Rina menemukan pesan mesra dari Siti di ponsel Adi, tapi yang lebih mengejutkan: pesan dari bank tentang utang besar yang Adi punya. Dia bertanya pada Adi, dan Adi mengakui bahwa dia meminjam uang untuk bisnis rekan kerjanya yang gagal—dan Siti adalah yang menolong dia bayar sebagian. "Dia hanyut dalam utang dan rasa bersalah pada Siti," pikir Rina.
Kini, masalah bukan cuma perselingkuhan, tapi juga keuangan yang terancam—rumah mereka bahkan berisiko disita jika utang tidak dibayar. Rina merasa lebih tertekan: dia harus bekerja tambahan di les setelah mengajar, sambil mengurus Lila dan menyembunyikan masalah dari keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Zuliyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Waktu terus berlalu—sekarang Mimpi sudah berusia 5 tahun dan akan masuk SD. Dia semakin cerdas dan aktif, selalu menjadi "pemimpin" di Ruang Belajar Seni. Setiap hari, dia mengajak teman-teman lain membuat karya seni yang bermanfaat, dan selalu mengingatkan mereka tentang cerita Adi.
"Kalau kita buat karya seni, itu harus buat orang lain senang, ya? Seperti Papa Adi yang buka jendela buat semua orang!" ujar Mimpi kepada teman-temannya. Semua anak mengangguk dan bersemangat membuat karya.
Pada bulan Januari, Cinta lulus SMA dengan nilai bagus dan diterima di universitas jurusan Seni Rupa di Yogyakarta. Dia sangat senang, dan di hari pengumuman, dia langsung menelepon keluarga dari Yogyakarta "Bu, aku diterima! Aku akan belajar lebih banyak tentang seni, agar bisa lanjutkan impian Papa Adi dan bikin karya yang lebih bagus!"
Rina menangis senang dan berkata "Kita bangga banget sama kamu, Cinta. Papa Adi pasti bangga juga." Mimpi mendengar telepon dan berkata: "Kakak Cinta kuliah! Bikin karya untuk Papa Adi ya!"
Sementara itu, "Proyek Mimpi Adi" di aplikasi "Jendela Kita" semakin berkembang—sudah ada lebih dari 500 proyek yang berjalan di seluruh Indonesia, mulai dari membuat jendela untuk panti asuhan, lukisan untuk rumah tua, sampai patung untuk taman sekolah. Arif mengajak Mimpi menjadi "duta kecil" proyek itu, dan dia senang banget.
Pada bulan Maret—hari kelahiran Adi yang kelima setelah dia meninggal—keluarga mengadakan acara besar di galeri asli "Hari Jendela Adi Nasional". Mereka mengundang seniman dari seluruh Indonesia, anak-anak dari Ruang Belajar Seni, dan pengunjung untuk membuat jendela kolaboratif terbesar se-Indonesia—panjangnya lebih dari 5 meter!
Mimpi memimpin semua anak-anak untuk menempelkan bunga melati kering dan kertas warna-warni di bingkai jendela. Dia berkata "Ini jendela untuk semua orang di Indonesia! Papa Adi akan senang banget melihatnya!" Semua orang bekerja sama dengan senang hati, dan dalam sehari, jendela itu selesai.
Ketika jendela dibuka, angin segar bertiup masuk, menyebarkan bau bunga melati dan kebahagiaan. Semua orang bertepuk tangan dan bersorak. Seorang pejabat lembaga budaya nasional berkata, "Jendela ini adalah bukti bahwa impian Adi telah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang. Dan Mimpi—dia adalah harapan masa depan yang akan membuat jendela itu semakin besar."
Pada bulan Mei, Mimpi masuk SD pertama kalinya. Dia membawa buku gambar yang berisi cerita Adi dan jendela asli ke sekolah, dan dia menceritakannya kepada teman-teman baru. Banyak teman-temannya tertarik dan ingin mengunjungi galeri.
Setelah seminggu masuk SD, Mimpi mengajukan ide ke guru kelasnya, dia ingin membuat "Ruang Jendela Adi" di sekolah, tempat siswa bisa membuat karya seni dan berbagi cerita. Guru setuju dengan senang hati, dan semua siswa bersedia membantu merencanakan itu.
Selama sebulan, Mimpi dan teman-temannya mengumpulkan bahan seni dari orang tua dan tetangga. Mereka membuat ruang kecil di sudut kelas, menempelkan lukisan jendela dan Adi di dinding, dan menaruh meja untuk membuat karya. Pada hari peresmian, Mimpi berkata"Ruang ini untuk semua siswa—agar kita bisa buat karya seni dan merasa ada rumah di sekolah. Seperti Papa Adi yang buat galeri menjadi rumah untuk semua orang!"
Semua siswa bersorak dan mulai membuat karya di ruang itu. Guru berkata"Mimpi telah mengajarkan kita bahwa kecilnya seseorang tidak menghalangi dia untuk membuat perbedaan. Dia benar-benar penerus impian Adi."
Pada malam hari itu, keluarga berkumpul di Taman Adi, melihat foto "Ruang Jendela Adi" di sekolah Mimpi. Rina memegang tangan Mimpi dan berkata: "Sayang, Papa Adi pasti bangga banget sama kamu. Kamu telah membuka jendela baru di sekolah, di panti asuhan, dan di hati banyak orang."
Mimpi melihat ke patung Adi dan jendela asli, tersenyum lebar"Papa Adi di hati aku, jadi aku bisa buka banyak jendela. Nanti aku mau buka jendela ke seluruh dunia, ya!"
Angin segar bertiup melalui jendela, menyebarkan bau bunga melati yang selalu ada di taman. Patung Adi berdiri kokoh, seolah-olah sedang menyaksikan Mimpi yang makin besar dan penuh semangat. Keluarga tahu bahwa impian Adi telah menemukan penerus yang sempurna—dan jendela yang dia buka akan terus terbuka, membawa cinta dan harapan ke setiap sudut dunia.