Penasaran dengan ceritanya langsung aja yuk kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: REALITAS YANG TERBELAH
BAB 29: REALITAS YANG TERBELAH
Arga dan Damar jatuh melewati lorong sempit di dalam laci itu, terasa seperti ditarik melalui pipa vakum yang tak berujung. Suara gemuruh mesin penghancur dari Sektor Tanpa Nama perlahan menghilang, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.
BRUKK!
Mereka mendarat di atas aspal yang keras. Arga terengah-engah, matanya mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu jalan yang remang-remang. Ia melihat ke sekeliling. Mereka berada di tengah Jembatan Semanggi, Jakarta. Namun, ada yang aneh.
Waktu seolah berhenti. Mobil-mobil di atas jembatan diam mematung, orang-orang di dalamnya membeku dalam pose yang aneh. Langit tidak berwarna hitam atau biru, melainkan berwarna abu-abu statis, seperti layar televisi yang kehilangan sinyal.
"Kita di mana?" tanya Arga sambil membantu Damar berdiri. Rambut Damar masih putih, tapi kulitnya sudah tidak lagi mengeluarkan asap hitam.
"Ini adalah Antarmuka," jawab Damar dengan suara lemah. "Ruang antara dunia nyata dan dimensi Gudang. Kita berhasil keluar, tapi kita belum 'mendarat' sepenuhnya di realitas manusia."
Tiba-tiba, dari arah berlawanan di jembatan yang membeku itu, muncul sebuah sosok tunggal. Bukan Pengawas, bukan pula Pembersih Parasit. Sosok itu adalah seorang wanita muda dengan pakaian kantor yang rapi, memegang sebuah tablet digital.
Wanita itu berjalan mendekat dengan langkah yang sangat teratur. "Subjek Arga dan Subjek Damar. Kalian telah menyebabkan inkonsistensi data sebesar 40% pada siklus distribusi tahun ini."
"Siapa kau?" Arga bersiap dengan posisi bertarung, meski tangannya kini hanya berangka 0.
"Saya adalah Unit Audit," jawab wanita itu tanpa ekspresi. "Gudang Sektor Pusat memang hancur, namun protokol tetap berjalan. Kalian berdua adalah 'Aset yang Hilang'. Untuk memulihkan sistem, kalian harus dihapus secara permanen dari garis waktu."
Wanita itu menyentuh layar tabletnya. Seketika, mobil-mobil yang membeku di sekitar Arga mulai bergetar dan mencair, berubah menjadi massa logam cair yang membentuk jeruji penjara di sekeliling mereka.
"Arga, koinnya!" teriak Damar.
Arga meraba sakunya, namun koin emas itu sudah retak menjadi dua saat ia gunakan untuk menyelamatkan Damar tadi. "Koinnya rusak, Damar!"
"Bukan koinnya yang penting, tapi nilai yang ada di dalamnya!" Damar memegang tangan Arga. "Dengarkan aku. Gudang bekerja berdasarkan transaksi. Kau punya angka 0, artinya kau tidak punya hutang, tapi kau juga tidak punya aset. Kau harus melakukan 'Transaksi Terlarang'."
"Apa itu?"
"Tukarkan ingatanmu tentang rasa sakit dengan kekuatan murni. Berikan semua penderitaan yang kau rasakan selama menjadi kurir kembali kepada Unit Audit itu!"
Arga memejamkan mata. Ia memanggil kembali bayangan-bayangan mengerikan: peti mati anak-anak, suara ibunya yang minta tolong, wajah ayahnya yang hancur, dan dinginnya laci di Sektor Tanpa Nama. Ia tidak lagi menolak rasa sakit itu, ia memeluknya.
Angka 0 di tangannya mulai berputar, berubah menjadi simbol Minus (-) yang memanjang seperti pedang cahaya.
Arga menerjang jeruji logam cair itu dan menghancurkannya dengan satu tebasan cahaya hitam-putih. Ia berlari menuju Unit Audit tersebut.
"Data tidak valid! Data tidak valid!" wanita itu mulai berteriak, wajahnya retak menunjukkan sirkuit mesin di dalamnya.
Arga menghantamkan telapak tangannya ke tablet digital wanita itu. "Hapus aku dari daftarmu, tapi biarkan dunia ini berjalan tanpa campur tangan kalian!"
BOOM!
Ledakan data terjadi. Ribuan baris kode biner meluap ke udara, membakar atmosfer abu-abu di sekitar mereka. Unit Audit itu meledak menjadi ribuan kepingan memori.
Seketika, waktu kembali berjalan. Suara klakson mobil, deru mesin, dan angin malam Jakarta kembali menerpa wajah Arga. Mereka kembali ke realitas yang asli.
Namun, saat Arga berbalik untuk melihat Damar, pria itu mulai memudar.
"Damar? Apa yang terjadi?"
"Aku adalah data yang sudah dihapus sejak lama, Arga," Damar tersenyum damai. "Begitu Unit Audit itu hancur, tidak ada lagi yang menahan keberadaanku di sini. Aku akan kembali ke tempat di mana seharusnya aku berada... ke dalam kedamaian."
Damar menghilang menjadi butiran cahaya, menyisakan Arga sendirian di tengah jembatan yang ramai.
Arga berjalan pulang ke rumahnya dengan langkah gontai. Saat sampai di depan rumah, ia melihat ibunya sedang menyapu teras. Ibunya menoleh dan tersenyum, namun senyumnya kali ini terasa berbeda.
"Cari siapa, Mas?" tanya ibunya.
Jantung Arga seolah berhenti. "Ini... ini Arga, Bu. Anak Ibu."
Ibunya mengerutkan kening, tampak berpikir keras, lalu tertawa kecil. "Aduh, Mas ini bercanda saja. Anak saya kan masih sekolah di luar kota. Mas ini kurir paket yang tadi ya? Maaf, paketnya sudah saya terima."
Arga melihat ke bawah. Di teras itu, ada sebuah paket yang sudah terbuka. Di dalamnya berisi foto keluarga mereka, tapi wajah Arga di foto itu telah terhapus sepenuhnya.
Arga menyadari harga dari Transaksi Terlarang tadi: Dunia selamat, tapi identitasnya sebagai anak dari ibunya telah dihapus oleh sistem sebagai bayaran.