"Maaf Nan, gue enggak bisa."
Devi Zaruna menggeleng dengan pelan yang berhasil membuat Agnan Frendo kehilangan kata-kata yang dari tadi sudah dia siapkan.
Keheningan menyelimuti kedua insan yang saling mencintai itu, ini bukan permasalahan cinta beda agama atau cinta yang tidak direstui.
"Bukankah cinta tidak harus memiliki?"
Devi Zaruna, wanita cantik pekerja keras dengan rahang tegas serta tatapan tajam layaknya wanita pertama dengan beban di pundak yang harus dia pikul. Jatuh cinta merupakan kebahagiaan untuknya tetapi apa yang terjadi jika dia harus berkoban untuk cintanya itu demi ibunya?
"Kebahagiaan ibu paling penting."
Devi dan Agnan sudah menjalin hubungan selama tiga tahun tetapi hubungan itu harus kandas ketika ibunya juga menjalin hubungan dengan ayah Agnan.
Bagaimana kelanjutan kisah cinta Devi serta hubungannya dengan Agnan? apakah ibu Devi akan menikah dengan ayah Agnan atau malah Devi yang menikah dengan Agnan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lujuu Banget, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Emosi Herry
"Katakan intinya!" Herry memukul meja dengan sedikit keras membuat beberapa orang di ruangan tersebut sedikit kaget mendengar bentakan Herry.
Tidak biasanya pria itu emosi tetapi kali ini mood Herry sangat buruk, dia menatap manager dengan tatapan singa yang kelaparan dan siap menerkam, tatapan itu yang sejak tadi membuat Nanda dan Aldi berupaya untuk bersikap biasa saja.
Dia tau, sebenarnya emosi Herry karena Yaya yang tidak ada di ruangan itu, pria itu tidak banyak bertanya tetapi cepat mengerti dan paham akan situasi. Herry masih menunggu sambil memejamkan mata.
"Bukan itu! Kamu bisa atau tidak? Jelaskan inti dari proyek ini! Keunggulan serta sampel!" tekan Herry sudah berada di ambang muak.
Manager jelas panik begitu pula dengan empat orang yang lain terutama Aldi dan Nanda, mereka seakan diintimidasi oleh Herry, pria itu secara tidak langsung mempertanyakan kepada sang kekasih tidak ada di dalam ruangan ini.
Aldi sedikit menyesal dengan apa yang telah terjadi, andai saja Yaya ada di sini mungkin Herry tidak akan begitu marah.
"Cukup! Siapa penganggung jawab sebenarnya?" Herry menatap lima orang tersebut.
"JAWAB! KALIAN DIGAJI BUKAN UNTUK DIAM!"
"Saya pak," refleks Aldi.
Pria itu berdiri dengan sendi yang terasa begitu goyah, dia berupaya untuk membuka suara dan menjelaskan tentang proyek tersebut tanpa diminta, dia berupaya menjelaskan sesuai dengan apa yang dia pahami membuat Herry mengangguk mendengar penjelasannya.
Kenapa Herry di sini sangat berbeda saat mereka makan bersama atau saat karaoke? Kenapa pria itu seperti memiliki kepribadian ganda?
"Lalu targetnya? Apakah hanya seperti itu?"
Aldi mengigit bibir bawah dengan perasaan tidak menentu, dia terbata-bata menjawab pertanyaan Herry membuat wajah Herry kembali berubah masam, pria itu mencerna ucapan Aldi yang malah terdengar omong kosong.
"Ada yang bisa jelaskan lebih detail?" pinta Herry.
Aldi duduk dengan jantung yang berdetak sangat kencang, dia bahkan berkeringat dingin. Ruangan ini begitu menakutkan dan masih menjadi pertanyaan bagaimana cara Yaya menaklukan Herry? Pria itu seakan Siam menerkam siapa saja, dia terlihat begitu kelaparan?
"Lalu apa pekerjaan kalian jika menjelaskan ini saja tidak bisa?" Herry melempar dokumen tersebut ke arah manager, dokumen tersebut jatuh berserakan di atas lantai tetapi tidak ada yang berani bergerak untuk membereskannya.
Baru pertama kali ini Herry begitu sangat marah, dia menghela napas sambil menutup mata, setelah itu tatapannya jatuh kepada Aldi yang sejak tadi menunduk.
"Pak itu ... anu ... Sebenarnya Devi dan Yaya ikut berkontribusi di dalam proyek ini. Hampir inti dari proyek ini dibuat oleh Devi," lirih Aldi dengan pelan entah mendapatkan keberanian dari mana.
"Mana mereka? Panggil sekarang juga!"
"Mereka tadi mengundurkan diri." Kali ini Nanda yang berucap membuat Herry menatap manager yang semakin panik karena lirikan tajam dari Herry.
"kamu, manager, ke ruangan saya!" tegas Herry seraya menunjuk ke arah Aldi.
Pria itu melangkah keluar, meninggalkan semua di sana tanpa berkata sepatah katapun. Jelas, jantung Aldi semakin berdetak sangat kencang, dia tidak menyangka akan berada di posisi ini, posisi di mana dia akan dibunuh oleh Herry. Kenapa hal ini bisa terjadi?
Aldi dan manager mengetuk pintu ruangan Herry, setelah itu baru mereka masuk dengan Herry yang fokus dengan laptopnya, entah sengaja biar kelihatan sibuk atau memang ada kerjaan yang harus diurus.
"Kenapa Devi dan Yaya mengundurkan diri?"
"Itu ...."
"Keputusan Yaya dan Devi sendiri, setelah konflik dengan beberapa rekan kerja, Yaya dan Devi lebih banyak bersikap bodo amat bahkan pekerjaan sering ditolak," ujar Manager.
Aldi berhasil memberikan lirikan tidak percaya mendengar ucapan manager, ekspresi wajah Herry masih belum berubah, dia mendengarkan ucapan Manager yang mulai sengaja menjelekan Devi dan Yaya.
"Kamu akan dipindahkan, hubungi bagian HRD dan kamu ...." Herry menunjuk ke arah Aldi, "bawa Devi dan Yaya ke sini!'
"Baik pak!" jawab Aldi dengan semangat.
Herry memberi isyarat untuk dua orang itu keluar sedangkan manager masih sangat syok jika dia akan dipindahkan, bagaimana ini? ini sangat di luar prediksinya. Harusnya dia promosikan jika proyek ini berhasil tetapi kenapa malah jadi seperti ini?
Aldi menghubungi Devi untuk mengabarkan kabar baik ini, dia ingin Devi kembali bekerja. Beberapa panggilan masih belum terjawab sampai ....
"Halo Dev, gue ada kabar gembira buat Lo dan Yaya."
"Iya Al? Kenapa?" balas Devi di ujung sana, wanita itu terdengar penasaran membuat Aldi segera mengucap bahwa Herry meminta mereka untuk kembali ke perusahaan.
"Gue dan Nanda udah menunggu kalian di sini."
"Iya, apalagi gue udah kangen banget sama Devi," sahut Nanda membuat Aldi melotot tidak percaya jika Nanda akan mengatakan hal seperti itu.
Devi di seberang sana tertawa mendengar hal itu, dia langsung mengatakan jika tidak bisa kembali bekerja ditambah surat pengunduran diri itu.
"Kenapa?" tanya Nanda dengan sangat kecewa.
"Atau gue jemput nih," lanjut Nanda.
Devi tertawa di ujung sana, dia segera mengatakan jika saat ini mereka tengah berada di Jepang membuat Aldi dan Nanda terperangah saat mendengar itu.
"Jepang?" lirih Aldi dengan sangat pelan.
Saat nama Devi terdengar dipanggil, Devi langsung berpamitan mematikan panggilan membuat Aldi dan Nanda saling pandang, bisa-bisanya Devi dan Yaya berada di Jepang.
"Orang kaya emang beda ya," lirih Nanda yang dibalas anggukan oleh Aldi.
Andai dua orang itu tau bagaimana kehidupan Devi dan Yaya mungkin mereka tidak akan menyangka dengan apa yang telah dialami oleh dua orang itu terutama Devi sendiri.
"Kapan ya bisa ke Jepang?"
...***...