Nadinta mengira hidupnya berakhir dalam keputusasaan, terkapar tak berdaya akibat pengkhianatan suami dan sahabat yang paling ia percaya.
Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terlempar kembali ke masa lalu, di saat tubuhnya masih sehat, hartanya masih utuh, dan pernikahan neraka itu belum terjadi.
Kali ini, tidak ada lagi Nadinta yang naif. Ia bangkit untuk mengambil kembali kendali atas hidupnya dan memastikan mereka yang pernah menghancurkannya membayar harga yang setimpal.
"Selamat, karena telah memungut sampahku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Permainan Nadinta
Jarum jam di dinding apartemen menunjuk angka sembilan malam ketika Nadinta akhirnya memutar kunci pintu.
Suara klik dari kunci otomatis itu terdengar nyaring di keheningan lorong lantai dua puluh. Begitu pintu terbuka, udara dingin dari pendingin ruangan yang menyala otomatis menyambutnya, menggantikan udara Jakarta yang lembap dan berdebu.
Nadinta melangkah masuk, melepaskan sepatu hak tingginya di rak, lalu menghela napas panjang.
Apartemen ini sunyi. Selalu sunyi sejak Arga lebih sering menghabiskan malam dengan alasan "lembur" atau "menginap di rumah teman" beberapa bulan terakhir.
Dulu, kesunyian ini mencekik Nadinta, membuatnya merasa kerdil dan tidak diinginkan. Tapi malam ini, kesunyian ini terasa mewah.
Dia meletakkan tas kerjanya di meja konsol, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Di bawah guyuran air hangat shower, Nadinta membasuh sisa-sisa hari ini. Dia membasuh debu jalanan, membasuh aroma asap rokok dari warung tenda Mang Ujang, dan membasuh topeng wanita karier yang kaku.
Pikirannya kembali memutar memori beberapa jam lalu—tawa Vivi yang meledak-ledak, lelucon receh Karina, dan rasa pedas seblak yang membakar lidah.
Itu adalah momen paling manusiawi yang dia rasakan dalam tiga bulan terakhir sejak dia kembali ke masa lalu.
Setelah berganti pakaian dengan piyama sutra yang nyaman dan mengoleskan krim malam, Nadinta duduk di tepi ranjang. Dia meraih ponselnya yang sejak tadi tergeletak diam di dalam tas.
Dia menyalakan layar.
Cahaya terang dari layar ponsel seketika menyilaukan mata. Namun, yang lebih menyilaukan adalah deretan notifikasi yang membanjiri layar kuncinya.
47 Panggilan Tak Terjawab: Mas Arga
23 Pesan WhatsApp Baru: Mas Arga
Nadinta menyunggingkan senyum miring. Sudut bibirnya terangkat sinis. Dia bisa membayangkan betapa frustrasinya Arga saat ini. Arga adalah tipe pria yang tidak tahan tekanan. Sedikit saja rencananya meleset, dia akan panik seperti anak kecil kehilangan ibunya di pasar malam.
Dengan santai, Nadinta membuka aplikasi pesan. Jempolnya menggulir layar, membaca rentetan pesan Arga yang nadanya berubah-ubah—dari memohon, marah, panik, hingga kembali memelas.
16.15 - Mas Arga: Din, kamu di mana? Kok nggak diangkat?
16.30 - Mas Arga: Sayang, tolong angkat telepon aku. Penting banget.
17.00 - Mas Arga: KAMU SENGAJA YA MENGHINDAR?
18.15 - Mas Arga: Din, please... aku butuh bantuan kamu.
19.45 - Mas Arga: Sayang, aku minta maaf kalau kemarin aku bikin kamu kesel. Tapi ini darurat.
Lalu, matanya terpaku pada pesan terakhir yang baru masuk sepuluh menit lalu. Pesan yang menjadi inti dari semua kepanikan ini. Arga akhirnya mengeluarkan kartu as-nya: kebohongan.
21.00 - Mas Arga: Din, aku boleh minta tolong nggak? Uang sepuluh juta yang tadi siang kamu pakai belanja... bisa ditransfer balik ke aku dulu nggak? Itu ternyata kecampur sama uang operasional kantor yang harus disetor besok pagi buat audit. Aku salah ambil kartu kredit tadi. Tolong banget ya, Din. Kalau nggak disetor besok, aku bisa kena masalah besar di kantor.
Nadinta tertawa. Tawa yang kering dan dingin, memantul di dinding kamar tidurnya.
"Uang operasional kantor?" gumamnya sarkas. "Sejak kapan kantor menyimpan dana operasional di kartu kredit pacar gelap kamu, Mas? Kebohongan macam apa ini?"
Alibinya begitu rapuh, begitu transparan. Arga bahkan tidak berusaha membuat alasan yang cerdas.
Dia hanya melempar alasan apa saja yang terlintas di otak paniknya, berharap Nadinta yang "polos" dan "penurut" akan langsung percaya tanpa banyak tanya.
Nadinta tahu persis ke mana uang itu akan pergi. Bukan ke rekening kantor, tapi ke rekening Maya. Wanita itu pasti sudah mengancam akan membongkar semuanya jika Arga tidak mengembalikan limit kartunya malam ini juga.
Nadinta meletakkan ponselnya di pangkuan, mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk. Dia berpikir sejenak.
Skenario termudah adalah: Jangan balas. Matikan ponsel. Biarkan Arga hancur besok pagi. Biarkan Maya mengamuk dan melapor kepada dirinya. Biarkan Arga dipecat karena skandal utang dan perselingkuhan. Dan hubungan dengannya hancur.
Tapi... itu terlalu cepat. Permainannya baru saja dimulai.
Jika Arga hancur sekarang, Maya akan pergi meninggalkannya karena Arga sudah tidak berguna. Jika Maya pergi, Nadinta kehilangan "aktor" utamanya. Dia butuh Maya tetap berada di sisi Arga.
Dia butuh Maya merasa menang, merasa memiliki Arga seutuhnya, sampai akhirnya mereka berdua jatuh ke lubang yang sama di waktu yang tepat.
Arga harus tetap "hidup" sedikit lebih lama. Dia harus tetap punya pekerjaan, dia harus tetap punya harapan semu.
"Baiklah, Mas," bisik Nadinta. "Aku akan jadi calon istri yang baik malam ini."
Nadinta membuka aplikasi mobile banking. Dia melihat saldo tabungannya. Angkanya cukup fantastis hasil dari bonus proyek dan investasi saham yang dia tanam sejak kembali ke masa lalu.
Dia mengetik nomor rekening Arga. Jarinya berhenti di kolom nominal.
Sepuluh juta rupiah.
Nadinta menghapus angka itu. Dia mengetik angka baru.
Rp15.000.000,-
Lima belas juta rupiah.
Dia menekan tombol kirim.
PIN dimasukkan. Transaksi Berhasil.
Nadinta menatap bukti transfer itu dengan puas. Ini bukan kerugian. Ini adalah umpan. Lima belas juta untuk membeli kepercayaan Arga kembali, sekaligus menampar egonya secara halus. Arga akan merasa lega, tapi di saat yang sama, dia akan merasa semakin bergantung pada Nadinta.
Setelah mengirim bukti transfer itu via WhatsApp, Nadinta mulai mengetik balasan. Dia mengatur nada bicaranya—menghapus kesan wanita mandiri yang tadi makan seblak, dan kembali menjadi Nadinta si tunangan yang naif.
Nadinta: Mas, ya ampun... maaf banget aku baru pegang hp. Tadi aku ketiduran habis pulang kerja, pusing banget rasanya.
*Nadinta: Itu sudah aku transfer ya, Mas. Aku tambahin dua juta buat pegangan kamu jemput Ibu lusa nanti. Maaf ya tadi siang aku belanja kalap banget, aku nggak tahu kalau itu uang kantor. Harusnya Mas bilang dari awal. Jangan marah ya*?
Sent.
Nadinta meletakkan ponselnya kembali ke meja nakas. Dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju meja kerjanya di sudut ruangan.
Di sana, terdapat sebuah kalender meja berukuran sedang, yang telah dia coreti beberapa hari lalu.
Nadinta mengambil spidol merah dari dalam laci.
Matanya menatap deretan angka bulan ini. Hari ini hari Rabu. Besok Kamis. Sabtu adalah foto prewedding.
Senin.
Tangan Nadinta bergerak, melingkari tanggal di hari Jumat dengan tinta merah tebal.
"Senin depan," gumam Nadinta pelan, matanya berkilat tajam menatap lingkaran merah itu.
Wanita tua yang di masa lalu selalu mencibir Nadinta karena dianggap kurang pintar mengurus rumah tangga, yang selalu membandingkannya dengan mantan pacar Arga di kampung, dan yang selalu menuntut uang bulanan di luar batas kemampuan mereka.
Di masa lalu, kedatangan Bu Darmi adalah mimpi buruk bagi Nadinta. Nadinta akan sibuk memasak, membersihkan rumah, dan berusaha tampil sempurna, hanya untuk dikritik karena masakannya kurang asin atau lantainya kurang bersih.
Tapi kali ini...
Nadinta mengetuk kalender itu dengan ujung spidol.
Silakan datang, Bu. Nadin bakal menyambut dengan senang hati.
Nadinta menutup spidol itu dengan bunyi klik yang tegas. Lingkaran merah di hari Jumat itu tampak seperti target sasaran.
Ponselnya di kasur bergetar hebat, memecah konsentrasinya. Nadinta menoleh. Layarnya menyala berkali-kali.
Mas Arga: YA TUHAN DIN! Makasih banyak ya sayang! Kamu penyelamat aku banget!
Mas Arga: Aku nggak marah kok, beneran. Aku yang salah nggak bilang itu uang kantor. Makasih ya tambahannya, kamu emang paling ngertiin aku.
Mas Arga: Love you, Din. Maaf ya ganggu tidur kamu.
Nadinta membaca pesan itu dari kejauhan tanpa menyentuh ponselnya.
"Love you," cibir Nadinta pelan. Kata-kata itu dulu adalah dunianya. Sekarang, kata-kata itu terdengar lebih kosong daripada janji politisi.
Arga pasti sekarang sedang bernapas lega. Dia pasti berpikir dia berhasil membodohi Nadinta lagi. Dia tidak sadar, uang lima juta tambahan itu bukanlah hadiah.
Itu adalah modal pancingan agar Arga mampu membuat hati Maya luluh kembali.
"Nikmatilah kemenangan kecilmu malam ini, Mas," ucap Nadinta pada bayangan Arga di kepalanya.
Nadinta mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan menyelimuti dirinya dan rencana-rencana dingin yang tersimpan rapi di kepalanya.
Sementara itu, di sebuah kamar kos yang sempit dan berantakan, Arga melempar tubuhnya ke kasur busa tipis dengan perasaan lega yang luar biasa.
Dia menatap layar ponselnya, menatap bukti transfer dua belas juta rupiah itu seolah itu adalah tiket surga. Jantungnya yang sejak tadi berdegup kencang karena panik, kini mulai melambat normal.
"Akhirnya..." desah Arga panjang, mengusap wajahnya kasar. "Gila. Hampir aja mati aku."
Dia benar-benar nyaris tamat riwayatnya tadi. Maya sudah memberinya ultimatum. Jika sampai besok pagi uang itu tidak ada, wanita itu nekat akan melapor ke Nadinta.
Tanpa membuang waktu, Arga segera membuka aplikasi bank-nya. Dia mentransfer sepuluh juta rupiah ke rekening Maya.
Transfer Berhasil.
Dia segera mengirim bukti transfer itu ke Maya.
Arga: Udah aku balikin ya, May. Lunas. Jangan marah lagi ya?
Tidak ada balasan dari Maya, hanya tanda centang dua biru. Tapi itu sudah cukup bagi Arga. Setidaknya Maya tidak akan meledakkan bom waktu besok pagi. Posisinya aman.
Arga melihat sisa saldo di rekeningnya. Lima juta rupiah. Tambahan dari Nadinta.
Senyum Arga mengembang lebar. Dia menggeleng-gelengkan kepala, merasa takjub sekaligus meremehkan.
"Nadinta... Nadinta..." kekeh Arga pelan. "Kamu tuh emang gampang banget dibohongi. Dibilang uang operasional kantor percaya aja. Padahal mana ada kantor nyimpen duit di kartu kredit pribadi."
Arga merasa posisinya kembali di atas angin. Dia merasa cerdas. Dia berhasil mengatasi krisis ini tanpa keluar uang sepeser pun dari kantong pribadinya. Malah, dia untung dua juta.
"Lumayan. Ini bisa buat beliin hadiah biar Maya nggak ngambek lagi," pikir Arga, otaknya mulai menyusun rencana pencitraan.
Arga merasa hidupnya kembali terkendali. Dia punya uang, Maya diam, dan Nadinta masih menjadi sapi perah yang penurut.
Ponselnya bergetar lagi. Pesan masuk dari Ibunya.
Arga menarik selimut tipisnya yang bau apek. Dia memejamkan mata, membayangkan hari esok.
Dia tertidur pulas dengan senyum kemenangan di wajahnya, sama sekali tidak menyadari bahwa tanggal yang dilingkari merah di kalender Nadinta bukanlah tanggal penyambutan.
Itu adalah titik awal menuju puncak: Ajang Pembalasan.