NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Maharani Bodoh

Kebangkitan Sang Maharani Bodoh

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Ruang Ajaib / Sistem / Time Travel / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Sejak kecil, Shen Yuhan, sang putri mahkota, telah ditinggalkan orang tuanya. Ketiadaan kasih sayang dan pendidikan yang layak membuatnya tumbuh menjadi gadis yang polos, naif, dan mudah dibodohi. Ia hanya tahu bersenang-senang dan menghabiskan waktunya dengan para pria. Alhasil, saat ia diangkat menjadi Maharani, ia tak lebih dari boneka yang dikendalikan oleh para menteri dan pejabat licik yang haus kekuasaan.
Satu-satunya orang yang tulus mencintainya adalah suaminya, Mu Liu. Namun, sang pangeran kelima ini harus hidup dalam bayang-bayang luka perang besar yang membuat tubuhnya cacat dan lumpuh. Penampilannya yang buruk membuat Yuhan tak pernah meliriknya, apalagi membalas cintanya.
Semua berubah ketika seorang pembunuh bayaran dari abad ke-21, yang dikenal kejam dan tak kenal ampun, tiba-tiba terbangun di dalam tubuh Shen Yuhan. Roh aslinya telah tiada, digantikan oleh jiwa yang dingin dan mematikan.
Kini, dengan kecerdasan dan kekuatan barunya, sang Maharani boneka itu bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAHARANI 14

Malam semakin larut, namun cahaya di Istana Yuan Fu, kediaman Pangeran Kedua Shen Bo, masih menyala terang. Di dalam ruangan yang dipenuhi aroma dupa mahal, Shen Bo duduk dengan gelisah. Di sampingnya, Han Fen, istrinya yang merupakan putri kesayangan Perdana Menteri Han Tan, sedang menyesap teh dengan tenang. Kecantikan Han Fen bagaikan mawar yang berduri, anggun namun mematikan.

Langkah kaki terburu-buru memecah keheningan. Zao Yun masuk dengan wajah pucat, segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan pasangan itu.

"Hormat hamba kepada Pangeran Kedua dan Putri Han Fen," ucap Zao Yun dengan suara bergetar.

"Cepat katakan! Apa yang kau temukan di Istana Chiangnang?" tanya Shen Bo tidak sabar.

"Yang Mulia... hamba baru saja melihat Maharani mengeluarkan banyak peti dari gudangnya. Bukan peti biasa, Pangeran. Isinya emas batangan yang berkilauan dan perhiasan giok tingkat tinggi. Jumlahnya sangat banyak, hamba sendiri tak percaya melihatnya," lapor Zao Yun.

BRAKKK!

Shen Bo menggebrak meja hingga cangkir teh Han Fen bergetar. Wajahnya merah padam karena amarah.

"Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin wanita bodoh itu masih memiliki harta sebanyak itu?" teriak Shen Bo. "Bukankah selama ini kau sudah melaporkan bahwa semua perhiasan dan simpanannya sudah kau kuras habis? Kau bilang dia hanya punya barang-barang sepuhan yang tak berharga!"

Zao Yun bersujud hingga dahinya menyentuh lantai. "Ampun, Yang Mulia Pangeran! Hamba juga tidak tahu. Selama berbulan-bulan, hamba sudah memastikan gudangnya kosong. Sejak kabar beliau hidup kembali, Maharani belum memanggil hamba ke istananya. Beliau berubah, Pangeran. Tatapannya dingin, tidak lagi memuja hamba seperti dulu."

Han Fen, yang sejak tadi diam, meletakkan cangkir tehnya perlahan. Ia menatap suaminya dengan pandangan dingin yang menenangkan.

"Tenanglah, suamiku," ujar Han Fen lembut namun tajam. "Jangan biarkan amarah membutakan logikamu. Shen Yuhan mungkin bodoh, tapi pangeran lumpuh di sampingnya itu tidak. Mungkin saja emas itu bukan milik Yuhan."

Shen Bo menoleh pada istrinya. "Maksudmu?"

"Mu Lian adalah mantan jenderal besar. Meskipun kakinya lumpuh, dia memenangkan banyak perang di masa lalu. Hasil rampasan perang dan hadiah dari mendiang Kaisar terdahulu pasti sangat banyak. Bisa jadi, Mu Lian memberikan hartanya untuk menopang posisi Yuhan yang mulai goyah," jelas Han Fen dengan analisis yang licik.

Shen Bo mendengus kasar. "Pangeran cacat itu benar-benar mencari mati. Dia ingin menjadi pahlawan di mata wanita jalang itu?"

Ia kemudian menoleh kembali pada Zao Yun yang masih bersujud. "Zao Yun! Aku tidak peduli bagaimana caranya. Kau harus kembali mendekati Maharani. Masuklah ke kamarnya, rayu dia seperti biasanya. Habiskan hartanya sampai tak bersisa. Pastikan dia kembali menjadi boneka di tanganmu."

"Dan jangan lupa," Han Fen menyela, matanya berkilat jahat. "Berikan Sup Bunga Penunduk yang biasa kau berikan padanya. Jika dia mulai sadar, kita harus menidurkannya kembali dengan ramuan itu."

Zao Yun menelan ludah. "B-baik, Yang Mulia. Hamba akan segera melaksanakan perintah."

Sementara itu, di dalam kamar rahasia Istana Chiangnang, suasana begitu kontras. Tidak ada musik atau tarian, yang ada hanya aroma rempah obat yang sangat pekat dan suara air yang bergolak.

Mu Lian berada di dalam bak mandi besar berisi air berwarna hitam pekat. Wajahnya pucat pasi, peluh mengucur deras dari keningnya. Kali ini, ia tidak lagi menolak saat Shen Yuhan memerintahkannya untuk menanggalkan pakaian. Kepercayaan mulai tumbuh di antara mereka, meski masih dibalut dengan rasa canggung.

"Tahanlah. Ini akan jauh lebih menyakitkan dari kemarin," ujar Yuhan datar.

Yuhan berdiri di belakang Mu Lian, tangannya menyiramkan air obat yang panas ke bahu suaminya. Ia memegang sapu tangan sutra dan dengan lembut mengusap bekas luka bakar di wajah kanan Mu Lian. Jaringan parut itu tampak mulai melunak, warna merah daging yang mengerikan kini mulai digantikan oleh lapisan kulit baru yang masih tipis.

"Ugh... Arghhh!" Mu Lian mengerang, tangannya mencengkeram pinggiran bak kayu hingga urat-urat di lengannya menonjol.

"Jangan melawan alirannya, Pangeran Mu Lian. Biarkan air ini menarik racun dari sumsum tulangmu," bisik Yuhan di dekat telinganya.

Mu Lian menggenggam tangan Yuhan yang berada di bahunya dengan sangat erat. Tubuhnya terasa bagaikan ditusuk oleh ribuan pedang berkarat yang ditarik secara paksa. Namun, di tengah siksaan itu, Mu Lian menyadari sesuatu. Ia merasakan getaran energi yang mengalir dari telapak tangan Yuhan.

"Yang Mulia... Anda..." Mu Lian terengah-engah, matanya terbelalak menatap Yuhan. "Anda memiliki tenaga dalam? Anda berada di Kultivasi Tingkat Pertama?"

Yuhan tersenyum tipis. Ia tidak terkejut Mu Lian bisa merasakannya. Sejak ia menyerap energi di ruang dimensi dan melakukan meditasi singkat tadi sore, jiwanya mulai menyatu sempurna dengan tubuh ini, membuka gerbang energi yang selama ini tertutup.

"Fokus pada dirimu sendiri, Pangeran. Jangan mengkhawatirkan kekuatanku," jawab Yuhan.

Melihat Mu Lian yang tampak hampir pingsan karena menahan rasa sakit yang teramat sangat, insting Yuhan sebagai 'pemilik tubuh' yang kini mulai memiliki perasaan nyata pada suaminya muncul.

Yuhan membungkuk, menangkup wajah Mu Lian, dan langsung mencium bibirnya.

Mu Lian terpaku. Rasa sakit yang tadi mendominasi sarafnya seolah terhenti seketika oleh kelembutan yang tiba-tiba ini. Itu adalah ciuman yang dalam, sebuah pengalihan sensorik yang jenius sekaligus emosional. Yuhan menyalurkan sedikit energinya lewat sentuhan itu, membantu menenangkan detak jantung Mu Lian yang liar.

Setelah beberapa saat, Yuhan menarik diri. Napas mereka berdua memburu.

"Maafkan hamba... Yang Mulia," bisik Mu Lian dengan suara serak. "Hamba telah lancang membalas ciuman Anda."

Yuhan menatap mata Mu Lian yang kini tampak lebih jernih. "Tidak perlu minta maaf untuk sesuatu yang aku mulai sendiri, Suamiku. Jika itu bisa membantumu bertahan dari rasa sakit, maka lakukanlah." Mu Lian sempat tak berkedip, ucapan dari mulut Yuhan yang memanggilnya 'Suamiku' sungguh hal yang sangat langka.

Apakah dia sudah menerima hamba sebagai suaminya?

Kebersamaan yang intim itu mendadak hancur ketika pintu luar kediaman diketuk dengan keras. Seorang dayang pelayan berteriak dari balik pintu dengan nada cemas.

"Mohon ampun Yang Mulia Maharani! Tuan Muda Zao Yun memaksa masuk! Beliau mengatakan membawa sup kesehatan yang sangat penting untuk Yang Mulia!"

Yuhan mendengus sinis. Ia melirik ke arah Mu Lian yang wajahnya seketika berubah kaku dan dingin. Kecemburuan yang jelas terpancar di mata sang Pangeran, meskipun ia mencoba menyembunyikannya.

"Pakai pakaianmu, Pangeran Lian. Mari kita sambut tamu tak diundang ini," ujar Yuhan dingin.

Yuhan keluar dari ruang mandi setelah mengenakan jubah tidur sutra berwarna merah tua yang longgar, memperlihatkan sedikit garis lehernya yang jenjang. Rambutnya masih sedikit basah, memberikan kesan liar namun sangat cantik.

Di ruang depan, Zao Yun sudah berdiri dengan nampan di tangannya. Begitu melihat Yuhan keluar dengan penampilan seperti itu, Zao Yun terpukau. Ia sudah lama menjadi gundik Yuhan, tapi ia belum pernah melihat Maharani ini tampak begitu mempesona dan berwibawa di saat yang bersamaan.

"Yang Mulia..." Zao Yun berlutut, matanya tak lepas dari sosok Yuhan. "Hamba membawakan sup bunga plum yang biasa hamba buatkan untuk Anda. Hamba sangat merindukan Anda, Yang Mulia."

1
Yunita Widiastuti
mu li an ndang mu lih
@Mita🥰
wah kira" mu Lian ketemu tidak ya ....
yang bisa nolong si Maharani hanya mu Lian
☠🤎3Gˢ⍣⃟ₛ
waduh masa pangeran ke-lima Mu Lian mati jangan dong kalian berdua ga boleh mati nanti tamat dong 🤭🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️🏃🏻‍♀️
ˢ⍣⃟ₛ ɾҽƈƙʅҽʂʂ
pasti Lian yg nolongin 🤭
@Mita🥰
mu Lian
𝚂𝙴𝙽𝙹𝙰
siapa ini?? jangan bilang itu paksu 🤔🤭
𝚂𝙴𝙽𝙹𝙰
pantesnya disiksa ini orang dicambuk terus di kebiri 😤😠
𒈒⃟ʟʙc🏘⃝Aⁿᵘᴍɪss_dew 𝐀⃝🥀 ♉: nanti jadi Kasim donk🤭🤭🤭
total 1 replies
☠🤎3Gˢ⍣⃟ₛ
semoga pangeran ke-lima yang melesat menyelamatkan Yuhan dan Shen lan melihat sendiri klo suami kakaknya gak lumpuh lagi
𝚂𝙴𝙽𝙹𝙰
hukum cambuk aja sih si zao yun biar jadi peringatan buat yang lain 😶
𝚂𝙴𝙽𝙹𝙰
miskinkan aja ini menter, copot dari jabatannya terus suruh hidup susah di wilayah perbatasan
𝚂𝙴𝙽𝙹𝙰
jahat banget euy siapa sih yang lakuin ini 😶
𒈒⃟ʟʙc🏘⃝Aⁿᵘᴍɪss_dew 𝐀⃝🥀 ♉: aduhhh euu🤣🤣🤭
total 1 replies
𝚂𝙴𝙽𝙹𝙰
wakakaa biar diemin dulu aja tuh anak songong 😂
𝚂𝙴𝙽𝙹𝙰
wakakaa kalau maharani ngomel iyain aja udah 🤫😂
☠🤎3Gˢ⍣⃟ₛ
duhhhh kurang banyak cikguuuuu ahhhh jadi makin ingin lihat wajah wajah kesal Han Tan , Shen Bo dan 'tikus ' ini sepertinya Zao Yun 🤔🧐
@Mita🥰
wuhaaaa ....🤣🤣🤣🤣
ˢ⍣⃟ₛ ɾҽƈƙʅҽʂʂ
Kaget gak tuh Shen Bo, Han Tan cs? kaget pasti😅 zonk. mksd hati mau ngeprank ternyata kena prank sendiri.
ˢ⍣⃟ₛ ɾҽƈƙʅҽʂʂ
Bagus Shen Lan, klu gak gitu, Lian gak ngerasa tertantang. Mang sepantasnya pendamping Yuhan harus sepadan.
@Mita🥰
wah cari mati yang merusak bibit kentang
☠🤎3Gˢ⍣⃟ₛ
wah sepertinya ada yang sabotase itu pasti orang orang suruhan pangeran kedua dan perdana menteri Han Tan harus tetap tenang lapor ke pangeran ke-lima atau Maharani aja cepat
ˢ⍣⃟ₛ ɾҽƈƙʅҽʂʂ
haiss baca bab ini jadi senyum sendiri 😅 klu Lian udah sembuh pasti mereka jadi pasangan yg serasi memimpin istana. Lian juga GK ngerasa insecure sama Yuhan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!