Malam itu, di balik rimbun ilalang takdir seorang gadis muda yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu berubah selamanya. Seorang wanita sekarat menitipkan seorang bayi padanya, membawanya ke dalam pusaran dunia yang penuh bahaya.
Di sisi lain, Arkana Xavier Dimitri, pewaris dingin keluarga mafia, kembali ke Indonesia untuk membalas dendam atas kematian Kakaknya dan mencari sang keponakan yang hilang saat tragedi penyerangan itu.
Dan kedua orang tua Alexei yang di nyatakan sudah tiada dalam serangan brutal itu, ternyata reinkarnasi ke dalam tubuh kucing.
Dua dunia bertabrakan, mengungkap rahasia kelam yang mengancam nyawa Baby Alexei
Bisakah Cintya dan Arkana bersatu untuk melindungi Alexei, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Arkana menutup telepon dan memasukkan kembali ponselnya ke saku dengan gerakan kasar. Ia menatap mayat-mayat yang tergeletak di tanah dengan tatapan dingin tanpa setitik pun penyesalan. Mereka bukan manusia, hanya hama yang pantas dimusnahkan.
Setelah memastikan Devano melakukan tugasnya dengan benar - dan ia yakin Devano tidak akan mengecewakannya - Arkana kembali ke mobil. Ia membuka pintu dan menatap Cintya dengan tatapan tajam yang menusuk.
"Kau gila," ucap Arkana datar, lebih seperti pernyataan fakta daripada tuduhan.
"Mungkin," balas Cintya menyeringai, matanya berbinar penuh minat. "Tapi jangan lupa, Kak, kau juga butuh bantuan aku tadi." Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, memasang tampang puas.
Arkana menghela napas panjang, merasa frustrasi sekaligus penasaran dengan gadis ini. Ia tidak tahu apa yang ada di balik senyum polos itu. Apa dia benar-benar tidak takut, atau hanya berusaha menyembunyikan ketakutannya?
"Ayo pergi," ucap Arkana akhirnya, masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin. Ia harus segera mengantar Cintya pulang sebelum masalah menjadi lebih rumit.
"Mau kemana?" tanya Cintya penasaran, mencondongkan tubuh ke depan.
"Ya mengantarmu pulang," jawab Arkana singkat, menekan pedal gas. Ia tidak ingin berlama-lama di sini. Tempat ini terlalu mengingatkannya pada kehidupan yang ingin ia tinggalkan.
Mobil itu melaju meninggalkan gang sempit itu, meninggalkan mayat-mayat anak buah Moretti yang tergeletak di tanah. Arkana dan Cintya melaju menuju malam yang penuh misteri dan bahaya, menuju takdir yang tidak mereka ketahui.
Di sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa hening dan tegang. Arkana fokus pada jalan, tapi pikirannya berkecamuk dengan berbagai pertanyaan tentang Cintya. Siapa dia sebenarnya? Bagaimana bisa gadis polos seperti dia memiliki kemampuan bertarung seperti itu? Dan kenapa ia merasa harus melindunginya?
Cintya juga terdiam, menatap keluar jendela. Lampu-lampu kota yang gemerlap tampak seperti bintang jatuh yang berhamburan di langit malam. Ia merasa sedikit takut sekaligus bersemangat. Ia telah memasuki dunia yang gelap dan berbahaya, tapi ia tidak menyesal. Ia merasa hidupnya akhirnya memiliki tujuan.
"Kak, Arkan!" panggil Cintya akhirnya, memecah keheningan yang mencekam.
"Hmm?" jawab Arkana singkat, tanpa menoleh. Ia tidak ingin terlibat dalam percakapan yang tidak perlu.
"Makasih ya," ucap Cintya tulus. "Udah nyelametin aku."
Arkana terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Kau tidak perlu berterima kasih," jawabnya datar. "Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan." Ia merasa aneh mengucapkan kata-kata itu. Sejak kapan ia merasa bertanggung jawab atas keselamatan orang lain?
"Tapi tetap aja, aku berhutang budi sama Kakak," balas Cintya. "Aku nggak tahu apa yang akan terjadi kalau Kakak nggak ada di sana." Ia menatap Arkana dengan tatapan lembut, mencoba mencari tahu apa yang ada di dalam pikiran pria itu.
Arkana tidak menjawab. Ia hanya terus fokus pada jalan, memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi seolah berusaha melarikan diri dari perasaannya sendiri. Ia benci merasa berhutang budi pada siapa pun, dan ia benci merasa tertarik pada Cintya.
"Kak," panggil Cintya lagi, kali ini dengan nada yang lebih serius.
"Apa lagi?" tanya Arkana dengan nada sedikit kesal. Ia merasa terganggu dengan kehadiran Cintya. Ia merasa gadis itu mengusik kedamaiannya.
"Kakak itu ... sebenernya siapa sih?" tanya Cintya penasaran, matanya menatap Arkana dengan intens. "Kakak itu beneran ketua mafia kayak di novel-novel yang suka aku baca?"
Arkana terdiam sejenak, rahangnya mengeras. Pertanyaan itu akhirnya datang juga. Ia sudah tahu ini akan terjadi, tapi ia tidak siap untuk menjawabnya.
"Itu bukan urusanmu," jawab Arkana akhirnya, dengan nada dingin dan tegas. Ia berusaha menyembunyikan kegugupan di balik topeng ketidakpedulian.
"Tapi aku pengen tahu," desak Cintya, tidak menyerah. "Aku pengen tahu siapa orang yang udah nyelametin aku. Aku pengen tahu kenapa Kakak melakukan semua ini."
Arkana terdiam lagi, menimbang-nimbang. Ia tidak terbiasa berbagi rahasia dengan siapa pun, apalagi dengan orang asing seperti Cintya. Tapi ada sesuatu dalam tatapan gadis itu yang membuatnya merasa tidak bisa berbohong.
"Baiklah," ucap Arkana akhirnya, menghela napas panjang. Ia sudah memutuskan. "Aku akan memberitahumu siapa aku sebenarnya. Tapi kau harus berjanji, kau tidak akan memberitahu siapa pun. Kau harus berjanji, kau akan menyimpan rahasia ini sampai mati."
Cintya mengangguk cepat, matanya berbinar penuh antusiasme. "Janji! Aku janji! Aku nggak akan bilang siapa-siapa!" serunya bersemangat, seperti anak kecil yang akan diberi permen.
Arkana menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia merasa seperti sedang membuka kotak Pandora. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ia mengungkapkan kebenaran tentang dirinya.
"Aku..." Arkana memulai ceritanya dengan suara berat, "...Aku adalah Arkana Dimitri. Dan ya, aku adalah ketua dari keluarga Dimitri. Kami adalah..." Ia berhenti sejenak, mencari kata yang tepat, "...organisasi yang bergerak di luar hukum. Sebagian orang menyebut kami mafia."
Cintya mendengarkan cerita Arkana dengan seksama, tanpa menyela. Ia menahan napas, jantungnya berdebar kencang. Ia merasa seperti sedang memasuki dunia yang sama sekali baru, dunia yang penuh dengan bahaya, kekuasaan, dan intrik.
"Wow," gumam Cintya akhirnya, dengan nada kagum dan sedikit takut. "Jadi, ini beneran kayak di novel-novel itu?"
Arkana mendengus sinis. "Kau pikir ini menyenangkan? Kau pikir ini keren? Ini bukan permainan, Cintya. Ini adalah kehidupan nyata. Dan kehidupan ini sangat berbahaya." Ia menatap Cintya dengan tatapan serius, mencoba membuatnya mengerti.
"Aku tahu," balas Cintya dengan nada yang lebih tenang. "Aku nggak sebodoh itu. Tapi aku juga nggak takut mati, toh kalaupun aku mati pasti tak ada yang menangisi." Ia menatap Arkana dengan tatapan yang sama-sama serius dan penuh dengan tantangan. "Lalu, apa yang akan terjadi selanjutnya?"
Arkana terdiam sejenak, menatap Cintya dengan tatapan menyelidik. Ia tidak yakin apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia hanya tahu, hidupnya telah berubah sejak bertemu dengan gadis ini. Dan ia tidak tahu apakah itu hal yang baik atau buruk.
"Itu tergantung padamu," ucap Arkana akhirnya, dengan nada misterius. "Kau yang akan menentukan apa yang akan terjadi selanjutnya."
Bersambung...
ngga sabar nunggu paman & bunda sah.
kopi untuk mu
aku mencoba mampir di novel mu 🤗
di awal Bab ceritanya dh seru bgt ,, smg selanjutnya ceritanya bagus