NovelToon NovelToon
Bucinya Seorang Duda Dingin

Bucinya Seorang Duda Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.

Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.

Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.

Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Setelah beberapa hari menjalani perawatan intensif di rumah sakit, akhirnya Kenan diizinkan pulang oleh Bisma. Meski kondisinya dinyatakan stabil, Kenan tetap mendapatkan peringatan tegas—ia harus beristirahat total, tidak boleh banyak bergerak, dan sama sekali dilarang memaksakan diri. Jahitan di kakinya belum sepenuhnya kering, sedikit saja salah gerak bisa memperlambat proses penyembuhan.

Selama Kenan dirawat, hampir setiap hari Aru datang menjenguk. Bukan tanpa alasan. Di dalam hatinya, Aru merasa berutang nyawa pada pria itu. Jika hari itu Kenan tidak sigap melindunginya, maka kemungkinan besar dialah yang akan terbaring di ranjang rumah sakit—bukan Kenan.

Hari ini, sepulang dari tempat usaha Gym nya, Aru memutuskan untuk mampir ke rumah Kenan. Tubuhnya masih terasa pegal setelah sesi latihan, tapi keinginannya untuk melihat kondisi Kenan jauh lebih besar daripada rasa lelahnya.

Sore itu, halaman depan kediaman keluarga Baskara tampak tenang. Angin berembus lembut, dedaunan bergerak pelan seolah ikut menikmati suasana. Aru dan Kenan duduk berdampingan di kursi taman, semangkuk buah potong berada di meja kecil di antara mereka.

“Gimana keadaan Mas Kenan?” tanya Aru pelan. “Jahitannya masih basah nggak? Masih sakit?”

Nada suaranya penuh perhatian—hal yang selalu berhasil membuat Kenan tersenyum tanpa sadar.

“Mas baik kok, Ru,” jawab Kenan lembut. “Lukanya juga udah mulai kering. Jadi kamu nggak perlu terlalu khawatir.”

Kenan berhenti sejenak, lalu melirik Aru dengan senyum yang berbeda—lebih nakal, lebih berani.

“Apalagi setelah buahnya disuapin sama kamu.”

Aru terdiam. Wajahnya seketika memerah, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ini adalah pengalaman pertama baginya—duduk sedekat ini dengan seorang pria yang secara tidak langsung sudah berada di jalur sebagai calon pendamping hidup. Selama ini, kedekatannya dengan laki-laki lain tak pernah lebih dari sebatas rekan atau urusan bisnis.

Kenan tersenyum lebar melihat reaksi itu. Ia menikmati bagaimana Aru selalu gagal menyembunyikan rasa gugupnya.

Untuk menenangkan diri, Aru segera mengalihkan pembicaraan.

“Oh iya, Mas… Kai ke mana? Dari tadi aku nggak lihat.”

“Lagi tidur siang,” jawab Kenan. “Habis main,capek mungkin.”

Aru mengangguk pelan.

Beberapa detik hening tercipta sebelum Kenan kembali membuka suara—kali ini dengan nada lebih hati-hati.

“Ru… boleh Mas minta nomor ponsel kamu?”

Aru menoleh.

“Maksudnya?”

“Selama ini kita kan kalau komunikasi lewat Joe,” lanjut Kenan. “Mas pengin… mengenal kamu lebih dekat. Kalau kamu nggak keberatan.”

Aru kembali gugup, tapi akhirnya mengangguk.

“Boleh kok, Mas.”

Kenan menyerahkan ponselnya. Saat Aru mengetik nomor terakhir, matanya tanpa sengaja menangkap sesuatu di layar. Sebuah nama kontak sudah tersimpan rapi:

Calon istriku.

Jantung Aru berdegup keras. Tangannya sempat terhenti. Kepalanya dipenuhi tanda tanya—kalau nomorku sudah ada, kenapa Mas Kenan minta lagi?

Kenan hanya tersenyum, jelas menikmati momen itu.

"Aku akan membuat kamu terus menunjukkan wajah merah itu,Aku ingin kamu selalu mengingat aku." batin Kenan.

Di sisi lain, Aru berusaha mengendalikan diri.

"Gila… kenapa gue bisa segugup ini? Tenang, Aru. Jangan kebawa perasaan dulu. Lihat dulu sejauh apa perjuangan Mas Kenan."

Beberapa detik kemudian, Aru mengembalikan ponsel itu.

“Terima kasih ya, Ru,” ucap Kenan pelan.

Aru hanya mengangguk, masih canggung.

Belum sempat suasana benar-benar cair, Amar datang dari arah samping rumah.

“Permisi, Mas. Ada telfon dari temannya Mas Leo,” ucap Amar sambil menyerahkan ponsel.

Kenan berdiri perlahan, wajahnya kembali netral. “Mas angkat telfon dulu, Ru,” ucap Kenan.

Aru mengangguk“Iya, Mas,” jawab Aru. Kenan pun sedikit menjauh.

Begitu Kenan tidak lagi berada di dekat mereka, Amar menoleh ke Aru. Senyumnya lebar, sikapnya santai.

“Gimana kabar lo, Mbak?” tanyanya santai.

“Baik, Mar. Kalau kamu gimana?”

“Seperti yang Mbak lihat, sehat wal afiat.”

Percakapan mereka mengalir ringan. Amar tertawa sesekali, Aru pun tampak lebih rileks.

“Lo udah jarang ke tempat gym, Mbak.”

“Baru tadi Mbak habis dari sana, Mar.”

“Yang bener, Mbak?”

“Iya. Kamu-nya aja yang sekarang jarang ke sana.”

“Maklum, Mbak. Lagi sibuk-sibuknya. Mbak kayak nggak tau aja jadwal bos gue ini sibuknya minta ampun,” ucap Amar sambil menghela napas panjang.

Aru terkekeh. “Ya namanya juga kerja, Mar.”

“Kapan lo rencana mau ke tempat gym lagi?”

“Mungkin tiga hari lagi, Mar. Kenapa?”

“Tiga hari lagi aja, Mbak. Gue baru libur.”

“Kenapa?” tanya Aru bingung.

“Lo kayak nggak tau aja, Mbak,” jawab Amar sambil terkekeh.

Aru menghela napas kecil. “Heem… iya iya. Nanti Mbak traktir makanan.”ucap Aru yang sudah tau jalan pikiran Amar.

“Sip. Lo yang terbaik, Mbak.”ucap Amar tersenyum lebar.

Percakapan mereka mengalir ringan. Amar beberapa kali tertawa, Aru tersenyum kecil, sesekali mengangguk.

Sementara itu, dari kejauhan, meski sedang berbicara dengan orang di telepon, tatapan Kenan tidak terlepas dari Aru. Alisnya mengerut tipis. Rahangnya mengeras melihat kedekatan Aru dan Amar. Api cemburu jelas menyala di sorot matanya.

Ia mempercepat pembicaraan di telepon tanpa benar-benar mendengarkan.

Kenan menutup telepon dan langsung menghampiri mereka.

“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanyanya. Nadanya tidak setenang sebelumnya.

“Udah selesai, Mas?” tanya Aru.

“Udah, Ru.” Kenan menjawab singkat.

Tatapannya lalu beralih ke Amar, dingin dan penuh peringatan.

“I-itu, Mas. Saya cuma—”

“Amar! Tolong ke sini. Tolong bantu Ibu!” teriak Mami Amara dari teras.

Amar tampak lega.

“Mas, saya permisi dulu. Dipanggil Ibu,” ucapnya cepat. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berlari menjauh.

Kenan menatap punggung Amar hingga menghilang dari pandangan.

“Awas aja kamu, Amar,” gumamnya pelan.

Aru memperhatikan wajah Kenan yang masih tegang.

“Mas Kenan nggak apa-apa?” tanyanya.

Kenan menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

“Mas nggak papa kok, Ru.”

Ia kembali duduk, sedikit menjauhkan tatapannya ke depan halaman.

Ia menambahkan pelan, “Mas cuma nggak suka kamu terlalu dekat sama orang lain.”

Aru terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil tanpa berkata apa-apa.

Sore terus berjalan, angin berembus pelan, dan di antara keheningan itu, perasaan yang belum terucap tetap menggantung.

...****************...

Di tempat lain, di gazebo taman belakang rumah keluarga Aru, Bisma, Alvaro, dan Alvian tengah duduk bersama. Suasana sore terasa berat—bukan karena cuaca, melainkan karena topik pembicaraan mereka.

“Menurut kalian,” ujar Bisma akhirnya, “ Apa Kenan masih belum pantas untuk Aru? Walaupun dia sudah rela bertaruh nyawa demi melindungi adik kita.”

Alvaro dan Alvian terdiam sambil menundukkan kepalanya.

“Phi tahu,kalian masih belum merestui hubungan Aru dan Kenan.” lanjut Bisma tegas tapi lembut, “kalian selama ini cuma menyetujui itu di depan Ayah dan Mama saja. Terutama kamu, Alvaro. Tapi kalau terus begini, sama saja kalian menghalangi kebahagiaan Aru.”

Bisma menarik napas panjang.

" Jika kalian terus begini,sama aja kalian menghalangi kebahagiaan Aru. Abang tau kalian sangat menyayangi Aru,tapi kita tidak boleh egois dan menghalangi seseorang yang ingin membahagiakan Aru. Kalian lupa dengan janji kalian pada seseorang?”

Kalimat itu membuat keduanya menunduk.

“Aku ingat, Phi,” lirih Alvaro. “Aku cuma… belum siap melepaskan Aru pergi dengan pria lain. Tapi aku juga ingin dia bahagia. ”ucap Alvaro.

Alvian menyeka sudut matanya.

“Aku juga, Phi. Aku takut kalau nanti Aru melupakan aku.”

Hati Bisma terasa perih.

“Ayah justru yang paling takut kehilangan Aru,” katanya. “Tapi Ayah juga ingin Aru bahagia. Jangan sampai ego kita merenggut kebahagiaan itu.”

Air mata akhirnya jatuh.

“Kalau kalian butuh tempat bersandar,” ucap Bisma sambil membuka kedua tangannya, “Phi selalu ada.”

Alvaro dan Alvian langsung memeluk Bisma, menangis tanpa suara.

“Cengeng,” ejek Bisma pelan sambil tersenyum.

Tanpa mereka sadari, Ayah Dika dan Mama Yasmin berdiri tak jauh dari sana. Mama Yasmin memeluk lengan suaminya, matanya berkaca-kaca melihat ketiga anaknya.

Mereka semua takut kehilangan.

Namun cinta, perlahan, sedang belajar untuk melepaskan.

Bersambung................

1
Faidah Tondongseke
Aamiin..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!