"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Adrian dan Tragedi Salah Kirim Pesan
Pesan itu berisi sebuah foto yang menunjukkan Lala sedang tertidur di ruang tunggu dengan seorang pria asing yang sedang mengambil tas sekolahnya secara diam-diam. Adrian merasakan darahnya mendidih hingga ke ubun-ubun melihat keselamatan gadis itu terancam tepat di bawah hidungnya sendiri. Ia segera membatalkan niatnya untuk masuk ke ruang ganti baju bedah dan berlari kembali menuju koridor dengan napas yang memburu sangat kencang.
"Berhenti! Jangan sentuh barang-barang milik pasien saya!" teriak Adrian dengan suara yang sangat menggelegar hingga mengejutkan para perawat.
Pria asing itu tersentak dan langsung menjatuhkan tas milik Lala sebelum akhirnya melarikan diri ke arah pintu darurat dengan sangat terburu-buru. Adrian tidak mengejar pria itu karena fokus utamanya adalah memastikan Lala tidak terluka sedikit pun akibat kelalaiannya dalam menjaga diri sendiri. Ia mengguncang bahu Lala yang masih terlelap dengan sangat cemas hingga gadis itu terbangun dengan wajah yang sangat linglung.
"Dokter? Apakah operasinya sudah selesai secepat kilat?" tanya Lala sambil mengucek matanya yang masih merah.
"Kamu hampir saja dirampok kalau saya tidak datang tepat waktu, kenapa kamu bisa tertidur di tempat umum seperti ini!" omel Adrian dengan nada yang sangat tajam.
Lala melihat tas sekolahnya yang tergeletak di lantai dan menyadari bahwa maut baru saja mengintai harta bendanya yang berisi buku tugas biologi. Ia segera memeluk tas itu dengan erat sambil menatap Adrian dengan pandangan yang sangat bersalah sekaligus penuh rasa haru. Adrian mengembuskan napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya yang masih berdegup berulang-ulang karena rasa panik yang belum juga hilang.
"Maafkan aku Dokter, kursi ini terlalu nyaman dan wangi aromaterapi tadi membuatku sangat mengantuk," bisik Lala dengan suara yang serak.
"Jangan pernah lepaskan tas ini dari tanganmu, sekarang ikut saya ke ruangan kerja daripada kamu diculik orang jahat!" perintah Adrian.
Adrian membawa Lala kembali ke ruangannya sambil terus memegang telepon genggamnya untuk mengirimkan laporan kepada petugas keamanan rumah sakit agar meningkatkan patroli. Namun, karena jemarinya masih gemetar akibat amarah, ia tidak sengaja menekan kolom pesan yang salah di aplikasi percakapan miliknya. Ia bermaksud mengirim pesan teguran kepada Danu, tetapi jari-jarinya justru menekan nama grup dokter spesialis bedah saraf yang berisi seluruh petinggi rumah sakit.
"Lala sudah aman dalam pengawasan saya, jangan biarkan ada tikus yang berani menyentuh milik saya lagi," tulis Adrian dalam pesan tersebut tanpa sadar.
"Dokter, apa Dokter baru saja mengirim pesan cinta untukku melalui telepon genggam itu?" tanya Lala dengan nada menggoda.
Adrian tersentak dan segera melihat layar telepon genggamnya dengan mata yang melotot sangat lebar karena menyadari kesalahan fatal yang baru saja ia perbuat. Pesan yang bernada sangat protektif dan ambigu itu sudah terkirim dan dibaca oleh puluhan dokter senior yang biasanya sangat suka bergosip. Wajah Adrian yang biasanya sepucat salju kini berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus yang baru saja diangkat dari air mendidih.
"Gawat! Saya salah kirim pesan ke grup rumah sakit!" seru Adrian sambil mencoba menghapus pesan tersebut dengan gerakan yang sangat panik.
"Milik saya? Jadi Dokter sudah menganggapku sebagai milik Dokter secara resmi ya?" goda Lala sambil tertawa terbahak-bahak melihat kegugupan sang dokter kulkas.
Adrian mencoba menarik kembali pesan tersebut namun terlambat karena notifikasi jawaban dari para kolega sudah mulai membanjiri layar telepon genggamnya dengan sangat cepat. Beberapa dokter senior mulai mengirimkan gambar jempol serta ucapan selamat atas keberanian Adrian dalam memproklamirkan perasaannya di depan umum secara tidak sengaja. Adrian merasa harga dirinya runtuh seketika dan ia ingin sekali menenggelamkan diri ke dalam cairan infus agar bisa menghilang dari muka bumi ini.
"Ini adalah tragedi medis terbesar dalam sejarah karier saya, reputasi saya benar-benar hancur sekarang," keluh Adrian sambil menyandarkan dahi ke meja kerja.
"Tenang saja Dokter, aku akan membantu menjelaskan bahwa aku memang milik Dokter yang paling berharga dan paling mahal!" seru Lala dengan semangat yang berapi-api.
Lala justru merasa sangat bahagia karena tragedi salah kirim pesan tersebut secara tidak langsung telah memperjelas posisi dirinya di mata Adrian. Ia mulai membayangkan betapa hebohnya satu rumah sakit besok pagi saat berita tentang pernyataan cinta sang dokter bedah saraf yang kaku mulai tersebar luas. Sementara itu, Adrian hanya bisa meratapi nasibnya sambil mematikan telepon genggamnya agar tidak perlu membaca ejekan demi ejekan dari teman sejawatnya lagi.
"Besok saya harus menghadapi sidang etik atau setidaknya sidang olokan dari Dokter Siska selama satu tahun penuh," gumam Adrian dengan nada sangat putus asa.
"Jangan takut Dokter, kalau Dokter dipecat, aku akan membiayai hidup Dokter dengan uang sakuku yang melimpah-limpah setiap bulan!" janji Lala dengan wajah yang sangat serius.
Adrian menatap Lala dengan pandangan yang sangat datar seolah sedang melihat pasien yang baru saja kehilangan akal sehatnya secara total dan permanen. Namun, di balik rasa frustrasi yang sangat mendalam itu, Adrian merasa ada sedikit beban yang terangkat dari pundaknya setelah mengakui secara tidak sadar bahwa ia peduli pada Lala. Mereka berdua terdiam sejenak di dalam ruangan yang sunyi itu sebelum akhirnya suara ketukan pintu yang sangat keras kembali memecah suasana yang damai.
Pintu terbuka dan menunjukkan sosok Dokter Siska yang sedang memegang telepon genggamnya dengan tangan yang bergetar hebat dan mata yang berkaca-kaca karena rasa cemburu yang sudah mencapai puncaknya.