"Astangfirullah Pak, ini bukan hukuman tapi menindas namanya!" Pekik Nabila kala menatap bukuu setebal tembok di depannya.
"kalau tidak mau silahkan keluar dari daftar Siswi saya!" jawab pria yang amat di kenal kekillerannya.
huff!
Nabila tak dapat membantah selain pasrah ia tidak mau mengulangi mata kuliah satu tahun lagi hanya demi satu kesalahan.
Tetapi Nabila pikir ini bukan kesalahan yang fatal hanya dosennya memang rasa sensitiv terhadap dirinya, Nabila tidak tahu punya dendam apa Pak Farel sehingga kesalahan kecil yang Nabila perbuat selalu berujung na'as.
Yuk lanjut baca kisah Nabila yang penuh haru dan di cintai oleh dosennya sendiri secara ugal-ugalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
PAK Alka seenak jidatnya sendiri!.
"Pak, tunggu!" cegah Nabila.
"Ada, apa?" tanya Alka cuek.
"Kenapa Bapa tadi bilang saya istri Bapak, nikah aja belum?" omel Nabila.
"Apa bedanya, sebentar lagi kamu jadi istri saya."
"Hah! hanya karena itu, ya nggak bisa gitu donk Pak, walaupun kita sudah di jodohkan tapi belum tentu kan kita menikah?"
Alka merasa kesal karena Nabila ternyata masih mengharapkan pernikahannya gagal.
Tak menghiraukan ucapkan Nabila Alka langsung masuk meninggalkan Nabila yang masih menggerutu kesal.
Namun saat Alka memasuki sebuah bangunan menjulang indah dengan segala desain dan isinya.
"Bapak ngapain sih ngajak saya ke sini, apa kita rapat di sini pak?" gumam Nabila tidak betah.
"Alhamdulillah, akhirnya menantu ummi sudah datang." ummi Hanin senang bisa bertemu dengan menantunya lagi.
"Tante ada di sini?" kaget Nabila saat melihat calon mertuanya ternyata ada di dalam ruangan tersebut.
"loh kok masih manggil Tante sih, ummi donk seperti Alka sebentar lagi kamu menjadi anak ummi juga, jadi panggil ummi ya?" pinta beliau.
Nabila tersenyum sambil mengangguk senang karena orang tua Alka orangnya sangat baik tidak seperti hasil karyanya.
"Ayo nak, duduk dulu kamu minum baru fitting bajunya di mulai," ucap Hanin lembut.
Nabila menyerngitkan dahi.
"Kenapa nak, apa Alka tidak bilang kalau kalian ke sini mau fitting baju, karena ummi rasa pernikahan kalian di majukan saja minggu depan," ucap Hanin.
Deg...
Shontak mata Nabila membulat sempurna, bagai mimpi buruk di siang bolong tiba-tiba hari pernikahannya di majukan sedang ia masih berharap ada keajaiban gagal.
Saking terkejutnya ia sampai tersedak mendengar ucapan Hanim.
Uhuk!
Uhuk!.
"Astangfirullah nak, kamu kenapa?" tanya Hanin terkejut melihat reaksi Nabila.
Nabila tidak bisa menjawab, saking shoknya ia masih berusaha menitralisir dengan menarik napas dalam-dalam.
"Nak, kamu baik-baik saja kan! maafkan ummi kalau ucapan ummi membuat kamu terkejut dan sampai seperti ini," ucap Hanin tidak enak.
Nabila memang masih diam dan wajahnya sempat memerah yang ia coba untuk menyembunyikan rasa shok berlebihan mengingat di sini ada Hanin juga.
Sementara Alka menyeringai heran melihat reaksi Nabila yang begitu terkejut,"Apakah Nabila benar-benar takut menikah denganku? ah tidak, saya pastikan anak itu bisa jatuh cinta sama saya, lihat saja nanti setelah malam itu dia pasti kelepek-kelepek, huh dasar cewek anih sekarang aja pura-pura terkejut padahal dalam hatinya senang bisa menikah cowok tampan seperti gue," batin. Alka.
Alak berbicara seperti karena gengsi yang besar, padahal dirinya yang sudah mulai jatuh cinta terhadap Nabila buktinya ia sendiri yang merengek sama Hanin untuk di majukan pernikahannya.
Alka yang merasa cemburu karena melihat Fathan dosen tampan dan masih mudah, memilik firasat kalau pria itu menyukai Nabila lebih-lebih mereka pernah saling kenal dan memiliki mantan teman.
"Ma-af Tan, eh ummi, Nabila kaget," ucap Nabila setelah berhasil mengatur napasnya.
"Iya sayang nggak papa, maaf ya kalau ummi sudah buat kamu terkejut, begini sayang ummi dan Abi memajukan pernikahan kalian bukan tanpa alasan insyaallah kami berdua mau berangkat umrah bulan depan tuntutan dari jema'ah jadi kami tidak bisa menolaknya, kalau pernikahan kalian harus di tunda setelah ummi dan Abi datang sepetinya kelamaan, jadi kami berinisiatif untuk di majukan saja dan biar nanti setelah ummi datang umrah menantu ummi bisa pulang ke rumah menyambut ummi," ucap Hanin sambil tersenyum, memang beliau jujur tapi alasan utama adalah karena permintaan Alka yang katanya dirinya setelah ini sibuk atau apalah alasannya dan Nabila juga mau ujian.
"Ummi dan Abi juga sudah menyiapkan hadiah untuk kalian kebetulan teman Abi ada yang baik launching hotel baru dan hotelnya khusus buat pengantin baru, jadi kalian nanti bisa tinggal berangkat saja, gimana ummi dan baik kan sama kalian," lanjut Hanin.
Memang apa yang di katakan oleh Hanin tidak salah sebagian pengantin baru hadiah itu wajar tapi tetap saja Nabila belum siap jika harus menikah dengan Alka secepat ini, Minggu depan tinggal menghitung jari dan itu buat Nabila ketakutan.
Gimana tidak Alka pernah bilang kalau dia pasti bakal menjadi suami yang galak terhadap dirinya, dari situ jangankan menikah, tinggal satu kamar dengan Alka rasanya sangat takut bagi Nabila apa lagi ia harus satu kamar denganya.
Alka hanya menyimak saja tidak berkomentar apapun, tapi raut wajah Alka datar dan cuek tapi dalam hatinya tentu ia sudah tak sabar.
" Gimana Al, kamu setujukan?" tanya Hanin.
"Aku nurut ummi sama Abi saja, kalau yang terbaik ya udah," jawab Alka santai seolah ia tidak begitu menginginkan pernikahan dari raut wajahnya tapi ucapan Alka membingungkan.
"Besok juga tidak papa Mi, lagian buat apa lama-lama to' menikah juga buang-buang waktu saja," lanjut Alka karena tatapan Nabila seolah meminta penjelasan.
Nabila terkesiap karena menganggap Alka pernikahan ini hanya lelucon saja sebab Alka menikah hanya karena orang tua.
"Nabila ikut juga ummi," jawab Nabila memilih ikut saja karena kesal menatap Alka seenak sendiri.
"Alhamdulillah, ummi senang mendengar kalian setuju dengan begitu ummi bisa lebih tenang mempersiapkan pernikahan kalian, oh ya Nak Nabila magangnya kan di kantor Alka kan! jadi mulai besok kamu cuti saja dulu ya nak, ummi khawatir kamu kecape'an nanti apa lagi kalian langsung mau berbulan madu," ujar Hanin lagi-lagi membuat jantung Nabila berdebar-debar.
Sementara Alka hanya senyum-senyum tipis hingga orang-orang tidak tahu kalau dirinya sebenarnya bahagia sekali hendak menikah dengan Nabila.
Setelah fitting baju selesai baru Alka mengantar Nabil pulang.
"Ternyata kamu setuju juga ya, kita menikah dimajuin atau jangan-jangan kamu memang senang ya menikah dengan saya?" ujar Alka saat mengemudi di jalan mengantar Nabila pulang.
"Kalau saya tidak setuju apa pernikahan ini batal! tidak kan? terus saya harus apa, bapak sendiri ikut aja apa kata orang tua dan tidak bisa membatalkannya, kalau saya jelas mah tidak mau tapi terpaksa." skak Nabila, ia sudah kesal terhadap Alka seharusnya pria itu berbuat lembut pada dirinya kalau memang niat tulus mau menikahinya.
Alka langsung mengumpat kasar dan kesal, mendengar penuturan Nabila yang masih kekeh ingin pernikahan ini gagal.
"Kenapa tadi tidak bilang saja sama ummi?" ucap Alka menahan marah.
"Saya sadar diri Pak, siapa saya seharusnya Bapak yang sadar dan punya kekuatan untuk membatalkan pernikahan ini kecuali kalau memang Bapak sangat menginginkan pernikahan ini," jawab Nabila berani, tak ada gunanya terus mengalah sama muster ia juga punya batas kesabaran.
"Kamu, berani ya mengatakan itu pada saya, kamu lupa siapa saya?" ujar Alka dingin.
"Kenapa Pak, kenyataanya begitu kan! kita menikah bukan karena cinta, baik saya tidak mencintai Bapak, bukankah begitu?" Jelas Nabila.
Napas Alka tercekat tak menyangka Nabila sekarang berani juga, padahal selama ini prempuan itu berhasil ia taklukkan.
"Semua perempuan punya impian menikah dengan orang yang di cintainya, lah saya, nasib-nasib," gumam Nabila, lalu mendengus menatap jalanan.
Alka mendengar tapi pria itu berusaha diam tak menyaut, baginya Nabila sudah keterlaluan hari ini berani melawannya.