NovelToon NovelToon
Rival Tapi Nempel

Rival Tapi Nempel

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Basket / Persahabatan / Slice of Life / Keluarga / Teen School/College
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Kairylee

Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.

Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.

Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.

Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 — Perkelahian Di Koridor (2)

Keenan mendekat pelan. Setengah langkah. Nyaris tanpa suara.

Tatapannya sempat tertahan di wajah Rakha—lalu turun ke bibirnya. Luka kecil. Sedikit pecah.

"Bibirmu."

Rakha menyentuh sudut bibir itu tanpa sadar.

"Oh… iya. Kena tadi," katanya datar.

Keenan tidak langsung menjawab. Ia menarik napas pendek. Lalu, tanpa banyak peringatan, jemarinya menggenggam lengan Rakha dan menariknya ikut melangkah.

"Eh—Keenan!" Rakha tersentak, nyaris kehilangan keseimbangan. "Bisa nggak sih—"

"Diam." Suara Keenan rendah. "Ikut."

Rakha terpaksa menyesuaikan langkah. "Kita mau ke mana?" tanyanya, mencoba santai.

"UKS."

Singkat. Tidak perlu dijelaskan.

Mereka berjalan berdampingan. Tidak terburu-buru, tapi pasti. Sepatu mereka bergesekan pelan dengan lantai—satu-satunya bunyi di antara napas yang tertahan.

Keenan membuka pintu UKS dan menuntun Rakha masuk. Dorongannya tidak kasar, tapi cukup membuat Rakha terhuyung dan jatuh duduk di kasur.

"WOI—!" Rakha protes. "Santai dikit lah. Gue bukan karung beras."

Keenan hanya melirik sekilas. "Makanya jangan sok jagoan."

Rakha hendak membalas, tapi Keenan sudah membalik badan, bergerak ke lemari medis. Cepat. Efisien. Seperti orang yang sudah terlalu sering berada di ruangan itu.

"Lu ngapain?" tanya Rakha, menyipitkan mata.

"Nyari P3K."

"Buat siapa?"

Keenan berhenti sejenak, lalu menoleh. Tatapannya datar tapi ada sesuatu di sana. Terlalu fokus untuk disebut biasa.

"Ya… buat lu, lah."

Rakha terdiam.

Bukan karena lukanya. Tapi karena cara Keenan bereaksi—cepat, refleksif, seolah tubuhnya bergerak lebih dulu sebelum pikirannya sempat ikut campur.

"Biasa aja kali," gumam Rakha akhirnya, jarinya kembali menyentuh bibirnya. "Cuma luka kecil."

Keenan menepis tangannya di pergelangan—cukup tegas untuk membuat Rakha tersentak.

"Jangan dipegang-pegang. Kotor."

Rakha membeku. "...Lu barusan nepis tangan gue?"

"Daripada nyebarin infeksi," jawab Keenan singkat, sudah kembali membuka laci-laci. Botol dan perban ditarik keluar, ditata rapi. Fokusnya penuh. Terlalu penuh.

Rakha memperhatikannya diam-diam.

Cowok yang biasanya ribut dan heboh itu sekarang bergerak tanpa bercanda, tanpa komentar berlebihan. Serius. Terlalu serius untuk luka sekecil ini. Sampai terasa… janggal.

Rakha selalu mengira Keenan cuma orang berisik yang suka cari ribut.

Nyatanya, tidak sesederhana itu.

"Keenan," panggilnya lagi. "Ibu UKS mana?"

"Gak ada."

"Terus kenapa nggak bilang—"

“Kalau gue bilang, lu udah kabur.”

Rakha hendak membalas, tapi kata-katanya berhenti di tenggorokan.

'…Iya juga.'

Keenan menarik kursi dan duduk di samping kasur. Kapas antiseptik dibukanya perlahan. Gerakannya tenang, teratur—seperti seseorang yang tahu persis apa yang ia lakukan.

Rakha menatap. Ada rasa asing di dadanya. Sedikit takjub. Dan, tanpa alasan yang jelas… sedikit lega.

Keenan mendekat.

Jarak mereka menyempit terlalu cepat.

Rakha menelan ludah tanpa sadar.

"Mau ngapain?" tanyanya, nada suaranya naik setengah oktaf.

Keenan menatapnya sekilas. "Ngobatin lu."

Rakha refleks mundur. "Enggak, enggak. Gue bisa sendiri."

Belum sempat ia bergerak lagi, dagunya sudah tertahan. Keenan menahan wajahnya agar tetap menghadap ke depan. Pegangannya tidak keras—bahkan bisa dibilang hati-hati—tapi cukup untuk membuat Rakha berhenti melawan.

"Sini," kata Keenan pendek. "Jangan banyak gerak."

Rakha membuka mulut untuk protes.

Terlambat.

Kapas sudah menyentuh kulitnya.

Ia meringis kecil. "Auh… pelan dikit, woy."

"Itu udah pelan."

"Enggak," Rakha membalas cepat, suaranya naik tipis. "Itu kasar."

Keenan menghembuskan napas, pelan tapi panjang, seolah sedang menahan sesuatu. Kepalanya sedikit menunduk.

"Diam, Rakha."

Hening jatuh.

Hanya ada suara gesek halus kapas, napas yang tertahan terlalu lama, dan detak jantung Rakha yang tiba-tiba terasa terlalu keras di dadanya.

Akhirnya, ia berhenti bergerak.

Pandangan Rakha naik ke plafon UKS, membiarkan Keenan melakukan apa pun yang perlu dilakukan. Pipinya terasa panas, entah karena perih di sudut bibirnya… atau karena jarak ini terlalu dekat untuk diabaikan.

Keenan tetap fokus. Gerakannya pelan, rapi, alisnya sedikit mengerut. Jauh lebih lembut dari kata-katanya dan entah kenapa, itu membuat Rakha diam.

"Sakit?" tanya Keenan pelan. Hampir seperti bicara ke dirinya sendiri.

Rakha mendengus kecil. "Ya… lumayan."

Keenan berhenti sebentar. Hanya satu detik. Lalu berkata, singkat, "Bagus."

Rakha menoleh. "Hah?"

"Biar lu inget," lanjut Keenan tanpa menatapnya. Nada suaranya ringan, tapi tidak sepenuhnya bercanda. "Biar lain kali mikir dua kali sebelum sok hero."

Rakha menatapnya lebih lama dari yang seharusnya.

Lalu tawa kecil lolos begitu saja—ringan, lepas, tanpa beban. Bukan tawa kapten yang biasanya penuh kontrol.

Untuk sesaat, Rakha terlihat berbeda. Lebih hangat. Lebih hidup.

Gerakan Keenan terhenti.

Kapas di tangannya menggantung di udara. Ia menatap Rakha, seolah sedang melihat sesuatu yang tidak ia perkirakan akan muncul.

"…Kenapa?" tanyanya pelan.

Rakha mengusap hidungnya sebentar, senyumnya tidak lebar—hanya jujur. "Lu lucu banget."

Keenan mengerjap sekali. Bahunya sedikit bergeser, seperti mundur tanpa sadar. Ia tidak membalas. Tapi jelas… ia tidak terbiasa melihat Rakha seperti ini.

Rakha melanjutkan, nadanya lebih rendah. "Lu peduli banget sampai ngobatin luka yang nggak seberapa ini."

Keenan menunduk sebentar. Tangannya masih menahan kapas, tapi napasnya terdengar sedikit lebih berat. Ia mengalihkan pandangan.

"Gue cuma males liat muka kapten tim jadi jelek pas latihan nanti," gumamnya.

Rakha menyeringai pelan. "Alasan paling buruk seantero bumi."

"Diam," balas Keenan cepat. Terlalu cepat.

Rakha menurut. Tapi senyum itu tidak benar-benar hilang.

Keenan bekerja tanpa bicara lagi. Gerakannya pelan, hati-hati jauh lebih lembut dari caranya berbicara. Seolah ia tahu persis kapan harus menekan, kapan harus berhenti.

Plester kecil akhirnya menempel di sudut bibir Rakha. Rapi. Presisi.

Keenan menepuk pipinya sebentar.

"Udah."

Rakha menyentuh plester itu, masih sedikit tak percaya.

"Wah… Rapi juga."

Keenan mendengus pelan, lalu berdiri.

Ia tidak berkata apa-apa lagi.

Tapi sebelum melangkah menjauh, tangan Keenan sempat berhenti sepersekian detik—terlalu singkat untuk disebut ragu, terlalu lama untuk disebut kebetulan.

Rakha menangkapnya.

Dadanya terasa hangat, untuk alasan yang tidak bisa ia jelaskan.

Ia menatap Keenan lagi. Lebih lama.

Tanpa sadar, Keenan membalas.

Tidak ada kata. Hanya jarak yang tertahan di antara mereka—hening yang tidak canggung, hanya belum diberi nama.

Rakha yang akhirnya bicara duluan.

"Keenan."

"Apa?"

"Thanks."

Keenan langsung berdiri. Gerakannya tergesa, hampir kasar bukan karena marah, tapi seolah ia takut terlalu lama berada di situ.

"Hm."

Rakha mengangkat alis. "Itu aja?"

"Gue nggak ikut latihan hari ini."

Rakha menoleh. Nada suaranya ringan. "Tumben."

Keenan berhenti di ambang pintu. Tidak menoleh.

"Gue… nggak mau ketemu orang dulu."

Rakha mengerutkan alis. "Termasuk gue?"

Tidak ada jawaban.

Tapi bahu Keenan menegang halus.

Dan Rakha menangkapnya lebih cepat daripada yang ingin ia akui.

Senyum tipis muncul di bibirnya. Bukan senyum kapten yang tegas, tapi senyum kecil yang jarang ia izinkan muncul senyum yang lahir ketika ia berhenti menuntut dirinya sendiri.

"Dasar aneh," gumam Rakha, nyaris tak terdengar.

Keenan berhenti sepersekian detik, lalu melangkah pergi. Pintu menutup pelan.

Sunyi kembali menyelimuti ruangan.

Rakha tetap duduk di sana. Jari-jarinya menyentuh plester di sudut bibirnya. Sentuhan kecil itu hangat—terasa ganjil, tidak cocok dengan citra dirinya sebagai kapten yang dingin dan selalu serius.

Hari ini… berbeda.

Aneh.

Tapi hangat.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rakha tidak langsung menolak perasaan itu.

Ia bahkan… tidak keberatan.

1
Panda
jejak yaa kak

kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭
Kairylee: okee kak, selamat menunggu... semoga memuaskan, soalnya baru nyelam juga disini/Smile//Smile/
total 1 replies
Anna
ih lucu/Chuckle/
r
😚🤍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!