yang profesional, bukan gadis kecil yang dulu pernah mencintainya sampai habis-habisan.

_______________

Kamis pagi. Pukul 07.30 WIB.

Udara di dalam ruang announcer Stasiun Gambir terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaan Rea saja. Ia sudah duduk di depan meja operator sejak tiga puluh menit yang lalu, memastikan semua jadwal keberangkatan pagi sudah tersusun rapi di layar komputer.

Satu kursi tambahan berwarna hitam yang kemarin diperintahkan Pak Heru kini sudah teronggok di sudut meja Rea. Keberadaannya terasa seperti sebuah granat yang siap meledak sewaktu-waktu.

Tok!

Tok!

Suara ketukan pintu terdengar santai dan pintu terbuka tanpa menunggu izin. Kadewa melangkah masuk.

Pagi ini rambut cepaknya yang rapi tampak berkilau karena sisa air atau pomade. Ia mengenakan seragam PDH biru tuanya dengan sangat gagah, lengan bajunya yang di gulung menonjolkan otot-otot yang terbentuk dari latihan militer selama bertahun-tahun. Di tangan kirinya, ia membawa dua cup kopi dari outlet ternama di lobi stasiun.

"Selamat pagi, Mbak Reani," sapanya dengan nada yang terlalu ceria untuk sebuah ruangan operasional yang kaku.

Rea tidak menoleh. Ia tetap fokus pada mikrofonnya. "Selamat pagi, Pak Letnan. Silakan duduk di tempat yang sudah disediakan."

Kadewa tidak langsung duduk. Ia melangkah mendekat dan meletakkan salah satu cup kopi di samping mouse Rea. "Kopi hitam, sedikit gula. Benar, kan? Pram pernah bilang itu kesukaanmu kalau lagi shift pagi."

Jari Rea yang sedang mengetik sedikit tersendat. Ia menarik napas pendek, lalu melirik kopi itu dengan tatapan seolah benda itu mengandung racun. "Makasih, tapi saya sudah minum air putih. Aturan di sini nggak membolehkan ada makanan atau minuman terbuka di dekat panel kendali."

Kadewa terkekeh pelan, sebuah suara renyah yang membuat bulu kuduk Rea meremang. "Kaku banget sih kamu... Padahal pintunya udah ketutup rapat lho itu. Nggak akan ada intel yang masuk, Re. Tenang aja. Santai..."

"Kedisiplinan bukan soal ada orang yang ngeliat atau nggak, Pak," balas Rea dingin. Akhirnya ia menoleh, menatap mata Kadewa lurus-lurus. "Saya harap Anda bisa mengikuti aturan di rumah saya."

Kadewa tertegun sejenak. Kata rumah yang digunakan Rea merujuk pada ruang lingkup kerjanya, tapi bagi Kadewa, itu terdengar seperti pengingat bahwa di sini, mereka adalah orang asing. Ia perlahan mengambil kembali kopi itu dan membawanya ke kursi hitam di sudut.

"Siap. Perintah diterima, Bu Komandan," ucap Kadewa sambil memberi hormat main-main dengan dua jari.

Rea mengabaikan candaan itu. Ia mulai menekan tombol on ada mikrofon.

"Pelanggan terhormat, kereta api Argo Parahyangan tujuan Bandung..."

Suara Rea mengalir jernih. Kadewa bersandar di kursinya, memperhatikan setiap detail gerakan Rea. Ia melihat bagaimana Rea membasahi bibirnya sebelum bicara, bagaimana jemarinya dengan tangkas menggulir mouse membaca informasi, dan bagaimana raut wajahnya tetap datar namun suaranya terdengar begitu hangat bagi pendengar di luar sana.

Selama dua jam berikutnya, ruangan itu hanya diisi oleh suara Rea yang melakukan pengumuman secara berkala. Kadewa benar-benar diam, ia sibuk dengan tablet di tangannya, mungkin memeriksa manifes personelnya, tapi Rea tahu pria itu sedang mengawasinya.

Kesunyian yang menekan itu pecah ketika pintu kembali terbuka. Arga masuk dengan seragam masinis lengkapnya.

“Re, jadwal lokomotif cadangan sore udah keluar?” Tanya Arga. Senyumnya mengembang lebar, lalu berhenti saat matanya menangkap sosok pria berseragam TNI AL di sudut ruangan.

Kadewa mengangkat wajah. Matanya menyipit, menilai sosok Arga dari ujung kepala hingga ujung kaki. Auranya mendadak berubah, lebih dominan, lebih tajam.

"Oh, Mas Arga. udah, ini filenya," Rea menjawab.

Untuk pertama kalinya pagi itu, suaranya terdengar lebih lembut. Tidak dingin. Tidak kaku. Hanya… tampak biasa saja. Natural. Dan justru karena itulah, alis Kadewa berkerut tipis.

Tadi dia manggil apa?

Mas?

Kadewa yakin pendengarannya tidak bermasalah.

Rea—perempuan yang sejak kemarin memanggilnya Anda, Pak Letnan, dengan jarak selebar samudra, yang setiap kata dan gesturnya dibungkus formalitas setebal tembok beton, baru saja memanggil orang lain dengan sapaan yang jauh lebih akrab.

Mas.

Bukan Pak.

Bukan Anda.

Tapi Mas.

Kadewa menatap Arga lagi sekilas, lalu kembali pada Rea. Ada sesuatu yang bergerak pelan di dadanya, bukan amarah, bukan iri, tapi cukup untuk mengganggu napasnya sendiri.

Jadi begini.

Dengan orang lain, Rea bisa selembut itu.

Dengan dirinya, ia hanya mendapat jarak dan dinding.

Arga menerima dokumen itu, tapi matanya melirik Kadewa.

“Maaf… ini tamu dari TNI AL?”

Rea baru saja akan membuka mulut untuk menjelaskan, tapi Kadewa sudah lebih dulu berdiri.

Ia melangkah mendekat dengan langkah tegap, aura militernya mengisi ruangan yang sempit itu tanpa perlu suara. Kadewa berhenti tepat di depan Arga, lalu mengulurkan tangan.

"Letnan Satu Kadewa," ucap Kadewa wingkat. Nada suaranya datar. Tidak ramah, tidak pula kasar. Tapi jelas, ini bukan sekadar perkenalan. Lebih seperti penanda batas yang tak diucapkan.

Arga menjabatnya. "Arga. Masinis disini."

Cih, di pikir mata Kadewa buta gitu tidak mengenali seragamnya?

Gak usah di perjelas lah.

"Mas Arga ini rekan koordinasi utama saya di operasional, Pak Letnan," sela Rea cepat, seolah ingin memutus kontak mata antara kedua pria itu. "Dia yang bertanggung jawab atas rangkaian KLB Anda nanti."

Kadewa melepaskan jabat tangan itu, lalu menoleh ke arah Rea dengan senyum miring yang sulit diartikan. "Oh, gitu? Bagus kalau gitu. Saya suka bekerja dengan orang yang dekat dengan Anda, Mbak Reani. Koordinasinya jadi lebih... personal."

Wajah Arga sedikit bingung, sementara Rea merasa wajahnya mulai memanas karena kesal.

"Mas Arga, nanti kita bahas lagi di kantin ya waktu makan siang," ucap Rea, sebuah usaha terang-terangan untuk menyuruh Arga pergi sebelum Kadewa bicara lebih jauh.

"Oke, Re. Sampai ketemu nanti," Arga mengangguk, lalu ia sempat melirik Kadewa sekilas, dan tersenyum tipis pada Rea sebelum keluar dari ruangan.

Pintu tertutup.

Dan seketika, udara di ruang announcer itu berubah berat seperti ditimpa sesuatu yang tak kasatmata.

Hanya tersisa Rea, Kadewa, dan jarak yang kini terasa jauh lebih berbahaya daripada kemarin.

"Teman dekat?" tanya Kadewa tiba-tiba.

"Bukan urusan Anda," jawab Rea pendek.

Kadewa tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk pelan, seolah menerima atau tepatnya, mencatat. Tangannya masuk ke saku celana PDH, mengeluarkan ponsel. Ia mengotak-atik layar sebentar, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga.

“Halo. Pram, di mana?”

Kalimat itu meluncur begitu saja. Santai. Tanpa peringatan begitu panggilan di sebrang sana terjawab.

Dan seketika itu juga, Rea menoleh tajam.

Jantungnya seperti tersentak.

"Aku di rumah sakit. Kenapa?" Suara Pram terdengar samar dari speaker ponsel.

"Kamu tahu gak di Jakarta aku ketemu siapa?" Tanya Kadewa pada Pram di sebrang sana sambil melirik Rea.

"Siapa? Rea?" Sebenarnya Pram hanya menebak tapi tak menyangka jika tebakannya benar.

Kadewa mengangguk kecil walaupun itu tak dapat di lihat Pram, lalu ia melirik Rea yang masih menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam dan penuh peringatan.

Kadewa tidak peduli.

“Yap,” katanya mantap sambil tersenyum.

“Adikmu.”

Ia berhenti sejenak. Sengaja.

Lalu menambahkan, dengan nada yang terlalu ringan untuk sebuah bom.

“Kami satu kerjaan. Dan kamu tahu…”

Ia melirik Rea lagi, senyumnya makin menyebalkan.

“Satu lagi, dia pacaran sama mas—”

Belum sempat kalimat itu selesai.

Rea melompat.

Tangannya refleks terangkat, membekap mulut Kadewa dengan keras, memotong kata-kata itu tepat di tengah napas. Tubuh mereka kini terlalu dekat untuk sekadar kebetulan, jarak yang nyaris tak sopan, nyaris berbahaya.

Mata mereka bertemu.

Rea menatapnya dengan campuran panik dan amarah, napasnya memburu, dadanya naik turun. Ujung jarinya gemetar di pipi Kadewa, seolah baru sadar apa yang baru saja ia lakukan.

Sementara Kadewa tertegun. Bekapan tangan Rea terasa hangat sekaligus gemetar di wajahnya. Untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, ia bisa mencium aroma parfum Rea sedekat ini, aroma vanilla dan musk yang jauh lebih dewasa daripada aroma parfum Rea yang dulu diingatnya.

Di ujung telepon, suara Pram terdengar bingung. "Halo? Wa? Apaan tadi? Rea pacaran sama siapa? Halo?!"

Rea tetap membeku, matanya membelalak penuh ancaman, seolah berkata...

Kalau kamu lanjutkan, aku benar-benar bakal benci kamu selamanya.

Kadewa menelan ludah.

Ia perlahan menurunkan tangan Rea dari mulutnya. Jemari besarnya menggenggam pergelangan tangan Rea sejenak yang terasa mungil dan rapuh di balik ketegasannya. Ia kembali menempelkan ponsel ke telinga, matanya tidak lepas dari manik mata Rea yang bergetar.

“Maksudku… dia pacaran sama pekerjaannya, Pram,” bohong Kadewa dengan suara yang mendadak serak. “Bercanda. Dia galak banget di sini. Udah ya, aku lagi koordinasi.”

Kadewa mematikan sambungan secara sepihak. Ia tidak melepas tangan Rea, justru menariknya sedikit lebih dekat hingga Rea terpaksa menumpu tangannya di dada bidang pria itu untuk menjaga jarak.

“Kenapa?” bisik Kadewa. “Takut Pram tahu kalau kamu punya pacar di sini?”

Rea segera menarik tangannya dengan kasar, seolah baru saja menyentuh bara api. Ia mundur dua langkah hingga punggungnya menabrak meja operasional. “Jangan libatkan Mas Pram dalam urusan kantor saya, Pak Letnan. Dan jangan pernah berani menyentuh privasi saya lagi.”

“Privasi?” Kadewa terkekeh, namun tawanya terdengar getir. Ia melangkah maju, memangkas jarak yang Rea buat. “Tujuh tahun yang lalu, aku tahu semua tentangmu, Re. Dari makanan yang kamu suka sampai ukuran celanamu. Sekarang aku tanya satu nama aja kamu seolah mau membunuhku.”

“Itu dulu!” suara Rea naik satu oktaf, bergema di ruangan kedap suara itu. “Dulu aku cuma anak kecil yang nggak punya pilihan selain jadi pengikutmu karena kamu sahabat Mas ku. Sekarang? Kamu nggak tahu apa-apa soal aku.”

Kadewa terdiam. Kalimat itu menghantamnya lebih keras dari latihan fisik mana pun di akademi. Ia menatap Rea, mencoba mencari celah, mencari sisa-sisa anak ayam yang dulu selalu mencarinya. Namun yang ia temukan hanyalah dinding es yang sangat tebal.

"Aku nggak tahu apa yang terjadi selama aku di laut, Re," bisik Kadewa pelan, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Rea. "Tapi aku nggak akan berhenti sampai aku tahu kenapa aku ini jadi kayak monster di matamu."

Rea tidak berkedip. "Anda bukan monster, Pak Letnan. Anda cuma orang asing yang kebetulan pernah saya kenal," balas Rea cepat. Kalimat itu tajam, dingin, dan telak.

Kadewa baru saja hendak membalas ketika ponsel di tangannya bergetar panjang. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Pram. Tanpa sadar, Kadewa membaca pesan itu di depan Rea, membiarkan layar ponselnya terlihat jelas oleh gadis itu.

Wa, mumpung kalian satu lokasi, titip Rea ya. Tolong jagain adikku. Dia sendirian di Jakarta, aku sering kepikiran. Pantau terus, jangan sampai dia dekat-dekat sama cowok brengsek manapun di sana. Kamu kan tahu sendiri Jakarta keras. Jaga Rea.

Pram

Kadewa membaca pesan itu dengan senyum miring yang perlahan muncul. Ia mengangkat ponselnya, menunjukkan layar itu tepat di depan mata Rea.

"Lihat ini?" Kadewa menggoyangkan ponselnya. "Sahabatku, Mas mu, baru aja ngasih perintah operasi yang sah. Menjaga kamu dari cowok brengsek. Dan menurutku, masinis tadi... masuk kriteria yang harus aku waspadai."

Cowok bergesek?

Hasurnya dia berkaca.

Dia paus darat yang jauh lebih brengsek dari pria manapun di dunia ini di mata Rea.

Gadis itu mendengus fustrasi. "Mas Pram berlebihan! Dan Mas Arga bukan cowok brengsek!"

"Itu penilaianmu. Penilaianku berbeda," sahut Kadewa enteng. Ia melirik jam di dinding, lalu kembali menatap Rea dengan otoritas yang tak terbantah. "Sesuai amanah Pram... Nanti sore aku antar kamu pulang,"

"Nggak mau!"

"Re, pilihannya cuma dua," Kadewa melangkah satu tapak lebih dekat, memerangkap Rea di antara tubuhnya dan meja operasional. "Kamu ikut aku pulang dengan tenang, atau aku telepon Om Aditya sekarang juga untuk bilang kalau kamu susah diatur dan bikin Pram cemas di Surabaya?"

"Mas Kadewa, Mas curang!" Rea memekik pelan, tanpa sadar kembali menggunakan sapaan lamanya karena emosi yang meluap.

Mendengar sapaan Mas itu, pertahanan Kadewa sedikit goyah. Ada getaran aneh yang menyenangkan di dadanya, tapi ia segera menguasai diri. "Aku nggak curang. Aku cuma menjalankan tugas dari keluarga."

Rea mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Ia terjebak. Ia tahu persis jika Kadewa mengadu pada Baba, masalahnya akan panjang. Baba bisa saja menyuruhnya pulang ke Surabaya atau terus-terusan cemas. Dan Rea tidak mau itu terjadi.

"Cuma sampai lobi apartemen," desis Rea dengan gigi terkatup.

Senyum penuh kemenangan tersungging di bibir Kadewa.

"Siap, Bu Komandan."

1
Yani Sri
kopi untukmu kakak....
Lili Susanti
nyambung banget syg.....senyum2 sendiri dr awal sampai akhir baca nya ....yg rajin update ya..ku ksh gift nuch 😍
Niken Dwi Handayani
masih nyambung kok ...ini malahan lagi masa pdkt mas Paus 🤭🤭. Belum masuk yang tegang-tegang nich cerita nya
syora
cukup fokus ke si paus sm plakton
another story keep in save folder🤭
semangat thor gas pol
buat tmn mnyambut ramadhan
syora
nyambung
jgn coba" mlarikan diri xa 🤣
mey
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Esti 523
aq vote 1 ya ka syemangaddd
Esti 523
bagus bgt ceritanya,gak typo2
Esti 523
sekian purnama baru ketemu lg dgn novel yg reel bgt,gak typo2 good luc otor,syemangst
Chika cha: ada typo juga kak, tapi sebelum upload di cek dulu baru upload itu pun masih ada satu dua yang gak keliatan🤭
total 1 replies
kalea rizuky
jangan murahan re di gombalin gt aja km. uda basah yo heran deh jual. mahal donk di sakitin berkali kali. kok ttep oon meski dia g tau perasaan mu tp. dia penjahat kelamin
kalea rizuky
murahan
kalea rizuky
ini cerita nya emank bertele tele kah dr SMP dih lama amat thor
kalea rizuky
layu sebelum berkembang ya rea hiksss
kalea rizuky
sabar rea moga nanti ada cogan yg baik setia ya.. lupain cinta pertama yg jatuh pd orang yg salah
kalea rizuky
kok lucu gmbarnya
Nia nurhayati
dasar paus raja goombll kmu kadewaa
Ghiffari Zaka
di bab ini AQ benar2 gak bs kan men Thor,gak bs ngomong apa2 lagi,blenk AQ Thor karena fokus dan menghayati kata demi kata yg author tulis sehingga AQ merasa kayak bukan baca tp melihat suatu adegan di depan mata,sepertinya AQ ada di dlm situ buat nonton live,pokoknya cuman bisa bilang LUAR BIASA 👍👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
Chalimah Kuchiki
hayooo lohh... mas kadewa terpojok 🤭
Chalimah Kuchiki
sweeett bgt sih, aku aja loh belum pernah di bukain botol minum sama suami 😭.
Chalimah Kuchiki
wkwkwkwkw mantappp bgt gombalan nyaa🤭😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!