Sejak dilahirkan, hidup tak pernah memberinya ruang untuk merasa bahagia. Luka, kehilangan, dan kesendirian menjadi teman tumbuhnya. Saat orang lain menemukan kebahagiaan dengan mudah, ia hanya bisa bertanya dalam diam: kapan kebahagiaan itu datang?
Sebuah kisah tentang hati yang lelah menunggu, namun belum sanggup berhenti berharap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Yang Mengajarkan Kuat
Siang menjelang perlahan. Matahari semakin terik, dan jemuran yang kugantung sejak tadi mulai mengering. Aku berdiri di halaman belakang, menatap kain-kain yang berkibar pelan tertiup angin. Tanganku terus bergerak, tapi pikiranku melayang entah ke mana. Perutku mulai terasa perih, bukan karena sakit, melainkan karena lapar yang sudah akrab sejak lama.
Aku melirik ke arah dapur. Kosong. Ibu masih di kamar bersama Alfa. Aku tak berani masuk atau bertanya. Di rumah kami, rasa lapar sering kali harus ditunggu, bukan diminta. Aku tahu ibu akan keluar saat waktunya tiba—saat ia merasa cukup kuat untuk kembali berdiri dan melanjutkan hari.
Aku duduk di tangga depan rumah, memeluk lutut. Sesekali, suara anak-anak lain terdengar dari kejauhan. Mereka berlari, tertawa, bermain di tanah lapang. Aku memandang ke arah suara itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada keinginan untuk ikut, tapi juga ada rasa takut—takut dimarahi karena meninggalkan pekerjaan, takut dianggap malas, takut dianggap tak berguna.
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka pelan. Ibu keluar dengan langkah pelan, menggendong Alfa yang masih terlelap. Wajah ibu terlihat lebih tenang, meski lelahnya belum sepenuhnya pergi. Ia menatap jemuran, lalu memandangku yang duduk diam di tangga.
“Kamu belum makan?” tanya ibu lirih.
Aku menggeleng pelan.
Ibu terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang.
“Tunggu ya… ibu masakin nasi.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat dadaku terasa hangat. Aku mengangguk cepat, takut kalau ibu berubah pikiran. Ibu berjalan ke dapur, menurunkan Alfa ke tikar, lalu mulai menanak nasi dengan gerakan yang sudah sangat ia hafal.
Aku memperhatikannya dari kejauhan. Cara ibu bekerja selalu sama—cepat, hemat tenaga, tanpa banyak suara. Sesekali ia mengusap wajahnya sendiri, seperti menahan sesuatu yang ingin keluar tapi tak pernah diberi kesempatan.
“Nanti kalau disuruh bantu,” kata ibu tanpa menoleh,
“jangan takut salah. Tapi juga jangan asal-asalan.”
Aku mengangguk lagi, meski ibu tak melihat.
“Iya, Bu,” jawabku pelan.
Siang itu kami makan seadanya. Nasi hangat dengan lauk yang tak seberapa. Tapi aku memakannya perlahan, seolah setiap suap adalah sesuatu yang harus disyukuri. Setelah makan, ibu kembali menggendong Alfa, dan aku membersihkan piring—kali ini dengan lebih hati-hati.
Hari terus berjalan. Sore mendekat. Satu per satu kakak dan abangku pulang dari sekolah. Rumah yang sejak pagi sunyi perlahan kembali ramai. Suara langkah, suara tas dijatuhkan, suara keluhan lelah bercampur menjadi satu. Tak ada yang menanyakan perasaanku hari itu.
Dan aku pun tak tahu bagaimana cara menceritakannya.
Malam datang tanpa banyak perubahan. Setelah makan malam, kami duduk di lantai, masing-masing dengan pikiran sendiri. Lampu redup menggantung di tengah ruangan. Aku bersandar ke dinding, memeluk lutut seperti pagi tadi.
Sebelum tidur, ibu menghampiriku. Ia mengelus kepalaku pelan—sentuhan yang jarang tapi selalu kuingat.
“Besok bantu ibu lagi ya,” ucapnya lembut.
Aku mengangguk.
“Iya, Bu.”
Malam itu, di atas tikar tipis, aku menatap langit-langit rumah yang gelap. Aku belum mengerti banyak hal tentang hidup, tentang lelah, tentang kerasnya dunia. Tapi aku tahu satu hal: aku sedang belajar tumbuh lebih cepat dari usiaku. Belajar kuat, meski tanpa pelukan. Belajar bertahan, meski sering merasa sendirian.
Dan pagi-pagi berikutnya, aku tahu, akan selalu datang dengan cerita yang hampir sama.