NovelToon NovelToon
Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Lari Saat Hamil / Slice of Life / Anak Genius
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rima Andriyani

Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.

Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.

Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Wajah anak itu, Leon.

Sorot matanya. Cara bicaranya. Ketegasan kecil yang tidak biasa dimiliki anak seusianya.

Itu pun mulai mengganggunya.

Enam tahun.

Angka itu tidak luput dari perhitungannya. Jika dihitung mundur...

Alexander menunduk, jemarinya mengepal lebih kencang.

"Apa ini hanya kebetulan?" gumamnya sendiri.

Namun ia segera menggeleng cepat. Tidak. Itu terlalu tidak masuk akal. Elena tidak mungkin… dia tidak akan…

Tapi mengapa nalurinya mengatakan sebaliknya?

Suara ketukan pelan di pintu menyadarkannya.

“Masuk,” ucapnya datar.

Salah satu staf logistik masuk dengan beberapa dokumen untuk ditandatangani. Alexander hanya memberi gestur tangan agar pria itu meninggalkannya di meja, lalu kembali menatap jendela.

Setelah ruangan kembali sepi, ia berjalan perlahan menuju mejanya, lalu duduk kembali. Tangannya terulur ke cangkir kopi yang mulai mendingin, tapi ia tak segera meminumnya.

Sebaliknya, ia membuka laptopnya, lalu mengakses berkas pegawai atas nama Elena Stoford.

Matanya menyusuri data pribadi itu sekali lagi. Tidak ada catatan pernikahan resmi. Semua bersih. Terlalu bersih.

Dan itulah yang membuatnya janggal.

Alexander bersandar, tatapannya kosong ke arah layar.

Dalam diam, ia berkata dalam hati,

“Apa yang Dia sembunyikan?”

Dan lebih dari itu…

“Mengapa aku merasa ingin tahu?”

***

Siang ini, Alex bersiap menghadiri sebuah rapat penting dengan salah satu klien dari luar kota. Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung di sebuah hotel bintang lima yang berada di pusat kota. Tanpa banyak penjelasan, Alex memanggil Elena ke ruangannya.

“Elena, siapkan seluruh dokumen dan perlengkapan presentasi. Kita akan menghadiri rapat di luar kantor,” ucap Alex dengan suara tegas.

“Baik, Tuan,” jawab Elena singkat, lalu segera mengemasi berkas-berkas yang diperlukan, termasuk laptop dan catatan-catatan penting.

---

Sesampainya di hotel, Alex melangkah dengan tenang namun penuh wibawa, diikuti oleh Elena yang membawa map dokumen di pelukannya. Lobi hotel tampak megah, dengan dinding berlapis marmer dan lampu kristal yang menggantung anggun dari langit-langit. Saat Elena sedang memeriksa kembali jadwal rapat di ponselnya, sebuah suara yang tak asing tiba-tiba menyapanya.

“Elena?”

Elena sontak menoleh. Seorang pria mengenakan setelan jas berwarna biru tua berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri. Wajahnya terlihat terkejut namun senang.

“Steve...” ucap Elena nyaris berbisik, matanya membulat karena tak menyangka akan kembali bertemu pria itu.

Steve segera menghampirinya. “Aku tidak menyangka bisa bertemu lagi denganmu di sini. Apa yang kamu lakukan di tempat ini?” tanyanya dengan nada penuh keingintahuan.

Sebelum Elena sempat menjawab, Alex yang berdiri hanya beberapa langkah dari mereka, memandang keduanya dengan sorot tajam. Wajahnya terlihat tenang, tetapi dingin. Ia kemudian berdehem pelan namun cukup tegas, membuat Elena tersadar.

Elena segera menunduk, merasa canggung. “Maaf, saya sedang bekerja,” jawabnya singkat kepada Steve, dengan nada datar dan penuh hati-hati.

Tanpa menunggu balasan dari pria itu, Elena segera melangkah mengikuti Alex menuju ruang rapat. Wajahnya menegang, sementara hatinya terasa tidak tenang. Ia tahu betul, Alex tidak menyukai kejadian tadi, dan itu cukup membuatnya khawatir akan suasana selama rapat berlangsung nanti.

**

Pertemuan bisnis siang itu berlangsung selama hampir dua jam. Seluruh pembahasan berjalan lancar dan profesional. Para klien tampak puas dengan presentasi yang disampaikan oleh tim Alex, dan kesepakatan kerja sama pun berhasil dicapai.

Namun, di balik kesuksesan rapat tersebut, suasana yang melingkupi ruangan terasa kaku. Sepanjang pertemuan, wajah Alex tetap tanpa ekspresi, dingin dan sulit ditebak. Nada bicaranya tegas, tidak meninggalkan celah untuk diskusi ringan atau basa-basi seperti biasanya. Tak seorang pun dari timnya yang berani menyela atau bertanya kecuali jika benar-benar diperlukan.

Elena yang duduk tak jauh darinya hanya bisa menunduk, mencatat poin-poin penting tanpa suara. Bahkan ketika ia merasa perlu menyampaikan sesuatu, ia memilih menahannya. Tatapan Alex terlalu tajam untuk diabaikan. Sejak pertemuannya dengan Steve di lobi tadi, Elena tahu ada sesuatu yang berubah dari sikap atasannya itu.

Tak ada senyum. Tak ada anggukan ringan yang biasa diberikan Alex saat seseorang menyampaikan pendapat. Hanya tatapan datar dan angkuh yang membuat siapa pun memilih diam.

Dan ketika rapat akhirnya usai dan para klien satu per satu meninggalkan ruangan, Alex hanya mengangguk singkat tanpa berkata apa-apa. Elena pun berdiri pelan, menunggu arahan lebih lanjut. Namun Alex tetap tak bersuara, hanya melangkah keluar dari ruangan lebih dulu, meninggalkan Elena dengan perasaan tak menentu.

Elena mempercepat langkahnya menyusul Alex yang sudah lebih dulu keluar dari ruang rapat. Hatinya gelisah. Ia tak mengerti apa yang membuat pria itu bersikap dingin sepanjang pertemuan. Biasanya, meski serius, Alex tetap mampu bersikap profesional dan tenang. Namun kali ini, auranya terasa berbeda, lebih tegang, lebih menusuk.

Saat Elena keluar dari pintu hotel, matanya langsung menangkap sosok Alex yang sudah duduk di dalam mobil hitamnya, menunggu tanpa ekspresi. Elena segera menghampiri, namun belum sempat membuka pintu, suara yang familiar menahannya.

“Elena!”

Ia menoleh. Steve berjalan cepat ke arahnya, kali ini tanpa ragu.

“Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi hari ini,” ucapnya, masih dengan nada hangat. “Apa kamu punya waktu malam ini? Kita bisa bertemu. Hanya berdua.”

Elena sempat terdiam. Ia menoleh sekilas ke arah mobil. Kaca gelap di sisi tempat duduk Alex tak memperlihatkan ekspresi apa pun, namun entah kenapa, ia merasa sedang diawasi. Ia menelan ludah, lalu kembali menatap Steve.

“Baiklah,” katanya singkat. “Tapi aku harus kembali bekerja sekarang.”

Steve tersenyum puas. “Terima kasih. Aku akan menunggu.”

Elena mengangguk sopan lalu segera masuk ke dalam mobil. Ia bisa merasakan ketegangan saat duduk di samping Alex. Tak ada sapaan, tak ada kalimat pembuka. Hanya keheningan yang dingin membungkus ruang sempit itu.

Di balik kemudinya, Alex menggenggam stir erat. Matanya lurus menatap ke depan, tapi pikirannya penuh dengan prasangka.

Jadi dia setuju begitu saja untuk bertemu malam ini? batinnya.

Pria itu… Steve… apakah dia mantan suaminya? Lalu kenapa Elena terlihat begitu mudah menerima ajakannya? Apa dia lupa bagaimana pria itu mencampakkannya dan anaknya?

Alex mengatupkan rahangnya. Ada kemarahan yang menyesak diam-diam. Bukan karena urusan pekerjaan. Tapi karena sesuatu yang tak seharusnya ia pedulikan, namun nyatanya, ia peduli. Terlalu dalam.

Mobil melaju dalam keheningan yang menyesakkan. Di dalamnya, suasana terasa lebih dingin dari udara AC yang menyelimuti kabin. Elena menatap ke luar jendela, berusaha menenangkan pikirannya, sementara Alex hanya fokus menyetir, meskipun pikirannya tak kalah kacau.

Tak tahan lagi dengan pikirannya sendiri, Alex akhirnya membuka suara dengan nada datar namun jelas menyimpan ketegangan.

“Pria tadi…”

Elena menoleh pelan.

“…dia mantan suamimu?”

Elena sempat terdiam, terkejut dengan pertanyaan itu. Ia tidak menyangka Alex akan langsung bertanya seperti itu.

“Bukan,” jawabnya singkat, lalu menarik napas pelan sebelum melanjutkan. “Dia hanya seniorku di tempatku bekerja dulu.”

Alex mengerutkan alis. “Senior?”

Elena mengangguk. “Kami pernah satu tim. Dia banyak membantu Saya waktu itu. Tapi setelah Saya berhenti kerja karena hamil, kami tidak pernah kontak lagi. Tadi juga saya baru tahu kalau dia kerja di kantor klien kita.”

Alex hanya mengangguk kecil, tapi wajahnya masih menyimpan keraguan.

“Kenapa anda pikir dia mantan suamiku?” tanya Elena akhirnya, pelan.

Alex tidak menjawab langsung. Ia hanya mengencangkan cengkeramannya pada stir, lalu berkata, “Karena kau terlalu akrab. Dan kamu terlalu mudah bilang ‘ya’ untuk bertemu malam ini dengannya.”

Elena mengerjap, lalu menghela napas.

“Saya tidak ingin Anda salah paham, Tuan Alexander,” ucap Elena dengan suara tenang tapi tegas. “Saya menerima ajakan itu karena tidak ingin mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Apalagi saat Anda ada di sana. Saya tahu batas.”

Alex meliriknya sekilas. Matanya dalam dan sulit ditebak. Tapi kali ini, Elena tidak menunduk. Ia balas menatapnya, dengan jujur dan tenang.

Dalam hati, Alex membatin,

'Kalau dia bukan mantan suaminya, kenapa aku lega sekali?'

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Ayano Rosie (Rosneneng juanda)
kok tuba tiba setting London ya?
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya
tia
lanjut Thor
Wulan Sari
ibu kasih kopi ☕ buat up lagi next
Wulan Sari
salam sudah ibu kasih kopi buat semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!