Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.
Jenara menolak akhir itu.
Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.
Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.
Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.
Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.
Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang Wiji
Jenara melangkah kembali ke dapur untuk memasak. Punggungnya masih terasa nyeri, tetapi rasa itu ia abaikan. Perut tiga anak kecil yang menunggunya jauh lebih penting saat ini.
Ia membuka tempayan beras yang terletak di sudut dapur. Tutupnya terbuat dari anyaman bambu, sudah kusam dan retak di beberapa sisi. Saat tempayan itu dibuka, hati Jenara mencelos.
Berasnya hampir habis.
Ia meraupnya dengan kedua tangan, menghitung kasar. Paling banyak hanya satu canting, jumlah yang bahkan tidak cukup untuk membuat satu panci bubur.
Jenara menghembuskan napas panjang, dadanya terasa berat.
“Astaga, aku tidak bisa masak nasi. Mereka pasti akan kelaparan,” gumamnya lirih.
Ia menutup kembali tempayan itu dengan putus asa. Pikirannya berputar cepat. Jika tidak ada beras, ia harus mencari bahan makanan lain yang mengandung karbohidrat.
“Mungkin, aku bisa mencari di kebun,” bisik Jenara pada diri sendiri.
Dalam ingatan samar milik pemilik tubuh ini, suaminya memang suka menanam. Ia bukan petani, tetapi setidaknya halaman belakang rumah ini tak pernah benar-benar kosong.
Dengan secercah harapan, Jenara berjalan keluar menuju halaman belakang. Namun, begitu kakinya menjejak tanah lembap di belakang rumah, langkahnya terhenti.
Mulut Jenara ternganga melihat kebun itu hancur.
Batang-batang sayuran rebah mengering, daunnya cokelat dan keriting seperti terbakar matahari. Beberapa tanaman tercabut paksa, akarnya terpapar udara, dibiarkan begitu saja di atas tanah.
Ada bekas lubang-lubang kasar, tanda seseorang mencabut tanaman sebelum waktunya. Kemungkinan besar untuk dijual murah atau sekadar dilepas amarah.
Rempah-rempah yang seharusnya harum kini tinggal batang kosong. Jahe muda patah, serai tercabut setengah, dan tanaman umbi yang seharusnya tertimbun rapi justru teronggok tak bernyawa.
Jenara menggeleng pelan, matanya terasa panas.
“Keterlaluan sekali! Wanita ini tidak hanya menyengsarakan anak-anak, tapi juga menghancurkan satu-satunya sumber pangan rumah ini," rutuk Jenara.
Lalu, apa yang harus ia lakukan sekarang?
Jenara berdiri di tengah kebun itu dengan perasaan bingung dan nyaris putus asa. Ia tak peduli dengan hembusan angin sore, yang membawa debu tanah ke rambutnya.
Tanpa sadar, tangan Jenara terangkat, mengusap telinganya. Ini adalah kebiasaan lamanya setiap kali pikirannya kusut. Namun, jemarinya justru menyentuh sesuatu yang dingin dan keras.
Jenara tersentak.
“Anting?"
Ia memegang anting itu perlahan. Batu jadeit hijau pucat, yang berkilau lembut di bawah cahaya matahari.
Mendadak, Jenara teringat bahwa ia memang mengenakan anting ini saat terjadi ledakan di laboratorium. Anting yang merupakan warisan turun-temurun dari keluarga ibunya.
“Kau ikut denganku ke sini?” gumam Jenara tak percaya. Ia tak menyangka antingnya akan ikut bersamanya ke dunia novel.
Belum sempat keterkejutannya mereda, tiba-tiba anting itu terasa hangat. Bukan panas menyakitkan, melainkan hangat seperti telapak tangan seseorang yang menggenggam dengan lembut.
Refleks, Jenara mengusap anting itu, dan detik berikutnya kilatan hijau terang memancar keluar. Cahaya itu berpendar memantul ke depan, membentuk garis, lalu perlahan melebar menjadi kotak persegi panjang. Sementara di bagian depan ada sebuah pintu yang berdiri tegak.
Angin berhenti. Suara serangga lenyap.
Cahaya itu membesar dari segala sisi, hingga mengelilingi tubuh Jenara sepenuhnya.
“Ah—!”
Kepala Jenara mendadak pusing. Tanah di bawah kakinya seakan bergoyang-goyang. Dunia berputar spiral dan berangsur gelap.
Saat pandangannya kembali jernih, Jenara mendapati dirinya berdiri di sebuah ruang asing berwarna hijau.
Dindingnya berkilau seperti warna daun muda bercampur embun pagi. Anehnya, udara di ruangan ini terasa segar, bagaikan dikelilingi tanaman dan pohon-pohon rimbun.
Ketika Jenara sedang berusaha memahami apa yang terjadi, di hadapannya, berdiri seorang lelaki tua berwajah teduh. Lelaki itu mengenakan jubah hijau panjang, rambut dan janggutnya sudah memutih.
“Jenara, jangan takut." Suaranya bergema penuh wibawa, seperti berasal dari dimensi lain.
Jenara mundur setapak, jantungnya berdegup kencang.
“A-apa ini? Di mana aku?”
“Ini adalah Ruang Wiji. Ruang kehidupan. Ruang benih," jawab pria itu.
Pria tua itu kemudian mengangkat tangannya, dan di sekeliling mereka tampak rak-rak kayu yang tersusun rapi.
“Di sini kau bisa menyimpan bahan makanan dan menanam apa pun. Semua yang kau tanam akan tumbuh dalam waktu cepat. Lihat, di sebelah sana ada lahan yang sangat subur," tunjuk pria tua itu ke arah halaman.
Jenara menelan ludah. Di luar pintu, ia bisa melihat lahan siap pakai yang entah dari mana asalnya.
“K-kakek siapa?” tanya Jenara tergagap.
“Aku bernama Po Wija Nandar, ”jawabnya. “Seorang ahli tanaman dan pangan yang dahulu menjadi kepercayaan raja di zamanku.”
Mata Jenara membesar.
“Kau adalah keturunanku dalam garis ketujuh,” lanjut Po Wija Nandar dengan suara tenang. “Dan kau, Jenara, adalah yang terpilih untuk meneruskan tugas ini.”
“Tidak! Ini mustahil,” bisik Jenara, menggeleng cepat. “Aku pasti bermimpi. Aku tidak—”
“Bukankah saat ini kau sedang membutuhkan bahan makanan?” potong sang kakek lembut.
Jenara terdiam.
Po Wija menunjuk ke salah satu rak. “Ada dua bahan yang tersedia di awal. Selebihnya, kau harus menanam sendiri.”
Dengan langkah ragu, Jenara pun berjalan mendekat. Di rak kayu tersebut terletak umbi ganyong segar yang berkulit cokelat, serta beberapa lobak putih yang masih berembun. Keduanya seakan baru dicabut dari tanah subur.
Mata Jenara berbinar. Tangannya gemetar saat menyentuh dua bahan makanan itu.
“Bolehkah saya membawanya pergi, Kakek?"
“Tentu saja,” jawab Po Wija sambil tersenyum.
"Pakailah untuk memberi makan anak-anak. Jika kau ingin keluar dari Ruang Wiji, usap salah satu antingmu dua kali.”
“Jadi, ruangan ini bisa muncul dan hilang sendiri?” tanya Jenara cepat.
“Benar. Saat kau membutuhkannya, usap lagi dua kali. Kau bisa menanam apa pun dengan hanya menyebutkan nama tanamannya. Tapi, ingat rawat baik-baik dan pergunakan untuk menolong orang."
Meski belum terlalu memahami penjelasan sang kakek, Jenara menggenggam umbi dan lobak itu erat. Dadanya hangat oleh rasa haru.
“Terima kasih, Kek. Anak-anak sudah menungguku.”
Po Wija mengangguk pelan. “Semoga kau berhasil, Jenara.”
Sosok itu memudar perlahan.
Setelah Po Wija menghilang, Jenara mengusap antingnya dua kali. Dan tiba-tiba, ia sudah kembali berdiri di kebun belakang rumah. Tidak ada lagi ruang berwarna hijau yang membuatnya takut sekaligus penasaran.
"Apa aku benar-benar mendapatkan ruang ajaib dari Kakek Moyangku?" gumam Jenara masih tak percaya