Tidak pernah terbayangkan dalam benak Alissa bahwa dia akan terjebak di dalam sebuah novel.
Menjadi istri pajangan dari antagonis yang mecintai adik kandungnya sendiri.
Istri antagonis yang akan mati di tangan suaminya sendiri, karena dicap sebagai penghalang antara sang antagonis dan adik kandung yang dicintainya.
"Aku ingin cerai!!" teriak Alissa lantang, tak menghiraukan tatapan tajam dari sang suami.
Sean terkekeh dingin. "Cerai? ingat ini Alissa, aku tidak akan pernah melepaskanmu bahkan jika kematian yang menjemput."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Aku Ingin Cerai!
"Shhhh...." Alissa meringis kesakitan saat Sean membersihkan darahnya.
"Bisakah kau pelan-pelan?" omel Alissa yang menganggap Sean sangat kasar dalam membersihkan lukanya.
"Jika begitu, obati sendiri!" ujar Sean merasa tak suka jika Alissa mengomentarinya.
Ia lemparkan kapas tepat ke wajah Alissa. Paling sebentar lagi juga dia akan merengek dan meminta maaf. Batin Sean dengan kepercayaan diri yang tinggi. Karena begitulah biasanya yang Alissa lakukan.
Drama di lorong tadi, Sean hanya mengikuti permainan Alissa. Perempuan itu ingin main hantu-hantuan, maka dengan baik hati Sean mengabulkanya.
Menurut Sean, Alissa masih sama. Si penggoda yang suka cari perhatian. Tanpa tahu jika jiwa Alissa yang sekarang telah berbeda.
"Baik! Lebih baik aku obati sendiri daripada diobati oleh pria kejam sepertimu!" balas Alissa tak kalah sinis.
Ia mengambil kapas yang tadi Sean lemparkan. Lalu mulai membersihkan darahnya dengan gerakan perlahan. Sesekali mulutnya menghembuskan nafas dingin untuk mengurangi rasa perih.
Sementara itu, balasan Alissa membuat Sean sedikit terkejut. Catat. Hanya sedikit. Mungkin saja, itu salah satu trik perempuan itu bukan. Alissa pikir, Sean sebodoh itu apa.
Sean menyunggingkan satu sudut bibirnya. Baiklah. Kita lihat, seberapa lama penggoda kecil di hadapannya ini sanggup melakonkan sikap abainya.
Sean ingin pergi dari kamar Alissa. Masih banyak pekerjaan yang harus dia urus selain meladeni sandiwara perempuan yang berstatus sebagai istrinya itu.
Baru ingin menarik tuas pintu, panggilan dari Alissa berhasil membuat bibir Sean tersenyum penuh kemenangan.
"Apa ku bilang, dia tidak akan bertahan lama dengan sandiwara ini." decihnya dalam hati.
Sean kembali menghadap ke arah Alissa. Menatap perempuan itu penuh arogansi yang tinggi.
"Kenapa? Kau berubah pikiran?" tanyanya dengan nada mencemooh.
Alissa menghentikan kegiatannya memberikan salep pada lukanya. Ia menghela nafas jengah, sebelum menunjuk kursi sofa di salah satu sudut kamar.
"Kau...bisa duduk di sana? Aku akan menyelesaikan ini dulu. Ada...hal penting yang harus aku bicarakan."
Sean menaikkan salah satu alisnya merasa tertarik. Alissa tidak langsung mengungkapkan kekalahannya. Ah, pasti perempuan itu malu, pikir Sean.
Alissa menyuruh dirinya duduk di sofa? Oh, atau dia ingin duduk di pangkuan Sean lalu merayu Sean dengan gaya penggodanya itu.
Baiklah. Untuk kali ini, Sean akan menurutinya. Laki-laki itu ingin melihat, seberapa liar penggoda kecilnya itu.
Sean melangkahkan kaki ke tempat yang Alissa minta. Duduk di sana dengan satu kaki ia silangkan di kakinya yang lain. Merentangkan tangan ke kepala sofa. Wajahnya sangat angkuh penuh kepercayaan diri.
Alissa tak ambil pusing. Ia segera membereskan kotak p3k setelah selesai mengobati lukanya sendiri. Segera berjalan mengikuti Sean, agar urusannya cepat selesai.
"Jadi, apa yang ingin kau katakan?" Sean mengangkat dagu setinggi-tingginya. Menanti Alissa duduk di pangkuannya.
"Sean, aku tahu. Pernikahan kita hanyalah perjodohan." Alissa mulai menjelaskan.
"Ya, lalu?"
"Kau tidak mecintaiku. Walaupun aku berusaha kau tidak akan pernah mecintaiku." huek. Jika saja aku bisa memuntahkan isi perutku ke bajunya. Sayangnya aku masih ingin hidup.
"Oh, akhirnya kau sudah paham." Sean mengangguk-anggukan kepalanya seolah paham.
"Baguslah."
"Kau benar sekali Sean. Sekarang aku sadar jika percuma mengejar babi yang sedang berlari."
"Apa?!"
"Eh, maksudku. Percuma aku mencoba menggapai bulan di langit. Indahnya bulan hanya untuk dikagumi bukan di miliki. Benar kan Sean?" buru-buru Alissa meralat ucapannya.
Untungnya laki-laki itu tidak memperpanjang ucapannya Sebelumnya. Buktinya kini Sean tengah tersenyum penuh rasa bangga mendengar Alissa mengibaratkannya sebagai bulan.
"Kau benar Alissa. Tidak sembarang orang bisa menyentuhku. Kau lumayan pintar setelah mencoba bunuh diri." ungkap Sean yang memuji sekaligus menyindir istrinya.
Alissa merasa dongkol. Antagonis yang satu ini ternyata memiliki kenarsisan yang tinggi.
"Jadi, daripada aku lelah selalu mendapat penolakan darimu, aku memutuskan untuk menyerah." jelas Alissa mulai mengungkapkan tujuannya.
"Hmm-- apa?!"
"Aku ingin bercerai Sean!" ujar Alissa memperjelas. Pun dengan senyum cerah yang tersungging dari bibirnya.
"Bagaimana, kau senang? Kau akan bebas dari hama sepertiku. Kau akan bisa membuang benalu ini Sean." entah kenapa, Alissa merasa nyeri ketika mengatakan ini.
Mungkinkah ini sisa-sisa perasaan Alissa yang asli. Dia berat untuk melepas psikopat yang satu ini?
Tapi keputusan Alissa yang sekarang sudah bulat. Dia tetap akan pergi dari Sean. Ini demi kelangsungan hidupnya.
Setelah bercerai, dia akan pergi sejauh-jauhnya. Menjauh dari semua tokoh yang terlibat di dalam novel sia-lan yang telah membawanya ke dunia ini.
"Sean, kenapa kau hanya diam? Setidaknya berikan reaksimu! Mana tawa bahagiamu?" seru Alissa ketika laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu masih diam sambil menatapnya---entahlah, Alissa tidak bisa mengartikan tatapan apa itu.
"Kau?" Sean menunjuk Alissa menggunakan jari telunjuknya.
"Ingin bercerai?" tanyanya mencoba memastikan.
"I...iya mari kita bercerai dan menemukan cinta sejati kita---
"Hahaha....ini sangat lucu hahaha..." Sean tertawa terbahak-bahak. Entah apa sebabnya.
"Dia kenapa?" gumam Alissa tanpa sadar.
Alissa menjadi teringat kejadian tadi bersama pelayan itu. Bukankah tadi pelayan itu mengatakan jika ada hantu. Tiba-tiba Alissa merasa merinding.
"Dia tidak kerasukan hantu kan?" ungkap Alissa di dalam hatinya. Melihat betapa kerasnya Sean tertawa, membuat perempuan itu menjadi takut.
"Sean? Ka--kau kenapa?"
"Kau ingin bercerai?" lagi-lagi Sean mengulangi pertanyaannya.
"I--iya. Aku--
"Hahaha...lelucon macam apa ini Alissa!"
"Lelucon?" mata Alissa membulat tak terima.
"Ini bukan lelucon!"
"Lalu? Komedi maksudmu?" balas Sean yang menghapus air mata di sudut matanya. Akibat tertawa terbahak-bahak sampai air matanya juga keluar.
"Sean, aku serius aku ingin bercerai!" kesal Alissa yang kata-katanya dianggap guyonan oleh sang antagonis.
"Oh ya? Seberapa serius hm?" balas Sean tertawa geli.
"Seserius aku mecintai Shawn Mendes!" sebal Alissa menatap Sean tak bersahabat.
Tawa Sean sirna. Lagi-lagi Alissa menyebut nama laki-laki lain. Sebenarnya siapa Mendes-Mendes itu. Membuatnya mood Sean hilang saja.
"Sebenarnya siapa dia? Selingkuhanmu?" ejek Sean dengan wajahnya yang sinis.
"Hei, dengar ya Tuan Sean Balrick yang terhormat. Sebutan selingkuhan tidak cocok untuk laki-laki setampan dan sekaya dia!" seru Alissa yang tidak terima idolanya dihina.
"Cih, seberapa kaya? Lebih kaya dariku begitu?"
"Kenapa? Kau merasa tersaingi, Sean?" kini giliran Alissa yang mengejek Sean.
"Aku?" Sean menunjuk dirinya sendiri. "Merasa tersaingi?" serunya terkekeh geli.
"Aku tidak perlu merasa seperti itu karena tidak ada seorang pun yang bisa menyamai kedudukanku." ucapnya penuh dengan keangkuhan.
"Hah, meskipun kau punya segalanya. Kau tetap tidak bisa memiliki Stella, Sean." decih Alissa menyinggung nama tokoh utama wanita.
"Kau hanya pria tidak waras yang menyukai adik kandungmu sendiri! Dasar pria gila!"
Wajah Sean berubah dingin. Dia bangkit. Mengapit dagu Alissa menggunakan jemarinya. Gerakan cepat itu tak membiarkan Alissa untuk menghindar.
Sean terlalu cepat, sedangkan Alissa selalu telat membaca situasi.
"Jangan pernah menyebut nama Stella dengan mulut kotormu." tekannya tajam.
Alissa menelan salivanya susah payah. Wajah Sean terlalu dekat. Bahkan nafas berbau mint milik laki-laki itu dapat ia rasakan.
"Untung saja aku sedang malas menghajar orang." Sean melepas cengkramannya.
Laki-laki itu membenarkan jas-nya yang sedikit berantakan. Setelah itu menepuk bahu Alissa yang masih mematung kaku.
"Ngomong-ngomong yang tadi itu lelucon yang sangat bagus. Kau cocok jadi komedian." Pujinya sebelum benar-benar pergi dari kamar Alissa.